
...ENJOY...
.......
.......
.......
Jika kalian tau apa itu rasa pahit yang sebenarnya, maka kalian akan sadar jika pahit yang sebenarnya adalah rasa manis yang datang terlalu cepat.
Bayangkan jika saat ini kau berada di tempatmu, kau melakukan apa saja yang kau mau. Kau menerima apa saja yang kau sukai, kau bersama dengan orang-orang yang kau cintai dan juga peduli, apapun yang kau inginkan, semua bisa kau dapatkan.
Lalu, ke esokan harinya, saat kau membuka mata, ternyata semua tak lagi sama. Perasaan yang semula ada. Canda yang semula penuh warna, semuanya menghilang. Kau jatuh terpuruk ketempat dimana kau tak pernah sadar bahwa kau akan berada di sana.
Kau ingin berlari dan mencari, tapi kau tak pernah mendapatkan tempat mu kembali. Apa yang kau genggam, apa yang kini kau miliki, semuanya benar-benar akan menghempaskan mu jauh dari apa yang pernah kau bayangkan.
Jangan katakan jika orang-orang tak lagi mengingatkan mu kemana seharusnya kau bertanya, semua benar. Benar bagi mereka yang tak tau apa-apa tentang dirimu. Bagi mereka yang hanya menilai mu dari tempat saat ini kau berada, bagi mereka kau memang tak bisa sepadan dengan apa yang seharusnya mereka inginkan. Jangan terlalu berharap.
Tapi apakah mereka perduli dengan apa yang telah kau lalui? ku rasa tidak!
''Ahhh.. sadarlah Lova! kau sudah begitu banyak menerima kebaikan selama ini, setidaknya sekarang kau harus mampu berjuang untuk dirimu sendiri, jangan lagi menyusahkan orang lain! Kau bisa melakukan nya sekali lagi. Bukan kah sejauh ini kau selalu berhasil? jadi tolong lakukan sekali lagi seperti seharusnya, kau pasti bisa!''
Gadis muda itu memberi semangat pada dirinya sendiri. Sambil mengepalkan kedua tangannya, ia menghilangkan rasa ragu dan juga kecemasan yang saat ini tengah ia rasakan. Ini pertama kalinya Lova melakukan pekerjaan seperti ini.
Sebelumnya yang ia lakukan adalah bekerja paruh waktu di kafe-kafe kecil, atau pun mengantarkan pesanan, dan juga menjajakan berbagai macam dagangan perhiasan buatan tangan nya sendiri. Namun sekarang, ia harus melakukan pekerjaan yang sedikit menantang, pekerjaan yang belum pernah ia lakukan.
''Kau perlu uang tambahan? kau bisa bekerja paruh waktu di tempat ku nanti malam. Aku akan memberikan bayaran yang lebih besar dari semua penghasilan mu selama ini. Yang kau lakukan hanyalah menjadi pelayan pengantar minuman, bagaimana, Kau mau?"
Ah, jika teringat lagi dengan tawaran itu, Lova lagi-lagi memaki dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa tergiur dengan bayaran yang besar sedangkan ia tidak tau apa yang akan ia lakukan di balik uang tersebut. Pelayan? maksudnya pelayan yang hampir tak mengenakan apa-apa di tubuhnya?
Tidak apa-apa. Bagi Lova semua nya tidak apa-apa. Semua untuk dirinya. Orang lain tak kan ada yang perduli padanya, hanya dirinya nya seorang saja yang bisa mengatasi semua ini. Inilah caranya untuk bertahan hidup di negara yang sangat jauh dari rumah nya tersebut.
Ia juga tidak bisa terus-terusan menyusahkan kakak-kakaknya, terlebih lagi mereka sudah melakukan semua yang terbaik bagi Lova, hingga ia bisa sampai di tempat ini untuk melanjutkan studinya. Tidak seharusnya Lova mengeluh.
Ini baru awal, sepersekian dari perjalanan nya baru saja di mulai di kota metropolitan ini. Bagaimana Lova bisa bertahan dengan biaya hidup yang luar biasa dan juga dengan pengeluarannya yang selalu saja menguras tabungan sebanyak apapun ia sudah menyisihkan uangnya, Lova benar-benar tak habis pikir.
Tapi ini memang bukan saat nya untuk mengeluh dan meratapi semuanya. Yang harus Lova lakukan hanyalah bekerja dengan baik, dan mendapatkan bayaran. Toh ia juga tidak merugikan orang lain, ia hanya akan melakukan pekerjaan nya. Begitu selesai ia akan mendapatkan uangnya, dengan begitu ia bisa menyisihkan uang nya kembali untuk keperluan yang lain.
Ia pergi ke London dengan mengantongi amplop dengan sejumlah uang di rekening untuk biaya hidup dan juga membayar apartemen sederhana tempat ia tinggal saat ini, serta beberapa berkas beasiswa yang juga sudah di verifikasi.
Bermodalkan tekad dan juga kepercayaan dari orang-orang yang memberinya dukungan, Lova meninggalkan rumah sederhana yang yang selama ini telah menerimanya dengan terbuka. Dan sekarang, giliran nya untuk membalas semua kebaikan itu.
