
...ENJOY...
.......
.......
.......
Zoya memarkirkan mobilnya di depan Cafe Yang biasa ia datangi. Ia masuk membawa tas laptopnya. Ia akan mengerjakan tugas sebagai dosen disini.
Terlalu malas bagi nya jika harus mengisi nilai di ruangan dosen. Bukan karena ia tidak suka berada di sana, hanya saja menurutnya di sana terlalu ramai.
Sedangkan Zoya, ia membutuhkan lebih banyak ketenangan dan juga kenyamanan, karena itulah ia selalu berada disini.
Zoya sudah cukup lama menjadi pelanggan tetap dan owner di cafe tersebut selalu menyediakan tempat khusus jika Zoya datang kesana.
Zoya mengisi meja yang biasa ia tempati.
Di Sana ia menempatkan semua barang-barang nya. Tanpa membuat pesanan, waiters sudah mengetahui apa saja menu yang akan Zoya pesan jika ia sedang berkunjung menghabiskan waktunya di cafe tersebut.
Sementara menunggu pesanan datang, Zoya membuka laptop dan memasukan nilai tes harian para mahasiswa nya satu persatu.
Sepuluh menit kemudian sudah ada segelas minuman yang tersaji di depan Zoya. Seperti biasa, Zoya akan meminum minumannya tanpa mengalihkan pandangan nya sedikit pun. Seketika ia mengalihkan fokusnya, saat rasa yang ada di lidahnya berbeda.
Susu coklat...?
"Apakah aku memesan ini..?" tanya Zoya sambil melanjutkan pekerjaannya. Sudah cukup lama Zoya tidak meminum minuman favorit nya ini. Sejak..
Zoya kembali menyibukkan diri dengan laptopnya. Ia malas membahas minuman yang sudah ia minum sebelumnya. Rasa yang menyimpan cukup banyak kenangan. Tak lama kemudian camilan menyusul tersaji di mejanya.
"Tolong ganti minumannya dengan yang biasa aku pesan." Kata Zoya tanpa melihat pada orang yang berdiri di depan nya.
"Kenapa..? Apa ada yang salah dengan minuman mu..?" suara bariton yang cukup familiar menggaung dalam indra pendengaran Zoya.
Suara ini, Siapa yang..?
Zen meletakan pot bunga kecil di depan Zoya.
Zoya melihat bunga itu. Bunga yang tidak biasa di berikan kepada seorang wanita. Zoya menatap kepada sosok yang saat ini tengah berdiri di depan nya.
Seorang pria tinggi dan tampan, berusia pertengahan 30, berdiri dengan setelan berwarna cream lembut, dengan sepasang mata Hazel yang begitu bersinar, tersenyum dengan caranya yang begitu indah menatap dalam pada Zoya.
"Kak Zen..?"Zoya bergumam pelan. Ini tidak mungkin ilusi. Tapi benarkah yang di hadapannya saat ini adalah, orang itu? Zoya belum bisa mempercayainya.
"Zo'e, i'm back for you." ucap Zen mengharu rindu.
Setelah kurang lebih sembilan tahun Zen pergi meninggalkan Zoya tanpa mengatakan alasan yang dapat Zoya terima, meninggalkan semua janji yang pernah mereka ucapkan bersama.
__ADS_1
Tanpa pesan, tanpa berita apapun, tidak pernah menanyakan tentang dirinya, tidak sedikitpun. Zen tak pernah bertanya bagaimana Zoya bertahan tanpa sosok yang selalu ada di sisi nya.
Tidak pernah datang walaupun hanya sebentar, atau bahkan memang tidak pernah memikirkan Zoya walau hanya sesaat.
Zoya bingung harus bereaksi seperti apa di depan Zen. Apa yang harus aku lakukan sekarang..? Pergi dan lari begitu saja...? atau mengabaikan pria itu seperti Zen mengabaikan nya selama ini?
Atau haruskah Zoya berlari dalam pelukan laki-laki itu dan melepaskan semua kerinduan nya? Tapi bagaimana jika Zen tidak merindukan nya seperti yang ia rasakan..?
Atau Zen tidak merespon nya seperti yang Zoya harapkan..? Bagaimana jika..? Semua pikiran itu berkecamuk begitu saja dalam diri Zoya.
"Zo'e..?"
Sekali lagi suara Zen menyadarkan Zoya dari lamunan nya. Sementara Zen menatap pada Zoya, takut bahwa keberadaan dirinya tak pernah gadis itu harapkan, setelah semua yang ia lakukan.
"Zo'e, ini aku Zen. Apa kau sudah tidak mengenaliku lagi..?" tanya Zen lembut.
'Buu.. Bukan seperti itu, duduklah!" kata nya gugup. Aih.. bodohnya. Kenapa aku harus secanggung ini. Zoya merutuki dirinya sendiri.
Sementara Zen hanya tersenyum melihat Zoya, bersyukur bahwa tidak berpikiran seperti yang ia pikirkan.
"Kau tidak ingin memeluk ku Zo'e, aku Zen mu, apa kau tidak merindukan ku..?" Zen membentangkan kedua tangan nya, menunggu Zoya datang padanya, atau seharusnya ia yang maju begitu saja.
Zoya hanya menatap Zen terpaku mendengar kata-kata yang baru saja terlontar dari bibir Zen. "Baiklah, aku lupa kau bukan anak kecil lagi." Zen menurunkan tangan nya, menerima kenyataan.
