
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Siang hari seperti biasa, setelah jam istirahat berakhir semua staf kembali bekerja untuk menyelesaikan tugas nya masing-masing.
Begitu juga dengan Ken. Sudah dua minggu lama nya ia bergabung dalam divisi Management, dan hari ini adalah hari terakhirnya sebelum di pindahkan ke divisi lainnya untuk kembali melatih kemampuan dan kecakapan nya sebagai seorang calon pemimpin untuk menggantikan Dady nya suatu saat nanti.
"Ken, ini untuk mu. Kau sudah bekerja dengan baik selama ini."- ujar Laura sambil meletakan secangkir kopi di atas meja Ken, wanita itu tersenyum menggoda seperti biasanya.
"Boleh aku duduk disini?" tanya nya lagi, yang langsung menarik kursi untuk duduk disebelah Ken sebelum laki-laki itu memberikan persetujuan nya.
"Maaf sepertinya, -
"Ssssttt...tidak apa-apa. Aku disini untuk membimbing mu, tidak akan ada yang berani mengatakan apapun tentang kita." Sela Laura.
Tangan wanita itu perlahan tapi pasti menangkup tangan Ken yang ia letakan diatas meja,-
Wanita itu tersipu malu, dengan rona yang menjalar semakin nyata ke pipinya yang putih; bercampur dengan warna riasan nya.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku tau kalau kau juga menyukai ku. Aku sudah memperhatikan mu selama beberapa waktu ini. Aku juga menyukai mu Ken, aku ingin kau jadi kekasihku." ujar Laura lagi-lagi berucap dengan begitu manis namun beracun.
Sementara dari bilik lainnya; Dava memperhatikan dalam diam. Hari ini adalah hari terakhir taruhan antara ia, Laura dan Dinda.
Taruhan akan berjalan secara adil; karena itulah Dava hanya akan memperhatikan bagaimana cara Laura menaklukan buruan nya.
Karena bilik meja Ken dan Laura berdekatan, semakin memudahkan wanita itu untuk selalu melancarkan semua rayuan maut nya kepada Ken.
"Ku rasa kau." Lagi-lagi Ken menahan perkataan nya.
"Tidak apa-apa, aku tau jika kau merasa tidak nyaman karena kau hanyalah seorang karyawan magang disini, tapi kau harus tau, aku tidak akan mempermasalahkan hal itu. Jadi, jangan khawatir tentang pandangan staf lainnya" sela Laura semakin mendekatkan diri kepada Ken.
Laura sangat percaya diri dengan semua pesona yang di milikinya. Selama ini tidak ada yang bisa menolak kecantikan dan juga kemahiran nya dalam membuat seorang pria bertekuk lutut.
Karena itulah Laura memiliki standard yang tinggi bagi seseorang yang ingin dekat kepadanya; Ia adalah sebuah berlian. Dan tidak sembarang orang yang bisa memiliki nya, tapi dengan Ken. Laura akan menurunkan sedikit standar nya.
Ken menjauhkan kursinya dari Laura, sampai ia bisa melihat wanita itu dengan benar. Dan lagi-lagi pandangan Ken berhasil membuat Laura terpesona.
Tatapan Yang dingin namun begitu menggoda, di balik wajah Yang begitu muda dan polos, Laura dapat menangkap kilatan nakal yang siap meluluh lantahkan hati setiap wanita.
"Ku rasa kau tidak mengerti apa yang ku maksudkan, sist.." ujar Ken menaikan satu alisnya sambil menyunggingkan senyum mengejek.
Apa itu tadi? Apa Laura tidak salah lihat? senyuman itu, kilatan di mata Ken seolah seperti menjatuhkan Laura tidak pada tempatnya.
__ADS_1
Perasaan apa ini?
Laura menggigit pelan bibirnya. Sikap Ken membuatnya salah tingkah.
Tidak mungkin hal lain terjadi padanya; selama ini tidak ada yang bisa menghindar dari rayuan nya; bahkan Ken. Seharusnya, begitulah semuanya berjalan menurut skenario yang Laura ciptakan.
"Sist..? Kau barusan mengatakan sist..?" Laura tertawa canggung. "Hei,- Laura kembali memajukan kursinya, hingga lutut keduanya bersentuhan.
Perbuatan wanita itu, sontak saja membuat Ken langsung melihat kepada bagian kakinya yang dihimpit oleh paha putih mulus milik Laura yang seakan turut menggoda.
Ken menghembuskan nafasnya. Bukan karena ia tergoda, tapi karena wanita dihadapan nya ini sudah sangat menjatuhkan harga dirinya hanya untuk mendapatkan perhatian dari Ken.
Melihat respon Ken, Laura tersenyum penuh kemenangan. Baginya semua pria itu sama; tidak ada yang bisa menolak sebuah hidangan lezat dan menggoda. Terutama jika hidangan itu seperti dirinya.
"Kenapa? kau merasa gerah? ingin memiliki ku secepatnya?" bisik Laura, menyentuh pelan dengkul Ken yang terlapis kain licin membuat tangan wanita itu semakin merambat.
"Hentikan ini!" seru Ken sedikit lebih keras, ia juga menangkap tangan Laura.
"Ini tempat kerja sist, ku rasa kau tidak seharusnya melakukan ini."
