
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Cukup lama mobil Zoya mengikuti mobil Zen.
Hal yang tidak Zoya sangka-sangka adalah mobil Zen malah melaju mengarah ke jalan yang menuju kondominiumnya sendiri.
Apa yang mereka lakukan? Apa Zen membawa maria ke rumah nya? saat ini?
Tapi Zoya masih belum membenarkan pemikirannya, karena mobil mereka baru memasuki kawasan itu. Bisa saja tidak seperti yang Zoya pikirkan. Lagipula jika benar pun, kenapa harus ke kondominium Zen? Apakah ada yang belum Zoya ketahui? Apakah Zen berselingkuh? Astaga. Itu tidak mungkin. Darimana pemikiran itu bisa tiba-tiba muncul di benak Zoya.
...Sementara itu.....
"Apa aku merepotkan mu Zen? ah, aku rasa begitu.- Maria bertanya dan menjawabnya sendiri, seakan memang itu jawabannya. Namun sebaliknya, yang ia dapatkan malah tertawaan kecil Zen.
"Aku tidak masalah dengan mengantarmu Maria.- Zen tersenyum ramah seperti biasanya. ''Kau bilang dimana tadi apartemen mu?" Zen membelokan setirnya menuju alamat yang Maria sebutkan.
"Kamu tau, ternyata tempat tinggal kita searah.'' Zen mengedikkan bahunya.
"Benarkah? kebetulan sekali." Maria juga tersenyum. "Aku tinggal di GCC di gedung yang itu." Tunjuknya.
"Di GCC?''
Maria mengangguk kuat.
"Wah. Ini aneh." Zen mulai curiga.
"Apa yang aneh? aku memang tinggal di sana. Apakah tempat itu berbahaya?" Maria terlihat was-was.
"Bukan. Bukan seperti itu.- Zen menjeda. Aku juga membeli satu kondominium di GCC, asal kau tau.'' Zen melirik aneh pada Maria
"Benarkah? sungguh? di GCC? Kita tetangga?" wanita itu mulai tersenyum sumringah.
"Belum tentu tetangga, ingatlah gedung itu memiliki dua puluh lantai. Aku di lantai 10-
"Aku dilantai 10-
Keduanya menyebutkan lantai yang sama. Saling terdiam. Keheranan. Apakah ini kebetulan, atau ada alasan lainnya. Zen belum bisa memastikan itu.
"Seperti nya aku memang beruntung dalam hal ini, benarkan teman?'' Maria menyikut lengan Zen sambil mendesah lega.
"Syukurlah jika ini sebuah keberuntungan bagi mu Maria.''
Tak lama setelahnya, mobil Zen pun melewati gerbang keamanan, setelah menunjukan identitasnya mobil itu melaju masuk ke dalam. Berbeda dengan Zoya, ia memilih untuk berhenti di seberang jalan gedung itu. Zoya hanya sekedar memastikan kemana tujuan Zen dan juga maria.
__ADS_1
"Zen mau masuk..?" Tawar Maria sambil mengambil tas tangannya. Wanita itu bersiap hendak turun.
Drrrttt..Drrrttt...
..."My ❤️"...
...Calling.......
Oh.****!
Zen menghembuskan nafasnya gusar. Ya Tuhan, bagaimana ia bisa lupa. Bisa-bisanya ia pergi meninggalkan kantor, sementara Zoya sudah menghubunginya sebelumnya. Sial.
"Zen ada apa..?"
"Maafkan aku Mar, sepertinya aku harus segera kembali. Aku lupa kalau aku ada janji penting.- Kamu bisa masuk sendiri kan?" Zen terlihat cemas dan juga sedang buru-buru. Ia tak ada waktu lagi untuk berlama-lama disini.
"Ah, Jangan khawatir aku bisa, maafkan aku sudah merepotkan mu, dan terima kasih." Maria tersenyum tulus atas bantuan Zen.
"Baiklah, aku benar-benar harus pergi sekarang. Sampai nanti." Zen segera melajukan mobilnya meninggalkan parkiran gedung GCC.
Tuuutt...tuuuttt...
"Angkatlah Zo'e, maafkan aku." Zen mencoba menghubungi Zoya dalam perjalanannya kembali ke kantor. Namun kali ini hanya terdengar suara penjawab otomatis yang bersuara.
Sekali lagi Zen memencet Call di ponselnya.
"Hallo.." Syukurlah Tuhan, akhirnya. Zen bernafas lega.
"Hallo sayang. Dimana kamu saat ini? Maafkan aku tadi ada urusan mendesak yang harus aku selesaikan, dan aku lupa kalau kita ada janji." Zen meringis. "Maafkan aku. Sekarang kamu dimana?" Tanya Zen sambil membagi konsentrasinya dengan setir mobil yang ia bawa.
"Zo'e..? Hallo.." panggilan itu terputus. Hanya seperti itu. Ah. Sial. Apakah benar seperti yang Zoya katakan, bahwa ia tidak pergi ke kantor? atau apakah wanita itu sebenarnya pergi tapi karena aku tidak ada, dia marah lalu berkata seperti itu? Yang mana yang sebenarnya? Apa gadis kecilku benar-benar marah? Tidak biasanya dia menutup panggilan ku seperti itu. Ada banyak pikiran yang berkecamuk di kepala Zen.
Yang ia tau, dirinya memang melakukan kesalahan karena melupakan janji nya. Tapi hal ini seharusnya bisa di maklumi, kalau ku ceritakan yang sebenarnya.
"Ya seperti itu saja. Aku harus cerita yang sebenarnya." Zen bertekad.
Tampa ragu Zen melajukan mobilnya kembali ke kantor, Ia akan menemui Zoya nanti setelah pekerjaan nya selesai. Sementara Zoya, gadis itu lebih memilih pergi ke kampus, karena ia memang memiliki kelas siang ini.
