My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
Find a new Job


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


...Tok.. tok.....


Suara ketukan Yang berasal dari luar ruangan menginterupsi Rehan dari pekerjaan nya saat ini.


Ia melirik sesaat sebelum bersuara;


"Masuk!"


Rehan mendengar pintu itu terbuka, namun tetap tak mengalihkan perhatian nya; "Dad..?" Ken berjalan masuk ke dalam ruangan dengan membawa map di tangan nya lalu duduk di hadapan Rehan.


"Ada apa son?" Rehan menghentikan kegiatan nya saat melihat Ken.


"Aku ingin menyerahkan ini, Aku butuh tanda tangan Dad. Itu kontrak kerja sama dengan investor untuk kantor cabang." Ken meletakan map Yang tadi di pegang nya di depan Rehan.


"Kau sudah menyelesaikan nya Son? cepat sekali." Rehan tersenyum saat melihat map kontrak kerja sama tersebut.


"Tidak sulit untuk mengerjakan semua itu Dad." Sahut Ken dengan percaya diri, membuat Rehan kembali menyunggingkan senyum.


Ken adalah tipe Yang selalu menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, tepat dan seefisien mungkin, dan terkadang, apa Yang di lakukan oleh putranya itu selalu membuat Rehan diam-diam menyimpan kekaguman.


Bahkan disaat putranya mulai memutuskan ikut terjun untuk mengelola perusahaan, Ken sudah belajar banyak hal dengan sungguh-sungguh, meskipun sebelumnya apa Yang di kerjakan tidak selalu sempurna, namun bagi Rehan, itu adalah perkembangan Yang luar biasa bagi seorang pemula berusia 20 tahun.


"Ini Son, Ada lagi?" Tanya Rehan setelah selesai menanda tangani kontrak kerja sama Yang di bawa Ken.


"Tidak ada lagi Dad, kalau begitu aku akan kembali. O, ya aku akan berkunjung kerumah Zozo setelah selesai bekerja. Dad ingin pergi bersama?"


Ajak Ken sebelum keluar dari ruangan dady nya.


"Tentu son, Dad juga sudah merindukan Earl, Dad akan pergi bersama mu." Jawab Rehan antusias.


Ken hanya menyunggingkan senyum sambil mengangguk sebelum melangkah keluar.


..."I miss you L, wish you happy today."...


...-Send....


...❄️❄️...


Rehan dan Ken memutuskan untuk menyempatkan diri membelikan cake dan juga bunga untuk Zoya.


Mereka berbagi tugas, Rehan memilihkan bunga dan Ken lah Yang bertugas memilihkan Cake favorit kakak nya.


Setelah selesai, mereka sama-sama kembali ke mobil. "Wow.. Dad memilihkan itu?" ujar Ken saat melihat buket bunga Yang di pilihkan khusus oleh Dady nya.


Rehan tersenyum sambil sesekali menghirup aroma bunga di tangan nya, ''bagus bukan? Dad khusus memilihkan ini." ujarnya dengan senang.


"Terlihat, semarak." Sahut Ken, sambil tersenyum.


"Bunga ini melambangkan kebahagiaan, Dad berharap agar Angel selalu berbahagia." Ken tersenyum sambil mengangguk pelan.


Hampir satu jam dalam perjalan, mereka pun tiba di rumah keluarga triple Z.


Ting.. Tong..


Rehan menekan bell, Yang kemudian langsung di buka oleh asisten keluarga dirumah itu. "Selamat datang dan Silahkan masuk tuan." sapa asisten, ramah.


"Dimana Angel?" Tanya Rehan tak sabar ingin menemui putri dan juga cucu kecilnya. "Nyonya sedang bersama tuan kecil di kamarnya.- semua orang berada di atas."


"Dad..?" sapa Zen Yang saat ini berdiri di ujung tangga. Ia memang keluar untuk melihat siapa tamu yang sedang berkunjung.


"Son, Dad datang ingin menemui Earl." ujar Rehan seraya menaiki tangga dengan cepat.


"Masuklah Dad, Z'ev sedang bersama mommy nya." ajak Zen. "Ken, kemarilah." ajak Zen juga. "Aku akan segera menyusul." sahut Ken cepat.


"Tolong sajikan ini." Ken menyerahkan kotak cake Yang di bawanya kepada asisten. "Baik tuan."


"Earl.....?" seru Rehan dengan jenaka saat muncul dari balik pintu. "Grandfa disini...!" tambah nya. Membuat Zen dan Zoya sama-sama tersenyum melihat tingkah lucu Rehan.


