My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
TANGGUNG JAWAB KOK


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


"Pak sampai di tempat biasa aja ya!" perintah Ken pada supirnya. ''Baik tuan muda." jawabnya dengan patuh.


Ketika akan memasuki gerbang sekolah, Ken akan selalu meminta pada supirnya untuk diturunkan di samping sekolah. Tempat itu juga bagian dari tempat parkir sekolah namun jarang digunakan, hanya ada beberapa orang yang memarkirkan kendaraan pribadi mereka di sana, itupun hanya para senior, karena memang lahan parkir sekolah tersebut sangatlah luas. 


Setelah sampai, Ken selalu menunggu sebentar didalam mobil untuk memantau situasi sampai parkiran tersebut benar-benar tidak dilewati siapapun.


Tidak ada alasan khusus sebenarnya, Ken hanya tak suka di jadikan bahan perbincangan kaum netizen disekolah. Terutama para gadis, merekalah sumber dari segala news update.


Mereka sangat suka membuat seseorang atau kelompok tertentu menjadi topik perbincangan dan Ken sangat tak ingin menjadi salah satu yang di perbincangkan. 


Meskipun semua hal tentang Ken sejauh ini bukanlah hoax, tetap saja ia tak ingin menjadi pusat perhatian semua orang.


Berwajah Tampan saja sudah cukup membuatnya kesulitan, ditambah lagi dengan IQ nya yang terbilang tinggi, selain itu Ken juga menyandang nama keluarga nya yang di kenal  sebagai pengusaha nomor satu di ibu kota, semua fakta itu membuat Ken merasa terikat dengan rantai.


Beberapa hari lalu media sudah menggadang-gadang dirinya sebagai calon pewaris tunggal Zoya's Group. Semua berita itu di tulis setelah bocornya berita pernikahan saudari nya Zoya dengan Zen di swiss beberapa minggu lalu, sehingga semua media kini terfokus untuk menaruh perhatian pada Ken. 


Dalam beberapa hari terakhir, ada banyak artikel yang menuliskan tentang dirinya. Salah satu yang ia ingat adalah ''Pergi menikah, Zoya's Group akan di teruskan pada putra kedua keluarga Wijaya.'' 


Sekarang, semua beban untuk menjaga citra keluarganya seakan di tempatkan di atas pundak Ken. Karena itulah, sebisa mungkin ia tetap menjaga agar dirinya tak mencolok diantara yang lain.


Dengan begitu ia tak akan melihat wajahnya di media pemberitaan. Ken ingin orang-orang mengenal sosoknya yang sebenarnya, bukan karena latar belakangnya. 


"Apaan sih, aku tuh bukan anak kecil lagi. Aku bisa berangkat sekolah sendiri tau!" Suara protes seseorang terdengar di pendengaran Ken. 


"Ia tau, tapikan aku pengen ngantarin kesayangan nya aku. Janji deh, besok-besok gak akan lagi. Oke?" jawab seseorang yang suaranya seperti tak asing bagi Ken. 


Biasanya Ken tak pernah bertemu dengan orang lain ketika melewati jalan tersebut. namun sekali lagi  suara-suara tadi terdengar familiar.


Tak ingin menebak-nebak, dan tak ingin menghindar juga, Ken tetap melanjutkan langkahnya sampai keluar dari bali tembok. 


"Apaan sih? pokoknya awas aja kalau sampai ada yang lihat. Aku gak mau kita di omongin satu sekolah tau!''


"Ya iya, maaf. Ya udah, masuk gih sana, selamat belajar sayang, kalau ada yang macam-macam langsung bilang aku, oke..?" 


Ken sempat berhenti sejenak saat melihat teman sekelasnya dan juga Mr.Damian yang percakapan nya tak sengaja Ken dengar. Menurut pengamatan sepintas, mereka terlihat sangat akrab dan juga, ..


Tak ingin membuat salah paham, dengan dianggap menguping, Ken akhirnya membuat suara agar keberadaan nya di ketahui. "Ehhm.." Terlihat dari ekspresi wajahnya, Mr.Damian jelas tak menduga jika Ken akan muncul di sana, pada jam yang sama. 


''Selamat pagi Mr.Damian.'' sapa Ken sopan, membuat teman sekelasnya itu langsung bersembunyi di belakang Mr.Damian.


Mr. Damian yang masih mengenakan pakaian biasa, jelas tak memiliki jadwal mengajar di pagi hari. Mungkin karena itu jugalah Mr.Damian sengaja untuk mengantarkan Shreya sampai ke sekolah. Tapi apa hubungan mereka? Entahlah, itu bukan urusan Ken, ia tak perlu memikirkannya. 


'' Selamat pagi Ken. Aku tak melihatmu tadi..'' balas Mr. Damian, bersikap canggung, sementara Shreya langsung menyembunyikan wajahnya.


Melihat sikap Shreya, Jelas gadis itu tak ingin di ketahui, tapi sudah terlambat. Ken hanya menyunggingkan bibir, acuh. Ia tidak pernah mau peduli dengan urusan orang lain, apalagi tentang hal seperti ini. 


