
...ENJOY...
.......
.......
.......
Pesawat yang dinaiki oleh Rehan dan Julie baru saja tiba. Sesampai nya di Airport, keduanya langsung menunggu di tempat kedatangan para penumpang,
Menunggu putra dan putri mereka untuk datang menjemput.
''Mereka disana moo.'' Rehan yang lebih dulu menyadari kedatangan putra dan putrinya, menunjuk ke arah datang nya Zen dan Zoya.
''Ah, kau benar.- sayang disini..'' Julie melambaikan tangannya.
Ini adalah kunjungan kali ketiga mereka ke Stockholm. Karena putra dan putri mereka terlalu sibuk untuk pulang dan berkunjung ke indonesia, jadi Rehan dan Julie lah yang meluangkan waktu mereka untuk datang berkunjung karena merindukan anak-anak mereka.
''Mom, Dad.. kalian sudah lama menunggu?" Zoya menghampiri kedua orang tuanya, lalu memeluk mereka bergantian. ''Tidak sweet heart, kami baru saja tiba.'' jawab Rehan, balas memeluk putrinya erat.
''Biar ku bawakan Dad.. kalian pasti lelah.'' Zen mengambil alih troli barang bawaan Rehan dan Julie.
''Terima kasih son..''
Setelah memasukan semua barang ke bagasi, Zen langsung membawa kdua orang tua mereka untuk kembali kerumah.
''Berapa lama kalian akan tinggal mom?" Tanya Zoya, mengingat orang tua nya selalu memiliki rencana tak terduga lainnya setiap kali berkunjung. Jadi, Zoya selalu memiliki kebiasaan untuk bertanya sebelum membuat rencana lain yang akan menuntut partisipasi kedua orang tuanya.
''Entahlah, sebaiknya kau tanyakan Dady mu. Dady mu lah orang tersibuk disini.'' jawab Julie dengan sebenarnya.
''Moo, aku tidak sesibuk itu.- elak Rehan membela dirinya. ''Kami akan tinggal selama kurang lebih satu minggu sweet heart. Setelah nya kami akan mengunjungi Ken, di London.'' jelas Rehan.
''Kalian akan kesana juga?- kami juga akan ke london mom, Dad- kenapa kita tidak pergi bersama saja, bukan kah ini akan jadi seperti reuni keluarga?'' usul Zoya.
''Kalian juga akan london? ada apa? apa tuan muda ini memiliki pekerjaan lainnya?" Rehan melirik pada putra menantunya yang saat ini tengah mengemudi.
''Bukan Dad. Kami memiliki undangan, dari salah satu karyawan di perusahaan ku. Mereka akan menikah di London, dan mempelai laki-laki nya adalah rekan sesama dosen saat Zo'e di indonesia. Dan, di london, Zo'e juga harus mengunjungi salah satu murid beasiswa dari yayasan -MOTHER- jadi kira-kira begitulah rencana perjalanan kami di London.'' jelas Zen dengan singkat.
''Begitukah?-Hmmm. Baiklah, kalau begitu Dad akan memundurkan jadwal dan membuat reuni kecil bagi keluarga kita. Setidaknya ini akan membuat keluarga kita terasa lengkap kembali.'' ujar Rehan menyetujui ide putri nya itu.
''Itu sangat bagus Dad, Mom.. perjalanan kita selanjutnya pasti akan sangat menyenangkan.'' seru Zoya.
''Nah, baiklah.. kita sudah sampai.'' ujar Zen, saat membelokan mobil nya masuk ke halaman rumah mereka.
''Kalian istirahat saja mom, Dad- aku akan menyiapkan makan malam. Apa kalian ingin sedikit kudapan untuk camilan, aku akan mengantar nya ke kamar kalian.''
''Putri kita sudah seperti diri mu, Moo.'' bisik Rehan pada istrinya.
''Apa saja yang kau siapkan sayang.- kalau begitu Kami akan naik sekarang.'' Rehan mengedipkan matanya, ia sangat bahagia melihat putrinya yang sudah sangat cakap sebagai seorang istri.
