
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Setelah keluar dari ruangan direktur utama, yang tidak lain adalah Dady nya, Ken langsung kembali ke divisi manajemen untuk mengemasi barang-barang miliknya yang ada disana.
Setelah ini ia akan di pindahkan ke lantai sepuluh. Lantai dimana para manager perusahaan memiliki ruangan nya masing-masing.
Dan kali ini Ken akan dilatih oleh manager umum; tugasnya adalah untuk mengawasi semua proyek yang saat ini sedang ditangani oleh Z'Group.
"Ken, kau sudah kembali? bagaimana, kali ini kau akan dipindahkan ke divisi mana lagi?" tanya mbak Dinda saat Ken masuk ke dalam ruangan staf.
"Lantai 10 mbak." sahut Ken singkat.
"Apa..? Lantai sepuluh? Mbak gak salah dengarkan ya..?" ulang Dinda lagi.
"Hmmm. Tidak mbak, mulai besok aku akan bergabung dengan Manager umum." lanjut Ken. "Siapa Din,- anak magang kita? gabung bareng bos dong? gila lo hebat banget." sela Dava di antara keduanya.
"Ia nih,- anak magang kita kali ini emang luar biasa." puji Dinda lagi.
"Biasa aja mbak, Mas Dav." Sahut Ken pada keduanya. "O'ya nanti sore jadi ngumpul nya mbak? soalnya aku sudah boleh pulang sekarang,- Kalau jadi, aku tungguin di tempat biasa aja ya." tambah Ken;
"Oh gitu, ya sudah, kita ketemu di sana aja. Hati-hati Lo baliknya.." pesan Dinda.
"Baik mbak,- mas Dava, balik duluan ya.. " pamit Ken pada keduanya lagi. "OK, sip, ketemu di sana ya!" sahut Dava.
"Oke, mari mbak, mas." Setelah membereskan semua barang-barang nya dan keluar dari kantor, Ken tidak langsung pulang kerumah. Ia memilih untuk pergi berkunjung kerumah saudari nya; Zoya.
Ken Ingin melihat perpustakaan kecil yang selalu Zozo nya itu ceritakan padanya; apakah isinya benar-benar selengkap yang selalu dibangga-banggakan kakak selama ini? Ken jadi penasaran.
Setelah sampai di parkiran, Ken terlebih dahulu menghubungi Zoya, ia mengatakan niatnya yang ingin datang untuk berkunjung;
"Halo, kakak ada dirumah?"
"Ya, aku sedang dirumah saat ini. Ada apa bocah? tumben sekali kau menelpon ku, apa kau merindukan aku?" goda Zoya pada adik lelakinya.
''Hanya selesai bekerja terlalu cepat. Tidak ada tempat yang ingin ku kunjungi. Karena itulah aku bertanya, aku ingin melihat rumah mu, selama ini kan aku belum pernah datang berkunjung.' Sahut Ken.
"Baiklah, datanglah.. aku akan menunggu mu." ujar Zoya dari seberang sana. "Aku dalam perjalanan kerumah mu saat ini Zozo.- Sampai bertemu."
"Pak, tolong antar kan saya kerumah kak Zen dan Zozo." ucap Zen pada supirnya setelah menutup telpon dengan Zoya.
Di dalam mobil, Zen kembali memainkan ponselnya; ia ingin menghubungi kekasihnya.
Ken menyadari jika beberapa hari belakangan ini, ia terlalu disibukan oleh pekerjaan. Ia sampai lupa untuk mengirimkan pesan dan mengabari Lova.
Tidak hanya dirinya, setelah memeriksa ponselnya, ternyata Lova juga tidak mengirimkan pesan kepadanya;
"Biasa nya Lova tidak pernah lupa untuk mengirimkan voice note atau pesan singkat kepadanya; tapi kali ini gadis itu tidak melakukan nya; mungkin kah Lova juga sedang sibuk seperti dirinya?
Setelah mempertimbangkan beberapa saat, Ken lebih dulu mengirimkan pesan singkat kepada Lova;
...To: The Future...
..."L, aku merindukan mu."...
Kira-kira seperti itulah pesan singkat yang di kirim Ken kepada Lova.
Setelah membiarkan ponselnya berdiam cukup lama, Ken kembali mengecek ponselnya; masih belum juga ada balasan dari kekasihnya.
"Apa Lova sedang sibuk? seharusnya pada saat seperti ini L sudah kembali kerumah." gumam Ken pelan sambil berulang kali memeriksa ponselnya.
Jalanan yang macet ditambah dengan menunggu pesan nya yang tidak kunjung mendapat balasan adalah perpaduan yang sempurna untuk membuat suasana hati Ken semakin tidak nyaman.
