
...ENJOY...
.......
.......
.......
''Selamat pagi kak,- sapa Zoya saat melihat suami nya yang sudah sibuk di balik komputernya. Suaminya sudah terlihat sangat rapi dan juga tampan.
''Apa kau akan pergi sekarang sayang?" ujar Zen pada Zoya.
''Hmm. Aku harus ke kantor sekarang kak, Cassian sudah menunggu. Ada rapat pagi ini dengan para donatur dan juga RKH.- O, ya aku sudah menyiapkan makanan meja makan, kakak bisa makan duluan jika kakak lapar.'' ujar Zoya yang sudah bersiap-siap akan pergi ke yayasan milik nya.
''Baiklah, maaf tidak bisa mengantarmu sayang, kantor akan mengadakan meeting sebentar lagi.'' Ujar Zen yang saat ini tengah bersiap-siap dengan beberapa laporan yang sudah ia cetak sebelumnya.
''Tidak apa-apa kak, jangan khawatirkan aku, lagi pula jaraknya sangat dekat.- O, ya, kau sangat tampan pagi ini.'' Puji Zoya sambil mengedipkan mata pada suaminya.
''Trima kasih sayang, kau juga sangat luar biasa setiap hari.- Jangan lupa kabari aku begitu kau tiba disana.- Dan sekarang berikan aku ciuman..'' Pinta Zen sambil memeluk Zoya.
''Bisa lepaskan aku sekarang kak, bukan kah meeting mu akan segera di mulai.'' peringat Zoya pada suaminya yang tidak melepaskan pelukannya.
''Aku ingin memeluk mu lebih lama,- begitu pekerjaan ku selesai, aku akan segera menyusulmu sayang.'' ujar Zen sekali lagi mencium Zoya dengan gemas.
''Baiklah, aku akan menunggu di sana kak. Sekarang kembali lah bekerja, karena aku juga harus bekerja.''
''Berikan aku ciuman sekali lagi.'' pinta Zen.
Setelah memberikan ciuman yang di akhiri dengan penjelajahan keberbagai tempat tersebut, Zoya harus kembali merapikan dirinya sebelum pergi meninggalkan rumah.
''Aku berangkat!''
''Hmm. Aku mencintaimu Zo'e.''
''Aku juga mencintaimu, kak.''
Sudah empat tahun lama nya Zoya dan juga Zen menetap di Stockholm. Keduanya sepakat untuk membeli rumah di sana. Sebuah rumah mewah namun tidak terlalu besar. Rumah yang nyaman dan juga memiliki jarak yang cukup dekat dengan Yayasan yang Zoya miliki saat ini.
Dan selama 4 tahun juga Zen terus melakukan perjalanan pulang pergi dari Swedia ke indonesia, itu pun jika memang ada hal mendesak yang terjadi di perusahaannya, terutama jika berhubungan dengan para investor dan juga para pemegang saham, selebihnya Zen hanya memantau lewat komputer miliknya. Zen juga sudah mempercayakan perusahaan nya pada Gerald selaku wakil Direktur nya.
Zen sangat suka tinggal bersama Zoya di Stockholm. Tempat tersebut memberikan mereka nuansa baru dan juga keluarga yang baru. Seperti keluarga Cassian.
Mereka sangat dekat dengan keluarga itu.
Terkadang juga, disaat Zen sedang tidak memiliki pekerjaan yang harus menuntutnya harus berada di depan komputer , Zen lebih memilih untuk membantu Zoya di yayasan.
Yayasan yang di beri nama -MOTHER- oleh istrinya itu, selama ini berjalan dengan sangat baik, dan sudah cukup banyak murid-murid dari berbagai kota dan negara yang mereka sponsori dan yang juga mereka kirim ke universitas-universitas terbaik dunia.
__ADS_1
''Hai, selamat pagi. Apa aku terlambat?"
Zoya masuk ke dalam ruangannya, di sana sudah ada Cassian dan juga Sashi yang menunggu dirinya.
''Kau tidak terlambat bos, rapat akan dimulai dalam dua puluh menit, dan ini bahan-bahan yang akan kau butuhkan.'' Cassian memberikan beberapa salinan berkas ke tangan Zoya,- Dan salinan lainnya juga akan di bagikan kepada para donatur yang menghadiri rapat nanti.
''Thank you, Cass.- Bagaimana dengan mu Sashi, apakah ada daftar baru yang akan kita sponsori?"
''Hari ini kita memiliki sepuluh nama calon penerima beasiswa dalam daftar kita, dan itu juga sudah termasuk dalam bahan meeting hari ini. Dan aku ingin menyerahkan ini,-
''Apa ini?" Tanya Zoya saat menerima sebuah map yang diberikan Sashi padanya.
''Berkas lamaran untuk posisi yang kosong.- ujar Sashi. ''Hem. Baiklah, kapan dia akan datang wawancara..?''
''Siang nanti setelah rapat kita selesai. Aku mengatakan padanya, aku akan memberikan kabar jika kau sudah berada di kantor, dan kau tau, gadis ini memiliki saudara yang sangat tampan.'' tambah Sashi dengan wajah merona.
''Lalu..?'' Sela Cassian, sambil mengerutkan kening nya kepada gadis muda itu.
''Tidak ada. Aku hanya mengatakannya saja.''
''Kau bisa mengurus itu bukan, Zoya hanya akan memberikan persetujuan nya setelah selesai di wawancara. Dan kenapa kau tidak mengatakannya padaku?'' ujar Cassian, yang mengklaim tugas tersebut, karena itu memang bagiannya.
