
...ENJOY...
.......
.......
.......
Sepulang nya dari airport, setelah menjemput para sahabat Lova, Gill pamit untuk kembali kerumah nya. "L, seperti nya aku harus kembali." Sementara Leon memasukan koper miliknya dan milik Shreya ke dalam bagasi. "Baiklah Gill, jangan lupa untuk makan malamnya, aku akan sangat senang jika kau bergabung bersama kami." ujar Lova.
"Aku akan datang,- senang bertemu dengan kalian." Gill tersenyum ramah pada Shreya. Ini pertama kalinya Lova melihat Gill bersikap begitu ramah orang Yang baru di temui nya, syukurlah.
"Sepertinya dia gadis yang manis." ujar Shreya, setelah Gill meninggalkan mereka. "Memang. Gill sangat manis."
"Nah, teman-teman, mari kita kembali ke Villa."
Setiba nya di Villa, Shreya yang baru pertama kali datang ke Bali mengedarkan seluruh pandangan nya untuk mengamati sekitar.
"Kalian berdua tinggal disini, L?" Berbeda dengan Leon, ini bukan Yang pertama bagi nya. "Kau suka tempatnya sayang?" Leon mencium sekilas pipi Shreya, kemudian pergi ke dalam untuk memasukan koper-koper mereka, "Le!"
"Ya, aku dan Ken tinggal disini." sahut Lova, sambil mengikuti Leon. "Apa tetangga mu ramah?" Tanya Shreya lagi. "Tetangga? maksud mu Villa di sebelah?" Shreya mengangguk. "Itu sudah Lama kosong Sea, setahu ku penjaga nya hanya datang satu kali dalam sebulan. Ayo masuk." ajak Lova lagi.
...❄️❄️...
William yang sudah begitu Lama tidak menginjakan kaki di Indonesia, akhirnya datang juga. Bali, sungguh kota yang mengingatkan dirinya tentang begitu banyak hal.
Dulu, ia datang ketempat ini karena seorang gadis, dan sekarang, ia kembali menginjakan kaki nya di tempat ini, juga karena seorang gadis.
William tersenyum miris. Semua gadis yang ia pedulikan dalam hidupnya, adalah gadis yang telah di miliki orang lain. Seolah takdir memang sengaja mempermainkan dirinya.
Sesampainya William di Villa miliknya, ia sempat tertegun sesaat. Semua kenangan dan ingatan dari masalalu kini satu persatu mendatangi dirinya, seakan semua ingatan itu sungguh masih begitu segar bagi nya.
Zoya, gadis pertama yang ia pedulikan dalam hidupnya, telah Lama menjadi milik orang lain dan kini telah hidup bahagia bersama pria pilihan nya, dan terakhir kali William mendengar kabar tentang Zoya, wanita itu kini telah menetap di luar negeri bersama pria pilihan nya, Zen.
"Semoga kau selalu bahagia, Zoya."
Saat memasuki Villa nya, William menyadari jika Villa nya telah begitu Lama tidak di bersihkan, ia juga lupa mengatakan kepada penjaga Villa jika ia akan datang ke Bali, "Ah, seharusnya aku langsung pergi ke hotel saja."
William menghubungi penjaga Villa dan meminta agar Villa nya dibersihkan, serta mengganti semua yang di perlukan, karena ia akan menetap beberapa hari di sana.
Saat ingin kembali ke mobil, William baru menyadari jika Villa Yang di tempati Zoya, dulu, kini sedang terisi, mungkin kah?
William memanggil seseorang yang di lihatnya ingin memasuki Villa itu, dan ternyata itu adalah bibi yang akan membersihkan Villa. William memberanikan diri untuk bertanya dengan perasaan yang kini bercampur aduk; "Permisi Bi, apakah Villa ini sedang di tempati oleh nona Zoya wijaya?" Tanya William, mengingat begitulah dulu nya wanita itu di panggil.
