
...ENJOY...
.......
.......
Ken keluar dengan buru-buru dari dalam kelasnya. Ia segera menyusul Lova yang sedang menunggu di Cafetaria.
''Kemana lo? buru-buru banget..?" tegur Leon yang kebetulan berpapasan dengan Ken. ''Lova gak ada chat lo..?"
''Cieh! Nyariin gebetan bos. Pantesan kaya orang kebakaran jenggot. Barusan gue liat sih ke perpus gitu. Coba aja cari disana.''
Leon memang baru saja melihat Lova yang baru saja masuk ke dalam perpustakaan sebelum Ia bertemu dengan Ken.
Ken juga tidak meragukan perkataan Leon sedikitpun. Ia langsung berlari ke arah perpustakaan untuk mencari Lova. Seperti kata Leon, gadis itu memang berada di sana.
''Kau sudah menunggu lama L..?" Bisik Ken, yang langsung duduk di depan Lova.
''Tidak. Aku sedang mencari buku untuk mengerjakan ini.'' tunjuk Lova pada paper nya. ''Apa kau baru saja berlari kemari?" tanya Lova lagi setelah memperhatikan keringat-keringat kecil yang bermunculan di wajah Ken.
''Tidak. Aku jalan.-"
" Biar ku bantu, aku sudah mengerjakan bagian ini. Kau tunggu saja disini.'' Ken mengambil alih pekerjaan Lova.
Lova hanya memandangi Ken dari kejauhan. Mengamatinya dalam diam. Pemuda itu sangat baik kepada nya. Membuat Lova selalu merasakan perasaan yang aneh.
Bersama Ken, membuat Lova selalu merasa terlindungi dan juga selalu merasa senang saat Ken berada disekitarnya. Apakah ia jatuh cinta? Pada pemuda itu?
''Ah, sadarlah Lova!" Lova menepuk-nepuk wajahnya untuk mengembalikan logikanya ke tempat yang seharusnya. "Ingatlah, Kau disini untuk belajar, bukan untuk pacaran!''
''Jangan lakukan itu pada pipimu L...'' Ken menghentikan tangan Lova. Perlakuan Ken tentu saja membuat jantung Lova kembali berdegup cepat.
''Lihat pipi mu sampai memerah seperti ini..'' ujar Ken sambil mengelus pelan pipi Lova.
Pipi yang terasa lembut, dan juga hangat dalam sentuhan tangan Ken.
''Aku tidak apa-apa,- maksudku pipi ku baik-bak saja.'' jawab Lova bertingkah canggung.
''Apa kau sedang malu? apa aku membuat jantung mu berdegup.. apa kau..?"
''L.. Aku menyukai mu. Ku rasa aku jatuh cinta padamu.'' ujar Ken secara tiba-tiba.
Pernyataan Ken benar-benar membuat Lova salah tingkah. Bagaimana bisa pemuda itu memberinya pertanyaan seperti ini secara langsung.
Ya Tuhan, bagaimana ini? Jantung ku.... jantungku terasa ingin meledak!
Ken meraih tangan Lova, ia menyatukan tangan mereka lalu menggenggam nya dengan begitu lembut.
''L, aku sungguh-sungguh. Perasaan ku benar-benar tulus untuk mu. Aku menyukai mu.'' aku Ken dengan tatapan yang tidak bisa Lova hindari.
''Stop! Jangan katakan lagi! Ya Tuhan... -
Lova bangun dari tempat duduk nya sambil mengipasi wajahnya yang terasa panas.
''Kau benar-benar membuat ku malu.'' ujar Lova dengan suara berbisik.
Tingkah Lova yang seperti ini semakin menggemaskan bagi Ken. Ia benar-benar jatuh cinta pada gadis di hadapan nya ini. Bahkan Jantung nya selalu saja berdegup lebih cepat saat Lova berada di sekitarnya.
Dan, Ya Tuhan.. Ken selalu merasa ingin bersama gadis itu dimana pun dan kapan pun. Ken merasa tidak tenang saat Lova berada jauh dari nya. Perasaan nya benar-benar seperti ini untuk gadis itu.
''Kau merasakan hal yang sama dengan ku L..?" tanya Ken lagi. Ken menarik tangan Lova hingga keduanya berdiri untuk di antara rak-rak buku.
Wajah Lova semakin merona saat mata keduanya saling mengunci.
''Aku..-
''Kau gadis ku sekarang. Aku sungguh mencintaimu.'' Ken memeluk Lova dengan erat.
what..?
''Aku belum menjawab mu!'' protes Lova disertai rasa malu karena ulah Ken.
''Tapi aku tau kalau kau juga menyukai ku.'' jawab Ken dengan yakin.
