My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
STEP BY STEP


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


"Selamat pagi sayang." Zen membangunkan Zoya seperti biasanya, namun kali ini sedikit lebih pagi.


"Hmmmmm. Morning Kak." Zoya mengucek matanya yang masih terasa berat untuk dibuka. "Jam berapa sih sekarang?" tanya nya lagi sambil mengumpulkan semua kesadarannya.


"Maaf ya bangunin nya kepagian, baru jam 5 pagi sih." Zen tersenyum sambil merapikan helaian rambut Zoya yang menutupi wajahnya.


"Pagi banget, mau ngapain sih kak..?" Zoya kembali merebahkan badannya.


"Eiittss.. bangun dong! udah pagi tau, aku mau ngajakin kamu olah raga pagi sayang." Zen kembali membangunkan Zoya lagi.


"Hmmmm. Ntar nge'Gym aja ya? lagi males." rengek nya.


"No. Sekarang aja pokoknya!" Zen menarik tangan Zoya hingga gadis itu kembali duduk, meskipun dengan rasa enggan.


"Hemm. Ya deh, tungguin bentar, cuci muka dulu." kata Zoya sambil mengusap pelan wajahnya.


"Gitu dong 😊 kiss dulu." Zen mencondongkan tubuhnya.


"Ntar aja..!!


Aku di tolak...?


Zoya menendang pelan selimutnya lalu melangkah menuju kamar mandi.


Sementara Zen yang sudah siap dengan pakaian olah raga dan juga sepatu larinya. sejak malam ia memang sudah merencanakan jadwal olah raga bersama kekasihnya, karena itulah ia membangunkan Zoya pagi-pagi, agar mereka dapat menghirup udara segar, sebelum udara di penuhi polusi.


Zoya keluar dari kamar mandi setelah selesai mencuci muka.


"Kakak nungguin..?" Zoya mengeringkan wajahnya yang masih lembab dengan handuk.


"Ya dong, ntar kamu nya tidur lagi kalau di tinggal." kata Zen menunjukan cengirannya terlihat cute.


"Terus, gak mau keluar? aku ganti bajunya gimana? Hus. keluar gih..!"


"Disini aja emangnya gak boleh?"


"Panggilin Daddy ya..??


"Hus. Daddy masih tidur tau! canda doang..


Muach.. morning kiss."


Zen segera keluar dari kamar setelah mencuri ciuman dari pipi Zoya.


...15 Menit kemudian....


Zoya sudah mengganti pakaian nya dengan T-shirt putih polos, dan juga celana training berwarna gray, ia juga sudah memakai sepatunya. Rambut gadis itu di kuncir tinggi. Menggemaskan.


"Yuk.. udah siap nih." ajak Zoya setelah menutup pintu kamarnya. Sementara Zen bersender di tembok menunggu Zoya selesai.

__ADS_1


Suasana rumah masih hening. Hanya bi sum dan tukang kebun yang sudah terlihat mondar-mandir mengerjakan pekerjaan masing-masing. Sementara Zen dan Zoya meninggalkan rumah untuk olah raga pagi.


"Mau olah raga dimana kak?" tanya Zoya sambil menggoyang-goyangkan tangannya yang bertautan dengan tangan Zen.


"Kita lari sampai gerbang depan gimana..?"


"Hem.Ok deh.."


Zoya mengikuti langkah Zen.


"Langit paginya indah." komentar Zoya melihat warna kemerahan pada langit yang baru menampakan sinarnya.


"Hemm. Cantik." susul Zen.


"pagi non, pagi tuan muda." sapa pak satpam saat membukakan gerbang bagi keduanya.


"Pagi juga pak.." sahut Zen, sementara Zoya hanya mengangguk sambil tersenyum.


"yakin mau lari-lari disekitar sini aja..?" tanya Zoya lagi sambil melakukan pemanasan nya, begitu juga dengan Zen.


"Hmmm. Kenapa, mau olah raga di tempat lain?" Zen menggoyang-goyangkan kaki dan juga pinggulnya, agar sendi-sendinya lebih rileks.


"Hmmm. Disini aja deh,.." Zoya lebih dulu memulai start dengan langkah lari kecilnya.


Dalam beberapa langkah besar Zen sudah bisa menyusul Zoya. Gadis kecilnya itu ternyata cukup atletik.


"Maria ngapain sih kak masih di Jakarta..?" pertanyaan pertama yang Zoya lontarkan setelah keheningan yang cukup panjang saat keduanya tengah fokus berlari.


"Lari dari perjodohan dengan lord James." sahut Zen dengan sebenarnya.


"Kenapa...? apa lord James bukan laki-laki tipe nya..?"


"Kakak bahkan tau itu." suara Zoya pelan namun masih dapat di tangkap oleh Zen.


"Tentu saja. Di U.K reputasi lord James sangat buruk, tapi anehnya, Lord Benjamin, ayah maria malah mau nikahin mereka., anehkan?--- Zen menoleh pada Zoya yang berlari pelan di sampingnya. Sesekali gadis itu menyeka keringatnya.


"Capek...?" Zen menghentikan larinya.