''Saya permisi Mr,  saya harus ke kelas.'' pamit Ken, kembali melangkahkan kaki. Saat ken sudah cukup jauh, Mr.Damian memanggil Ken kembali. 


"Ah.. Ken, tunggu!'' katanya, sedikit mengeraskan suara. 


"Hiiiiss, apaan sih, malah di panggil lagi, orang dia udah pergi juga!" kesal Shreya, memukul pelan pundak Damian. 

__ADS_1


''Ssstt, udah ke kelas sana! malah aneh tau kalau kamu sembunyi gini!'' balas Demian, setengah berbisik. 


"Ken, Shreya sama-sama kamu ya ke kelas?" pinta Mr.Damian. Ken menolehkan kepalanya, melirik pada Shreya lalu  mengangguk setuju. 


''Udah sana masuk kelas, nanti kamu terlambat lagi.'' paksa Damian pada Shreya yang terlihat enggan. 


Meskipun dengan terpaksa, Shreya tak bisa terus-terusan bersembunyi, toh namanya juga sudah disebut sebelumnya. Akhirnya Shreya pun keluar dari balik punggung Damian dengan raut wajah yang terlihat menggelikan bagi Ken. 


Kalau tau kaya gini, ngapain juga tadi pake sembunyi segala? pikir Shreya sambil menghentakkan kakinya pelan. "Masuk kelas dulu ya. Bye!'' pamit nya masih menunjukan kekesalan. 


Damian tak menjawab lagi, ia hanya menyunggingkan senyum dan melambaikan tangan pada keduanya, meskipun jelas ia tak akan mendapatkan balasan. 


Sementara Ken dan Shreya berjalan dalam diam, sampai menghilang di balik tikungan yang mengarah ke pintu masuk utama. Sebenarnya, Shreya ingin memulai pembicaraan, namun ia tak begitu mengenal  Ken, pria itu terlalu dingin. 


Ditambah lagi dengan Ken yang sudah melihat dirinya dan Damian barusan, jika ia membuat alasan pasti akan terdengar aneh. Shreya merasa seperti penjahat yang sedang tertangkap basah. Tetapi jika di pikir-pikir mengapa ia harus membuat penjelasan? toh mereka juga tak saling kenal, lagi pula Ken terlihat seperti anak yang baik dan tak suka ikut campur pada urusan orang lain. 


''Aku tak akan berkomentar tentang hubungan kalian!" ucap Ken memecah keheningan.


"Apa..?" Shreya yang kurang menyimak kata-kata Ken hanya bisa tertegun. 


Bukan nya menjawab, Ken malah melontarkan perkataan lainnya; ''Aku juga gak suka jadi bahan gosip, sebaik nya kita jalan terpisah!'' katanya lagi, lalu mempercepat langkah meninggalkan Shreya.


Shreya yang melihat itu hanya bisa mencak-mencak, "Tu anak maksudnya apa sih? Gak mau komentar ? hubungan? gosip? apaan coba! Emang nya dia artis apa, sok banget!'' 


Terlepas dari rasa kesalnya, Shreya merasa lega bahwa Ken lah yang melihatnya turun dari mobil Damian. Meskipun Ken terlihat menyebalkan, namun Shreya yakin Ken tak akan menjadikan dirinya sebagai bahan perbincangan. 


"Heii,, sob! baru datang? sama siapa, kok gue gak lihat lo sih?" Leon menyampirkan tangannya di bahu Ken. Dengan gaya slengean sok asiknya, Leon memang suka menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian. Berbeda dengan Ken yang justru kebalikan dari dirinya. 


''Naik angkot.'' jawab Ken asal. 


''Ya kali angkot! Bisa dipecat supir lo kalau bokap lo tau!'' canda Leon yang memang mengetahui siapa Ken. "Berisik lo! turunin gak tangan lo, ini tuh pundak bukan tembok yang bisa lo senderin gitu aja!'' kata Ken, yang terlihat enggan dengan perlakuan Leon pada dirinya. 


"Ehh,, ada Viona!'' ucapnya, sambil tersenyum manis. 


Sikap Leon pun berubah seketika, ia juga menurunkan tangannya dari pundak Ken, "Pagi Vi, sendiri aja, jalan bareng yuk?'' sapa Leon sedikit malu-malu bertemu dengan gadis pujaan hatinya. 


"Pagi Ken, pagi juga Leon.'' balas Viona ramah. 


'Vi, kok nyapa nya Ken duluan sih? kan aku yang nyapa kamu duluan?" protes Leon karena namanya menjadi yang kedua disebutkan. 


''Apaan sih ion.. sama aja kan? yuk masuk kelas entar lambat lagi.'' ajak Viona, tampa di minta dua kali pun Ken sudah lebih dulu melajukan langkah kakinya meninggalkan pasangan populer tersebut. 


''Vi, tunggu bentar, mau ngomong boleh?" Leon menahan tangan Viona yang sudah mengikuti di belakang Ken. 


