
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Jantung Zoya hampir saja berhenti berdetak karena ulah Ken, bagaimana tidak jika yang ia lakukan layaknya hantu gentayangan.
"Sedang apa kamu berdiri di situ,, inikan sudah malam..?" Zoya keheranan melihat Ken yang berdiri di balik tiang tinggi rumah mewah mereka, seakan-akan sengaja ingin menangkap basah diri nya.
"Tidak ada. Hanya kebetulan saja aku berdiri disini." jawab Ken dengan santainya. "Kebetulan katamu..?
Kenapa harus di balik tiang..? Kamu memang terlalu banyak belajar dari film-film lokal!"
Zoya masuk ke dalam rumah melewati Ken begitu saja membawa tas dan juga kotak biola nya. "Zozo.. kenapa tidak mengatakan nya pada ku..!"Ken mengikuti Zoya.
"Mengatakan apa..?"
"Kalau kamu dan Kak Zen." Ssssssttttt! Zoya membekap mulut Ken.
"Apa..? aku tidak ada apa-apa dengan kak Zen. Dia kakak kita. Dan ia punya seseorang yang dia cintai. Jangan mengatakan hal yang aneh-aneh." peringat Zoya pada Ken.
"Apa kamu kecewa..? kemari lah aku akan memelukmu..?" Ken membuka tangan nya.
"Boleh kah..?"
"Tentu saja.. i'm your guardian.." Zoya terharu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut adik kecilnya.
PLETAK..
Zoya menjitak pelan kepala Ken, membuat adiknya itu mengaduh memegang kepalanya. "Sebaiknya kamu kembali ke kamar dan kerjakan tugas sekolah mu. Huh. Bocah!!"
"Zozo..!!!"
"Stop it Ken, please..!!"
Zoya meninggalkan Ken yang masih berdiri di lantai bawah, Zoya menaiki tangga menuju kamar nya, ia merasa lelah.
Sementara Ken hanya menatap nanar pada kakak nya.
"Aku tau ini tidak seperti yang kau katakan Zozo, aku bisa melihat raut kecewa mu itu.- Wajah Ken berubah datar. "Ahh,, apa aku kurang Manly untuk di peluk..?" Ken memeluk dirinya sendiri. "Ah, Sepertinya aku memang harus tidur..!"
Setelah nya Ken juga mengikuti jejak Zoya untuk kembali ke kamar.
...❄️❄️❄️...
Zen terus melajukan mobilnya melewati keramaian jalanan ibu kota meskipun sudah larut malam. Ibu kota memang tak pernah tidur.
Seraya berkendara Zen juga masih terlarut dalam pikiran nya sendiri. Ia memikirkan waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan nya pada Zoya.
Bagaimana ia harus memulai nya.
Ia tumbuh dan besar bersama gadis itu, bagaimana Zoya akan melihat nya nanti jika gadis itu tau perasan yang selama ini ia miliki untuk wanita itu.
__ADS_1
Bagaimana ia mengatakan nya pada Daddy dan Mollie..? Apa mereka bisa menerima nya..? Ada banyak hal yang sedang Zen pertimbangkan untuk masa depan.
Ini bukan sekedar cinta untuk dirinya sendiri, tapi juga cinta untuk gadis kecil nya. Zen tidak ingin jika cinta nya hanya bertepuk sebelah tangan, sebelum memastikan bagaimana hati Zoya, ia tidak ingin terlalu terburu-buru.
Selain hubungan cinta, ada hubungan kasih sayang keluarga yang terikat jelas di antara keduanya.
Tidak mungkin Zen mengabaikan salah satunya demi cinta yang ia miliki.
Dan jika pun kelak zoya membalas perasaan nya, bagaimana dengan orang tua mereka..? bisakah mereka menerima hubungan cinta kedua nya..?
Seperti nya Zen tidak akan tidur lagi malam ini,, semua pikiran nya kini menjadi abstrak.
Memilih Zoya sebagai cinta pertama dan juga satu-satunya bagi Zen bukanlah sebuah kesalahan.
Bagi Zen, Zoya terlalu berharga jika harus mengikuti ego nya untuk memiliki gadis itu sepenuhnya tanpa tau bagaimana sang empunya hati membalas semua perasaan nya. Akan kah kapal keduanya berlabuh pada dermaga yang sama.