"Aiden sayang, lihatlah siapa Yang datang.. ada grandfa disini.. " ujar Zoya juga. Setelah Rehan membersihkan dirinya, ia buru-buru menghampiri cucunya;


"Ini untuk mu Angel, Dad khusus memilih yang cocok untuk mu." Rehan menyerahkan bunga Yang ia bawa.


"Berikan Earl pada Dad...!" seru nya lagi, seraya meraih Baby Earl dari gendongan Zoya..


"Kemalilah Earl, coba lihat.. cucu glandfaa sudah bisa melakukan apa cekalang...?" ucap Rehan dengan jenaka menirukan seorang bocah.


Tak Lama kemudian, Ken juga menyusul ke dalam kamar, "Zozo...?" Sapa nya sambil mengeluarkan kotak bingkisan Yang ia bawa dari London.


Hadiah Yang telah di siapkan Lova secara khusus untuk keponakan kecilnya. "Untuk Aiden. L yang membuatnya." Ken menyerahkan kotak berwarna pastel kepada Zoya.


"Sampaikan terima kasihku untuk calon nona muda masa depan kita." sahut Zoya seraya menerima hadiah dengan senang.


"Bagaimana keadaan mu, kau sudah sehat?"


"Hmm. Aku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya." sahut Zoya. "Bagaimana pekerjaan mu? menyenangkan?" sela Zen bertanya pada adik iparnya tersebut.


"Tidak buruk. Semua nya baik-baik saja kak." sahut Ken, lalu mengambil tempat untuk duduk di Salah satu sofa.


"Baguslah jika kau menikmatinya."


"Bagaimana rasanya menjadi orang tua? apakah menyenangkan?" Ken balik bertanya pada kedua kakak nya.


"Ini lebih seperti bermain boneka, hanya saja bonekanya bisa bergerak, dan tentu saja, menjadi orang tua itu sangat menyenangkan. Banyak hal baru Yang bisa kami pelajari tentang Aiden." sahut Zoya sambil tertawa kecil.


"Itu benar, Z'ev adalah hadiah Yang luar biasa, kami sangat bersyukur memilikinya dalam hidup kami." tambah Zen, mengarahkan pandangan nya kepada Dady dan juga putra kecilnya.


"Terdengar sangat menyenangkan, walaupun aku tidak yakin akan hal itu." balas Ken, sesekali juga melihat pada Rehan Yang sedang bermain dengan bayi kecil yang sejak tadi terus bergumam lucu.


"Angel, sepertinya Earl haus, berikan susu padanya, Earl juga seperti nya ingin tidur" kata Rehan bangkit dari duduknya.


"Benarkah? Berikan padaku Dad! Aku akan menyusuinya dulu." sahut Zoya.

__ADS_1


"Earl sama mom dulu ya,.. besok main lagi sama glandfaa." Rehan mencium cucunya sebelum memberikan kembali kepada Zoya.


Setelah Zoya kembali ke kamarnya untuk menyusui Aiden, Ketiganya memilih untuk duduk diruang santai di dekat perpustakaan.


Ken merasa senang saat melihat Dady nya akhir-akhir ini nya sudah lebih banyak tertawa setelah memiliki cucu. Aiden seperti pemberi semangat baru bagi keluarga mereka;


Begitupun kedua kakak nya, mereka terlihat sangat bahagia. Ken berharap agar kebahagiaan Yang mereka miliki sekarang akan bertahan selamanya.


...❄️❄️...


Setelah kembali dari kampus, Lova tidak langsung kembali ke apartment.


Setiap ada kesempatan, Lova selalu memanfaatkan waktunya untuk mencari pekerjaan. Namun sampai hari ini ia belum juga mendapat panggilan dari manapun. Padahal ia sudah mengirimkan lamaran ke beberapa tempat.


Sampai saat ini, Lova masih mengandalkan uang Yang di tinggalkan Ken untuk biaya hidupnya.


Tapi entah bertahan berapa Lama, Yang pasti Lova akan tetap berhemat.


"Lova!" sebuah tangan menepuk pelan bahu nya, membuat Lova segera berbalik, untuk melihat siapa Yang menyapa.


"Oh.. Hai.. Will."


Lova sedikit terkejut saat melihat siapa Yang menegurnya, terlebih karena sudah sangat Lama sejak terakhir mereka bicara.


"Ku pikir aku salah mengenali orang, ternyata memang kau.- Bagaimana kabarmu?" Tanya William Yang berdiri di samping Lova.