''Baiklah Dad,- istirahat lah. Barang-barang kalian juga akan diantarkan ke kamar.''
Setelah mommy dan Dady nya masuk ke kamar, Zoya menyiapkan beberapa kudapan untuk camilan sore. Ia juga menyiapkan minuman untuk suami nya yang saat ini tengah mengantarkan barang-barang orang tua mereka.
''Sssttt.. kak, bisa kita pergi ke supermarket setelah ini? kulkas kita benar-benar kosong.'' Zoya memperlihatkan keadaan kulkas mereka yang hanya terisi oleh beberapa telur dan roti.
''Dimana mom dan Dad?"
''Dikamar, mereka sedang istirahat.- letakan saja dulu kopernya disana.'' ujar Zoya, tak ingin menunda waktu lebih lama.
''Baiklah, kita berangkat sekarang.'' ajak Zen yang juga tak ingin mendapatkan omelan dari mollie.
Setelah satu jam, keduanya sudah kembali ke rumah. Zoya membeli begitu banyak jenis daging segar maupun beku. Ia juga membeli aneka sayuran, dan juga beberapa jenis buah-buahan. Zoya mengisi penuh kulkas mereka.
''Ada yang bisa ku bantu sayang? kau terlihat lelah.'' Zen mengambil beberapa kantong belanjaan dan membantu istrinya untuk menyusun nya rapi ke dalam kulkas.
''Aku tidak apa-apa kak, mungkin karena kita tadi terlalu tergesa-gesa.-- Ini sangat menyenangkan.'' Zoya tertawa kecil mengingat kelakuan mereka yang sedang menghindari omelan sama seperti ketika mereka masih kecil dulu.
__ADS_1
''Sebaiknya kau duduk di sana, biar aku yang membuat makan malam.'' perintah Zen pada istrinya.
Zoya pun menuruti perkataan Zen. Lagi pula ia memang merasa pusing dan juga lemas. Apakah ini karena gejala awal kehamilannya, jadi ia merasa begitu mudah lelah. Yang pasti Zoya akan selalu berhati-hati dan tidak akan memporsir secara berlebihan aktivitasnya.
Saat ini tidak ada yang mengetahui tentang kehamilan Zoya. Ia masih merahasiakan nya.
Zoya sudah menunggu hari ini sejak enam bulan lalu.
Saat Zoya memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi obat pencegah kehamilan, Zoya berharap hari ini akan segera datang.
Bagi Zoya, sudah cukup ia meminta suaminya untuk sabar menunggu. Lagi pula dirinya juga sudah menginginkan kehadiran seorang bayi.
Namun ternyata, hamil tidak semudah yang Zoya pikirkan, ia kira jika ia sudah tidak minum obatnya lagi, ia akan langsung hamil- ternyata ia harus menunggu selama enam bulan lamanya, barulah ia bisa mendengar kabar baik ini.
Dan sekarang, yang Zoya lakukan hanyalah menjaga kehamilannya dengan baik, dan juga ia sedang menunggu momen yang tepat untuk menyampaikan kabar tersebut kepada semua orang. Meskipun kehamilan merupakan hal yang biasa bagi kebanyakan wanita, tapi bagi Zoya hal ini sungguh luar biasa.
Dan Zoya ingin menjadikan momen tersebut, sebagai momen yang spesial bagi keluarga nya.
''Apa menu makan malam kita sayang, kau ingin ku buatkan sesuatu?" tanya Zen saat ini tengah menyiapkan bahan-bahan yang akan segera di masaknya.
''Bagaimana jika steak dengan saus lada hitam, dan juga kentang tumbuk, serta beberapa potong ayam goreng dengan lelehan mozarella, bukan kah itu sangat enak kak?" usul Zoya, sambil membayangkan makanan tersebut masuk ke dalam mulutnya.
