My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
Little Wish


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


"Malam sayang.." Zen mencium pundak Zoya, serta mengeratkan pelukan yang melingkar di pinggang istrinya itu. Saat ini Zoya sedang berada diruang kerjanya, di bagian sudut dari ruang perpustakaan pribadi mereka, tempat favorit kedua Zoya. 


"Hai kak, baru pulang? Sorry aku gak denger.." Zoya balas menyapa saat menyadari kedatangan suaminya.


"Heemm. gak apa-apa kok, kamu lagi ngapain, sibuk?' tanya Zen yang masih memeluk Zoya. 


"Lagi ngerjain ini nih, proposal yayasan di Stockholm, ada beberapa investor dan juga donatur yang menelpon hari ini. Mereka juga menawarkan investasi yang cukup besar untuk pembangunan di sana, jadi harus segera ku selesaikan.'' jelas Zoya. 


"Hmmm... mau ku bantu?" 


"Benarkah?" 


"Tentu,- kenapa tidak, mau?"


"Kalau gitu mandi dulu sana, bau iihhh.." Zoya menutup hidung, menggoda suaminya.


"Bau? Aku..?" Tanya Zen sambil mengendus-endus tubuhnya sendiri. 


"Hmmm.. Iya bau! Bau kelelahan seorang suami yang sayang istri.." 


Aaaccciiiieee... 


"Kamu ya! belajar gitu dari mana? gemes!" ujar Zen yang dibuat senyum-senyum oleh gombalan Zoya. 


"Peaceeee..."


"Ya udah, aku mandi bentar ya, O, ya, kamu udah makan malam sayang?" tanya Zen lagi sebelum melangkah keluar dari ruang tersebut. 


Zoya menggelengkan kepalanya; 


"Mau ku buatkan sesuatu, mungkin nasi goreng or pasta, maybe?" tanya Zen menggulung lengan kemejanya.


"Hhmm.. No. Mom sudah buatkan makanan untuk kita kak. Kakak lapar? aku panasin ya..?"


"Baiklah, itu saja. Mau pergi bersama,- kesana?" Zen memberikan kode dengan matanya.


"Apa..?,- mandi..?"


"Hhhhmm.."


"Wah, terima kasih sekali untuk tawarannya tuan Zen Mahendra, suami ku tersayang. Tapi maaf, tidak!" tolak Zoya sambil tersenyum menggigit bibir bawahnya, gemas. 

__ADS_1


"Baiklah, kalau itu juga tidak, kita akan lakukan ditempat lain..?" Zen balas menggoda istrinya. 


"Kak....!" Zoya menyipitkan matanya,


"Apa...?" jawab Zen berpura-pura polos.


"Tidak ada, mandilah."


"Hhmmm.. baiklah nyonya Mahendra. Aku mencintaimu"


"Aku juga mencintaimu kak.." 


Setelah Zen pergi, Zoya kembali melihat sebentar pada laptopnya. Kali ini ia memikirkan bagaimana caranya mengatakan pada suaminya, bahwa dalam waktu dekat ia harus berada di Stockholm.


Padahal waktu kebersamaan keduanya sebagai suami istri baru saja berlangsung selama satu bulan. Diluar bulan madu, baru dua minggu keduanya terhitung bersama, dan juga menempati rumah baru mereka.


Sekarang, Zoya malah harus kembali lagi pada pekerjaannya di Swedia. Lalu bagaimana dengan suaminya? Apa Zen akan mengijinkan nya pergi tampa melalui pertengkaran selisih pendapat? Oh God!


Terlalu kalut dengan pikirannya, Zoya memilih untuk menutup laptop, lalu turun ke kitchen room untuk menyiapkan makan malam. 


Sepuluh menit kemudian, Zen bergabung dengan Zoya. "Sayang, mollie buat makanan apa?" tanya Zen yang kini sudah terlihat segar dengan rambut basahnya yang berantakan. 


"Hanya beberapa makanan sederhana, dengan 12 macam Varian.'' ujar Zoya, sambil membolak-balikan makanan di dalam wajan.'' Zen melihat-lihat semua menu yang mollie nya kirimkan itu, dan ternyata isinya adalah semua jenis makanan yang ia dan istrinya sangat sukai. 


"Waw.. mollie memang selalu luar biasa." puji Zen, yang masih selalu kagum dibuatnya.


"Kata mom, semua ini harus kita habiskan dalam dua hari, dan hari berikutnya, makanan lain akan datang..'' jelas Zoya sesuai dengan apa yang ia dengar.


"Siapa yang kakak maksud akan jadi panda? aku atau....?" Tanya Zoya memainkan penggorengan nya.


"Tentu saja dirimu, siapa lagi, dan aku menantikan itu, panda kecil ." jujur Zen. 


Hahahaha...


Zen memang sangat menyukai binatang itu, Panda. Aneh memang.. namun katanya, binatang itu sangatlah unik.


"Hmmm.. kalau begitu, apakah aku harus menolak semua makanan mom, akan ku katakan bahwa panda kecil belum di inginkan dirumah ini..'' 