Ken menghempaskan tangan Laura, lalu mencengkram sisi-sisi kursi wanita itu, seolah-olah ingin menerkam Laura dan **********; itulah yang wanita itu pikirkan.
Permainan seperti ini, Ken juga bisa melakukan nya.
Ken menatap Laura dekat, dan semakin intens, mulai dari manik hingga jatuh kepada bibir basah wanita itu; sementara posisi yang Ken lakukan semakin membuat Laura berdebar.
"Apa sikap hormat dan perlakuan baik ku padamu membuat mu berpikir sesuatu Yang lain,... sist..?" ucap Ken secara perlahan dengan suara tertahan.
Ken memutar kursi yang Laura duduki kemudian menangkapnya erat, tentu saja hal itu membuat Laura tersentak.
"Jujur saja, kau memang cantik dan berbakat." Puji Ken, membuat arogansi seorang Laura semakin terlihat nyata.
"Aku yakin semua pria akan menyukaimu dan jatuh hati padamu.. Jika saja" tambah Ken, sengaja menahan perkataan nya.
Sekali lagi Ken tiba-tiba mendekatkan wajah nya, kemudian berbisik ke pelan tepat di sisi Laura.
Wangi maskulin dari tubuh Ken membuat Laura semakin mendambakan pemuda itu untuk menjadi miliknya.
Baru kali ini seorang pria membuat Laura merasa sangat berbeda..
"And.. andai apa..?" cicit Laura merona,
Ken menyunggingkan senyum, lalu menatap nya dengan sinis. Tatapan Ken lagi-lagi membuat Laura meragukan dirinya.
Tidak! Tidak satupun pria yang boleh melihat Laura dengan tatapan seperti itu. Tidak boleh seorang pun! Tatapan ini seharusnya bukan untuk dirinya..
"Andai saja kau lebih menghargai dirimu, Sist. Dan, Ah..Ku rasa kau belum tau, Aku masih di bawah umur untuk menjalin hubungan dengan wanita dewasa."
Ken kembali menarik kursi Laura lebih dekat hingga wajah keduanya hampir bertemu; ''Kau memang cantik. Tapi bagiku, seseorang jauh lebih cantik dan mempesona darimu." Maksud Ken adalah kekasihnya.
__ADS_1
"Meskipun kau menawarkan dunia padaku, aku akan menolaknya. Ada hati yang harus ku jaga, dan tentu saja, meskipun ada seratus wanita sepertimu, tidak akan mampu menandingi seorang wanita yang ku kenal."
Ken mendorong kursi Laura hingga kembali pada tempatnya.
"Hargai dirimu Sist. Ada banyak mata yang mengawasi di dunia ini. Jangan sampai karena satu perlakuan konyol membuat mu menanggung akibatnya di kemudian hari.- peringat Ken masih dengan tatapan sinis dan juga prihatin;
Wajah Laura semakin memerah. Tapi kali ini bukan karena terpesona, tapi karena rasa malu dan juga perasaan terhina yang diberikan Ken pada nya.
Kata-kata lelaki itu seakan menamparnya dengan begitu keras. Tidak. Laura tidak akan mengakuinya! Ken pasti akan ia taklukan, huh!
Semua laki-laki memang selalu bertingkah jika tau seorang wanita mengejarnya, tapi jika sudah diberikan hidangan, mereka akan jadi begitu rakus dan melupakan segalanya.
"Kau!" Laura menunjuk pada Ken dengan perasaan kesal disertai rasa malu."
"Kau akan menyesali apa yang kau katakan tadi,- Ingatlah ini; aku Laura; tidak akan menerima penolakan ini, kau akan bertekuk lutut dan memohon padaku! ingat itu!"
Setelah mengatakan kemarahan nya, Laura mengambil handbag diatas meja seraya mendelik marah pada Ken.
Laura pergi begitu saja meninggalkan pekerjaan nya, sementara Ken hanya bersikap tak peduli seperti biasanya.
Perkataan itu tak berarti apa-apa bagi Ken.
Malah sebaliknya, ia merasa kasihan kepada Laura.
...❄️❄️...
Bagi Ken, seorang wanita adalah makhluk yang begitu indah dan bernilai tinggi. Bahkan tidak ada hal di dunia ini Yang bisa mengalahkan nilai seorang wanita;
Seharusnya semua wanita tahu itu, dan menjaga diri dengan baik, karena mereka begitu berharga;
Bukan sebaliknya. Jika seorang wanita tidak bisa menghargai dirinya sendiri, lalu bagaimana orang lain akan menghargainya?
Bukankah sesuatu yang konyol jika ingin dianggap berharga namun melakukan yang sebaliknya?
Seorang wanita akan di nilai dari bagaimana ia menilai dirinya. Dan juga akan dilihat dari bagaimana ia melihat dirinya;
Sebuah berlian, meskipun jatuh ke dalam Lumpur, tetaplah sebuah berlian. Tapi sebuah sampah, sekecil apapun tetaplah sampah.
Nilai keduanya tidak akan berubah meski di tempatkan dimana saja. Jadi, wanita...? Bagaimana kau melihat dirimu?
Sebelum mencintai orang lain, bukan kah seharusnya kita belajar mencintai diri sendiri?
Seberapa berharga dirimu di matamu, maka orang lain akan melihatnya dengan nilai yang sama.
...Your a Diamond in the Sky. Love yourself....
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...