
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Semua yang hadir di acara jamuan malam kurang lebih berjumlah lima belas orang. Keluarga kecil Cassian, dan juga keluarga kecil Damian, Sashi dan juga beberapa teman staf yang bekerja di yayasan milik Zoya.
Masing-masing mereka duduk di tempatnya.
Ken mengambil tempat di sebelah Zoya, dan di samping nya tentu saja Lova, kekasihnya.
Kemudian di sebelah mereka ada Shreya dan Leon yang juga duduk berurutan.
Zen mengangkat gelas nya, ia berdiri untuk membuka pesta sederhana yang di adakan oleh istrinya tersebut.
''Selamat malam semuanya, Aku merasa sangat berterima kasih pada kalian semua yang sudah meluangkan waktu untuk datang dan dan berkumpul dalam acara jamuan sederhana yang di siapkan oleh istriku tercinta,-
''Pertama-tama, pesta ini di adakan untuk menyambut adik-adik kita tercinta yang baru saja kembali dari London, Ken, Lova, dan juga Leon.-
''Kami tau kalian sudah berusaha keras di sana, dan saat ini adalah waktu dimana kalian harus menikmati waktu istirahat dari padatnya jadwal kuliah.- Pesta ini dibuat untuk menyambut kalian, selamat menikmati liburan, adik-adik ku tercinta.'' Zen mengangkat gelasnya mengajak semua yang hadir untuk bersulang.
''Dan yang terakhir,- pesta ini juga sebagai ucapan rasa syukur kami, kemarilah sayang,- Ken mengulurkan tangannya pada Zoya, agar istrinya itu berdiri di samping nya.
''Kami merasa sangat bersyukur atas usia kandungan istriku yang sudah memasuki usia 30 minggu, dan semoga anak pertama kami lahir dalam keadaan sehat begitu pula dengan istriku. Kami bersulang untuk mu sayang, kau wanita yang luar biasa.'' tambah Zen lagi.
Lalu semuanya mengangkat gelas bersama-sama bersulang dengan pasangan bahagia itu.
Suara tepuk tangan cukup riuh terdengar setelah semuanya bersulang untuk yang kedua kalinya.
''Terima kasih semuanya,- giliran Zoya yang bersuara.
''Pesta ini tidak akan jadi tanpa bantuan Megan, Sashi, dan juga yang lainnya,- terima kasih untuk kalian semua.- Sekarang kita bisa mulai pestanya, silahkan nikmati jamuan yang sudah di disiapkan..''
Setelah kata-kata pembuka dari tuan rumah, pesta sederhana itu pun berlangsung di sertai dengan banyak nya gelak tawa dan juga suka cita.
''Ini sayang, makanlah ini agar Little Cherry selalu sehat.'' Zen menyiapkan steak di piring Zoya, lengkap dengan kentang tumbuk dan juga sayur-sayuran lainnya.
''Ini terlalu banyak kak, aku tidak akan bisa menghabiskan nya.'' protes Zoya, melihat piring yang sudah terisi penuh di depan nya.
''Kalau begitu aku akan makan bersama mu.- sekarang buka mulut mu sayang, aku akan menyuapi mu.''
''Aku bisa sendiri kak,- tolak Zoya, tapi kemudian di tepis oleh Zen.
''Mereka juga harus mengurus diri mereka sayang, mereka tidak akan merasa iri dengan kemanisan kita berdua.'' jawab Zen dengan percaya diri.
''Baiklah, tapi sekali saja, sisanya aku akan makan sendiri.''
Setelah menerima suapan pertama dari Zen, Zoya kembali melanjutkan perbincangan nya dengan para istri yang saat ini juga sedang disibukan oleh para malaikat kecil mereka.
''Lily.. haii, kau tidak ingin bersama aunty?"
Zoya melambaikan tangan nya kepada bidadari milik Megan dan juga Cassian yang saat ini sudah berusia 6 tahun.
''Lily boleh duduk disebelah aunty?" ucap gadis kecil itu dengan begitu lucu dan juga menggemaskan.
''Tentu saja sayang, kemarilah, duduk disebelah aunty.'' balas Zoya dengan senang.
Setelah makan malam berakhir, mereka berpindah ke dalam rumah, karena cuaca juga sudah semakin dingin.
Para istri duduk di ruang keluarga bersama anak-anak, sementara para suami duduk di ruang tamu untuk berbincang tentang urusan laki-laki.
Sementara Lova dan Ken berjalan-jalan malam disekitar taman, dan Leon pergi bersama Shreya untuk menyelesaikan urusan keduanya.
