My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
Crazy Moment


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Seperti biasanya, tepat pukul tiga dini hari Lova selalu terbangun dari tidurnya. Tubuh nya terasa begitu lelah dan juga terasa lengket. Benar-benar tidak nyaman.


Lova tidak ingat apa yang terjadi padanya. Samar-samar ia hanya mengingat tenang Ken. Tapi entah lah, mungkin itu hanya khayalan nya.


Ia memang merindukan Ken, tapi ia sudah lelah dengan perasaan nya. Bahkan bisa dikatakan, mungkin ia mati rasa sekarang.


Ehhmm! Lova berdehem, serak. Ah, Tenggorokan nya juga terasa kering. Ia butuh air untuk membasahi tenggorokannya yang terasa sakit. Tapi dimana gelas nya?


Kamar nya juga begitu gelap. Bahkan lampu tidurnya pun tidak menyala. Apa ia lupa menyalakan lampu? entah lah! Lova menggeser tubuh nya ke arah dimana meja diletakan. Ia tak bisa melihat apa-apa saat ini, yang bisa ia lakukan hanya meraba dengan tangan nya.


Betapa terkejutnya Lova saat posisinya berubah, dan tangan nya tiba-tiba saja menyentuh sesuatu. Hampir saja Lova menjerit, namun buru-buru ia menutup mulutnya.


Dengan perasaan bercampur aduk, sekali lagi Lova memberanikan diri untuk meraba apa yang ada disampingnya. Tubuh manusia! Ini lebih menakutkan dari sekedar Hantu. Siapa yang bersama nya?


Ken yang merasa tubuhnya digerayangi pun merasa terganggu, ia mengerjap sesaat lalu terbangun dari tidur nya. Ken menangkap tangan Lova. Sedetik kemudian lampu dikamar itu pun kembali menyala.


''L...? Kau sudah bangun?"


Lova hanya bisa terpana melihat siapa yang tidur di samping nya. Itu Ken, Kekasihnya. *Oh My God! *Sedang apa Ken dikamar nya? Ini benar-benar Ken. Bukan Halusinasinya semata.


''Bagaimana keadaan mu? kau masih merasa sakit? katakan pada ku jika kau masih ada yang tak nyaman. Hem?'' ujar Ken sambil meraba kening Lova, dan menyamakan suhu nya dengan suhu tubuh Lova untuk sesaat.


''Ah, untunglah.'' desahnya, terdengar begitu lega.


''Kau.. ap..- kenapa kau ada disini?" Lova jadi terbata-bata karena jantung nya tiba-tiba berdebar.


Sadarlah Lova! Ini masih terlalu pagi untuk di buat terpesona.


''Kau tiba-tiba pingsan semalam, jadi aku memanggil dokter dan menjaga mu disini. Kau sudah merasa lebih baik?" Ken menatap Lova dengan raut cemas.


Lova menganggukkan kepalanya, karena mulutnya sedang tak bisa di ajak kompromi. ''Kau menjaga ku?" cicit Lova, memberanikan diri membalas tatapan Ken yang tak teralih dari wajahnya.


Oh God! Jangan terpesona Lova! Ken memang tampan, tapi tolonglah, ini masih terlalu pagi! Wajah sialan!


''Kau tidak suka aku merawat mu? jika begitu tidak apa-apa, aku bisa mengerti. Kau istirahat lah.'' Ken mengusap wajahnya, lelah.


God! Jangan lakukan gerakan itu! Lova seperti coklat yang meleleh saat melihat wajah berantakan Ken di pagi hari. Meskipun terkesan berantakan, namun sungguh menggoda. ****! Sadarlah Lova!


''Tidurlah L. Aku akan pulang sekarang. Aku tidak akan menganggumu.'' kata Ken lagi, seraya hendak bangun dari atas ranjang.


Dengan spontan Lova menangkap lengan  kemeja yang Ken kenakan, ''Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya. Terima kasih sudah menjaga ku. Apa aku membuatmu lelah? tidurlah disini.'' sahut Lova, masih menahan lengan kemeja Ken dengan erat.