''Mulai hari ini, aku akan menjaga mu dengan sepenuh hati ku. Aku akan jadi kekasih yang baik untuk mu.'' ujar Ken, lalu mencium pipi Lova yang semakin memerah.
''Lihat wajah mu, sudah persis seperti cery.'' ejek Ken, tersenyum menggoda Lova.
''Dasar! Bagaimana kau bisa mengatakan itu pada pacar mu!'' kesal Lova sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.
''Kau mengakui nya? sekarang kau resmi menjadi pacarku!''
''Kau menjebak ku?''
''Tidak! kau sendiri yang mengatakan nya!''
''Ken...!''
''Ssssttt..! kita sedang berada di perpus, penjaga akan mengusir kita dari sini jika kau berteriak L...'' peringat Ken, lalu memeluk Lova sekali lagi.
''Kau tau, L. Kau benar-benar membuat ku merasa bahagia. Perasaan ini, aku tak bisa menjelaskan nya pada mu.''
Akhirnya Ken bisa mengatakan dengan jujur bagaimana perasaan nya selama ini. Ia benar-benar jatuh cinta pada Lova. Gadis itu membuat ruang kosong dihatinya terisi. Lova membuatnya benar-benar merasa hidup. Gadis di hadapannya ini punya sejuta pesona yang bisa menaklukan hati Ken.
''Bisa kita kembali ke sana? tugas ku harus segera selesai.'' ujar Lova, masih tersenyum malu.
''Baiklah. Aku akan menemanimu mengerjakan nya.'' sahut Ken riang.
__ADS_1
Ken memegang tangan Lova sampai mereka duduk kembali. Di meja pun Ken masih tetap memegang tangan Lova. Ken sedang bahagia. Di sana, yang di lakukan Ken hanyalah terus-terusan memandangi wajah Lova, membuat gadis itu terkadang kehilangan fokusnya.
''Kau tidak lapar? bukan kah sekarang sudah saat nya makan siang?" tanya Ken, melihat Lova yang larut dalam tugas-tugas nya.
''Benarkah? apa sudah sesiang itu? pantas saja perut ku terasa perih.''
''Kita lanjutkan di cafetaria saja. Biar ku bawakan untuk mu.''
Ken membawa sebagian buku Lova, dan tangan lainnya tetap menggenggam erat tangan kekasihnya.
Keduanya berjalan sambil sesekali tersenyum. Semua orang yang melihat keduanya sudah pasti bisa menebak hubungan di antara mereka.
''Ehhmm.-- Leon menyela keduanya.
"Apa kau seorang tawanan L...?"
Leon yang juga memanggil Lova seperti Ken memanggil gadis itu. Sejak Leon memperhatikan keduanya menuruni tangga, Leon sengaja mengikuti mereka.
''Aku? tidak. Kenapa?'' tanya Lova dengan polosnya.
''Tidak apa-apa! aku kira Ken sedang berperan sebagai seorang polisi yang sedang manahan wanita cantik sebagai sandera.''
Leon melirik pada tangan keduanya yang sedang bertautan.
Lova yang mengerti dengan candaan Leon, hendak menarik lepas tangannya. Alih-alih terlepas, Ken malah semakin erat menahan tangan Lova.
''Jangan pedulikan dia L! Leon memang sangat menjengkel kan!'' cibir Ken, tak melirik sedikitpun pada laki-laki yang disebutnya teman itu.
''Sial lo!''
''L, apa kau tidak ingin punya pacar? mungkin kau ingin jadi kekasih ku? coba pikir, nama kita sangat cocok. Leon, Lova. Bukan kah seperti sebuah takdir?' goda Leon, sambil terus masuk dan mengikuti sepasang kekasih yang baru saja jadian tersebut.
''Sepertinya kau benar-benar ingin di bunuh!" ujar Ken memandang kesal pada Leon, nyaris membuat seulas senyuman kecil di wajah Lova.
''Kenapa lo? iri bilang bos! Ya kan L...? bagaimana, kau mau jadi kekasihku?" ujar Leon lagi, sengaja memprovokasi Ken.
''Anak ini! Kau terus saja L.. aku akan mengubur Leon dengan cepat!'' Ken menarik lengan kemeja nya, ingin menghajar Leon.
Meskipun hanya sebuah gurauan, tapi sangat pas sekali sebagai bahan tertawaan ketiganya, Apalagi saat Ken dan Leon saling berkejar-kejaran. Keduanya terlihat begitu akrab.
Setibanya di cafetaria, Lova melihat satu meja yang kosong, dan membawa kedua pemuda itu untuk duduk disana. ''Kalian ingin makan apa?" tanya Lova yang sudah berdiri siap untuk membeli makanan.
''Tidak. Kau duduk saja kerjakan tugas mu, dan aku yang akan pergi.'' ken menawarkan dirinya.
''Ehhmm.. berasa kaya nyamuk gue!
