
...ENJOY...
.......
.......
.......
'Bukankah bulannya terlihat indah?" Zen menengadahkan kepalanya melihat indahnya langit malam. Langit dengan warna biru gelap dihiasi dengan kerlap-kerlip bintang yang bertaburan membuat langit malam semakin terlihat indah.
"Bulan atau langit?" tanya Zoya ikut menengadahkan kepalanya ,mengikuti Zen.
"Dua-duanya. Bulan tak akan nampak indah tanpa adanya langit. Dan langit akan jadi biasa tanpa adanya bulan yang menghiasinya di malam hari."
"Hmm."
"Bukankah kita juga seperti itu?''
"Kita..?''
Zen memalingkan wajahnya pada Zoya. Wanita itu masih menengadah menatap langit, namun sesekali melirik pada Zen.
"Aku pun tak ada apa-apanya tanpa ada dirimu bersama ku. Dan aku harap, hari-harimu juga tak akan indah jika bukan bersamaku."
"Apa itu sebuah kutukan?"
"Tentu, jika harus." Zen kembali menengadah.
"Kakak mengutuk ku?"
"Kenapa tidak jika nantinya kita tidak bersama. Maka aku berharap setiap harimu akan merindukan aku, dimana pun dan kapan pun, disetiap kamu menutup dan membuka mata, bahkan di setiap hembusan nafas mu, aku ingin kamu selalu merindukan aku, rindu serindu-rindunya, mungkin sampai kamu berharap aku akan ada di sana walau hanya sedetik, itulah kutukan ku."
"Itu kutukan yang mematikan kak.'' tanggap Zoya tampa memalingkan wajahnya.
"Karena kutukan itu mematikan, maka jangan pernah berpikir untuk pergi dariku. Jadilah milikku selamanya, satu-satunya bagiku, dan tetaplah seperti ini. Menjadi seseorang yang sangat berarti bagiku.'' Zen membawa tangan Zoya dalam genggamannya.
"Akan sangat menyakitkan, jika aku bukan seseorang yang penting bagimu kak, dan aku tak akan melepaskan tempatku untuk orang lain. Tidak akan!" Zoya menatap Zen yang saat itu juga tengah memandang padanya. Tatapan keduanya saling mengunci, larut dalam heningnya malam.
"Mau berdansa dengan ku?"
"Berdansa?"
"Hmm. Disini."
"Disini..?"
"Apa kamu seekor beo? kenapa selalu mengulang kata-kataku!" Zen menyentil pelan hidung mancung Zoya.
"Awww...''
Zoya meringis sambil menyentuh pelan hidungnya.
Zen bangkit dari duduknya. Berdiri di depan Zoya, lalu mengulurkan tangan nya.
"Apa..?"
__ADS_1
"Dance with me.''
"Now..?"
"Yes, please."
Zoya menerima tangan Zen dan merajut tangan keduanya. Rangan kirinya menggenggam tangan Zen, dan tangan kanan nya menyentuh pelan dada bidang Zen, sementara tangan kiri Zen melingkar di pinggang ramping milik Zoya.
"Tutup matamu, dan biarkan kesunyian meneriakkan suaranya. Biarkan ketenangan malam mengiringi setiap langkah kita." Zen menuntun Zoya agar mengikuti dirinya.
Kanan-Kiri-kanan-kiri-putar..
Keduanya bergerak seirama. Membiarkan kesunyian malam membawa keduanya dalam kenyamanan yang tak dapat terhindarkan.
"Apa kamu lihat bagaimana putramu merayu gadis kecilku?"
Rehan dan Julie memperhatikan keduanya dari Balkon yang mengarah langsung pada pemandangan taman. Memata-matai mungkin itulah yang keduanya lakukan saat ini.
"Zen sepertinya mewarisi bakat mu Boo." Julie tersenyum pada suaminya.
"Aku harap mereka akan bahagia seperti kita Moo." Rehan melingkarkan tangan nya di pinggang Julie dan memeluk istrinya itu.
"Apa kita juga harus berdansa seperti mereka?" Julie menengadahkan kepalanya menatap Rehan sambil tersenyum menggoda.
"Bisakah kita melewati bagian itu, dan langsung ke bagian pentingnya saja?"
"Bagian penting?"
"Maksud ku, ini, di kamar kita.'' Rehan mencium lembut Julie.
"Hmm.."
"Dad, Momm..?" Suara Zen terdengar tak jauh dari keduanya.
****.
Julie dan Rehan berusaha bersikap tenang di depan putra bungsu mereka. Meskipun sebenarnya situasi ini akan sangat canggung.
"Kenapa kalian disini, inikan bukan lantai kamar kalian?" tanya Zen yang baru saja keluar dari kamarnya. Kamar Mommy dan Dadynya berada di lantai 3, karena itulah Ken bertanya.