''Maafkan aku Senior. Aku hanya terlalu,-
''Bersemangat? karena melihat saudara laki-laki nya yang begitu tampan?" sela Cassian lagi.
Terkadang Zoya juga mengingatkan Cassian agar bersikap lebih baik pada Sashi, meskipun sebenarnya Zoya juga tau, Cassian tidak bermaksud mendominasi, ia hanya bersikap tegas sebagai seorang Senior dalam hal pekerjaan.
Sejak dua tahun lalu, begitu lulus dan diwisuda, Cassian langsung melamar untuk bekerja di yayasan yang Zoya dirikan. Cassian memiliki bakat dan juga pengalaman dalam melihat potensi para calon penerima beasiswa, karena itulah Cassain menempati posisi sebagai wakil sekaligus asisten pribadi Zoya.
Dan Sashi, gadis itu baru bergabung sekitar enam bulan yang lalu. Keduanya adalah orang-orang yang dekat dengan Zoya di bandingkan para staf lainnya.
...❄️❄️❄️...
''Dari mana lo, tumben?'' Tanya Leon yang saat ini tengah bersantai di atas Sofa sambil memainkan ponsel ditangannya.
Hari ini adalah hari libur Ken, alias Ken tidak memiliki mata kuliah apapun yang harus di ikuti, begitu pula dengan Leon . Dan biasanya, pada hari-hari seperti ini Ken akan berada dirumah 24 jam penuh, karena hari ini juga merupakan giliran Ken untuk membersihkan apartemen.
''Ada urusan.'' Jawab Ken singkat, lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa yang berseberangan dengan Leon.
Leon mengamati sahabatnya itu. Menurutnya ada yang aneh dengan Ken. Saat ini Ken terlihat seperti seorang mahasiswa yang normal. Alih-alih seorang pria perfeksionis seperti biasanya.
Beberapa hari terakhir Leon juga selalu mengamati Ken. Sahabatnya itu selalu saja pergi lebih pagi dan kembali lebih larut ke apartemen.
Ya, memang Leon tidak memiliki hak untuk ikut campur ke dalam urusan Ken, hanya saja entah kenapa Leon mencium sesuatu yang mencurigakan saat melihat gerak-gerik Ken.
''Lo ngapain, kok malah ikutan nyantai, gak beberes gitu, kan giliran lo!'' ujar Leon mengingatkan Zen, siapa tau saja sahabatnya itu lupa akan gilirannya. Karena Leon sudah melakukan semua bagian nya, dan akan terasa curang jika Ken yang melanggar aturannya sendiri. Apa ia terlalu picik?
__ADS_1
''Malas!''
''Wuuiiihh canggih! udah tau malas lo sob.. ? Ada apaan, gak biasanya!'' Leon mencibir dengan kecurigaan yang semakin kuat pada Ken. Ia yakin pasti ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.
''Berisik! Males aja, kenapa, gak boleh? kan apartemen gue? lo aja sana yang bersih-bersih!'' balas Ken mendelik kesal pada Leon.
''Apaan! Giliran gue kan udah, ini giliran lo!'' protes Leon menolak perintah Ken.
''Gimana kalau kita cari asisten?" usul Ken tiba-tiba pada Leon.
''Hah..? lo makan apa sih sob? kurang tidur lo..?"
Ken yang tadinya hanya bermalas-malasan di atas sofa, segera bangun dan merogoh ke dalam tas nya.
Ia mengambil ponsel dari dalam salah satu saku ranselnya,-
''Seriusan nyari asisten?" tanya Leon, sedikit keheranan, namun juga merasa sedikit senang dengan usul teman Ken. Dengan memiliki asisten, Leon bisa bersantai seperti yang seharusnya.
Awalnya Leon mengira jika sahabatnya itu akan mencari asisten melalui jasa penyedia yang disiapkan pemilik gedung, namun ternyata sahabatnya itu malah menghubungi orang tuanya di indonesia.
''Lo barusan ngomong sama bunda? Bunda apa kabar nya? Bunda bilang apa juga..?" Tanya Leon yang ingin tau kabar tentang Julie. Sejak menjadi teman Ken, setiap berkunjung- Leon akan memanggil Julie dengan sebutan Bunda alih-alih panggilan umum yang biasa digunakan teman-teman lainnya.
Menurut Leon, sosok Julie sangatlah luar biasa ramah dan juga lembut dibandingkan dengan istri-istri para konglomerat pada umumnya. Dan Leon sangat menyukai itu.
''Kabar mom baik. Minggu depan mom dan Dad akan menemui Zozo, setelahnya mereka akan berkunjung sebentar ke sini.- Ada lagi yang pengen lo tau?" ujar Ken, sambil melirik ke arah Leon.
'Ehhmm.'' Leon menggelengkan kepalanya. ''Jadi, kapan kita akan punya asisten baru?" tambah Leon.
''Secepatnya.''
''Apa Bunda yang akan mencarinya untuk kita?"
''Kenapa harus mom? Gue yang milih!''
''Kalau begitu carinya yang cantik sob biar gak bosan di liat waktu berkeliaran dirumah.'' usul Leon. Walaupun terdengar konyol, tapi Leon bersungguh-sungguh dengan kata-katanya.
''Gue mau nyari asisten, bukan piaraan!'' balas Ken melemparkan bantal ke arah Leon.
''Asisten sekaligus piaraan juga boleh kalau mau.'' he-he.. ✌
''Otak lo dasar!''
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1