''Apa semua itu yang ingin kau makan sayang? tidak kah itu terlalu banyak Zo'e?"
''Tenang saja kak, aku akan membantu mu membuat nya.'' Zoya bangun dari tempa duduk nya, lalu mengenakan appron. Ia memang tidak berniat menjadi seorang penonton, Zoya akan membuat sendiri semua makanan yang ia inginkan.
''Apa yang kalian berdua lakukan sayang?" Julie mendekati keduanya yang terlihat seperti bermain-main di kitchen room tersebut.
''Kami akan membuat makan malam mom..'' ujar Zoya dengan antusias.
''Tinggalkan! biar mom yang membuat makan malam.'' perintah Julie pada keduanya.
''Tapi mom-
''Biarkan mom yang membuat nya sayang. Lagi pula permintaan mu terlalu mudah.'' ujar Julie yang mendengarkan apa saja keinginan putri nya tadi.
''Enak saja, aku bisa memasak semua nya. Aku malah meragukan kemampuan mu.'' balas Zen, sambil mencubit gemas pipi istrinya.
''Sudah-sudah.. kalian duduk saja di sana, atau kalian bisa kembali bekerja.'' perintah Julie pada keduanya.
''Siap mom-
''Siap mollie-
Jawab Keduanya secara bersamaan. ''Biar ku lepaskan.'' Zen membalik tubuh Zoya untuk melepaskan appron yang sebelumnya sudah terpasang. ''Ingin ku ambilkan camilan? atau ku kupaskan buah?" tawar Zen melihat wajah Zoya yang saat ini kelelahan.
''Tidak. Aku mau kakak pijitkan saja telapak kaki ku. Kaki ku terasa pegal kak.'' pinta Zoya dengan manja.
''Baiklah, tunggu aku di ruang santai, aku akan mengambilkan moisturizer untuk memijat kakimu sayang.''
Tak lama setelahnya, Rehan juga keluar dari kamar. Tadinya Ia sempat tetidur sesaat sebelum mendapati ruangkan tersebut kosong.
''Dimana anak-anak kita, moo?"
''Entahlah, Boo. Mungkin dikamar mereka, atau di ruang keluarga. Aku menyuruh mereka untuk istirahat.'' jawab Julie sambil mengolah makan malam.
''Ingin segelas kopi, Boo?''
''Apapun yang kau buat sayang.''
...❄️❄️❄️...
Makan malam pun tiba. Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Sejak tadi Zoya sudah menahan diri untuk tidak lebih dulu melahap habis semua makanan yang tersaji di atas meja. Semua makanan yang yang dibuat mommy nya itu telah menguji indra penciuman dan juga indra perasaanya. Tapi sebelum itu, Zoya harus menyampaikan kabar baik miliknya.
...Ting--ting.....
Zoya membunyikan gelas dengan sendok, meminta perhatian semua orang.
__ADS_1
''Perhatian semuanya,- malam ini adalah malam yang sangat spesial buat ku. Terutama karena mom, dan Dad sudah datang berkunjung.'' ujar Zoya dengan mata berbinar bahagia.
''Selain itu juga, aku punya sesuatu yang ingin ku katakan.- Tapi sebelumnya, kalian harus menunggu sebentar, aku akan segera kembali.'' ujar Zoya, kemudian beranjak dari kursinya. ''Tunggu sebentar...
''Kau tau ada apa ini, son?" tanya Rehan yang terlihat lebih penasaran di bandingkan Zen dan Julie.
''Entahlah Dad, sejak tadi siang Zoya ingin mengatakan sesuatu yang rahasia, tapi aku juga tidak tau ada apa, sebaiknya kita menunggu.'' ujar Zen, pada kedua orang tuanya.
Tak lama kemudian, Zoya sudah muncul dengan membawa tiga kotak hadiah yang akan di berikan kepada mereka masing-masing.
''Ini untuk, Dad- mom, dan untuk mu kak.- bukalah..''
Ujar Zoya menantikan reaksi ketiganya. Ia sungguh sudah tak sabar.
