My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
TEMPAT RAHASIA


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


.......


...DING DONG.....


...DING DONG.....


Bell tanda jam pelajaran berganti pun akhirnya berbunyi, dan itu artinya semua siswa dapat beristirahat sejenak sebelum memasuki jam pelajaran berikutnya.


"Vi, yang tadi pagi gue omongin, gue tunggu di kantin ya..'' Peringat Leon pada Viona yang baru saja selesai menyimpan buku-buku ke dalam tasnya.


''Kenapa gak bareng aja sih?" usul Viona, mengingat mereka satu tujuan.


''Malu Vi..'' jawab Leon cengengesan, lalu melirik pada Ken yang duduk di belakang Viona.


''Ssstt,, Sob, temenin gue ke kantin!'' ajak Leon pada Ken yang saat ini tengah memicingkan matanya.


"Lo aja duluan sana, gue mau ke perpus.'' Tolaknya. Ken tau apa yang sedang dipikirkan Leon dan apa yang akan di lakukan temannya itu, dan Ken tak ingin dijadikan tameng. Karena itulah Ken lebih memilih untuk tidak terlibat.


"Temenin gue kali Sob, grogi ini.'' bujuk Leon lagi, sambil  berbisik.


Melihat Leon yang masih berada di dalam kelas, Viona pun akhirnya kembali bersuara, ''Gak jadi nih ke kantin? kenapa gak ngomong disini aja sih, emang penting banget ya?" tukasnya.


"Ya gak juga sih Vi, biar sekalian makan siang bareng aja. Atau mau barengan aja? si muka datar diajakin susah banget.'' ujarnya sambil melirik wajah malas Ken.


''Ken, mau makan siang bereng kita?'' Tanya Viona dengan suara lembut dibuat-buat. ''Shreya, mau makan siang bareng juga gak?" tambahnya, melihat pada keduanya.


Shreya yang mendapatkan tawaran dari Viona jelas tak akan menerima ajakan tersebut, apalagi di sana ada Leon. Shreya tak ingin membuat celah untuk Leon bicara padanya. Ia tak ingin laki-laki bermulut lemes itu membahas tentang apa yang mungkin di lihatnya pada ponsel Shreya sebelumnya.


"Ehhm. Gue gak deh Vi, kalian aja. Gue duluan ya..'' tolaknya, bergegas meninggalkan kelas.


''Gue juga. Lo berdua aja sana.'' tambah Ken, yang segera menyusul di belakang Shreya.


"Tu manusia dua kok bisa sama banget sih, sama-sama nyebelin.'' ucap Leon menatap heran saat punggung Ken menghilang di balik tembok.


"Ya udah, Yukk lapar nih.'' potong Viona, yang merasa kecewa dengan penolakan Ken.


"Ya udah, Yukk.'' Leon yang merasa berbunga-bunga saat Viona menyentuh tangannya, tak bisa menahan senyuman sumringah di wajahnya.


'Vi, gak papa nih kita gandengan?" tanya Leon dengan gugup, membuat Viona segera melepaskan tangannya. 


''Sorry, gue kebiasaan pegang tangannya Dinda.'' sela Viona yang menjadi salting alias salah tingkah.


''Gak papa kali Vi, malah seneng lagi kalau  lo mau gandeng tangan gue.'' jawab Leon, yang sedang kesemsem.

__ADS_1


Leon yang tadinya malu-malu sekarang memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada Viona saat keduanya masih berada di koridor menuju ke kantin. 


'Vi, ngomong disini aja yuk? lo mau gak jadi pacar gue? " tanya Leon langsung dengan percaya diri. 


''Ion gue,- 


''Gue suka sama lo Vi, dan rasa suka gue makin lama makin berubah jadi rasa sayang ke lo. Gue tau kita baru aja kenal, dan mungkin lo juga belum kenal gue dengan baik. Tapi gue berani jamin, kalau lo gak akan nyesel nerima gue jadi pacar lo.'' 


Kata-kata yang  sudah Leon  susun sebelumnya kini keluar begitu saja. Ia tak bisa menunggu momen yang tepat, dengan wajah bersemu dan juga detak jantung yang terdengar berkejar-kejaran semakin membuat Leon berkeringat dingin. 


Viona bukanlah seorang gadis biasa. Meskipun semisalnya nanti perasaan nya akan terbalas, setidaknya Leon sudah mencoba yang terbaik untuk mengungkapkan isi hatinya.


