
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
.......
Pukul delapan pagi. Disaat suaminya masih meringkuk di bawah selimut tertidur lelap, Zoya sudah mulai membuka mata.
Meskipun mereka berada di apartment, Zoya masih ingat jika pagi ini keluarga nya akan kembali ke indonesia, dan keluarga dari Dady mertuanya juga akan kembali ke U.K, jadi Zoya harus bangun untuk menyiapkan sarapan, sebelum mengantarkan keluarga nya ke Bandara.
Ia bergerak perlahan agar tidak membangunkan suaminya. Suara dengkuran halus Zen, terdengar begitu manis di telinga Zoya.
Sebelumnya mereka memang beberapa kali tidur bersama, tapi Zoya tak pernah memperhatikan hal tersebut, mungkin karena dirinya terlalu pulas, dan selalu terlambat untuk bangun di bandingkan dengan suaminya. Namun sekarang, saat mereka sudah menjadi suami dan istri, hal-hal kecil seperti ini, seperti penemuan baru yang berharga bagi Zoya.
"Selamat pagi suami ku, lanjutkan mimpi indah mu, aku akan menyiapkan sarapan untuk kita." bisik Zoya setelah mengecup pelan pipi Zen.
Nafas Zen berhembus perlahan menggerakkan dada dan juga ototnya dengan ritme yang teratur, menandakan suaminya itu masih tertidur pulas. Dengan perlahan Zoya menyingkirkan tangan Zen dari atas perutnya, bangun perlahan turun dari atas ranjang untuk menemukan pakaian yang bisa ia kenakan selagi membuat sarapan.
Zoya mengambil apa saja yang tergantung di dekat ranjangnya. Sebuah sweater tebal berwarna cream yang kebesaran di tubuhnya langsung ia kenakan untuk menutupi kepolosan tubuhnya saat ini. Setelah menggosok gigi dan mencuci wajahnya, Zoya langsung menuju ke dapur.
Ia menuangkan bubuk kopi ke dalam mesin seduh, lalu memeriksa lemari makanan nya untuk melihat apa saja yang bisa ia masak sebagai menu sarapan.
Di putuskan lah, ia membuat nasi goreng omlet dengan irisan ham, sebagai menu sarapan sederhana di hari pertama mereka sebagai suami istri.
Saat Zoya tengah asyik berkutat dengan penggorengan nya, Zen memperhatikan tubuh molek yang sedang bergerak dengan lincah seakan-akan mengundang Zen untuk datang lebih dekat.
Zen melingkarkan tangannya di perut Zoya, sementara tangan lainnya memasuki bawah sweater untuk membelai paha dan juga bokong indah milik istrinya itu, "Selamat pagi sayang." Zen mengecup tengkuk mulus didepannya dan menghirup lembut aroma manis dari tubuh mungil itu.
"Aku baru tau, ternyata suami ku adalah lelaki mesum." ujar Zoya bernada jahil, sambil terus memasak sarapan mereka. "Bisa kah kakak menyudahi ini..?" Zoya merasa risih dengan tangan Zen. Sebenarnya ia sudah merasa basah sekarang, hanya saja pekerjaan lain sudah menunggu mereka.
"Kenapa harus berhenti, salahmu sendiri yang menggoda ku." Zen menolak untuk menyudahi apa yang sudah ia mulai. "Pakai baju mu kak, kau bisa masuk angin nanti!" ucap Zoya yang melihat suaminya masih memamerkan tubuh atletis yang menggoda.
"Hmm. Aku lebih suka seperti ini."
"Aww.. apa yang kakak lakukan?" protes Zoya saat Zen mengangkat baju Zoya dan turut memasukan tubuhnya ke dalam sweater yang sama, sehingga Zen bisa menempelkan tubuhnya pada tubuh Zoya.
__ADS_1
"Ini lebih praktis dari pada harus berjalan kesana mengambil milikku." kata Zen bersikap manja pada istrinya.