"Kabar ku baik. Bagaimana dengan mu?"


"Seperti Yang kau lihat. O'ya ada apa kau berjalan sampai ke daerah ini? kau bekerja disekitar sini?" Tanya William lagi.


Lova menggelengkan kepalanya, "Justru sebaliknya, aku sedang mencari pekerjaan." sahut Lova singkat.


"Benarkah sudah mendapatkan nya?" Lagi. Lova menggeleng lemah.


William menganggukkan kepalanya seperti memikirkan sesuatu, "Sebenarnya teman ku sedang membuka lowongan pekerjaan, tapi entah kau mau atau tidak melakukan nya." kata William, ragu.


"Pekerjaan apa? Aku mau jika ada kesempatan untuk mencoba." sambar Lova dengan antusias.


"Benarkah, kau mau mencobanya?" Lova menganggukkan kepalanya dengan antusias.


"Ceritakan padaku tentang pekerjaan itu, dan kemana tempat Yang harus ku tuju untuk pergi melamar?" tuntut Lova, berubah serius.


"Baiklah. Bagaimana jika kita bicara sambil makan malam. Kau mau?" ajak William lagi. Ia senang karena Lova tertarik pada apa Yang ia tawarkan.


"Sure. Why not."


Keduanya kini telah berhenti direstoran Yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka bertemu sebelumnya.


"Jadi..? ceritakan padaku..." ulang Lova masih dengan antusias yang sama. "Baiklah.- William mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman.


"Teman ku memiliki sebuah agensi, dan saat ini sedang membutuhkan seorang model dengan usia belasan tahun untuk menjadi model brand Yang sedang bekerja sama dengan agensi tersebut hanya saja belum ada wajah yang cocok untuk konsep Yang di butuhkan, dan.. "


"Wait..! Model? Ah. Aku mana bisa melakukan itu." sela Lova, dengan semangat Yang tiba-tiba menyurut.


Ia pikir William akan menawarinya pekerjaan seperti yang dilakukan nya sebelum ini, tapi apa sekarang? menjadi model? jangan bermimpi!.


"Kenapa? Kau tidak ingin mencobanya? ku rasa kau bisa menjadi seorang model?"tambah William, yakin.


Lova menghela nafasnya. Ia tau william tak bermaksud seperti itu, hanya saja apa laki-laki ini buta? di bagian mana Lova cocok menjadi seorang model? sungguh lucu.


"Ini kartu nama agensi nya. Kau bisa datang kesana jika kau ingin. Percayalah, menurutku kau bisa melakukan ini, kau cantik dan juga menarik. Ku rasa kau akan mendapatkan pekerjaan ini jika kau mau mencobanya." ujar William meyakinkan Lova.


Lova mengambil kartu nama itu lalu menyimpan nya. Ia akan mencoba nya jika memang tidak ada jalan lain.


"Terima kasih. Akan ku pikir lagi." sahut Lova. "Makanlah. "


Sekembalinya ke apartment, Lova kembali melihat kartu nama Yang diberikan William pada nya.


Ia memikirkan apakah ia memang memiliki peluang untuk pekerjaan tersebut.


"Huh. Kenapa sulit sekali menemukan pekerjaan. Sebelumnya tidak sesulit ini." gumam Lova sambil mendesis.


Saat memeriksa ponselnya, ia membaca pesan dari ken. "Aku juga merindukan mu Ken." gumam Lova, seraya menatap layar ponselnya Yang terus menyala untuk sesaat.


Ia mencari Salah satu nama lalu menekan tombol panggil;


"Hallo L.. ?" sahut Leon dari seberang sana.


"Le, apa besok kau sibuk? kau punya rencana?" Tanya Lova, ragu. Saat ini, orang Yang dekat dengan nya hanyalah Leon. Lova hanya bisa berbicara dan bertukar pendapat dengan Leon.


"Tidak. Besok kan Weekend L.. aku tidak punya rencana apapun? ada apa?" Leon balik bertanya.


"Aku ingin kau menemani ku ke suatu tempat, kau mau? ini tentang pekerjaan. Aku ingin melamar sebuah pekerjaan, tapi pekerjaan ini sedikit berbeda. karena itulah aku membutuhkan mu." jelas Lova.


"Baiklah. Jam berapa aku harus menjemputmu?"


"Pukul 10, bagaimana?"


"Baiklah. Sampai besok L, bye."


"Terima kasih Le."