"Tidak tuan, Nona Zoya sudah sangat Lama tidak datang kemari." jawab bibi dengan sebenarnya. Apakah mereka menjual Villa ini? "Baik bi, terima kasih."
...❄️❄️...
Pukul tujuh malam, Lova, Leon, dan Shreya, sudah berada di taman yang terletak di belakang Villa.
Ketiga nya menyiapkan semua perlengkapan untuk makan malam. Acara malam ini hanyalah makan malam yang di adakan untuk keluarga, serta sahabat terdekat Lova.
Karena itu mereka akan membuat steak, dan juga barbeque homemade, dengan beberapa botol anggur sebagai pelengkap.
Sementara itu, satu persatu hadiah yang di kirimkan untuk Lova pun berdatangan.
"Nona, semua hadiah-hadiah nya di letakan dimana?" Tanya bibi, yang sejak tadi sudah menerima beberapa hadiah dari kurir.
"Apakah ada yang dikirimkan dari Ken?" Lova menghampiri dengan cukup antusias.
"Tidak ada nona." Ah. Tidak Ada.
"Letakan saja diruang keluarga." sahut Lova kemudian berpaling untuk kembali ke taman.
Tak Lama kemudian, saat ketiganya tengah ramai dan menyibukkan diri, Zen dan Zoya pun tiba di Villa, tidak lupa juga dengan putra kecil mereka yang saat ini tengah berusia satu tahun.
"Hai semua nya!" sapa Zoya, sambil tersenyum. Lova yang melihat kedatangan ketiganya pun menyambut mereka dengan hangat.
"Kak Zozo, kak Zen, selamat datang. Senang melihat kalian disini." sambut Lova, dengan wajah berbinar. "Hallo Prince Zevier Earl Aiden, kau masih belum tidur rupa nya, sini dengan aunty." Lova mengambil alih Baby Aiden dari gendongan Zoya..
Tak Lama setelah keluarga Zen tiba, Keluarga kecil Cassian pun telah tiba juga di Villa, membuat suasana di sana menjadi semakin ramai.
Sementara para wanita berkumpul untuk menceritakan berbagai hal menarik, dipenuhi dengan gelak tawa, para pria disibukan dengan urusan perapian untuk memanggang.
"Lihat lah para wanita itu, mereka terlihat sangat bahagia." ujar Zen, di sela-sela kesibukan nya membolak-balikkan steak, tersenyum sambil mengamati sekelompok wanita yang entah sedang membicarakan hal apa.
"Begitulah para wanita jika sedang bersama." timpal Cassian, sementara Leon hanya mengangguk setuju.
...❄️❄️...
William Yang saat ini masih berada di hotel, mengambil ponselnya untuk menghubungi Lova. Sebelumnya ia lupa bertanya di mana alamat Villa yang saat ini ditempati Lova.
Setelah mendapatkan pesan yang berisikan alamat dari Lova, William pun bergegas meninggalkan hotel dan meminta pada supirnya untuk pergi ke alamat yang di kirimkan.
Begitu tiba di alamat tujuan, William kembali di buat tercengang, karena saat ini ia malah kembali ke Villa miliknya, tepatnya di depan Villa yang bersebelahan dengan Villa nya, Villa milik Zoya.
Karena masih ragu, untuk memastikan bahwa ia berada di tempat yang benar, William pun kembali menelpon Lova, dan meminta nya untuk menemui William di depan Villa.
Namun bukan nya Lova Yang keluar dari dalam Villa melain kan Zoya, William bahkan tak bisa berkata-kata. Setelah sekian Lama, ia bergulat dengan perasaan nya hingga ia dapat menganggap Zoya hanya sebagai sahabatnya, kini William justru melihat wanita itu lagi.
"Hai, kau teman Lova? adik ku ada di dalam, mari.. " ajak Zoya, sekaligus membawa William masuk ke dalam. Zoya tidak bisa melihat wajah William dengan jelas, karena kurang nya pencahayaan di luar Villa.