"Vi, gimana..?'' tanya Leon lebih lembut, ia benar-benar berharap Viona merasakan hal yang sama padanya. ''Tapi Kalau lo masih ragu, lo gak harus jawab sekarang kok, pikir-pikir aja dulu. Gue cuma pengen lo tau kalau gue sayang sama lo itu aja.'' tambah Leon, sambil menggenggam tangan Viona.


Sebenarnya, Viona juga menyukai Leon, hanya saja ia lebih tertarik pada Ken, dan menurutnya Ken lebih menantang untuk di taklukan di bandingkan dengan Leon yang jelas-jelas sudah jatuh hati padanya sejak pertama mereka bertemu.


''Sorry ion, gue gak mau PHP'in lo. Sejujurnya gue juga ada rasa sih sama lo. Tapi suka yang gue rasain cuma suka sebatas teman. Gue gak ada perasaan lebih. Kita temenan aja ya.." ujar Viona, menunjukan penyesalannya karena tak bisa membalas perasaan Leon, dan itu artinya Leon harus berlapang dada. 


Leon yang sudah mempersiapkan hati untuk menerima jawaban terburuk pun akhirnya hanya bisa menghembuskan nafas berat. Viona memang tak mudah untuk di taklukan dengan pesona nya yang masih terbilang biasa saja di bandingkan anak-anak lainnya yang mungkin jauh lebih populer darinya. 


''Gak papa kok Vi, kita temenan aja dulu. Siapa tau lo nanti berubah pikiran, gue tetap nungguin lo kok.'' balas Leon seraya memaksakan senyumannya. 


''Ya udah kalau lo lapar ke kantin aja, gue ada urusan bentar.'' tambah Leon. 


Viona yang merasa tak enak telah membuat Leon kecewa pun hanya bisa meminta maaf, ''Ion, jangan marah ya, kita tetap teman kan?" katanya, menunjukan senyuman terbaik, Senyuman yang masih membuat hati Leon berdag-dig-dug ria. ''hmm. gue gak papa kok, santai aja.'' jawab nya lalu pergi. 


Dengan perasaan nya yang masih kacau, Leon memutuskan untuk menenangkan diri di balkon lantai lima gedung sekolah tersebut. Di sana terdapat satu ruangan yang ia temukan beberapa waktu lalu, tempat yang sudah lama tidak digunakan, namun balkon tersebut menyuguhkan pemandangan yang cukup indah untuk menyendiri dan menenangkan perasaan nya yang saat ini sedang merana. 


Sesampainya di sana, Leon malah mendapati seseorang yang tak terduga; niatnya ingin menyendiri, malah bertemu dengan si ratu jutek. "Disini juga lo, sanaan gue mau duduk.'' katanya, mengambil tempat di sebelah Shreya. Saat masuk, Leon melihat Shreya hanya duduk termenung dengan kaki menjuntai di pinggir balkon. Entah apa yang gadis itu pikirkan, mungkin saja sedang mengalami hal berat seperti dirinya.


''Mau..?" katanya, malah menawarkan coklat yang saat ini sedang ia makan. Makanan manis adalah obat yang ampuh untuk memperbaiki perasaan yang buruk.


Ini adalah pertama kalinya Shreya bersikap normal pada Leon, "Kebanyakan makan coklat lo, mulut lo baik gitu? biasanya lo kaya guguk!'' sela Leon, yang entah kenapa merasa puas jika bisa membuat Shreya marah. . 


''Muka lo tu kaya guguk! mau gak?"  kata gadis itu lagi, dengan wajah kesal yang ditahan-tahan.


Leon pun menerima niat baik Shreya, ia mengambil satu bagian coklat lalu memakannya, ''thanks..'' ucapnya, lalu mereka sama-sama kembali terdiam. 


Shreya juga enggan menanyakan tentang apapun pada Leon, terlebih lagi saat air muka laki-laki itu seperti saat ini. 


''Btw, lo kok tau tempat ini? terakhir gue kesini kayanya tempat ini masih aman.'' tanya Leon memecah keheningan.


''Kenapa gue bisa gak tau? tempatnya segede gini.'' jawab Shreya kembali jutek. 


"Yang bilang ini tempat kecil siapa coba, gue nanya doang. Marah-marah aja lo!'' kesal Leon. 


''Pokoknya ini tempat gue ya, gue yang nemuin tempat ini duluan.'' klaim Leon, mengingat memang dirinya lah yang lebih dulu berada di sana sejak pertama datang ke sekolah.


''Apaan? emang ni tempat lo yang buat? enak aja!'' tolak Shreya, tak setuju dengan pernyataan Leon. 