Gue kaya biasa aja sob.''
Leon menyebutkan makanan nya.
''Lo siapa? pesan sendiri!'' sahut Ken dengan wajah jutek.
''Ken bilang apa?'' tanya Lova, sambil mengeluarkan peralatan tulisnya.
''Tidak ada. Kami hanya bergurau. Ken sangat lucu jika sedang marah.'' jelas Leon, yang duduk berseberangan dengan Lova.
''Kau tau, Ken tidak pernah seperti ini sebelumnya, ku rasa dia menyukaimu.'' ujar Leon membuat Lova terdiam.
''Benarkah? memang Ken bagaimana, sebelumnya?" tanya Lova penasaran dengan kekasihnya itu. Lova tidak mengatakan pada Leon jika ia dan Ken sudah resmi berpacaran.
''Ken sangat dingin. Dan juga cuek, sikapnya sangat menyebalkan jika di hadapan orang lain. Tapi sebenarnya- ya kau tau lah, Ken memiliki hati yang baik.'' Ujar Leon memberikan penilaian.
''Aku ragu jika kalian selama ini berteman.'' ujar Lova merespon kata-kata Leon.
''What..? Hei-- kenapa? aku tidak bohong. Aku mengatakan yang sebenarnya!'' protes Leon membuat Lova tergelak.
''Ya, ya.. aku yakin begitu.'' Lova mengangguk-anggukan kepalanya.
''Sudahlah. Kau juga tidak percaya. Kerjakan saja tugasmu!''
''Kau sedang merajuk pada ku? kau sangat lucu!'' ejek Lova semakin tertawa.
''Hentikan itu L.. aku sedang marah karena kau tidak percaya padaku!''
''Aku? aku percaya padamu! siapa bilang tidak?"
''Hentikan L..! Apa kau tau? kau sama seperti Shreya! gadis itu juga tidak pernah percaya padaku!'' kesal Leon.
''Shreya..? siapa? kekasih mu?"
Leon tidak berniat menceritakan Shreya. Tapi ternyata ia malah terlanjur menyebut tentang gadis itu.
''Shreya? bukan! gadis itu teman ku dan juga Ken saat di indo, itu sudah sangat lama!'' jawab Leon tak ingin membahas tentang Shreya lebih jauh.
''Sepertinya gadis itu berkesan untuk mu. Kau masih sangat mengingatnya. Apa dia cinta pertama mu?"
''Gadis barbar itu? tentu saja bukan. Cinta pertama ku adalah gadis terpopuler disekolah.'' cerita Leon dengan bangga.
''Apa kau playboy? apa Ken juga begitu?" tanya Lova semakin dalam. Ia jadi semakin tertarik, dan ingin tau lebih banyak tentang kekasihnya.
''Hmmm. Tentu saja tidak! Meskipun kami sangat tampan, tapi kami bukan semacam **** boy. Kami pria baik-baik.- Aku hanya memiliki tiga mantan kekasih, dan Ken, dia seorang biksu. Ken tidak pernah pacaran sekalipun.'' jawab Leon dengan sesungguhnya.
''Sungguh? sepertinya kau memang playboy!'' Lova tetap dengan pendapatnya.
''Gadis ini! sudah ku katakan aku bukan playboy!'' ujar Leon tetap membela dirinya.
''Ahh.. ya ya.. aku yakin seperti itu!'' sahut Lova, kemudian beralih ke buku-bukunya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Ken datang dengan baki berisikan makanan di dalamnya.
''Hei, ambil pesanan makanan mu di sana. Tangan ku terlalu penuh.'' ujar Ken pada Leon, membuat sahabatnya itu kembali mendumel.
''Sudah sampai mana tugas mu?"
Ken menyusun makanan mereka berdua dengan rapi agar tidak menganggu buku-buku pacarnya.
''Sudah hampir selesai.'' jawab Lova. ''Makan saja lebih dulu, aku akan makan setelah ini.''
''Hmmm. Tidak. Kau belajar saja, aku akan makan sambil menyuapi mu. Lagipula waktu mu untuk masuk kelas tidak lama lagi. Sekarang buka mulutmu, dan makan lah.'' Ken menyendok makanan dan mengarahkan sendok nya pada Lova.
''Aaa.. buka mulut mu. Aku akan menyuapimu.'' Ken mengulang perintahnya.
''Aku bisa makan sendiri Ken, lihatlah, orang-orang memperhatikan kita.'' tolak Lova.
''Kenapa? biarkan saja, Lagi pula kau pacar ku.. uuumm..'- Lova buru-buru menutup mulut Ken.
''Apa kau ingin mengumumkan hubungan kita? jangan bercanda. Aku tidak ingin jadi bahan pembicaraan.'' ujar Lova dengan sebenarnya.