Dengan tergesa-gesa Zoya setengah berlari menuju ruangan tempatnya mengajar.
"Vidette..?" Jordan yang kebetulan baru sama keluar dari kelasnya menyapa Zoya yang saat ini terlihat sedang terburu-buru.
"Jangan sekarang Jordan, aku sudah terlambat!" Zoya menghalau Jordan begitu saja. Ia memang sudah terlambat. Dan ini pertama kalinya bagi Zoya, sebagai seorang Dosen, ia merasa dirinya sudah menjadi contohnya buruk.
"Heii pelan-pelan, nanti kamu jatuh!- Jordan memperingati Zoya yang memang berjalan dengan kecepatan penuh. "Aku akan menunggumu di ruangan!" seru Jordan lagi, sambil menggelengkan kepalanya.
...45 Menit kemudian, ...
Zoya membubarkan kelasnya. Ia benar-benar malu hari ini. Padahal sebagai dosen ia tidak mentoleransi sebuah keterlambatan, dengan alasan apapun, dan memang begitulah prinsip Zoya. Tapi hari ini, aahh.. betapa malunya ia. Zoya sudah melanggar prinsip dan aturannya sendiri.
Meskipun para siswanya mengatakan 'tidak apa-apa' tetap saja Zoya meragukan itu. Semua ini gara-gara ia harus mengikuti mobil Zen. Menyebalkan!
__ADS_1
"Heii, sudah selesai?" Jordan lagi-lagi menghalangi langkah Zoya. Untung saja jantungnya sudah terbiasa dengan siluman laki-laki di depannya ini.
"Hmmm-hmm" Zoya menganggukkan kepalanya lemah.
"Apa semuanya baik-baik saja?" Jordan sedikit khawatir melihat Zoya. "Mau ke kantin? Cafe? atau tempat lain?"
"Ke taman belakang saja. Tapi bisakah belikan aku sebotol minuman dingin? aku butuh itu sekarang." kata Zoya dengan wajah di tekuk.
"Baiklah. Tunggu aku di taman belakang. Aku segera menyusul." Jordan segera berlari menuju kantin, yang letaknya cukup jauh dari tempat mereka saat ini, karena hanya di sanalah satu-satunya tempat yang menyediakan minuman dingin.
Zoya sudah memasuki pekarangan taman belakang kampus. Tidak ada siapapun di sana. Mungkin karena saat ini adalah jam makan siang. Zoya memilih bangku taman yang terlindungi oleh pohon rindang, dan ia duduk di sana.
Bagaimanapun ia memikirkannya, Zoya masih tidak mengerti tentang apa yang ia alami. Zen melupakan janji mereka untuk Maria, bahkan membawa wanita itu ke kondominiumnya, apakah Zoya harus marah pada laki-laki itu? Apakah marah adalah hal yang tepat? Tentu saja.
Zen adalah tunangan nya. pikir Zoya angkuh. Apalagi Zen lebih mementingkan wanita lain dari pada dirinya, tentu saja ia harus marah. Tapi jika di pikir-pikir kembali, Zoya sebenarnya tidak merasa harus marah pada Zen, ia hanya merasa kesal. Apakah marah dan kesal adalah hal yang sama?-- Zoya mengerutkan keningnya.
"Ini minuman mu!" Jordan menyerahkan sekantong minuman untuk Zoya. Kira-kira ada 6/7 botol dengan jenis yang berbeda-beda.
"Semua ini?" tanya Zoya keheranan.
"Aku tidak tau yang mana yang kamu sukai, jadi aku memilihnya berdasarkan tebakanku saja. Tapi aku masih tidak tau yang mana yang kamu sukai, selain susu coklat tentu saja.--- Zen mengambil tempat di sebelah Zoya.
Dari semua minuman, Zoya hanya memilih air mineral. Waw. Jordan pasti akan mengingat itu. "pilih punyamu!" Zoya menyerahkan kantongan nya kembali pada Jordan. Jika Zoya hanya mengambil air mineral, maka jordan mengambil botol yang berisi Cofee.
"Sekarang katakan padaku apa yang terjadi padamu? apakah ini ada hubungannya dengan tunangan mu?" tebak Jordan.
Zoya menatap pada laki-laki itu. Apakah Jordan seorang cenayang? bagaimana ia bisa tau dalam satu kali tebakan? atau apakah dirinya yang terlalu mudah di tebak?
"Bagaimana kamu tau itu?"
"Apakah benar karena tunangan mu?" Jordan malah balik bertanya. Zoya menganggukkan kepalanya.
"Apa yang dilakukannya? Apa ia menyakitimu dengan kata-katanya? Atau dengan perbuatannya?"
Sebenarnya Jordan tidak yakin apakah pertanyaan nya sudah benar, tampa harus merusak karakter seseorang.
"Perbuatannya!" hah? secepat itu? "Apa dia memaksamu melakukannya, Zen mendesak mu? begitu kah?" Jordan mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus.
"Mendesak?"
"Ya. Mendesak." ulang Jordan.
"Siapa yang mendesak? Zen? mendesak apa?" Zoya balik bertanya.
"Ya, itu. Hmmm.." Jordan memilih-milih kata yang tepat, tampa harus terdengar ceroboh dalam pertanyaan nya. "Kamu bilang tadi perbuatanya padamu, benarkan?" Jordan menaikan alisnya. Ia tidak yakin apakah hal ini akan menyinggung Zoya jika membicarakan hal pribadinya.
'Perbuatan? sejak kapan ia memikirkan hal seperti ini. Zoya menegak minumannya.
Zoya meringis. Bukan karena ia merasa risih akan tetapi karena ia merasa sedikit, lebih tepatnya kebingungan.
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...