Ken yang awalnya ingin terus bersembunyi merasa terganggu mendengar perdebatan kedua makhluk aneh di bawahnya, hingga ia tak bisa berdiam diri lagi, "Berisik banget sih lo berdua!'' bentaknya, membuat Shreya dan Leon sama-sama mencari dari mana sumber suara tersebut. 


"Sttt. Lo dengerkan suara barusan?" tanya Leon yang saat ini tengah merasakan bulu roman nya berdiri.

__ADS_1


"Lo pikir gue budek, ya dengerlah. Siapa sih? bukan setan kan ya?" balas Shreya sambil melihat sekitar.


Sedetik kemudian, Ken pun keluar dari tempat persembunyiannya dengan melompat ke arah balkon dimana Shreya dan Leon terus berdebat.


''Lah, Sob, lo ngapain dari sana? bangun sarang lo ?" tanya Leon dengan polosnya sambil melihat ke asal Ken melompat.


''Ya Tuhan, nambah satu lagi!'' gumam Shreya memukul kening nya, saat melihat sosok Ken di sana.


''Tunggu, lo sejak kapan di atas sana?' tanya Shreya pada ken, mengingat sebelum kedatangan Leon, Shreya sempat berbincang-bincang dengan Damian di ruangan tersebut. 


''Kenapa?" tanya Ken, masih dengan ekspresi yang sama. Sejak awal ia sudah berada di sana, bahkan sebelum Shreya memasuki tempat itu Ken sudah ada ditempatnya.


Awalnya ia juga merasa terganggu saat seseorang memasuki ruang tersebut, yang tak lain ternyata Shreya, dan tak lama setelahnya, disusul oleh Mr. Damian. Ken juga mendengar semua yang mereka bicarakan. Namun tetap saja, ia tak tertarik pada urusan orang lain.


''Jangan bilang kalau Lo..?,- Shreya hanya menebak-nebak apa yang terjadi, dan melihat ekspresi wajah Ken, Shreya yakin kalau Ken juga tau dengan siapa Shreya sebelumnya.


"AAAAKKKKKHHH .. lo nguping  pembicaraan gue kan?ngaku lo! '' tuduh Shreya dengan marah pada Ken. Kenapa harus lagi-lagi Ken yang mengetahui rahasianya.


"Gak penting!" balas Ken dingin.


Leon yang tak memahami kedepan hanya bisa menyaksikan kehebohan Shreya dan juga ketidakpedulian Ken, 


Sementara Shreya masih memberikan ocehan, Ken berjalan melewati keduanya untuk mengambil tempat duduk di ujung balkon. ''Gue mau lanjut baca, jadi lo berdua jangan berisik! ganggu banget!'' ucap Ken lagi, membuat Leon dan Shreya sama-sama menggelengkan kepala melihat sikap dingin teman sekelas mereka itu. 


''Ssstt.. itu anak ngalah-ngalahin es batu, bener gak?" bisik Leon pada Shreya. 


"Kenapa tempat ini jadi macam sarang penyamun sih." oceh Shreya yang kini benar-benar merasa terganggu karna tempat persembunyiannya sudah tak aman lagi.


"Apa? lo bilang apa, penyamun? gila lo tampang gue ganteng gini, lo tu cwe barbar!'' kata Leon melewati lalu mendorong pundak Shreya dengan pundaknya. 


Mereka pun sama-sama terdiam, menyibukkan diri masing-masing. Tak ada lagi yang mengajukan protes dan tak ada juga meninggalkan ruangan, mereka seperti saling setuju untuk tidak saling menganggu. 


''Lo berdua gak lapar? gue mau pesan makan, mau gak?' tawar Leon pada Ken dan juga Shreya yang sejak tadi membisu layaknya patung penunggu gang.


Karena keduanya kompak tak menjawab tawaran Leon, ia pun akhirnya memutuskan sendiri.


Jadilah Leon memesan tiga kotak paket menu  untuk makan siang untuk mereka. 


''Punya temen kok pada gini amat sih, menderita banget masa-masa SMA gue.'' Gumam Leon, yang kembali meratapi kesedihan nya. 


''Wooii, gue lagi sedih nih, baru aja Viona nolak cinta gue, lo pada gak ada yang mau ngehibur gue gitu?" cerita Leon, yang sekali lagi kembali merasakan kekecewaan atas perasaan cintanya yang tak terbalaskan. 


"GAK!


"GAK!


Jawab keduanya kompak, membuat Leon semakin bermuram durja..''Jahat banget lo pada,sumpah!'' 


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...SHREYA C. BRASKA...



__ADS_2