Dengan penuh tekat, Lova menggenggam baki berisikan gelas-gelas yang sudah di isi dengan cairan berwarna, tidak lupa ia mengenakan topeng berbentuk kupu-kupu untuk menutupi wajahnya. Sesekali Lova juga menurunkan roknya yang terlalu pendek, dan terlalu provokatif. Jujur saja, ia memang merasa....
__ADS_1
Lova berjalan keluar sambil membawa baki tersebut dengan hati-hati, menawarkan kepada para pemuda pemudi yang saat ini tengah asyik menggoyangkan badannya seperti seorang yang tengah kerasukan.
Musik yang berdentum keras dengan cahaya penerangan seadanya karena menggunakan lampu hias kelap-kerlip membuat Lova semakin berhati-hati dengan bakinya.
Jangan sampai ia membuat masalah dengan menumpahkan minuman dan membuat para tamu tersebut marah karena ulahnya. ''Alkohol dengan kadar tinggi!''
Lova menyuguhkan minumannya kesana-kemari. Berulang kali ia sudah mengisi baki nya dan sudah beberapa kali juga ia memutari tempat tersebut.
Party itu diadakan di rumah pribadi, dengan menggunakan bagian kolam renang sebagai pusatnya. Ini adalah semacam Birthday party yang di adakan oleh anak-anak orang-orang berduit. Dimana minuman keras, dan juga hal-hal mewah lainnya seperti sudah biasa untuk dilakukan.
Di tempat itu juga banyak para pemuda-pemudi yang mungkin saat ini telah mabuk sebelum waktunya, bahkan tak sedikit para pasangan yang melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya di lakukan di depan umum. Apa mungkin Lova lah yang terlalu kolot, atau memang hal ini sudah sangat umum dilakukan kalangan remaja di kota metropolitan tersebut.
''Bagaimana. tidak terlalu buruk kan?''
Tania berdiri di sebelah Lova dengan menggunakan bikini yang di bagian belakang nya menjuntai bulu-bulu.
apa ini kostum rubah betina?
''Ah, ini menyenangkan.- Selamat ulang tahun Tania, maaf aku tidak membawakan hadiah untuk mu.''
Ini salah satu kekurangan Lova, terkadang ia selalu melupakan hal penting lainnya, karena terlalu fokus pada hal-hal yang lebih penting menurutnya.
''Tidak masalah, lagipula aku sudah mendapatkan banyak hadiah. Dan kau, kau juga adalah hadiah. O,ya ini juga ulang tahun saudara ku, Jeremi. Aku yakin kau sudah mengenalnya. Sekarang lepaskan Baki dan juga topeng mu, ikut bersama ku.''
Lova yang secara tiba-tiba ditarik oleh Tania tak sempat berkata apa-apa saat ia di bawa ke tengah keramaian. ''Tania, apa yang,-
Dengan panduan pembawa acara dadakan, semua orang yang tadinya berpencar, kini tengah fokus ke tengah-tengah keramaian, dimana kue berukuran super besar dengan lilin indah di sekeliling nya di dorong keluar. Semua orang bersorak dan bertepuk tangan.
''Jeremi lihatlah, aku membawa siapa!'' Seru Tania menghampiri saudara laki-laki nya yang saat itu tengah berkumpul dengan teman-temannya. ''Kalian disini?'' Tania tersenyum menggoda, menebarkan pesona yang ia miliki.
Lova masih belum mengerti apa maksud Tania membawanya kesana, ia hanya sekedar mengikuti. Setidaknya ia tidak sedang membawa baki sialan itu, tapi baju yang ia kenakan saat ini, sungguh...
''Terima kasih sudah datang Lova, kau terlihat mengagumkan.'' Mengagumkan dengan kostum pelayan? kau bercanda?
Jeremi menyambut Lova lalu mengecup pipi gadis Lova, menimbulkan keterkejutan yang tidak bisa gadis itu tutup-tutupi. Sementara Tania tersenyum senang melihat adegan tersebut, dan pipi Lova di penuhi dengan semburat merah yang membuat pipinya terasa panas.
''Kenalkan ini teman-teman ku. Leon, Ken , Steve, dan itu Denis.'' Lova yang masih dipenuhi rasa syok hanya tersenyum seadanya, sambil menyadari tangan Jeremi yang kini tengah melingkar di pinggang nya.
''Maaf aku permisi, aku kesini untuk bekerja.''
Tanpa menunggu untuk dipersilahkan Lova pergi meninggalkan keramaian tersebut. Ia kembali mengenakan topeng nya, menuju area dapur yang saat ini juga dipenuhi dengan kawanan. Namun apa pedulinya, yang lakukan hanyalah bekerja.
Lova menggosok pelan pipinya yang masih terasa panas. Menggeleng pelan, lalu kembali mengisi baki yang seharusnya ia jajakan.
__ADS_1
''Apa maksud Lova dengan bekerja Tania?'' tanya Jeremi yang kebingungan dengan kata-kata Lova padanya.