Hai, katanya? Dia tidak mengenaliku?
"Videte..?" panggil William, sedikit nyaring.
Deg..
Ia menghentikan langkah nya saat mendengar namanya di sebut, namun Zoya juga tidak berpindah, ia hanya berbalik dari tempatnya.
__ADS_1
Tempat di bawah sinar lampu, dimana William dapat melihat wajah Zoya dengan begitu jelas dari tempatnya saat ini.
"Zoya, itu sungguh kau?" ulang William. Kaki nya bergerak perlahan Langkah demi langkah.
Zoya yang baru melihat wajah pria yang ditemui nya juga di buat tak percaya; "Will..- William Anggara." seru Zoya tak percaya.
Ini sungguh telah berlalu begitu Lama.
Takdir!
Sungguh sesuatu yang begitu gila. William tersenyum sambil mengedikkan kedua bahu nya. "Kita bertemu lagi Videte.."
Videte. Hanya William dan Jordan lah yang selalu memanggil Zoya dengan nama itu.
Zoya menghampiri William dan juga memeluk sahabat yang sudah begitu Lama tidak ia temui; "Will, senang melihat mu lagi." sambut Zoya.
"Aku juga Videte. Senang bertemu dengan mu lagi."
"Mari, masuklah, semua orang ada di dalam." ajak Zoya. William yang larut dalam kesenangan nya pun lupa menanyakan bagaimana bisa Lova berhubungan dengan Zoya.
Saat William dan Zoya datang bersamaan, semua yang ada di sana sedikit tercengang dengan keakraban keduanya.
"Will, akhirnya kau sampai juga." sambut Lova. "Kak Zoya terima kasih sudah membawa pria ini menuju jalan yang benar. " tambah Lova sambil tersenyum.
"Bagaimana kalian bisa saling kenal Will, sungguh sangat kebetulan." sela Zoya.
"Kak Zoya kenal William?" Tanya Lova sedikit terheran.
"Tentu saja,-
Omg. "Sungguh?" Lova memang sedikit terkejut dengan apa yang di dengar nya. "William adalah sahabatku, dan sudah cukup lam kami tidak bertemu, kira-kira tujuh tahun yang lalu bukan?" ujar Zoya, mengingat-ingat.
"Ku rasa juga begitu." timpal William. "Lalu kalian, bagaimana kalian bisa saling mengenal?" Kini Zoya yang di buat penasaran.
"William adalah bos sekaligus manager ku saat aku menjadi model di London kak." jelas Lova.
"Sungguh?"- Wow.
"Lalu, bagaimana kalian berdua?" Kini William lah yang bertanya, "Lova adalah calon adik ipar ku." jawab Zoya.
Ah..
Fix. Takdir memang mempermainkan William.
Zen yang menyadari kehadiran seseorang yang terlihat begitu akrab bersama istrinya saat ini pun tak ingin sekedar melihat begitu saja.
Ia membawa sepotong daging yang sudah di masak dan menghampiri Zoya dengan cepat.
"Sayang, kau sudah kembali? cicipi ini, apakah rasanya sudah tepat?" Zen memperlihatkan kemesraan nya dengan sengaja. Zen si posesif sudah kembali.
Zoya pun menerima suapan dari Zen, tanpa memikirkan apapun. "Bagaimana?" tanya Zen, sambil tersenyum menggoda. "Rasa nya enak Kak." sahut Zoya.
"Kak, kau masih ingat William? Sahabat ku." Zoya kembali bersuara, saat teringat dengan William yang berdiri di samping nya, seketika membuat suatu ketegangan aneh di sana.