"Son...?" Rehan memamerkan senyuman khasnya. "Belum tidur..?" Rehan mengalihkan fokus putranya.
"Ada yang ingin ku tanyakan pada Zozo Dad. Kalian sedang apa..?"
...Oh God....
...Rehan mendesah....
"Tidak ada, hanya melihat langit malam. Ingin melihatnya bersama..?" Rehan mengulurkan tangannya pada Ken sambil tersenyum.
"Aku gak se'Bucin itu Dad. Daddy Lebay." Ken berbalik lalu masuk kembali ke kamarnya. Bingo. Bagian dari sikap Rehan dulu yang sekarang di warisi putra mereka.
Sejak tadi Julie hanya menahan tawanya.
"Ap.. Apa? Bucin..?" Kening Rehan berkerut memikirkan kata-kata Ken. "Bucin itu apa Moo? Jenis makanan? atau game barunya?"
__ADS_1
''Hmmmm." Julie menggelengkan kepalanya sambil mengulum senyum.
"Bukan. Lalu, Apa putra kita baru saja mengejekku..?"
Ha-Ha-Ha..
"Ken benar-benar anak mu Boo!" Julie beranjak lebih dulu meninggalkan Rehan yang masih memikirkan julukan Bucin yang Ken ucapkan sebelumnya.
"Heii.. apa maksudnya itu, tentu saja Ken putraku! Moo, tunggu aku!"
Tok..Tok..
"Son, besok pagi kamu harus menjelaskan apa itu Bucin..!" suara Rehan sedikit lantang saat melewati kamar Ken.
...❄️❄️❄️...
"Sorry, can give it back to me. That's mine" Maria meminta kertas sketsanya yang tadinya terjatuh dan di pungut oleh seseorang yang barusan berpapasan dengannya.
"This belong to you? Your creation?" Jordan berbalik melihat pada Maria yang sepertinya sedang ingin beranjak pergi.
"Yes. Please." Maria masih mengulurkan tangan nya.
Jordan mengembalikan sketsa milik wanita itu. Wajahnya terlihat sembab. Apa wanita itu baru saja menangis?
Jordan menatap Maria dengan seksama.
Namun wanita itu menundukkan kepalanya hanya melihat kearah sepatu Jordan.
"Maaf kalau membuatmu merasa tidak nyaman. Aku tidak akan mengambil sketsa mu, meskipun ini memang sangat indah." Jordan tersenyum, sambil meletakan sketsa dengan perlahan pada tangan Maria.
Apa aku sedang merayunya? Jika dilihat-lihat lagi sepertinya dia seorang wanita asing. Ah. Sepertinya dia juga tidak mengerti.
"Thanks."
Maria berlalu setelah menerima kembali sketsanya.
"Apa yang di gambarnya? apa itu tempat atau...?" Jordan bergumam sendiri, memikirkan kembali sketsa yang dilihatnya, milik wanita asing yang barusan ia temui.
Jordan adalah seorang ahli design, namun design yang barusan dilihatnya sangatlah unik, dengan dream point' yang sangat kental, hanya orang-orang tertentu yang dapat membuatnya. Jika bukan seorang pekerja design dengan keahlian khusus, maka wanita tadi termasuk sangatlah istimewa. Tapi mengapa wanita istimewa, membuat design dan menangis? di restoran pula. Aneh atau unik.. ?
Jordan pergi memesan makanan khusus paket take away.
...20 Menit menunggu, pesanan nya sudah selesai....
"Terima kasih." Jordan menyerahkan beberapa lembar untuk membayar makanannya lalu pergi. Saat ingin masuk ke mobil Jordan melihat wanita sketsa sebutan nya untuk Maria, yang saat ini tengah berdiri di pinggir jalan, sambil sesekali menggoyangkan kaki, lalu menghentakkan nya. Bosan. Mungkin itu yang dirasakannya.
"Apa yang dilakukan nya di sana? Apa dia pikir akan ada taksi lewat sini..?" Jordan masuk ke mobil, menghidupkan mobilnya, berniat memberikan tumpangan pada si wanita sketsa.
Baru saja Jordan ingin melajukan mobilnya kearah wanita itu, sebuah sedan hitam sudah berhenti di depannya, Jordan pun berlalu mendahului mobil itu, sekilas melihat pada dalam mobil yang lampunya menyala. Seseorang yang Jordan kenal.
"Apa aku salah lihat..?" Jordan melambatkan mobilnya, berharap sedan hitam itu menyusul mobilnya agar ia dapat melihat lebih jelas orang yang bersama si Wanita sketsa, namun sayanya, sedan hitam itu malah mengambil jalan memutar, dan menghilang dari jarak pandang Jordan. Mungkin ia hanya salah mengenali orang, apalagi saat ini sudah pukul 10 malam, hal seperti ini sangat mungkin terjadi.
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...