"Gak kok, lari aja lagi." Zoya masih terus berlari meninggalkan Zen.


...Jadi seperti itu alasan Maria menetap disini. Bahkan tinggal di gedung yang sama dengan Zen, apa wanita itu berniat menjadikan Zen sebagai tunangan nya yang sudah batal?...


Beberapa pertanyaan terus berputar-putar di kepala Zoya.


"Berapa lama rencananya maria menetap disini?"


"Entahlah. Setahuku dia membangun kantor design nya disini."


"O, ya bagaimana dengan kerjasama yang waktu itu, apa masih kamu yang bertanggung jawab?"


"Hmmm. Sepertinya aku memang harus merampungkan pekerjaan itu sampai selesai, itu tanggung jawabku kan..?"


"Iya. Kalau sudah seperti itu, kamu memang harus profesional. Jangan terlalu dekat dengan laki-laki itu, aku akan cemburu..!" tambah Zen.


"William...?"


"Entahlah siapa namanya, yang pasti kamu gak boleh terlalu dekat dengan mereka."

__ADS_1


"hmmm. ok." Zoya menganggukkan kepalanya. "Bisa kakak melakukan hal yang sama, pada maria? aku gal suka kakak terlalu dekat dengan wanita itu."


"Kamu cemburu sayang...?"


"Apa seharusnya aku gak cemburu?" tanya Zoya sambil melirik pada Zen yang berlari santai di sampingnya.


"No. aku senang kamu cemburu, itu jauh lebih baik..!" katanya sambil tersenyum.


"Aww...!


"Heii.. hati-hati sayang." Zen menangkap tangan Zoya. "Duduk dulu, kamu gak apa-apa? mana yang sakit..?" Zen meraba-raba sambil memijit pelan kaki Zoya.


Gadis itu hampir saja tersandung kakinya sendiri, karena pikirannya yang kurang fokus memikirkan kekasihnya dan juga wanita lain. Meskipun Zen sudah mengatakan sebagian ceritanya tadi malam, dan juga tadi, barusan tetap saja Zoya masih menyimpan keraguan dalam hatinya. Bukan pada kekasihnya, namun lebih kepada maria, wanita yang terlihat seperti seorang malaikat yang sayapnya terpatahkan.


"Aku gak apa-apa kok kak, kayanya cuma sedikit terkilir " kata Zoya yang merasakan sedikit ngilu pada pergelangan kakinya.


"Ya udah, sini, naik..!" Zen menyodorkan punggungnya, agar Zoya naik kesana.


Dengan senang hati Zoya naik ke punggung Zen. Selain kakinya yang lumayan sakit, ia juga sedikit lelah, jadilah ia dengan senang hati mengandalkan tubuh atletis milik Zen.


Setelah Zoya naik ke punggung nya, Zen mulai berjalan pelan sambil menggendong Zoya, keduanya masih menikmati suasana pagi hari yang masih cukup segar.


"Mau dengar cerita..?" tanya Zen menoleh pada wajah Zoya yang menempel di pundaknya, tangan kekasihnya itu mengunci erat di lehernya.


"Cerita apa..?" tanya Zoya sambil bersandar nyaman memeluk bahu bidang Zen yang terasa sangat nyaman.


"Awal mula aku menyadari perasaan ku padamu." aku Zen dengan santainya. Wajah Zoya merona, tersipu malu. "Ceritakan..!" cicitnya pelan sambil menyembunyikan wajahnya di balik bahu Zen.


"Saat itu usiaku 14 tahun, saat pertama aku merasa kalau sepertinya aku punya perasaan yang lain sama kamu." Zen tersenyum sambil mengingat saat-saat itu.


"Semuda itu...?"


"Hemmm. Pertama kali aku tau aku jatuh cinta, dan sepertinya saat itu adalah masa puber pertama ku.." katanya lagi.


"Dasar genit! kecil-kecil udah tau jatuh cinta!" ejek Zoya.


"Hmmmm. Dan itu karena kamu. Kamu yang bikin aku jatuh cinta di usia belia..!"


Tak terasa, kini keduanya sudah kembali memasuki gerbang utama kediaman Wijaya.


Setelah masuk kerumah, Zen mendudukkan Zoya diruang keluarga.


Haaaahh...


"Kamu tunggu disini sebentar ya.." Zen bangun lalu menaiki tangga ke kamarnya untuk mengambil kotak P3K nya. Setelah menemukan kotak P3K nya, Zen segera turun untuk segera mengobati kaki Zoya.


"Masih sakit...?" tanya Zen sambil mengoleskan salep nyeri ke kaki Zoya sesekali melirik pada kekasihnya itu.


"Udah baikan kok kak, udah gak apa-apa." jawabnya sambil tersenyum. Senyum yang sangat Zen kenali.


Senyum yang membuat jantung Zen berdegup cepat, dan membuatnya jatuh cinta berkali-kali.


Meskipun kali ini terjadi sedikit insiden, namun Zen tetap merasa bersyukur dan juga bahagia, setidaknya ia dan Zoya selangkah lebih dekat dan lebih terbuka dari sebelumnya.


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2