Zoya hanya bisa menggeleng dengan tingkah Zen, lalu melanjutkan untuk memplating nasi goreng yang sudah ia masak.
"Apa kita juga akan sarapan seperti ini..?" tanya Zoya yang tak habis pikir melihat tingkah suaminya yang masih setia memeluk dan mengikutinya kesana kemari. "Apa kita kembar siam yang menempel?
Atau sebenarnya, aku lebih mirip anak kangguru?"
"Hmm. Itu ide bagus. Aku akan memangku mu, sementara kau menyuapiku, bagaimana sayang, terdengar romantis bukan?" jawab Zen, yang membuat Zoya membulatkan matanya, tak habis pikir.
Karena tak ingin membuang waktu terlalu lama Zoya menuruti apa mau suaminya, toh tak ada ruginya juga, dan bagusnya lagi karena tak ada yang melihat keanehan mereka berdua.
Setelah selesai dengan semua tingkah manja Zen, dan juga keinginan untuk kembali bercinta yang tak bisa di tolak, akhirnya Zoya bisa melepaskan diri untuk bersiap-siap kembali ke hotel.
"Kau sudah siap sayang..?" Zen sudah menunggu di ruang tamu, menunggu Zoya selesai berdandan.
"Hmm. Sudah kak, sebaiknya kita cepat, Dad dan yang lain pasti sudah menunggu sejak tadi." ujar Zoya tegas, tak ingin menerima bantahan atau ajakan lainnya yang berpotensi membuat mereka benar-benar terlambat. Ya, walaupun Zoya akui, bersama Zen tak akan pernah membuatnya bosan.
Tiga puluh menit perjalanan, Keduanya sudah tiba di airport. Sebelumnya Rehan sudah menghubungi putrinya untuk langsung pergi ke sana, karena mereka sudah check out dari hotel, dan sudah dalam perjalanan ke bandara.
Zoya menghubungi ponsel Dady nya untuk memastikan keberadaan mereka menunggu, dan seperti yang bisa Zoya tebak, keluarga nya sudah berada di ruang VIP.
Setelah mengetuk pintu, Zoya sudah melihat kedua keluarga nya menunggu di sana.
Zoya dan Zen menghampiri orang tua mereka masing-masing, sebelum mereka bertukar posisi, untuk memberikan salam perpisahan.
"Mom, hati-hatilah dalam perjalanan, aku akan sangat merindukan kalian."
"Kau juga sayang, setelah pekerjaan mu selesai lekas lah kembali. Jaga dirimu." Julie memeluk putrinya, sayang.
"Angel,.." Sekarang giliran Rehan. Setiap bagian Dady nya ini, pastilah akan menimbulkan pemandangan yang mengharu biru.
"Dad, thank you so much for everything. Semua yang sudah Dady lalukan dan juga korbankan untuk ku, aku sangat mencintaimu Dady." kata-kata Zoya membuat Rehan semakin tak rela untuk pergi jauh dari putrinya.
Meskipun status Zoya sudah menjadi seorang istri, namun bagi Rehan, putrinya itu tetaplah bayi kecil mungilnya yang dulu sampai sekarang sangat-sangat ia cintai.
"Dady juga sangat mencintai mu sayang. Jaga dirimu, dan nikmati masa-masa baru mu." Rehan mencium kening putrinya dengan sayang. Ia sungguh tak rela meninggalkan Zoya, hanya saja, tuntutan pekerjaan tengah memanggil diri nya.
"Zozo, aku juga akan kembali." Ken memanyunkan wajahnya. Namun berjalan ke arah Zoya sambil merentangkan tangan. Ingin mendapatkan pelukan perpisahan yang sama.
"Bocah kecil. Segeralah dewasa, jangan menyusahkan mom." bisik Zoya pada adik kecilnya itu.