"Kenapa? Kau sangat lucu jika jadi panda kecil sayang, atau mau dengan cara lainnya...?" ajak Zen mengulurkan satu tangannya. Saat ini Zen juga tengah tersenyum jahil. 


"Apa..?"


"lembur.."


"Lembur? untuk apa?" 


"untuk segera menjadikan mu induk panda, dengan panda kecil lainnya yang lucu.." ujar Zen lagi.


DEG.. 

__ADS_1


Permintaan tersebut, meskipun terdengar seperti sebuah lelucon, namun Zoya sangat tau jika itulah yang sangat di inginkan suaminya baik saat ini, atau nanti. Zen sama dengan suami lainnya, tentu saja pada akhirnya ia akan menginginkan seorang keturunan. 


"Kak, bisa minta tolong ambilkan makanan dengan kotak berwarna ungu?" pinta Zoya mengalihkan pembicaraan. 


Bukannya Zoya ingin menunda kehamilan atau apapun itu, namun disaat seperti ini, Zoya masih belum bisa memikirkan bahkan ia benar-benar belum siap untuk menjadi seorang ibu. Masih banyak hal yang harus ia kerjakan terlebih dahulu, setidaknya sampai satu tahun ke depan. Begitulah rancangannya untuk masa depan kariernya. Lalu bagaimana dengan masa depan pernikahannya? 


"Yang ini?- tanya Zen menyerahkan kotak makanan kepada istrinya. 


"Hmm. Benar. Kakak bisa menungguku dimeja makan, semuanya hampir siap..'' pinta Zoya pada suaminya. 


"Baiklah, nyonya..'' jawab Zen, yang alih-alih duduk manis di kursinya, Zen malah mengerjakan tugas lainnya. Sementara Zoya selesai memanaskan makanan, Zen menyiapkan peralatan makan dan keperluan yang lainnya. Zen juga menata meja dengan begitu lihai. 


Beberapa menit setelahnya, makan malam sudah terhidang di atas meja. Keduanya pun makan dengan tenang meninggalkan obrolan santai yang sebelumnya selalu terlontar. 


"Sayang, Dua minggu lagi kita akan pergi ke Singapore. Aku sudah membuat jadwal kunjungan kesana..?" ajak Zen disela-sela makannya yang terasa begitu formal. Karena keduanya hanya berdiam diri.


"Singapore..? Kenapa tiba-tiba? Apa ini ada hubungan nya dengan pekerjaan, atau...?


"Ada yang harus kita lakukan di sana, dan kita harus pergi." 


"Dua minggu ya.. ?" Zoya harus memikirkan rencana tersebut lebih dahulu sebelum memberikan persetujuan nya. Bagaimana jika jadwal yang Zen bicarakan berbenturan dengan jadwal nya kembali ke Swedia? Zoya tidak ingin membuat masalah dalam hubungan mereka. 


"Kenapa harus dua minggu kak? Em- maksudku, aku harus mengecek jadwal ku dulu. Kakak ingat tentang proyek yang sedang ku kerjakan saat ini, mereka juga memintaku agar segera kembali dalam waktu dekat. Jadi..-


"Kapan?" tanya Zen yang sedikit terkejut mendengar perkataan Zoya. 


"Maksudnya..?"


"Tepat nya kamu harus kembali kesana?" 


"Kak, aku,-


"Kita bisa atur waktunya menyesuaikan jadwal mu sayang, jadi jangan khawatir. Pikirkan saja jadwal mu, sisanya serahkan padaku, aku yang akan mengurusnya, bagaimana..?" Zen tetap kekeh dengan rencananya. Ia sudah merencanakan semua ini sejak lama, Zen juga harus memikirkan Zoya dan juga kehidupannya. 


"Kak,-..


"Kosongkan saja jadwal mu, begitu sudah fix, aku akan memberitahu jadwal keberangkatan kita ke singapore." Sela Zen, yang saat ini benar-benar tak ingin berdebat karena memikirkan tentang kembalinya Zoya ke Swedia. "Mari kita makan sebelum semuanya dingin" tambah Zen yang sudah memamerkan senyum baik-baik saja.nya. 


"Hmm. Baiklah.." Zoya pun tak ingin memulai perdebatan lainnya. Ia hanya ingin hubungan mereka baik-baik saja saat mereka jauh.


Namun Zoya sangat ingin tau mengapa Zen ingin mengajak nya ke singapore? apa yang akan mereka lakukan di sana? Jangan katakan ini adalah bukan madu lainnya? pikir Zoya, yang sudah tak bisa memikirkan waktu untuk bersantai nya, sudah cukup lama Zoya bersantai, kini saat nya ia mulai menggerakkan pohon harapan untuk mewujudkan mimpi kecil lainnya. 


"Pohon harapan, ku mohon bekerja samalah dengan ku. Tolong berkati semua rencana yang sudah ku susun, meskipun terkesan egois, tapi ini adalah mimpi ku, dan aku yakin aku bisa melakukannya."


"Tuhan, tolong dengarkan doaku, tolong lindungi Zoya, aku sangat mencintainya Tuhan. Gadis kecil itu, istriku saat ini. Tolong jaga dia untukku, aku pun akan melakukan semua yang aku bisa." amin.


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2