
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
...Stockholm, Swedia....
Beberapa hari lalu, Zoya memutuskan untuk meninggalkan indonesia terbang menuju Swedia. Zoya menyusuri sepanjang jalan trotoar setelah menuruni subway 72 street. Ia berjalan perlahan menikmati udara yang cukup dingin menembus ke permukaan kulitnya. Zoya baru saja kembali dari supermarket untuk membeli bahan makanan.
Saat memutuskan untuk meninggalkan indonesia, hanya satu yang Zoya pikirkan saat ia tiba di tempat ini, yaitu Royal College of Music, dan itu jelas ada dalam bucket list Zoya. Sekolah music yang sudah menarik perhatian nya sejak lama. Menurut pahamnya, Zoya tidak hanya perlu mengalihkan perhatiannya dari apa yang ia rasakan saat bersama Zen, akan tetapi Zoya juga harus melakukan sesuatu yang bisa membuatnya merasa kembali hidup, kembali bersemangat, dan tentu saja bahagia.
Hari ini tepat satu minggu berlalu setelah hari itu. Alih-alih tinggal di hotel yang mewah, Zoya memilih untuk tinggal di Biz Apartemen Garden. Sebuah apartemen berukuran sedang untuk ia tinggali seorang diri. Selain tempatnya yang nyaman, apartemennya juga hanya berjarak sekitar 1,8 km dari kampus dan sebagian besar penghuninya adalah para mahasiswa dari luar wilayah.
Setelah sampai di apartemen, Zoya meletakan semua belanjaannya di atas meja, ia meraih ponsel dari dalam saku dan menimbang- nimbang apakah ia akan menggunakan ponselnya atau tidak. Sejak beberapa hari yang lalu Zoya ingin menghubungi Dady nya, namun ia masih belum siap mengatakan betapa jauhnya ia pergi.
Zoya bisa membayangkan betapa khawatirnya orang tuanya nya saat ini, namun Zoya masih enggan untuk mengaktifkan ponselnya, terlebih lagi Zoya tidak ingin orang lain menemukannya, terutama Zen.
Zoya tau Zen bisa melakukan apa saja, termasuk menemukan dirinya, meskipun Zoya tak yakin apakah saat ini Zen memikirkan dirinya, seperti Zoya yang selalu merindukan dan memikirkan Zen setelah tiba di negara ini, negara yang asing baginya.
Hanya saja, meskipun merindukan Zen, Zoya tidak ingin melihat laki-laki itu dalam waktu dekat. Zen harus menyadari lebih dulu, jika Zen mau hidup bersama nya, maka Zen harus memilih antara hubungan mereka atau hubungan nya dengan wanita itu.
Zoya tidak pernah berniat untuk disakiti hanya karena keberadaan pihak ketiga, karena Zoya juga tak pernah sedikitpun ingin menyakiti Zen.
Katakanlah Zoya egois, namun hati nya tak akan pernah mau di permainkan. Tidak oleh siapapun, dan Zen harus tau itu.
Zen harus tau jika Zoya hanya ingin di hargai, hanya ingin agar Zen memikirkan bagaimana perasaannya. Zoya tak akan menginginkan hal lebih dari Zen karena ia memang mencintai Zen, hanya saja Zen harus tau, meskipun Zoya mencintainya, Zoya tak akan pernah mau cintanya diremehkan dan di anggap tak penting dengan alasan apapun.
Zen adalah miliknya. Dulu, saat ini, maupun nanti. Zoya tak akan membiarkan wanita manapun merebut Zen, dan melepaskannya begitu saja untuk orang lain.
Hanya saja untuk saat ini, Zen harus menyadari perasaan nya terlebih dulu.
Jika ingin di hargai, bukan kah seharusnya kita menghargai terlebih dahulu. Jika ingin di percaya, bukan kah kita harus membuat kepercayaan orang tersebut tetap utuh, alih-alih menghancurkan nya.
Itulah yang Zoya rasakan.
__ADS_1
Setelah selesai membuat sandwich untuk sarapan, Zoya pergi untuk mengganti pakaian nya dengan yang lebih formal, ia juga merias tipis wajahnya, lalu mengambil dan mengenakan sweater nya. Sesekali Zoya menggigit roti lapis miliknya, sambil menyiapkan apa saja yang harus ia bawa untuk pertemuannya.
Zoya akan pergi ke RKH. Sebelumnya Zoya sudah membuat janji temu dengan Profesor Hugo, dan janji mereka pukul sebelas siang, yang artinya tinggal satu jam lagi. Karena itulah Zoya harus segera pergi jika tak ingin ketinggalan bus menuju kampus.
Setelah turun dari Bus, Zoya hanya perlu berjalan kaki sekitar lima ratus meter agar bisa segera sampai di kampus yang sudah lama ingin ia kunjungi tersebut.
Dari kejauhan, Zoya sudah bisa melihat betapa indahnya pemandangan disekitar. Ada banyak mahasiswa yang berlalu lalang di sana. Ada yang membawa gitar, saxophone dan tak sedikit yang membawa Violin serta Biola.
Setelah memasuki area kampus, Zoya mendatangi ruang informasi untuk menanyakan dimana ruangan Prof.Hugo berada.