Setelah cukup lama berputar-putar di jalanan, Zen kembali ke Kondominium nya. Begitu masuk, ia sadar Masih terdapat jejak Zoya di sana. Bungkusan camilan gadis itu yang dalam nya masih tersisa beberapa.
Gelas minuman coklat hangatnya,, terdapat bekas lipstik Zoya di gelas itu, membuat Zen tersenyum.
Zen membiarkan semuanya begitu saja. Terlalu sayang untuk membersihkan kenangan gadis kecilnya malam ini.
Zen melemparkan dirinya ke atas tempat tidur. Matanya terus saja berkedip, rasa kantuk tidak juga menghampirinya.
..."Sudah tidur..?"...
...-Send...
...Tring....
..."Belum."...
Saat pesannya mendapat balasan, Zen langsung menghubungi nomor tersebut;
"Hai,, apa aku mengganggu mu..?"
{Tidak.. Kenapa..?}
"Tidak ada. Hanya ingin mendengar suara mu.."
{Benarkah,,..?}
"Tentu saja. Apa aku tidak boleh merindukan mu..?"
{Kenapa merindukan ku..? Bagaimana dengan wanita mu..?}
"Entahlah, aku rasa mungkin dia juga sedang merindukan ku. Aku harap begitu."
{Kenapa tidak menanyakan nya langsung..?}
"Aku akan menanyakan nya pada saat yang tepat. Apa kau pikir dia juga mencintaiku..?"
{Entahlah, aku bukan dia, jadi aku tidak tau. Kenapa tidak menanyakan nya saja, bukan kah itu akan jauh lebih baik..?}
"Apakah menanyakan nya langsung adalah pilihan yang tepat..? Aku belum yakin tentang perasaan nya pada ku."
{Nyatakan saja. Kalau tidak di nyatakan bagaimana wanita mu akan tau..}
__ADS_1
"Bagaimana jika dia tidak mencintaiku..?"
{Nyatakan saja, maka kau akan tau apa jawaban nya.}
'Kau yakin itu pilihan terbaik..?"
{Katakan dan buktikan sendiri. Aku harap kau mendapatkan jawaban yang kau ingin kan.}
"Apa kah itu doa yang tulus..?"
{Tentu saja. Dengan sepenuh hatiku aku mendoakan kebahagiaan mu. Kau adalah laki-laki kedua yang terbaik dalam hidup ku, dan aku yakin kau akan bahagia.}
"Kau terdengar begitu yakin..?"
[Tentu saja. Kau adalah orang yang baik, dan aku yakin cintamu begitu tulus untuknya, dan wanita mu pasti dapat merasakan nya.}
"Ada apa dengan suara mu, apa kau sedang menangis..?" Zen bangun dari posisi berbaring nya.
{Aku..? Tentu saja tidak. Tidak ada alasan bagi ku untuk menangis.}
''Benarkah, kau yakin..?"
{Tentu saja. Aku sangat yakin. Mungkin karena aku mengantuk, makanya suara ku berubah.}
"Ah, apa ini sudah terlalu larut..? maafkan aku."
{Tidak apa-apa. aku senang kau mengatakan nya pada ku.}
"Aku hanya ingin kau menjadi orang pertama yang tau bagaimana isi hatiku."
{Benarkah..? terima kasih untuk itu..}
"Tidurlah. Jangan lupa mimpikan aku.'
{Hem. Baiklah, seperti nya malam ini aku akan mengalami mimpi buruk jika kau yang berada di dalam mimpi ku..}
"Hei.. bagaimana bisa,,'
{Aku hanya bercanda. Kau tidurlah juga. Hei katakan padaku kapan kau akan menyatakan perasaan mu..?}
"Secepat nya. Setelah aku memastikan perasaan nya pada ku."
{Baiklah. Wish you luck.}
"Ya. I wish too. Selamat tidur.'
{Hem. Selamat tidur juga.}
Setelah menyelesaikan panggilan nya. Zen melemparkan ponselnya kesamping. Kini rasa kantuk sudah datang dan mulai menguasainya.
Dengan perlahan matanya mulai terpejam.
..."Aku mencintaimu Zo'e"...
...'' Ku rasa aku jatuh cinta padamu kak."...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...