"Bolehkah aku melakukan nya..?" Zoya menahan tangan Zen, membuat Zen sekali lagi kembali berharap. Tanpa aba-aba Zoya berdiri dan menghambur dalam pelukan Zen, memeluk Zen erat.
Zen nyata ada dalam pelukan nya. Tubuh yang hangat dan jantung yang berdetak. Ini semua nyata.
Zen membalas pelukan Zoya sama erat nya, Zen merindukan gadis kecilnya. Sangat merindukan Zo'e nya.
"I Miss you more, everyday, everytime. I miss you so much Zo'e.." bisik Zen.
Apa aku tidak salah dengar..? Dia bilang—dia juga merindukan ku..? selama ini..?
Zoya tersenyum bahagia mendengar penyataan Zen.
"Apa arti bunga itu..?" tanya Zoya masih dalam pelukan Zen, seolah enggan untuk berjauhan.
"Baby Breath..?" Zen menaikan satu alisnya. "Itu nama nya..?" Zoya melirik sekilas.
"Ya, bunga itu khusus aku bawakan untuk mu gadis kecil." Zen sekali lagi mengeratkan pelukannya pada Zoya dengan sabah berbinar. Zen bahagia bisa melepaskan rindunya.
Zoya melepaskan pelukan Zen, memberi jarak diantara mereka, membuat Zen kembali merasa kehilangan kehangatan tubuh Zoya.
"Kapan kakak tiba di ibukota, kenapa tidak memberikan kabar..?" tanya Zoya sedikit kesal, sambil melipatkan tangan di depan dadanya, Zoya kembali duduk di kursinya. Ia memang merindukan Zen, tapi ia perlu penjelasan.
Sementara Zen dengan santainya mengikuti Zoya dan duduk di sebelah gadis kecilnya.
__ADS_1
"Kemarin-- jedanya. "Aku sengaja merahasiakan kedatangan ku untuk memberikan kejutan pada mu." sekali lagi Zoya melihat kagum pada senyuman Zen. Ia tersihir senyuman itu.
"Apa aku satu-satu nya yang tidak tau..?" Zoya mengembalikan pikirannya. Zen tertawa kecil. Zoya nya sangat menggemaskan di saat-saat seperti ini. "Aku juga tidak memberitahu kan pada siapapun. Tidak Mollie, tidak juga Dady." jelas Zen singkat.
"Jadi aku yang pertama..?" Entah kenapa pemikiran dirinya nya lah orang pertama yang dipikirkan Zen membuat Zoya sangat bahagia.
"Benar. Kamu yang pertama." Dan akan terus menjadi yang pertama bagi ku. Zen tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Zoya.
"Apa kakak yang membuat ini juga..? kakak masih mengingatnya..?'' tunjuk Zoya pada gelas susu coklatnya.
"Tentu saja." Aku bersama mu sejak kau masih dalam kandungan mollie. Kebersamaan kita lebih lama di bandingkan waktu kita berpisah. Bagaimana aku bisa melupakan semua tentang mu hanya karena jarak dan waktu yang begitu singkat.
Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan semua tentang mu. Zen berdehem singkat. ''Apa kau begitu senang dengan hal itu..?' tanya Zen membuat Zoya sedikit merona.
"Apakah begitu jelas..? Huh. Tentu saja. Selama ini kakak bahkan tidak pernah bicara pada ku, apalagi menanyakan kabar ku. Aku kira kakak melupakan ku begitu saja.
"Apa kakak punya banyak teman di sana..? Ahh aku yakin begitu. Apa kakak juga punya kekasih..? berapa banyak..?" Zoya merundung Zen dengan semua pertanyaannya.
"Kamu masih cerewet seperti dulu gadis kecil." Zen mencolek hidung mancung Zoya. "Aku bukanya cerewet kak. Aku hanya ingin tau tentang kakak selama ini. Apakah tidak boleh..?" Zoya mengerucutkan bibirnya, ia kecewa. Tentu saja.
"Kalau kau ingin tau, maka sering-seringlah berkunjung kerumah ku." Zen memainkan alisnya, membuat satu lagi poin mempesona pada dirinya.
"Rumah..? Apa kakak membeli rumah disini..? Kenapa tidak tinggal bersama kami..?"
''Aku bekerja di perusahaan Didiie, jika dirumah mollie, maka itu akan terlalu jauh." Alasan yang sama.
''Perusahaan Uncle..? Bagaimana dengan Uncle, apa ada di sini juga..?" Zoya mengingat Aldi. ''Tidak. Hanya aku. Didie di UK bersama Mom dan Elizabet." Jelas Zen lagi.
Zoya merapikan semua barang-barang nya dan memasukan semua ke dalam tas. "Kamu sudah ingin pergi Zo'e..?'' tanya Zen tak ingin Zoya kembali begitu cepat.
"Tidak. Aku ingin membawa kakak menemui Mommy dan Dady.'' bantah Zoya. Ia sungguh antusias sekarang.
"Tidak sekarang Zo'e." Zen melihat jam tangan nya. "Aku harus kembali ke kantor setelah ini. Bagiamana jika besok malam? Tawar Zen membuat kesepakatan.
"Baiklah. Besok aku juga tidak ada jadwal. Kakak masih ingat dimana rumah kita bukan..?"
"Tentu saja.''
"Kalau begitu, kita akan membuat kejutan besok." ucap Zoya semakin bersemangat, tak sabar menunggu hari esok tiba.
Kakak nya sudah disini. Entah untuk berapa lama, meskipun hanya sebentar, Zoya benar-benar merindukan Zen, dan ingin menghabiskan banyak waktu bersama lelaki miliknya.
Miliknya...?
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...