''Apa kau kedinginan, pakai ini.'' Leon melepas jaket yang ia kenakan dan menyampirkan nya ke bahu Shreya.
''Bagaimana dengan mu? kau tidak kedinginan?"
''Aku? tenang saja, aku tidak akan membeku. Kau cukup memegang tangan ku seperti ini,-
__ADS_1
ujar Leon, lalu keduanya kembali berjalan sambil bergandengan tangan.
''Jadi apa jawaban mu Shre, aku sungguh ingin mendengarnya..?"
Kini keduanya berhenti di taman bermain yang jarak nya tidak terlalu jauh dari rumah Shreya.
''Le, aku tidak tau apa ini waktu yang tepat atau tidak bagi kita. Aku merasa sangat nyaman saat bersama mu. Kau memberiku perhatian dan juga semua hal yang aku inginkan dari seorang pria, kau menjaga ku bahkan sejak kita masih remaja, dan aku sungguh merasa sangat bahagia atas perasaan mu pada ku.
"Sejujurnya aku pun merasakan hal yang sama padamu, aku menyayangimu seperti kau menyayangiku. Aku merasa nyaman dengan hubungan kita saat ini, aku tidak merasa khawatir kalau aku akan kehilangan sosok dirimu yang selalu ada untuk ku.- Bisa kau mengerti yang ku maksudkan?"
''Hmm. Jadi maksudmu.. -
''Aku hanya tidak ingin, karena jarak dan juga waktu yang berbeda suatu hari akan terjadi masalah atau perselisihan di antara kita.
''Aku tidak ingin kehilangan dirimu Le, jika kita memiliki hubungan yang mengikat, aku takut hubungan kita akan putus. Aku tidak mau hal itu.''
''Lalu, kau ingin kita hanya seperti ini Shre? tidak ada status apapun, hanya karena kau takut aku akan meninggalkan mu jika kita bertengkar suatu hari nanti?"
Perasaan apa ini? Mengapa Leon merasa kecewa mendengar jawaban Shreya. Apakah cintanya tidak cukup berharga? Apakah ketulusan nya tidak pantas diberikan kesempatan?
Tidak.
Ini tidak akan berhasil. Cinta dan ketulusan memiliki tempatnya masing-masing. Semua orang berhak untuk mendapatkan nya.
''Aku hanya merasa takut Le, aku pernah berada di posisi di mana aku menjadi seseorang yang tidak di inginkan dan tidak di butuhkan sama sekali. Aku tidak ingin kau melakukan hal yang sama padaku jika nanti kita kita dua putus.''
''Jadi itu jawaban mu Shre, kau tidak ingin jadi pacarku, tapi kau juga tidak ingin kehilangan aku.
Bagaimana kalau begini saja,- ikutlah bersama ku.''
Leon kembali menggenggam tangan Shreya dan membawa gadis itu kembali ke rumah Zoya.
''Apa yang ingin kau lakukan Le..?" tanya Shreya mendadak merasa begitu gugup.
''Hanya ingin membuatmu yakin.'' jawab Leon singkat.
Setelah memasuki halaman, ternyata Ken dan Lova juga baru saja kembali.
''Shre, hai.. ada apa dengan Leon?" tanya Lova yang juga baru tiba bersama Ken.
''Entahlah, Leon bilang dia ingin mengambil sesuatu.'' jawab Shreya.
Tak lama kemudian, Leon turun dari lantai dua dan mendatangi ruang tamu dimana para suami-suami berkumpul.
''Shre, kemarilah..'' panggil Leon lagi. Setelah nya Leon kembali serius untuk bicara dengan Damian.
''Pak Demian, aku ingin bicara padamu.'' Leon meminta ijin dari kakak Shreya.
''Le, apa yang ingin kau lakukan..?" bisik Shreya.
Sementara Ken dan Lova memperhatikan keduanya dari jarak yang wajar.
''Bukankah kau takut aku meninggalkan mu?" Leon tersenyum penuh arti kepada Shreya.
Ditempat itu, semua pria telah menunggu apa yang ingin Leon sampaikan.
''Ada apa Leon, ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Damian, sesekali melirik kepada adik kecilnya.
''Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mencintai Shreya pak, dan aku sungguh-sungguh dengan apa yang aku katakan. Dan di depan anda, dan juga semua yang ada disini, aku berjanji pada kalian bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan Shreya, jika nanti aku melakukan itu, kau bisa datang padaku dan menghajar ku pak.- aku hanya tidak ingin Shreya meragukan ketulusan ku.'' jelas Leon dengan percaya diri.