Ken menyunggingkan senyum penuh arti saat membalas tatapan Lova. Ia masih punya harapan. L, masih peduli pada nya.


''Tidurlah, aku hanya bangun untuk mengambil air.'' Tambah Lova, setelah melepaskan pegangan nya.


''Tidak. Kau disini saja L. Aku yang akan mengambilnya untuk mu.'' cegah Ken, segera bangun dari atas ranjang.


Lagi-lagi Lova hanya bisa terpana saat menyaksikan punggung kekasihnya yang menghilang dari balik pintu.


Itu kekasihnya? Oh My. Kenapa Lova baru menyadari pesona Ken. Apa karena mereka lama tak bertemu?


Kekasihnya terlihat lebih dewasa. Lebih tampan, dan juga lebih menggoda.


Plak!


Kepala Lova terasa pusing seketika. ''Sadarlah Lova! Jaga otak mu agar tetap pada tempatnya!'' gumam nya memarahi diri sendiri. Tapi.. ''Awww..'' Ia meringis karena baru merasakan akibat dari tamparan nya sendiri.


''Apa aku melakukan nya terlalu keras? ah dasar!'' Kali ini ia tak lagi menampar pipi, tapi hanya memukul pelan kepalanya.

__ADS_1


Tak seharusnya ia memikirkan hal seperti itu tentang Ken. Oh My, ia seorang gadis muda, dan seorang yang mulai bergairah karena pesona. "Hentikan ini L. Hentikan!" gumamnya lagi masih dengan kelakukan yang sama.


''L.. apa yang sedang kau lakukan? kepalamu sakit lagi?" tegur Ken dengan panik saat mendapati Lova memukul kepalanya.


''Ah.. apa?-  Aku tidak.. "


''Kemarilah, aku akan memijit kepala mu, ini bisa meredakan rasa sakit mu untuk sesaat.'' Ken duduk di samping Lova, namun dengan spontan Lova menjauhkan dirinya, membuat tangan Ken mengambang di udara.


''Ak.. aku tidak apa-apa Ken. Aku hanya butuh air.'' cicit Lova seraya memalingkan muka, ia berharap Ken tidak memperhatikan perubahan pada rona wajahnya.


''Ini minumlah.'' Ken menyerahkan gelas sambil terus memperhatikan Lova. Betapa gugup nya ia saat ini.


''Terima kasih.'' ucap Lova setelah menghabiskan satu gelas penuh.


''Hmm. Berbaringlah.''


Setelah Ken menyelimuti Lova, ia juga berbaring di ranjang nya sama dengan gadis nya. Saling bertatapan, namun tidak kembali terpejam.


Ken hanya memandangi wajah Lova. Wajah cantik dan juga menggemaskan. ''L... ?" Ken meraih tangan Lova lalu membungkus dengan kedua tangan nya yang hangat.


''Aku tau kau apa yang ku lakukan salah. Aku sudah sudah mengabaikan mu begitu lama. Aku membuat mu kecewa atas sikap ku. Aku juga membuat mu ragu atas perasaan ku. Kau berhak marah dan kecewa, aku pantas mendapatkan semua kemarahan mu.-


''Aku begitu egois dalam hubungan ini. Aku sangat-sangat tau semua kesalahan ku itu. Tapi sungguh L, ini mungkin seperti omong kosong untuk mu, tapi percayalah tidak sedetik pun aku melupakan mu. Semua yang ku rasakan pada mu itu nyata, aku sungguh-sungguh mencintaimu,-


''Hak mu untuk percaya atau tidak pada ku, karena aku tak ingin memaksa perasaan mu. Sama seperti aku yang tak ingin mengekang mu. Tapi ternyata, aku memilih jalan yang salah.-


''Karena itu L, untuk kali ini aku tak mau lagi melakukan kesalahan. Aku tak mau lagi menyakiti dirimu, aku tak ingin membuat mu menderita seorang diri karena sikap ku, karena keegoisan ku.''


Haah! Lova tak tau harus merasa senang atau sedih mendengar pengakuan Ken pada nya. Di satu sisi ia memang ingin mendengar semua alasan Ken, namun disisi lain, ia takut untuk mendengarkan kebenaran nya.