Tidak biasanya Lova mengabaikan pesan dari dirinya; bahkan jika pun terkadang Ken tidak membalas pesan yang Lova kirimkan, kekasihnya itu masih akan terus mengirimkan pesan kepada Ken; tapi kenapa sekarang..?
Huh!
"Inikah rasanya di abaikan?"
Tidak! Ia tidak boleh berpikir demikian.
Lova tidak akan pernah mengabaikan dirinya;
Lova hanya sedang sibuk dengan kerang-kerang nya...
Tidak ingin larut dengan semua pikiran yang terus mengusiknya; Ken mencoba alternatif lain. Lebih baik ia langsung menghubungi Lova.
Ken harus memastikan sendiri, apa kah kekasihnya itu memang sedang sibuk atau sengaja mengabaikan dirinya;
Ken bernafas lega dan masih setia menunggu saat mendengar bunyi tutt..dari ponsel nya. Itu artinya, panggilan nya tersambung, hanya saja belum di jawab.
"Angkat lah L, aku ingin mendengar suaramu."
Panggilan pertama, tidak ada jawaban.
Ken sudah mulai kesal dengan ponselnya;
Akhirnya ia kembali mencoba melakukan panggilan yang kedua; ia berharap kali ini Lova akan melihat ponselnya dan mengangkat panggilan Ken;
Lagi-lagi panggilan keduanya berakhir sama; membuat Ken kembali berwajah muram;
__ADS_1
...To: Shreya...
..."Apa kau bersama L, aku mencoba menghubunginya tapi tidak ada jawaban. Katakan pada ku jika terjadi sesuatu padanya."...
Setelah mengirimkan pesan kepada Shreya, Ken kembali meletakan ponselnya.
"Apa kita masih Lama pak?" seru Ken dari kursi belakang.
"Sebentar lagi tuan, kita akan segera memasuki kawasan perumahan tuan pertama." jawab supir nya.
"Baiklah, tolong berhenti di toko kue jika kita melewati nya, aku ingin membeli beberapa cake untuk Zozo." tambah Ken.
"Baik tuan muda."
Tak Lama setelahnya, mobil mereka pun berbelok dan menepi di depan sebuah toko.
Ken pun turun untuk memilihkan beberapa cake yang akan sangat disukai saudarinya. Sejak kecil, Zozo hanya menyukai dua jenis cake, dan Ken sangat hafal apa saja yang disukai saudarinya.
"Selamat datang di toko kami, ada yang bisa saya bantu untuk memilihkan pesanan anda tuan?" sapa seorang pramuniaga.
"Tidak perlu, aku akan memilih sendiri cake yang aku inginkan." sahut Ken dingin seperti biasa nya.
Setelah mendapatkan dua jenis cake yang sangat disukai Zozo, Ken pun kembali ke mobil.
...From: Shreya...
..."Aku tidak bertemu L hari ini, tapi aku akan memberi kabar jika aku melihatnya nanti."...
Hanya itu balasan pesan yang Ken terima dari sahabatnya di Stockholm.
Ia melihat kembali chat yang di kirimkan nya untuk Lova, status nya masih sama. Pesan Ken masih belum terbaca, akun chatting milik kekasihnya itu pun bahkan belum aktif sejak pagi.
"Dimana kau sebenarnya L..- apa kau baik-baik saja?"
"Kita sudah sampai tuan." tegur sopirnya, saat mobil mereka sudah berhenti di depan sebuah rumah bergaya Vintage dengan cat berwarna gray.
"Benarkah? ini rumahnya?"
"Benar tuan, ini adalah rumah nona pertama."
"Baiklah, terima kasih. Bapak bisa beristirahat, aku akan bertamu cukup lama disini." perintah Ken.
"Baik tuan;
Setelah turun dari mobil, di depan pintu Ken sudah disambut oleh saudarinya. "Wah, adik kecilku sudah sampai, masuklah!" sambut Zoya sambil melambaikan tangan nya dengan girang.
"Aku membawakan ini untuk mu dan juga keponakan kecilku." Ken mengangkat paper bag di tangan nya.
"Apa ini?"
"Cheese cake dan Tiramisu.- Favorit mu." jawab Ken.
"Zozo, pelan-pelan, kau bisa jatuh nanti." peringat Ken, saat melihat tingkah aktif saudarinya, yang terlihat begitu pecicilan dengan perut besarnya.
Ken duduk diruang tamu, Sementara Zoya tengah sibuk membuat minuman dan juga menyajikan cake untuk keduanya.
"Dimana perpustakaan mu Zo, aku ingin melihatnya?" tanya Ken sambil melirik kesekitar.
"Di lantai dua, belok kanan dari ujung tangga, ruangan pojok dekat balkon, kalau ingin bersantai disana naiklah, aku akan menyusul setelah menyiapkan kudapan nya." sahut Zoya.