"Ah, maaf. Aku tidak menyadari kehadiran mu. senang melihat mu lagi. Bagaimana kabarmu, apa kau sudah menikah sekarang? Aku dan Zoya sudah memiliki seorang putra yang tampan, kau harus melihatnya nanti, tapi sekarang sudah tidur. Mungkin lain kali, " Uh. Berlaku posesif Bung?
"Nah, L.. kau bisa ajak pria ini untuk bergabung bersama yang lain,- ujar Zen. "Sayang, kami perlu bantuan mu di sana." tambah Zen dengan suara yang begitu manis.
"Will, kau bisa bergabung dengan yang lain.. aku akan membantu suami ku." ujar Zoya, membuat William hanya mengangguk setuju.
"Ayo Will.." ajak Lova juga. "Hei, jangan katakan jika wanita yang kau ceritakan adalah, kak Zoya?" Tanya Lova, was-was.
Namun William hanya diam, tidak membenarkan dan juga tidak mengelak.
William yang bergabung bersama yang lain pun selalu bersikap ramah namun sedikit merasa luar biasa dengan apa yang di alami nya, takdir membuatnya selalu berada di situasi yang sama.
Makan malam pun berlangsung di iringi dengan gelak tawa dan juga begitu banyak cerita, namun bagi yang menyadari situasi nya, mereka lah orang-orang yang saat ini bersikap canggung.
"Seperti nya kita kekurangan anggur, aku akan mengambilnya." ujar William, seraya bangun dari kursinya.
Ia butuh udara segar, untuk menjernihkan perasaan nya. Sangat tidak nyaman, jika pasangan dari wanita yang dulu kau sukai selalu menatap mu dengan aura permusuhan, itulah yang William rasakan setiap Zen melihat pada nya.
...❄️❄️...
Saat Gill tiba di Villa, ia hanya melihat dari kejauhan, kakinya terhenti saat melihat betapa akrab nya Lova bersama para sahabatnya. Terlihat begitu dekat dan hangat, tanpa terasa air mata mengalir begitu saja di pipi Gill.
Ia merasa iri, dan mulai mengasihani dirinya sendiri. Apakah ia bisa seperti sahabat-sahabat Lova?
Merasa enggan untuk mendekat, Gill meletakan bunga dan juga hadiah yang di bawanya untuk Lova di atas meja, seraya menghapus air matanya.
Ia terlalu cengeng sekarang. Ia tak ingin merusak kebahagiaan Lova dengan kehadiran nya yang mungkin saja, nanti akan bertindak semakin berlebihan, Ah. Apa ia lupa minum obat?
Tanpa sengaja, William yang tadi nya mengambil anggur memperhatikan Gill. Ia melihat gadis itu menangis dan juga sedang bersiap untuk pergi.
"Kau ingin pergi?" Entah kenapa William harus ikut campur dan terkait dengan gadis di depan nya ini. Hanya saja, ia merasa, Gill begitu menyedihkan.
"Jika aku tidak pergi, mungkin aku akan memecahkan semua vas ini. Jika begitu, maka Lova akan marah dan juga membenci ku." Sahut Gill sambil terisak namun berusaha sekuat mungkin menekan perasaan nya agar tetap terkendali.
"Ikut dengan ku!" Entah setan apa yang merasuki William, dan entah apa juga yang ada di pikiran nya, ketika ia menarik tangan Gill dan membawa nya pergi. Ia hanya ingin menyelamatkan gadis itu, dan juga menyelamatkan dirinya. Tentu saja.
Saat ini kedua nya tengah berada di pinggir pantai. Ditemani cahaya bulan dan bintang yang temaram, keduanya sama-sama mematung dan larut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Kau sudah lebih baik?" William buka suara.
"Terima kasih." sahut Gill, "Aku sudah lebih baik sekarang. Aku harus pulang." pamitnya, kemudian pergi meninggalkan William yang masih enggan untuk beranjak.
"Hei, kau! Kau tidak Ingin kembali?" Seru Gill dari tempatnya berdiri saat ini. "Aku tidak tahu jalan pulang."