"L...?''


Lova bisa mendengar dengan jelas bagaimana Ken memanggil nama nya. Sungguh lembut dan juga membuatnya selalu berdebar. Jujur saja ia sangat merindukan hal seperti ini sejak beberapa bulan yang lalu. Sejak Ken secara perlahan menghilang bagaikan hantu di hidupnya.


''L.. aku sudah memikirkan tentang hubungan kita.'' Ken menatap mata Lova dengan satu keyakinan. Ia sudah memikirkan semua nya dengan matang. Ken tak akan ragu lagi sekarang.


Hubungan mereka tak akan bertahan lama jika mereka tetap seperti ini. Benar apa yang Lova katakan, ia akan terus menyakiti gadis itu, sengaja maupun tak sengaja.


''L, apa kau masih mencintai ku?" tanya Ken dengan suara yang begitu dalam. Ada kegetiran dan juga keputusasaan dalam suaranya. Tak bisa Ken pungkiri saat ini ia juga merasa takut. Tapi disisi lain, ia sangat mencintai Lova.


''Hmmm.'' Lova menganggukkan kepala nya pelan.


Dalam diam Ken merasakan kelegaan membanjiri perasaan nya.


''Apa kau mau memberiku kesempatan?" tanya Ken sekali lagi penuh harap.


Tapi kali ini Lova tak langsung menjawab. Lova tak seyakin jawaban pertamanya.


Jujur saja Lova memang bingung tentang ini. Ia mencintai Ken, tapi ia takut terluka. Jika ia memberi kesempatan sekali lagi pada hubungan mereka, apakah ada jaminan jika ia tak akan tersakiti lagi?


''Ah, ayolah Lova! Kau harus bisa dan berani mengambil keputusan. Untuk sebuah kebahagiaan, ada harga yang harus di bayar!"


''Jangan lakukan itu L. Kau akan terluka, tinggalkan saja. Sudahi saja semua ini. Ken akan menyakitimu lagi!


Kedua sisi dalam diri Lova saling berperang untuk memberikan pendapatnya. Please, diamlah!


''Hmmm,- Aku akan memberimu kesempatan Ken.'' Oh My!


''Berapa lama lagi kau harus menyelesaikan kontrak yang sudah kau tanda tangani?" Tanya Ken lagi menyimpang dari pembahasan mereka sebelumnya.


''Aku memiliki dua kontrak yang harus ku selesaikan dalam waktu dua bulan. Ada apa?" tanya Lova seraya mengerutkan kening. Ini kali pertama Ken tertarik untuk tau tentang pekerjaan nya.


''Kalau begitu, maukah kau percaya pada ku?" Tanya Ken dengan wajah  serius.


''Maksud mu?" sahut Lova, tak mengerti apa yang ingin Ken katakan pada nya.


''L.. dengarkan aku.'' Ken bangun dari posisi berbaring nya. Ia ingin bicara serius pada Lova.


Kini Lova pun sudah di posisi yang sama dengan Ken, apa pun yang akan Ken katakan, L akan mendengarnya.

__ADS_1


Meskipun jujur saja, saat ini jantung Lova sedang berdebar tak karuan, tapi tetap ingin mendengarkan  apa yang akan Ken katakan padanya. .


''Lihat aku!'' Ken memegang wajah Lova, kemudian beralih kepada kedua tangan gadis itu.


''Aku sungguh-sungguh saat mengatakan aku mencintai mu L. Aku tak bisa kehilangan dirimu dalam hidupku. Aku tak pernah menginginkan yang lainnya untuk menemaniku selain dirimu. Kau percaya padaku kan?"


Oh Ken! Lova sungguh kembali dibuat pusing dengan pembicaraan serius ini.  Sekarang baru pukul empat pagi dan Ken malah mengajak nya untuk berdiskusi hal seperti ini. Tak bisakah Ken menunggu hingga matahari terbit? Setidaknya Lova bisa melarikan diri jika ia harus terluka sekali lagi.


Dengan perasaan takut, Lova pun menganggukkan kepala. ''Bagus.'' Ken menyunggingkan senyum. What? Tunggu. Sampai disini, Lova masih masih tak bisa mengartikan nya. Kenapa Ken harus tersenyum? Apakah ini arti nya mereka akan baik-baik saja?