Namun Ken masih duduk ditempatnya, ia menunggu saudari nya selesai dengan semua kesibukan nya sebagai tuan rumah;
"Aku selesai- Kau menunggu ku?" seru Zoya masih dengan senyuman yang terus melengkung di wajahnya.
Apa Zozo begitu senang dengan kunjungan adik kecilnya? Jika melihat Zozo nya seperti saat ini, Ken seperti sedang melihat mommy nya.
Zoya memang memiliki lebih deri setengah gen dari mommy mereka, karena itulah jika dilihat sekilas, keduanya terlihat mirip.
"Biar aku yang membawa nya Zozo, kau berjalan lah di depan ku." kata Ken mengambil nampan dari tangan Zoya.
"Senang nya melihat adik kecilku sudah tumbuh menjadi seorang pria."
"Apa itu sebuah pujian?"
"Tidak. Itu sindiran!"
"Sindiran yang bagus, aku suka itu Zozo." sahut Ken.
"Hei, berjalan lah pelan-pelan!" seru Ken yang lagi-lagi melihat tingkah ceroboh kakaknya.
"Aku heran, bagaimana bisa kak Zen membiarkan mu seorang diri dirumah dengan tingkah yang seperti ini?"
Ken melihat Zoya dengan cemas. Saudarinya itu terlihat tidak berhati-hati dengan dirinya,
terlebih lagi Zoya sedang hamil, Ken takut terjadi sesuatu pada bayi yang ada di dalam perut kakaknya.
"Aku baik-baik saja dik, aku sudah terbiasa membawa drum lucu ini sehari-hari. Meskipun terkadang melelahkan, namun sangat menyenangkan karena Little Cherry selalu menemaniku setiap saat, jadi kakak mu ini tidak pernah merasa kesepian." bela Zoya.
Keduanya pun menaiki tangga dengan perlahan;
'Aww.. " Zoya meringis sambil memegang perut bawahnya;
'Ada apa zozo? kau baik-baik saja? ingin ku panggilkan dokter?" Tanya Ken dengan panik.
"Little Cherry menendang ku." ringis Zoya sambil tersenyum dan mengelus pelan perutnya.
"Hah? apa?"
__ADS_1
Hah.. Zoya menghembuskan nafasnya perlahan;
"Aku sudah tidak apa-apa, ini sudah biasa, sejak Little Cherry sudah cukup besar di dalam kandungan ku, terkadang aku cukup sering mengalami ini- bayi nya menendang." jelas Zoya.
Tiba-tiba saja Zoya tertawa saat melihat wajah bingung disertai panik dari adik lelakinya.
"Hahaha- sudahlah jangan khawatir, aku baik-baik saja." ujar Zoya sambil kembali melanjutkan langkah nya.
"Rumah mu terlihat nyaman Zozo, kak Zen benar-benar memilihkan design yang unik,- dari sini semuanya terlihat begitu indah." puji Zen sambil mengamati kesekitar.
"Hmm. Kak Zen memang memiliki selera yang unik, disini benar-benar menyenangkan, sama seperti rumah kami di stockholm, Hah- aku merindukan suasana di sana." Zoya menghela nafasnya;
"Letakan saja di sana." Zen dan Zoya memilih untuk duduk diruang santai di dalam perpustakaan.
Ruangan itu memang di penuhi oleh begitu banyak buku dengan berbagai macam judul. Ada juga tangga yang mengisi di sudut ruangan untuk naik ke rak yang lebih tinggi yang juga di penuhi oleh buku-buku koleksi Zoya.
"Semua buku ini milikmu Zozo? kau mengumpulkan semua nya?"
"Benar, aku mengoleksi semuanya; dan dari semuanya; bagian inilah yang paling ku sukai." tunjuk Zoya peda deretan buku karangan fiksi dan juga mitos-mitos kuno.
"Waw. Selera mu sangat unik Zo!" sahut Ken, sambil menganggukkan kepalanya;
"Kau bisa pilih buku apa saja yang kau sukai,- ujar Zoya sambil meluruskan kakinya yang mulai membengkak.
Ken langsung bergeser ke rak buku bertemakan astronomi; setelah memilih satu buku, ia pun duduk di samping Zozo yang sedang menikmati suapan demi suapan cake dari piring nya.
"Apa keponakan ku seorang gadis Zozo? Kau memanggilnya Little Cherry." tanya Ken penasaran dengan hal itu;
"Kami tidak tau. Sejujurnya Aku hanya suka nama itu, terdengar sangat menggemaskan. Aku dan kak Zen sepakat untuk tidak mencari tahu jenis kelamin Little Cherry."