''Aku memang menyuruh nya menjadi pelayan disini, aku membayarnya cukup mahal dan ia terima. Tapi tidak hanya itu, dia hadiah ku untuk mu Jeremi, aku tau kau sudah memperhatikannya sejak awal, jadi jangan menolaknya. kau suka? Kau bisa melakukan apa saja padanya setelah ini, karena itu hadiah mu!" Senyuman penuh kelicikan tersirat dari tawa gadis membuat Ken mendengus kesal. Bagaimana ia bisa menjadikan teman nya sendiri sebagai hadiah, apakah ini semacam lelucon?
''Ken, lo mau kemana?" seru Leon menggunakan bahasa keduanya, membuat teman-temannya menatap penuh tanya; ''Sepertinya Ken ada urusan disana.'' ujar Leon menjelaskan mengapa Ken tiba-tiba saja pergi dari kerumunan meninggalkan ia bersama dengan sebagian orang mabuk disini.
Ken yang mencari-cari ditengah kerumunan para penikmat pesta tak juga bisa menemukan gadis yang sangat familiar baginya itu. Ada beberapa pelayan juga yang mengenakan pakaian yang sama dengan dirinya, dan topeng sialan ini, benar-benar menyusahkan Ken untuk menemukan Lova. Tidak mungkin ia memeriksa semua pelayan satu persatu dibawah penerangan yang seadanya.
''Mau minuman beralkohol?"
Baki diarahkan tepat di hadapan Ken. Pelayan bertopeng dengan baju super pendek nan ketat, tapi tidak seperti pelayan lainnya yang turut menikmati pesta. Ah, rambut itu. Ken rasa ia sudah menemukan Lova. Pelayan dihadapan nya ini memiliki rambut yang sama pendek nya dengan gadis yang ia lihat sebelumnya, di depan sana.
Alih-alih mengambil gelas yang di tawarkan padanya, Ken malah mengambil baki tersebut dari tangan Lova lalu menarik tangan gadis itu menuju luar area pesta, tepatnya ke halaman samping rumah tersebut.
''Kau! Kau pikir apa yang kau lakukan?" protes Lova saat Ken telah melepas tangan nya.
Ken menghadap pada Lova, melihat dengan intens lalu bertanya; ''Kau mengenalku bukan?''
Hah! Apa ini lelucon baru? atau cara menggoda baru? Lova benar-benar tak habis pikir bagaimana cara hidup anak-anak metropolitan di kota ini. Apa hidup itu hanya candaan bagi mereka? apa karena ia mengenakan kostum pelayan menjijikan ini lalu semua orang dapat berperilaku semaunya pada dirinya? menyebalkan!
''Apa kau anak orang nomor satu di negeri ini? atau mungkin salah satu ilmuan muda yang menerima penghargaan bergengsi? atau seorang genius musik dengan deretan pertunjukan kelas dunia yang sudah diliput media?"
Tanya Lova dengan tatapan yang tidak bisa Ken artikan, namun ia segera menggelengkan kepalanya, karena ia memang tidak termasuk dalam ketiga kategori dari pertanyaan tersebut.
''Kalau bukan, lalu apa arti nya kau bertanya seperti itu kepadaku? kau pikir siapa dirimu!'' Kesal Lova dengan suara meninggi. ''Dengar, aku datang hanya untuk bekerja, jadi jangan ganggu aku!'' Bentaknya.
Satu lagi yang membuat Ken begitu terkejut dengan sikap gadis itu. Bagaimana bisa ia begitu marah sedangkan ia sendiri tak tau apa yang sedang menunggunya.
''Kau bekerja?'' Ken tidak ingin ikut campur jika saja ia tidak mendengar apa yang sudah di katakan Tania di depan sana, bahwa gadis di hadapan nya ini adalah hadiah. Dan apa yang di pikirkan Ken ia rasa tak akan jauh berbeda dengan apa yang di maksudkan terhadapnya.
''Ya, aku bekerja. Dan kau sudah menganggu.'' jawab Lova lagi dengan mata melotot penuh kekesalan. Sudah cukup ia di lecehkan di depan sana, ia tidak ingin laki-laki di depan nya ini juga berpikir dapat melakukan hal yang sama padanya.
''Kau yakin hanya bekerja? Apa kau juga tau bahwa setelah bekerja kau akan,- Ken menimbang-nimbang ingin memberitahu gadis itu. Ia takut sikap nya terlalu berlebihan, padahal belum tentu gadis itu adalah gadis yang sama seperti di ingatannya.
''Kau benar-benar membutuhkan pekerjaan ini?'' Ken mengubah pertanyaannya. Ia tak ingin melukai harga diri gadis itu, seandainya ia tak tau apa yang sebenarnya telah temannya rencanakan untuk dirinya.
''Tentu saja. Aku di bayar mahal untuk ini. Jadi tolong jangan menganggu ku!''
Lova memberikan peringatan, lalu meninggalkan Ken. Ia hendak menahan gadis itu, namun pintu lebih dulu menutup dengan keras, meninggalkan suara menggelegar yang cukup dramatis.
"Dasar gadis keras kepala.''
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...