''Wahh.. Cebol, lihatlah pria tampan ini, apa ini sebuah janji proposal yang akan ku terima beberapa tahun lagi?" goda Damian pada adik nya.
''Dam-dam!''
''Jadi apa mau mu Ken?'' tanya Damian lagi berubah serius.
Shreya adalah adik satu-satunya, Damian tidak akan menyerahkan nya pada sembarangan pria.
''Aku ingin kau memegang janji ku pak, dan menjadi saksi atas ketulusan ku.''
Leon menyerahkan kotak yang sebelumnya ia ambil.
''Aku menyiapkan ini sebelumnya Shre, aku tau aku terlalu kuno, tapi aku bersungguh-sungguh dan aku ingin ku percaya pada ku. Jarak dan juga waktu tidak akan mengubah apapun di antara kita.''
__ADS_1
Shreya dapat merasakan bagaimana tulusnya perasaan yang Leon sampaikan. Shreya merasa bahagia sekaligus kagum atas keberanian Leon bicara pada kakak nya tentang perasaan nya, dan Shreya rasa, Leon pantas untuk mendapatkan sebuah kesempatan.
''Apa sekarang kau bisa yakin atas perasaan ku Shre, aku tidak main-main dengan apa yang aku rasakan untuk mu. Jadi, sekali lagi aku akan memintamu untuk menjawab pertanyaan ku; maukah kau menjadi kekasihku Shreya?''
Tidak hanya Leon, semua orang yang ada di sana pun sedang menunggu jawaban Shreya, mereka menantikan apa keputusan terakhir dari gadis kecil itu.
''Ayolah Shre.. terima lah cinta Leon.'' cicit Lova sambil menunggu dengan penuh harap.
''Sssstt tenang lah L.. kenapa kita harus melihat hal seperti ini sih?" ujar Ken yang memang hanya mengikuti kekasihnya saja.
''Ini seperti menonton drama secara langsung Ken, apa kau tidak merasakan atmosfirnya?" balas Lova.
''Kau terlalu berlebihan sayang.'' jawab Ken dengan malas.
''Jadi bagaimana dengan mu Cebol? apa kau ingin membuat pria ini menunggu lebih lama? apa jawaban mu?" desak Damian disertai kerlingan menggoda.
''Ya.- Aku mau.'' jawab Shreya setelahnya.
''Ya..? kau mau jadi pacarku? benarkan Shre..?'' ulang Leon dengan berbinar bahagia.
''Hmmm. Aku akan jadi pacar mu.''
''Terima kasih Shre.. aku mencintaimu.''
Leon mencium kening Sreya sesaat, tepat sebelum Damian membulatkan matanya.
''Hanya sedikit pak..'' ujar Leon yang menyadari tatapan laki-laki yang tidak lain adalah kakak dari kekasihnya itu.
Semua yang ada di tempat itu pun tampak senang atas resminya pasangan kekasih baru malam ini.
''Yeee.... congrath Leon, Shreya...'' seru Lova sambil bertepuk tangan kegirangan.
''Sudah lah L.. jangan jadi penonton disini, sebaiknya kita mengurus urusan kita sendiri.'' Ken menarik tangan kekasihnya.
''Urusan kita..? apa..?''
''Berkencan..''
''Apa..?"
''Jangan tanya lagi, kita akan berkencan.''
"Tapi bagaimana dengan yang lain? apa kita tidak sekalian membawa Leon dan Shreya?"
"Kau ini, biarkan mereka mengurus urusan mereka sendiri, dan kita dengan urusan kita."
Love tertawa. Kekasihnya itu memang lah sangat menggemaskan.
"Kita belum memberi mereka selamat Ken..?"
"Tidak perlu. Itu hal yang biasa." tolak Ken masih menarik tangan Lova agar mengikutinya.
"Kita mau kemana? ini sudah malam, kita akan membeku jika terlalu lama berada diluar..!"
Ken menghentikan langkahnya, hingga hampir saja Lova menabrakkan tubuhnya. Ken berbalik dan mendekat pada Lova dengan jarak yang begitu dekat..
Disaat cuaca dingin seperti ini, mengapa wajah Lova tiba-tiba menghangat. Apa ia sedang merona? Ahh.. menyebalkan.
"Aku ingin bersama mu lebih lama L.. kenapa mulut kecilmu terlalu banyak protes..?"
"Aku..? aku tidak protes. Sungguh.. aku, aku hanya..
"Aku ingin mencium mu sekarang? bisakah..?"
"Disini..? tapi di sini..-
"Aku mencintaimu Penelova Mosley, kau hanya akan menjadi yang pertama dan satu-satunya dalam hidupku."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1