"Setiap melakukan pemeriksaan, kami hanya ingin memastikan bahwa Little Cherry tumbuh dengan baik dan sehat sesuai dengan usia nya di dalam kandungan. Kami tidak pernah mempermasalahkan Little Cherry seorang bayi laki-laki ataupun perempuan.-
"Bagi kami semuanya sama saja, yang terpenting adalah Little Cherry lahir dengan selamat dan kami hidup dengan bahagia selamanya itu sudah cukup." ucap Zoya penuh harap.
"Kau akan menjadi uncle, dan Dady akan segera menjadi seorang grandfa.. " suara Zoya terdengar serak. Mata kakaknya itu mulai berkaca-kaca.
"Ah, maafkan aku,- aku menjadi sedikit cengeng akhir-akhir ini." ujar Zoya sambil menghapus jejak air mata yang sempat jatuh di pipinya.
"Aku mengerti apa yang kau maksud Zozo, aku pun akan mendoakan hal yang sama untuk mu." sambung Ken, mengelus pelan tangan saudarinya.
Saat ini hanya mereka yang tersisa, mereka bukan lagi keluarga yang utuh setelah kepergian mom nya; dengan begitu, mereka haruslah saling menjaga satu sama lain melebihi sebelumnya.
"Maafkan aku, aku hanya merindukan mom,- aku Zoya. "Kita semua merindukan mom Zozo,- tambah Ken. "Bagaimana kalau besok kita mengunjungi mom, aku belum kesana selama beberapa hari ini." ajak Ken.
"Baiklah, aku akan memberitahunya kepada kak Zen agar meluangkan waktunya pergi bersama kita." sahut Zoya.
Setelah mengobrol singkat, keduanya kini larut dengan bacaan mereka masing-masing.
...❄️❄️...
Pukul 4 sore, terdengar suara mobil tiba di depan rumah;
"Little Cherry sepertinya Dady sudah kembali." ujar Zoya bicara pada bayinya, sambil mengelus pelan perutnya Yang besar.
"Tunggu disini sebentar, aku akan membuka kan pintu untuk kak Zen." kata Zoya berdiri dari kursinya.
"Aku akan ikut dengan mu Zo, aku khawatir jika kau menyakiti tangga rumahmu." ejek Ken pada saudarinya.
"Sudah ku bilang aku baik-baik saja, aku sudah terbiasa dengan ini." sela Zoya. "Tidak apa-apa. Aku akan tetap ikut dengan mu." sahut Ken langsung berdiri dari duduknya.
"Ya.. ya.. terserah kau saja. Kau boleh ikut jika mau." pasrah Zoya. Zoya hampir saja melupakan kalau semua pria di keluarga nya adalah pria-pria yang posesif dan keras kepala.
Ken berjalan mengikuti Zoya dari belakang; "Pelan-pelan saja Zozo, kak Zen juga tidak akan menunggu terlalu lama." peringat Ken dengan nada cemas.
Zoya pun melangkah dengan perlahan seperti yang Ken katakan; ia akan menurut kali ini;
Saat tiba di dasar tangga, Zen sudah memasuki rumah.
"Selamat datang kak." Zoya tersenyum saat menyambut suami nya. "Hai sayang, kau baik-baik saja? Aku merindukan mu dan juga Little cherry.
Apa anak Dad menyusahkan mom?" Ken menunduk berbicara pada perut Zoya.
"Little cherry tidak menyusahkan mom Dad, hanya sesekali tidak sengaja menendang mom." sahut Zoya menirukan suara seorang anak kecil.
"Pintar sekali anak Dad.." balas Zen, tersenyum girang. "Kak." Ken menginterupsi keduanya.
"Ken? waw.. bagaiman kabar mu brother? pekerjaan mu menyenangkan?" Zen baru menyadari keberadaan adik iparnya.
"Ya, begitu lah kak, semuanya baik-baik saja, dan tidak seburuk yang ku pikirkan." Sahut Ken. "Baguslah kalau begitu, kau memang harus membiasakan diri." Zen menepuk pelan pundak Ken.
"Zo, aku akan kembali sekarang, aku ada janji dengan staf lainnya;" pamit Ken.
"Tidak ingin makan malam bersama?" tawar Zen lagi.
"Tidak kak, aku sudah terlanjur berjanji, lain kali saja." tolak Ken dengan sopan.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan Ken, sampaikan salam sayang ku untuk Dad.." seru Zoya.
"Akan ku sampaikan."
Setelah masuk ke dalam mobil, Ken kembali mengatakan tujuan selanjutnya; Di dalam mobil, Ken kembali memeriksa ponselnya; tidak ada apa-apa di sana.
Lova benar-benar belum melihat semua pesan yang Ken kirimkan ke ponsel nya. Ponsel Ken begitu sepi, sama seperti perasaan nya saat ini.
"Apa aku benar-benar sedang di abaikan?"
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...