__ADS_1
"Hmmm. Aku akan segera menjadi lelaki dewasa. Hanya saja, berjanjilah kau tidak akan terlalu cepat memberikan keponakan untukku, aku belum siap untuk di panggil uncle, oleh seorang bayi kecil." balas Ken, yang hanya bisa di dengar oleh Zoya.
"Wahh.. dasar kau bocah kecil. Aku akan setuju untuk ini, masih cukup banyak yang harus ku kerjakan juga. Jadi kami tidak akan buru-buru." janji Zoya, membuat Ken tersenyum sumringah.
Setelah selesai berpamitan dengan semua keluarga, Zoya harus lebih dulu meninggalkan airport untuk segera pergi ke RKH, untuk menandatangani surat perjanjian kerja sama untuk pembangunan yayasan yang sudah Zoya rencanakan sebelumnya.
"Sayang, kau sungguh tidak ingin ku temani?" tanya Zen yang sudah memarkirkan mobilnya di tempat parkiran khusus kampus. "Sebenarnya, kalau kakak ingin ikut melihat-lihat di sekitar sini, aku tidak keberatan. Lagi pula pertemuannya tidak akan lama."
"Hmm. Baiklah, aku akan mengantarmu. Lagipula untuk wanita secantik istriku ini, sangat berbahaya berkeliaran sendirian di kampus seperti ini." goda Zen pada istrinya.
"Aku akan menemui mu nanti. Tersenyumlah sayang, kau terlihat gugup." Setelah mengantarkan Zoya di depan pintu ruang pertemuan, Zen memilih untuk menunggu Zoya di taman kampus.
"Tuan, mau membeli ini..?" Seorang gadis membawa keranjang berisi barang dagangan berdiri di samping Zen.
"Kau..? bukan kah kita pernah bertemu, nona muda? apa yang kau tawarkan?" Tanya Zen pada Lova. Meskipun gadis itu berpakaian tomboi jauh dari penampilan nya terakhir kali, namu Zen masih mengingat jelas gadis muda tersebut.
"Mr.. anda suaminya miss Zoya, bukan? benarkan?" tanya Lova dengan antusias, karena sudah mengingat siapa laki-laki yang ada di hadapannya tersebut.
"hmm. Katakan padaku apa yang kau lakukan di tempat ini, apa pihak kampus mengijinkan nya?"
Sstttt...
"Ini rahasia Mr.. aku berjualan secara sembunyi-sembunyi. Satpam nya adalah teman baik ku, jadi dia mengijinkan aku untuk masuk dan menjual dagangan ku." jawabnya dengan ceria.
"Apa itu?" tanya Zen, meminta agar Lova menunjukan barang dagangan nya. "Ini adalah gelang pasangan tuan, dia buat dari batu khusus yang di ambil dari dasar laut. Menurut legendanya, gelang ini akan membuat setiap pasangan yang memakainya atas nama cinta, maka cinta mereka akan abadi." jelas Lova.
"Apa itu sihir? terdengar menarik." ucap Zen memilih gelang yang menurutnya lebih cantik diantara gelang lainnya.
"Kau ingin membelinya Mr...? aku hanya menjualnya 20 dollar, harga spesial untuk anda dan miss Zoya.
"Baiklah, baiklah.. aku akan mengambil ini, sebagai hadiah pertama setelah kami menikah." ucap Zen dengan bahagia, saat memikirkan istrinya.
"Terima kasih Mr.. senang bertemu dengan mu." pamitnya, lalu mengendap-endap untuk kembali menjajakan pernak-pernik miliknya.
"Berhati-hatilah gadis muda.!"
"Baiklah, Mr.. thanks.." Lova melambaikan tangannya, lalu berusaha kabur.
"Gadis muda yang aneh." Zen menggelengkan kepalanya menyaksikan Lova menghilang di balik semak-semak, lalu sejenak memperhatikan gelangnya, "Apa legenda itu benar adanya? Tak benar pun, cintaku pada Zoya akan hilang, dan akan bertahan sampai maut memisahkan." ucap Zen lalu menyimpan gelangnya.
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...