"Mau ngomong apa ya?" tanya gadis itu, sambil melirik pada jam tangannya. 


''Bentar doang Vi,- 


"Ya, apaan emang?"


"makan siang bareng ya, ada yang mau gue omongin. Gimana? ketemu di kantin, oke?'' kata Leon mulai meninggalkan Viona yang masih mematung di tempatnya. 


'Eh.. tapi..


''Pokoknya tungguin gue.'' kata Leon yang sudah berlari meninggalkan Viona dengan wajah memerah. 


Tentu saja Leon merasa malu. Meskipun populer, Leon tak pernah sekalipun menaruh perhatian pada seorang gadis seperti pada Viona. Ini juga pertama kalinya. 


"Ehmm.. ciee Vio.. udah di taksir aja." tegur Dinda yang juga teman sekelas mereka.


"Apaan sih Din, kaya lo gak tau Leon aja!' tepisnya. 

__ADS_1


BRUUKK..


Saat ingin memasuki kelas, Leon yang sambil berlari tak sengaja bertabrakan dengan Shreya yang saat itu juga akan masuk ke dalam ruangan. 


''Aww... "


Shreya yang terjatuh di koridor karena tabrakan itu mengaduh kesakitan, sementara Leon juga  meringis. 


"Eh.. sorry  banget, gue gak sengaja.'' Leon mengulurkan tangan untuk membantu Shreya, namun di ditepis gadis itu. ''Gak usah, gue bisa sendiri. Hati-hati dong lo sakit tau!'' ucap Shreya sambil merapikan rok nya. 


''Iya-iya, maaf. Kan gak sengaja.'' sesal Leon, meminta maaf sekali lagi. Leon yang melihat ponsel Shreya yang jatuh ke lantai, cepat-cepat memungutnya untuk mengembalikan pada gadis itu.


''Eh ini ponsel lo, kaya nya pecah deh, gue gantiin ya.. ''


Saat ingin membersihkan layarnya, tak sengaja tersentuh hingga menyalakan ponsel Shreya, dan muncullah wallpaper yang gadis itu gunakan. 


''Loh, kalian kenapa?" tanya Viona yang baru saja sampai di depan kelas, dan melihat ketegangan diantara keduanya.


''Eh Vio.. ini, tadi gak sengaja nabrak si jutek.'' ujar Leon, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


''Ada yang sakit gak? mau ke UKS?'' tawar Viona yang mencemaskan teman sekelasnya itu.


''Gak usah, gue gak apa-apa kok, cuma jatuh doang,- tolak Shreya.


''Siniin barang gue! '' Katanya merebut kembali ponsel dari tangan Leon, lalu buru-buru masuk ke dalam kelas. 


Shreya yang masih merasa kesakitan sekaligus kesal tak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya. 


"Sial banget sih gue hari ini!'' katanya, menghentakkan tas ke atas meja.


Shreya mengusap pelan ponselnya, kemudian memejamkan mata, ia juga membenamkan wajahnya di atas meja.  Shreya lupa untuk mengganti wallpaper ponselnya sebelum masuk ke sekolah hari ini. 


Ceroboh banget sih gue!! Shreya.. Shreya.. !  Gadis itu hanya bisa meringis di dalam hati.


Leon berbeda dengan Ken, Jika Shreya merasa baik-baik saja dengan Ken, maka tidak demikian saat berkaitan dengan Leon. Shreya selalu merasa resah setiap Leon berada di dekatnya. Laki-laki itu terlihat tak menyukai dirinya sejak awal. 


"Masih sakit? Gue minta maaf, gue beneran gak sengaja.'' kata Leon yang berdiri di samping meja Shreya, dengan wajah menyesal sekaligus bingung, membuat Shreya  buru-buru mengubah cara duduknya. 


''Gue gak apa-apa kok, santai aja. Gue tau lo gak sengaja.'' balasnya. Shreya tak berharap Leon mengungkit tentang ponselnya. 


"Kalau ada apa-apa bilang aja. Gue siap tanggung jawab kok.'' Kata-kata Leon sontak membuat teman-teman yang ada didalam ruangan menjadikan keduanya pusat perhatian.


''Hiss! Ngomong apaan sih Loe! duduk sana! tanggung jawab pala lo, rese!'' Bukan nya memperbaiki situasi, pernyataan Leon malah membuat keduanya menjadi bahan perbincangan. 


''Lo shio anjing? galak amat!" balas Leon yang kini dibuat kesal oleh sikap Shreya.


Merasa niat baiknya tak di terima, Leon hanya bisa menatap heran pada gadis pemarah di depannya itu lalu kembali ke kursinya.


Semua wanita memang sulit di mengerti.


Ken yang juga diam-diam memperhatikan kedua orang itu hanya diam mengamati, ia tak tau apa yang terjadi diantara keduanya, jadi ia tak akan berkomentar. 


''Sssttt.. gue serius, kalau ada yang sakit. gue tanggung jawab kok!'' Kata Leon, sekali lagi menyentuh pundak Shreya.


"Brisik!!"


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2