Setelah menutup panggilan nya kepada Leon, Lova kembali menuliskan pesan untuk Ken;


"Aku juga merindukan mu.


Besok aku akan pergi bersama Leon. Aku meminta nya menemaniku untuk melamar pekerjaan karena aku tidak yakin dengan pekerjaan itu. Tapi aku akan mencoba nya dulu."


Tulis Lova kemudian mengirimkan nya;


Tak Lama berselang layar ponselnya kembali menyala.


"My B calling"


Buru-buru Lova menjawab panggilan tersebut.


"Hallo?" sahutnya, pelan. Namun suara Yang menjawab nya terdengar tidak santai.


"Pekerjaan apa L? katakan padaku!" tuntut Ken langsung pada intinya. Ah. ternyata kekasihnya memikirkan itu.

__ADS_1


"Sebelumnya aku bertemu dengan William." cerita Lova. "Kami bertemu tanpa sengaja saat aku sedang mencari pekerjaan seperti biasa, dan William menawarkan untuk ku sebuah pekerjaan, hanya saja aku belum yakin. Karena itulah aku minta Leon menemaniku." cerita Lova singkat.


"Katakan padaku pekerjaan apa yang ingin kau coba L?" ulang Ken lagi, masih mendengarkan Lova.


"William bilang itu pekerjaan untuk menjadi seorang model untuk brand kosmetik." sahut Lova ragu.


"Model?" ulang Ken, ragu. "Hmm. Model. Menurutmu bagaimana?" Tanya Lova, ia ingin mendengarkan pendapat dari kekasihnya.


Lova bisa mendengar suara helaan nafas Ken sebelum menjawab nya; "Apa kau sangat membutuhkan pekerjaan L? maksudku, tidak bisakah kau mengandalkan aku untuk kali ini? Aku..


"Aku membutuhkan pekerjaan Ken." sela Lova. "Aku mengerti maksudmu, tapi sungguh, aku tak ingin berdebat tentang ini lagi." tambah Lova, bersuara frustasi.


Ken terdiam untuk beberapa saat sebelum kembali bersuara, "Baiklah. Kau boleh mencobanya, asalkan kau pergi bersama Leon. Biarkan Leon melihat pekerjaan seperti apa Yang akan kau lakukan." putus Ken, Yang juga tak ingin berselisih dengan Lova.


Mereka sama-sama memiliki prinsip, dan Ken mengenal bagaimana kekasihnya, hanya saja Ken sedikit di buat pusing dengan sikap mandiri yang lebih tepat- terlalu mandiri- dari Lova menurut Ken.


Karena sifat itulah, Ken harus lebih protektif namun tidak ingin mengekang Lova. Ia takut jika Lova akan pergi dari nya, jika ia melakukan itu.


"Hmm. Aku berjanji akan menjaga diriku dengan baik, dan juga akan selalu membawa Leon jika Le sedang tidak sibuk." sahut Lova, kembali bersuara lembut.


"Baiklah, aku akan menutup panggilan ini. Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu L."


...❄️❄️...


...Ke esokan harinya;...


Leon dan Lova sudah berada di agensi Yang di maksudkan oleh William. Agensi itu bukanlah agensi abal-abal. Bahkan studio nya pun sangat megah.


Dan, Oh- ternyata tidak hanya Lova Yang akan melakukan interview, di bagian depan sudah berbaris dengan rapi begitu banyak wanita cantik dengan style Yang sudah tidak di ragukan. Mereka terlihat professional. Sementara Lova?


Ah.. ia menatap malang pada dirinya sendiri.


"Le, apa kau pikir aku akan bisa melakukan ini?" Tanya Lova, tak yakin pada dirinya.


"Meskipun kau tidak semodis para gadis Yang berada disana, tapi kau cantik." sahut Leon, sambil tersenyum.


"Hei.. kau disini?" William menyapa Lova dan juga Leon. "Ku kira kau tidak akan mencobanya." kata William. Pria itu tersenyum senang saat melihat Lova berada di deretan para calon model di sana.


"Lalu kau? apa yang kau lakukan disini?" Lova balik bertanya, begitupun dengan apa Yang ada di pikiran Leon.


"Aku bekerja disini. Percaya dirilah L. Kau sangat cantik, kau pasti bisa, sampai bertemu lagi." ujar William lalu pergi meninggalkan keduanya.


Sementara Lova hanya terdiam mendengarkan kata-kata Yang William ucapkan. Apa tadi ia sedang di beri motivasi?