''Tunggu sebentar,'' kata Ken lagi seraya berjalan keluar dari kamar.


Sekali lagi Lova memanfaatkan waktu yang ada untuk menghirup udara sebanyak mungkin dan juga  menghembuskan nya.


Ken membuat atmosfir di dalam kamar itu menghilang seketika.


''Ayolah L, tenangkan dirimu! Jantung sialan!"


Tak lama kemudian Ken sudah kembali memasuki kamar dengan membawa sesuatu di tangan nya. Laki-laki itu juga tersenyum. Lova benar-benar di buat terpana.


''L, aku tau ini mungkin begitu konyol untuk mu. Tapi aku sungguh-sungguh. Aku tak bisa memikirkan hal lain lagi. Aku menyiapkan ini.'' Ken memperlihatkan benda yang ada di tangan nya.


OH-MY-GOD!


Lova menutup mulut nya dengan kedua tangan yang masih bisa berfungsi dengan normal. Kecuali otaknya. Otaknya benar-benar di buat kacau sekarang.


''L, Menikah lah dengan ku. Jadilah istriku..''


Bagaikan tersambar petir kebahagiaan meskipun tak ada angin dan tak ada hujan, Lova benar-benar di buat terkejut dengan permintaan Ken.


''Kita tidak harus menikah dalam waktu dekat. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau, selama kontrak mu masih belum berakhir. Aku tidak akan mengekang mu. Tapi setelah itu; ku mohon ikutlah bersama ku.  Aku ingin membuat mu menjadi milik ku, karena aku sungguh tak mau kehilangan mu.'' tambah Ken dengan begitu fasih nya.


Jika ini sebuah pertunjukan, maka Lova akan memberikan sepuluh jarinya kepada Ken. Sungguh luar biasa.


''Kau sungguh-sungguh, Ken?" tanya Lova dengan terbata-bata.


Ken menganggukkan kepala dengan sangat yakin. ''Aku sungguh-sungguh L..''


''Maukah kau menikah dengan ku?" ulang Ken sambil berlutut di samping ranjang tempat Lova berada.


Sumpah, ini memang bukan hal romantis. Justru ini hal tergila yang pernah Lova alami dalam hidupnya.


Tapi di balik semua kegilaan ini, Ken sungguh manis. Jantung Lova saja hampir melompat dari tempat nya.


"Thanks kerangka! Kau tidak membuatku semakin malu!"


Wat the..?


Lova tak bisa menjawab pertanyaan Ken. Momen ini sungguh gila bagi nya. Karena itu Lova hanya mengulurkan tangan nya kepada Ken, biarlah Ken yang melakukan apa yang seharusnya Ken lakukan pada jari tangan Lova.


Lova benar-benar tak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaan nya saat ini. Ia bahagia? tentu saja, bahkan sungguh luar biasa bahagia. Tapi sisi lain, bagian lain dari dirinya membisikkan sesuatu yang menakutkan.


Tidak! Lova sudah mengatakan jika ia akan mempercayai Ken. Ia sudah mengambil resiko itu. Dan mereka akan menanggung nya bersama.


''Terima kasih L, Aku mencintai mu.'' Ken mencium jari manis yang sudah dipasanginya cincin.


Cincin yang akan mengikat perasaan mereka. Cincin yang akan membuat mereka bersama selamanya. Seperti cincin yang bulat dan tak terhingga, Ken berharap cinta mereka juga akan seperti itu.


Ini memang bukan lamaran resminya. Ia tau itu. Ken akan melakukan nya dengan profesional, nanti. Setelah ia mendapatkan persetujuan Lova terlebih dahulu.


Dan sekarang, kekasihnya sudah mengatakan Ya.


Ken bangun dari posisinya yang berlutut dan menghampiri Lova. ''Aku sungguh mencintai mu L, terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk membuktikan cinta ku padamu.''


''Aku juga mencintaimu Ken.'' sahut Lova dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Pagi yang begitu manis. Di awali dengan ciuman yang manis.


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2