Saat Zoya ingin menaiki tangga,
BRUUK..
Seseorang yang sedang terburu-buru tak sengaja menabrak Zoya, hingga laki-laki tersebut jatuh beserta dengan gas ransel nya.
''I'm sorry..'' ucapnya sambil memandang pada Zoya, dan meringis kesakitan.
''Ya, it's ok.'' jawab Zoya yang memang tak merasa sakit atau apapun, bukan dirinya yang terjatuh tapi laki-laki yang di depannya. ''Are you ok..?" tanya Zoya lagi mengingat bahwa laki-laki tersebut jatuh dengan cukup keras.
''Ya, i'm fine. Really, i'm so sorry for the what happened." ucap nya lagi dengan wajah menyesal.
Untuk menunjukan bahwa dirinya baik-baik saja, Zoya hanya bisa tersenyum dan mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan laki-laki tersebut.
...Tok..Tok.....
"Excuseme profesor, it's me Zoya Vidette." ucapnya, yang kemudian mendapatkan suara persetujuan dalam ruangan.
Zoya membuka pintu perlahan, kemudian disambut oleh laki-laki berusia lebih dari separuh baya. Rambut laki-laki tersebut hampir berwarna putih secara keseluruhan, dan itu adalah profesor Hugo.
"Selamat datang miss Vidette." sambutnya sambil mengulurkan tangan menjabat tangan Zoya. "Senang melihatmu berada disini, sejak terakhir kali kita bicara." sambung nya lagi, bersikap ramah dan penuh wibawa.
Sebelumnya Zoya memang pernah mengirimkan Email pada prof.Hugo tentang resume dirinya yang ingin mengadakan konser tunggal dan berkolaborasi dengan beberapa murid terbaik yang saat ini sedang di ajarkan oleh prof.Hogo.
Sejak itu prof.Hugo menjadi tertarik dengan rencana Zoya, dan keduanya sempat berbalas-balasan email, namun itu terjadi bertahun-tahun lalu, sampai akhirnya Zoya kembali mengirimkan Email yang mengatakan dirinya ingin bertemu langsung dengan profesor Hugo, beruntungnya profesor Hugo menyambut baik maksud dan tujuan Zoya, karena itulah alasan Zoya berada ditempat ini.
"Senang bertemu langsung dengan anda secara pribadi profesor, saya sungguh merasa terhormat." balas Zoya tak kalah ramah. "Mari duduklah, ku perkenalkan pada salah satu murid ku yang sama berbakatnya dengan anda." katanya menunjuk seseorang yang baru Zoya sadari berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Cussian, kemarilah. Ini miss Zoya dari Indonesia." kata profesor Hugo. "Miss Vidette, ini Cussian, salah satu murid terbaik di jurusannya."
__ADS_1
"Hai, senang bertemu dengan mu."
"Dengan mu juga." keduanya saling sapa dan berjabat tangan.
"Baiklah profesor, ku rasa aku akan selesai dan meninggalkan kalian. Aku permisi." pamitnya pada profesor Hugo dan Zoya. Zoya hanya tersenyum ramah sementara profesor Hugo mengijinkan kepergian laki-laki bernama Cussian tersebut.
"Nah, miss Vidette, aku sungguh senang menyambut mu ditempat ini. Mari kita bicarakan resume mu." Profesor Hugo berfokus pada Zoya.
Setelah kurang lebih satu jam lamanya mereka berbincang, akhirnya Zoya pamit dengan menandatangi surat perjanjian bahwa profesor Hugo akan membantunya dalam konser tunggal miliknya, dan itu membuat Zoya sangat senang. Kali ini ia akan mewujudkan sebagian dari mimpinya, ditempat ini. Tempat hampir sebagian besar genius music di lulus kan dari tempat ini.
"Hei, itu kau, wanita Violin genius."
Cassian. Laki-laki itu menunggu Zoya di lorong yang hampir menuju muara turunan tangga.
"Kau bicara padaku?" tanya Zoya melihat sekitarnya. "Tentu saja kau, siapa lagi." jawabnya berjalan ke arah Zoya. "Aku tak tau kalau itu kau, sampai tadi kita bertemu di dalam sana." tambahnya.
"Maksudmu?"
"Tabrakan tadi. Aku benar-benar tak sengaja." jelasnya. Zoya pun baru menyadari hal itu saat ini.
"Oh. Baiklah. Itu tidak masalah." kata Zoya lagi. "Kau asli indonesia? dari tempat yang sangat jauh rupanya"
"Hemm. Begitulah."
"Kau sungguh-sungguh ingin melakukan konser itu?"
Keduanya kini sama-sama berjalan menuruni tangga. "Hmm.Begitulah." jawab Zoya.
"Waw. Kau sangat kaya rupanya." celetuk Cassian yang membuat Zoya merasa sedikit tak nyaman.
"Maaf,--
"Tidak. Tidak. Aku sungguh-sungguh.-- Potong nya. "Apa kau orang kaya? orang tuamu kaya? karna itulah kau bisa dan mampu untuk membuat konser di bawah bimbingan profesor Hugo. Bukan kah begitu..?" desaknya terlihat antusias.
"Kenapa kau bertanya?"
"Kenapa kau tidak menjawab?"
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...