"Pria itu seperti nya memiliki banyak pekerjaan." gumam Leon, seraya melirik pada Lova. "Bukan kah itu bagus, seseorang memang harus begitu untuk bertahan hidup." sahut Lova.


Menurutnya hal itu biasa, apalagi di kota metropolitan seperti ini. Jika tak memiliki pekerjaan Yang memadai, maka akan sangat sulit untuk bisa bertahan hidup, apa lagi di tengah tuntutan yang luar biasa tinggi.


Setelah menunggu cukup Lama, satu per satu semua wanita Yang tadinya berbaris sudah meninggalkan barisan.


Kini giliran Lova;


"Nona Mosley.. anda bisa bersiap di dalam." kata seorang wanita Yang menghampiri Lova. "Le, tunggu aku disini." bisik Lova seraya beranjak dari kursinya. Leon pun mengangguk sambil tersenyum.


Setiba nya di ruangan yang di maksud, ternyata Lova sudah di tunggu oleh beberapa asisten.


"Silahkan ganti pakaian anda dengan kostum ini, kemudian tim make up akan mendandani anda sebelum melakukan tes untuk pemotretan." kata- Jane, yang adalah ketua dari tim stylish.


Lova pun melakukan seperti Yang di perintahkan, dan tidak butuh waktu Lama, ia pun sudah siap dengan penampilan Yang khusus di siapkan untuk brand tersebut.


"Kau terlihat cantik." puji Jane setelah melihat Lova dengan penampilan barunya.


"Terima kasih." sahut Lova tersenyum malu.


Disana, Lova kembali di bawa ke satu ruangan Yang kembali di penuhi oleh orang-orang Yang tidak di kenal. Ruangan Yang di penuhi dengan berbagai macam alat digital dan juga pencahayaan Yang terang untuk menyoroti latar Yang akan digunakan.


"Nona Mosley sudah siap." seru Jane kepada semua orang.


"Hai, kau model berikutnya? aku David." seorang pria berusia 30-an mengulurkan tangan nya pada Lova. David adalah seorang fotographer.


"Lova."sahutnya membalas uluran tangan David. "Maafkan aku, Sebenarnya ini pertama kali untuk ku. Aku belum tau harus melakukan apa." jujur Lova dengan perasaan gugup sekaligus canggung.


"Ah.. benarkah? Waw.. ini akan menyenangkan. Lily bisa mengarahkan gaya untukmu. Kau bisa mengikuti arahan nya. Jangan gugup, santai saja." ujar David lagi seraya tersenyum penuh arti.


Satu lagi kesenangan baru Yang akan di dapatnya dari kepolosan seorang gadis, yaitu pose-pose Yang lebih natural.


Ini benar-benar hal yang baru bagi Lova. Ia benar-benar merasa gugup saat semua mata melihat padanya sementara ia berpose sesuai dengan arahan.


Bahkan beberapa kali lova melakukan kesalahan dalam mengikuti arahan, namun semua orang malah bersikap maklum padanya.


Baiknya mereka.


Cekrek.. Cekrek...


"Oke, good Lova. Kita Sudah selesai. Kau melakukan nya dengan baik. Bagian HRD akan menghubungimu jika kau terpilih untuk brand ini." David kembali mengulurkan tangan nya pada Lova, untuk menyudahi pertemuan mereka saat ini.


"Terima kasih" sahut Lova, ramah.


Setelah mengganti pakaian tadi dengan miliknya, Lova pun kembali menemui Leon. "Kau sudah selesai?"


"Hmm. Sudah. Hanya menunggu panggilan berikutnya.." sahut Lova. "Baiklah. Kemana kita selanjutnya?" Tanya Leon lagi.


"Ku rasa, makan siang. Kau lapar?"


"Wah, syukurlah kau memikirkan itu L. Karena sejujurnya aku memang merasa lapar."


"Baiklah. Aku akan mentraktir mu kali ini." balas Lova. Kedua nya pun pergi meninggalkan agensi tersebut.


"Bagaimana menurutmu? benarkan? gadis itu memang cocok untuk brand ini?" William bersuara saat menilai pose-pose Yang dilakukan Lova sebelumnya.


"Ya, ku rasa pendapatmu benar. Meskipun nona Mosley baru di bidang ini, ku rasa ia berbakat. Wajahnya sangat cocok untuk konsep Yang kita pilih." sahut David dengan pendapat Yang sama.


"Baiklah. Gunakan Lova sebagai modelnya. Kabari dia secepatnya setelah ini." putus William.


"Baiklah Bos, terserah padamu."


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2