Tak butuh waktu lama, semua kotak sudah terbuka. Rehan dan Zen sama-sama mengerutkan kening saat melihat isi kota tersebut. Berbeda dengan Julie yang saat ini sudah meneteskan air mata bahagia nya.
''Moo, kenapa menangis?" tanya Rehan, yang kemudian mendapatan perhatian yang sama dari Zen.
''Sayang, apa maksudnya ini? kenapa mollie menangis?" tanya Zen keheranan.
''Dasar laki-laki tidak peka!- Julie memarahi suami dan juga putranya. ''Bagaimana mom tidak menangis, ini kabar yang sangat membahagiakan.- tambah nya lagi, membuat air matanya jatuh semakin deras.
''Masih tidak paham juga? dasar menyebalkan!'' Julie membulatkan matanya. ''Kemarilah sayang, mom ingin memelukmu!'' Julie merentangkan kedua tangannya untuk Zoya.
Zoya pun sungguh tidak menyangka jika kedua laki-laki di hadapannya ini sungguh tidak mengerti arti dari sepatu bayi yang ada di dalam kotak tersebut. Akhirnya Zoya pun sama menangis nya dengan Julie. Menyebalkan!
''Masih tidak ingin memeluk putrimu, Boo?" kesal Julie. Rehan yang masih bingung pun semakin heran melihat kedua wanita itu menangis.
''Sweetheart kenapa menangis? apakah Dady punya salah pada mu? atau..
''Kalian sungguh terlalu!- Apa kau tidak merasa senang, Boo? sebentar lagi kau akan jadi seorang grandfa..- dan kau Zen, istrimu sedang hamil.''
Julie tak mengerti mengapa ia harus menjelaskan hal seperti ini kepada kedua laki-laki dewasa yang ada di hadapannya ini. Benar-benar tidak peka.
''Hamil?"
''Hamil?"
Seru keduanya bersamaan;
''Sayang, kau hamil? sungguh?" ujar Zen yang baru mengetahui makna dari isi kotak tersebut.
Zoya mengangguk kepalanya.
''Sungguh? kau hamil anak kita? ini benar-benar terjadi? Mollie- Dad.. istri ku hamil...'' seru Zen sambil melompat kegirangan. Ia juga merebut Zoya dari pelukan mollie, lalu memeluk istrinya dengan begitu bahagia.
''Kau tidak bercanda kan sayang? kau benar-benar hamil kan?" ujar Zen lagi.
''Dasar kau kak, kau pikir ini bahan untuk sebuah lelucon?" kesal Zoya.
''Aku mencintaimu sayang.- Yeeeee... sebentar lagi aku juga akan menjadi Dady..'' seru Zen kegirangan. t
''Sudah cukup! sekarang giliran Dady..'' ujar Rehan memisahkan keduanya. ''Sweet heart, selamat untuk mu sayang. Sekarang kau sudah menjadi calon ibu. Kau harus sangat berhati-hati saat kehamilan pertama mu.'' Rehan mencium dan memeluk sayang putrinya.
''Terima kasih Dad.. aku akan sangat berhati-hati.''
Malam itu, benar-benar menjadi momen yang membahagiakan bagi keluarga Wijaya. Zoya bahkan tak bisa melupakan bagaimana bahagia nya suami dan juga orang tuanya. Meskipun awalnya sempat membuat Zoya kesal, namun ternyata, kabar tersebut benar-benar melebihi hadiah di malam natal.
Tidak hanya bagi Zoya.
Bagi Zen ini sungguh luar biasa. Hal yang sudah ia nantikan cukup lama. Seorang putra atupun putri akan lahir dari istrinya. Zen sungguh tidak sabar menantikan hari dimana ia akan bertemu dengan buah hati mereka.
''Terima kasih sayang. Ini sungguh malam yang luar biasa. Kalau begitu, Aku harus sering-sering mengunjungi bayi kita, bisakah malam ini aku mengunjungi nya?"
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...