Lova yang menyadari bahwa William sudah pergi terlalu Lama pun akhirnya berinisiatif untuk mencari pria itu.
__ADS_1
"Seharusnya ada disini, tapi dimana, apa William sudah kembali ke hotel?"
Di atas meja pantry, Lova menemukan karangan bunga dan juga sebuah kotak hadiah berwarna pastel dengan pita berwarna emas. Karena tak tau dari siapa, Lova hanya meletakan nya di dekat hadiah-hadiah lain.
Dan makan malam mereka pun berakhir begitu saja. Malam ini jauh lebih baik dari beberapa malam sebelumnya. Akan tetapi, meskipun ada begitu banyak keceriaan, namun tak seceria itu bagi Lova, masih ada ruang yang terasa kosong di hati nya.
...❄️❄️...
Ken tiba di internasional airport Ngurah Rai tempat di pagi hari. Dan di sana, sudah ada Leon yang menjemput dirinya.
"Hai sobat, selamat datang kembali." Leon memberikan pelukan selamat datang untuk Ken.
"Terima kasih Le, maaf membuat mu bangun begitu pagi. Apa Kau sudah menyiapkan yang ku minta?" Ken sudah merencanakan ingin memberikan kejutan untuk kekasihnya.
Jika orang-orang biasa nya memberikan kejutan tepat pada pergantian hari, yaitu pukul 00.00, namun apa boleh buat, Ken hanya bisa membuat kejutan nya seperti ini.
"Tenang saja, semua nya sudah siap, aku juga sudah memberitahu Sea. Kejutan ini akan sempurna dengan kehadiran mu di sana." sahut Leon.
Setiba nya di Villa, Ken dan Leon sama-sama menyusun rencana. Mengingat kekasihnya selalu bangun begitu pagi, mereka meminta Shreya untuk membawa Lova pergi meninggalkan Villa sementara Ken dan Leon menyiapkan semua kejutan nya.
Dan untunglah semua nya berjalan sesuai rencana. "Mereka sedang berada di pantai untuk olah raga." ujar Leon memperingati. "Pantai? oke, sebaiknya kita bergegas." sahut Ken lagi.
Cake, hadiah, dan bunga.. semua nya sudah siap. Bahkan Ken pun sudah selesai membersihkan diri. Keduanya hanya perlu menunggu sang bintang utama untuk pulang.
"Ken, mereka disini. Sembunyi lah!" seru Leon yang mengamati dari depan Villa, lalu segera berlari ke arah pantry. Sementara Ken sudah menyembunyikan dirinya entah dimana.
"Hai sayang, selamat pagi. Kalian sudah selesai berolah raga?" seru Leon berbasa-basi. "Hai L, bagaimana pagi mu, menyenangkan nona?''
"Pagi Le, apa yang kau lakukan disitu?" sahut Lova yang hendak mengambil air, namun Leon sudah lebih dulu menyiapkan nya di atas meja.
"Minum?"
"Oh, thanks."
"Sebaik nya kalian segera mandi, kalian berkeringat." Ujar Leon berakting, "Benarkah? apa kami bau? perasaan ku tidak." Lova mengendus-endus dirinya sendiri, setelah menghabiskan segelas air.
Sea yang mengerti kode dari Leon pun turut memainkan peran nya. "Ku rasa kita memang sedikit bau L, sebaiknya kita mandi. Ayo." ajak Sea, setelahnya keduanya pun menghilang dari hadapan Leon.
"Hei, bagaimana? mereka sudah naik?" bisik Ken, sambil mengendap-endap.
Setelah selesai mandi, Shreya lah yang lebih dulu turun. "Hei kalian sudah siap? ayo, L sebentar lagi akan datang." peringat Shreya.
Leon, sudah siap dengan hadiah di tangan nya. Sementar Ken membawa cake dan juga bunga. "Sea, ayo panggil Lova." tegur Ken. Sementara mereka bersiap di ujung tangga.