''Ya-Ya.. baiklah.. maka nya buka mulut mu dan makan ini. Kalau tidak aku akan terus memaksamu, dan menjadikan kita bahan tontonan, bagaimana?" tawar Ken sambil tersenyum.
''Baiklah, tapi kali ini saja.'' Lova mematuhi kata-kata kekasihnya. Ia membuka mulutnya cepat, dan memakan dari sendok yang Ken sodorkan pada nya.
''Kau sangat menggemaskan, bahkan disaat seperti ini L.. Aku sangat ingin memelukmu sekarang.'' ujar Ken, lagi-lagi membuat wajah Lova merona.
''Awas rambutmu!" Ken manahan rambut Lova. "Lihat, rambut mu sudah semakin panjang.'' ujar nya lagi, membuat Lova semakin salah tingkah.
Tak lama kemudian, Leon pun ikut bergabung bersama keduanya.
''L, Kau tidak makan?" tanya Leon yang melihat Lova masih mengerjakan tugasnya.
''Jangan mengurusi nya, urus saja dirimu sendiri.'' tegur Ken pada Leon.n''Lo kenapa? pedas makanan lo? mulut lo gitu banget!''
''Berisik lo!''
Setelah menyelesaikan makan siang. Lova segera masuk ke dalam kelas, sementara Ken dan Leon sama-sama tidak memiliki jadwal. ''Mau main basket?" tawar Leon yang merasa bosan duduk di cafetaria.
''No!''
''Kalau begitu kita pulang!''
''Lo pikir kita lagi kencan? pulang sana, gue masih ada urusan,.- O, ya nanti bakal ada orang dari agensi yang datang.'' peringat Ken.
''Siapa? agensi apa? asisten?"
''Hmm. Asisten baru. Sekalian aja lo kasih tau bagian-bagian yang boleh dan gak boleh di masukin.''
''Hmm. Ya udah gue balik duluan.''
Merasa bosan menunggu di Cafetaria, Ken berpindah ke dalam perpus. Tempat favorit, dan juga tempat spesial baginya. Sepanjang waktunya, Ken hanya memikirkan tentang Lova. Ia benar-benar di buat jatuh cinta.
Setelah selesai dengan mata kuliahnya, Lova segera mengirimkan pesan untuk Ken. Kalau-kalau kekasihnya itu masih menunggu, dan benar saja, Ken sudah berjalan ke arah Lova hanya dalam hitungan menit.
''Sudah selesai?"
''Hem.. kenapa masih menunggu ku? kau bisa pulang dan istirahat. Aku akan langsung ketempat bekerja. Kau pulang lah lebih dulu.'' ujar Lova.
''Tidak apa-apa. Aku akan mengantar mu ketempat kerja, setelah itu, aku baru akan kembali ke apartmen.''
Lova tidak menolak tawaran Ken. Keduanya hanya cukup berjalan 30 menit saja hingga sampai ke tempat Lova bekerja.
''Sudah sampai. Sebaiknya kau pulang, dan istirahat. O, ya sebaiknya nanti malam jangan datang ketempat ku bekerja. Semalam kau sudah pulang larut, jadi dengarkan aku dan istirahatlah.'' perintah Lova.
''Tapi bagaimana dengan,-
''Aku tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa, jadi jangan khawatir. Aku akan mengirimi mu pesan.''
Tak ingin menolak permintaan kekasihnya, Ken pun menuruti kata-kata Lova. Meskipun sebenarnya ia tak ingin membiarkan Lova seorang diri, tapi Ken juga tak ingin memaksakan kehendaknya.
''Baiklah. Aku akan pulang. Bagaimana dengan besok? aku ingin mengajakmu pergi untuk kencan pertama kita, kau bisa?''
''Kencan? Besok? Baiklah. Sampai bertemu besok.'' Angguk Lova, menyetujui permintaan Ken.
''Baiklah, kau sudah berjanji. Sampai bertemu besok L.. jangan lupa kirimkan pesan untuk ku setiap kau akan pergi. Atau aku akan cemas.'' peringat Ken dengan wajah memelas.
''Hmm. Akan ku lakukan.. bye.. hati-hatilah saat kembali.''
''Kau sungguh tak ingin ku temani L..?"
''Tidak Ken. Pulang saja, dan istirahatlah. Kau sudah menemani ku seharian." Tolak Lova lagi.
''Kau bosan L.. ?"
''Tidak. Aku memintamu untuk istirahat!''
''Aku tau.. bye.. aku mencintai mu L.. jangan lupa makan malam dan kirimi aku pesan.'' Ken melambaikan tangannya.
''Ya.. Ya.. bye..''
Lova menggelengkan kepala saat melihat tingkah Ken. Apa seperti ini seseorang yang sedang pacaran? sungguh menggemaskan.
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1