"L, ayo turun sarapan.. kami menunggu mu." seru Shreya. "Ya, sebentar Sea." sahut Lova.
Sementara itu, Ken yang menyadari ponselnya berbunyi pun di buat kalang kabut. "Le, matikan ponsel ku." seru Ken. Leon pun bergegas mengambil ponsel Ken dari dalam saku nya.
OMG. "Ini L.. " bisik Leon. "Matikan saja."
"L, cepatlah kami menunggu mu." panggil Shreya lagi. Kali ini Lova benar-benar meninggalkan kamarnya. Terbukti dengan suara langkah kaki yang berjalan menuruni tangga..
"Dia datang.. " seru Shreya.
Ehhmm.. Ehhmm..
Leon menghidupkan lilin di atas Cake sebelum Ken mulai bernyanyi. Ini pertama kali nya bagi Ken. Ia tak pernah bernyanyi, karena ia memang tak suka, namun bukan berarti ia tak tahu cara bernyanyi, yah walaupun suara nya tidak sebagus itu..
"Happy birthday my dear.. " mulai Ken, dengan sedikit grogi. Namun masih melanjutkan lantunan nya. Sementara Lova masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.
"Happy birthday my Dear.. Happy birthday.. Happy birthday.. Happy birthday to my dear Lova.. "
Terdengar sorakan dan juga tepuk tangan dari Leon dan Shreya..
"Kemari lah sayang, tiup lilin mu." ujar Ken. Lova yang menghampiri ketiga nya pun tak tahu ingin berkata apa, perasaan nya kini tengah bercampur aduk. Haru, bahagia, kesal, semua nya bercampur jadi satu.
Sebelum meniup lilin, Lova memejamkan matanya untuk mengucapkan syukur. Ulang tahun nya yang ke-21, di lewatinya bersama orang-orang Yang sangat berarti bagi nya.
"Selamat hari lahir sayang. Terima kasih telah lahir di dunia dan menjadi matahari dalam hidup ku." Ken memeluk dan mencium Lova. "Terima kasih Ken, aku kira kau tidak akan datang."
"Kau berpikir begitu? mana mungkin aku tidak menepati janji ku."
"Hei, bisa gantian dengan kami." Sela Leon, membuat Ken melepaskan pelukan nya. "Manusia ini."
"L, selamat ulang tahun. Doa ku, semua yang terbaik akan terjadi di hidup mu." ucap Shreya, yang juga memeluk Lova. Begitu juga dengan Leon..
"Hei, wanita hebat. Kau sudah dewasa sekarang, semoga semua yang kau impikan terwujud. Kami akan selalu ada untuk mu." Leon juga memeluk Lova, dengan haru.
Setelah mereka selesai dengan lilin dan juga Cake.
Lova mengambil sepotong Cake dan juga bunga Yyng sudah di siapkan nya khusus. Ia juga mengambil lilin telah di nyalakan dan meletakan nya di depan pigura Julie.
"Ken, kemarilah." ujar Lova. Ketiga nya pun berkumpul untuk menghampiri Lova.
"Selamat hari lahir juga untuk mu mom." ucap Ken dan Lova bersamaan.
Tidak hanya Ken dan Lova, Zen dan Zoya pun pergi ke katedral untuk mendoakan mommy nya.
Sementara Rehan, saat ini ia telah berada di makam sang istri.
"Moo, selamat hari lahir sayang. Aku harap kau selalu bahagia di sana, seperti kami yang juga selalu bahagia disini. Kau tau, putri kita juga berulang tahun hari ini, kau juga harus mendoakan kebahagiaan anak-anak kita. Katakan pada, Tuhan.. kami akan selalu percaya bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kami adalah rancangan Yang terbaik dari-Nya.-
"Aku merindukan Moo, sangat merindukan mu."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1