My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
KESEPAKATAN


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


"Apa kau harus bersikap seperti ini Zo'e? menuduhku, dan menyalahkan ku?"


"Apa itu yang kau rasakan kak? bagaimana dengan ku, dengan perasaanku, apa kakak tidak ingin tahu..?" Zoya menatap nanar pada Zen, bagaimana bisa Zen nya bersikap seperti ini, Zen yang selama ini ia kenal, apakah benar orang yang sama.


"Zo'e..,-


"Dengarkan aku! Berjanjilah dulu kak, setelahnya baru kita bicara. Aku tidak akan lagi berteman dengan pria manapun, atau membuat hubungan apapun yang sangat tidak kau sukai itu, kalau kau juga melakukan hal yang sama untuk ku. Bisakah kakak menjanjikan itu ? jika -Ya, maka akan ku penuhi janjiku." tantang Zoya.


Zoya tidak pernah main-main dengan perkataannya. Ini bukanlah pikiran spontanitas, semua ini sudah Zoya pikirkan sebelumnya.


Saat ini bagi Zoya tak ada lagi hubungan pertemanan. Tidak dengan William, ataupun Jordan. Lagipula Zoya sudah kehilangan semuanya. Begitu juga yang Zoya harapkan dari Zen.


Zoya akan benar-benar memutuskan hubungan pertemanan yang sangat tidak Zen sukai itu. Zoya sudah memilih, dan sudah pasti akan melakukannya. Bukankah selama dua puluh tahun sebelumnya Zoya juga tidak memiliki seorang teman pun, selain Zen dan keluarganya? lalu apa bedanya dengan sekarang? Zoya akan melakukan nya lagi jika memang itu yang Zen inginkan.


Sekarang Zoya membutuhkan keputusan Zen, jika Zen menyanggupi permintaan Zoya, maka itulah akhirnya. Kehidupan Zoya akan kembali seperti semula. Hanya ada dirinya, dan Zen. Sungguh.


"Zo'e, dengarkan aku. Aku tidak melarang mu untuk memiliki teman, kau bisa berteman dengan siapa saja, tapi bukan dengan laki-laki, karena aku pasti akan cemburu. Aku ingin kamu memiliki kehidupan sosial seperti wanita pada umumnya, hanya saja, bisakah kau berteman dengan wanita, itu saja." pinta Zen. Egois.


Bukan ini maksud Zen, ia memang posesif, hanya saja ia tidak akan mengekang Zoya sampai seperti itu. Tidak. Bukan ini yang Zen inginkan.


"Bukan kah sama saja kak? Apa kakak tidak tau? siapa saja bisa menjadi orang yang kita kenal, tapi hanya sebatas itu, dan untuk pertemanan, tidak semua orang bisa benar-benar menjadi seorang teman. Bagiku, aku tidak menginginkan hubungan pertemanan yang hanya di permukaan, aku tidak membuat pertemanan seperti itu. Bagiku, jika itu seorang teman, maka sudah seharusnya memang pantas disebut sebagai seorang teman. Bukan orang-orang yang hanya memanfaatkan kata pertemanan." tekan Zoya.


"Jadi apa mau mu Zo'e?" tanya Zen. Sepertinya pembicaraan yang Zen inginkan tak berjalan sesuai rencananya.


"Lakukan seperti yang ku mau, dan jangan pernah mengingkarinya. Berjanjilah." pinta Zoya dengan penuh tekad. Hanya ini yang Zoya butuhkan.


Apakah ini cukup? Zoya sudah mengutarakan apa yang ia pikirkan, dan apa yang ia rasakan, bisakah kini Zen yang memahami dirinya..?


"Hanya itu?" Zen melihat keseriusan Zoya. Zen pun sudah bertekad dan harus mengakhiri masalah ini, ia tidak ingin membuat semuanya berlarut-larut dan menjadi bom waktu yang akan menghancurkan semuanya, menghancurkan hubungannya. Tidak. Zen tidak bisa membiarkan itu.

__ADS_1


"Hmm. Hanya itu. Lakukan, dan semuanya akan seperti yang kakak mau." kata Zoya lagi dengan suara pasrah. Apakah ini yang benar-benar Zoya inginkan?


"Baiklah. Aku hanya akan memilikimu satu-satunya, dan begitupun sebaliknya. Hanya ada aku satu-satunya bagimu, tak ada yang lainnya. Aku berjanji, dan akan ku pegang juga janjimu." tutup Zen. "Baiklah, bisakah kita mengakhiri perdebatan ini?" tambahnya lagi.


Jujur saja, Zen tidak menyukai situasi seperti ini, situasi yang semakin membuat jarak antara dirinya dan Zoya.


"Hmm. Baiklah. Kita lupakan tentang ini, dan tolong ingat janjimu kak. Aku adalah orang yang memegang setiap perkataan ku, dan hal yang paling tidak aku sukai adalah dikhianati, tak perduli siapapun orangnya, aku akan menghapusnya dari daftarku."--- ucap Zoya dengan suara yang lebih dalam dan penuh penekanan. "Apa ini sebuah ancaman Zo'e, kau melakukannya?" tanya Zen tidak percaya.


"Itu bukan ancaman. Hanya untuk kakak ketahui, seperti inilah diriku. Sekarang, apa yang mau kakak bicarakan?" jawab Zoya lelah. Ia sudah mengutarakan isi hatinya, dan Zoya akan menerima semua yang Zen katakan. Ia sendiri yang memilih Zen, dan ia juga yang ingin hidup di lingkaran yang Zen buat untuk dirinya, sebaik mungkin Zoya akan melakukan semuanya untuk Zen, untuk hubungan mereka. Apakah cinta memang seperti ini?


Akhirnya.


Zen mendesah lega.


"Hmm. Baguslah kalau kita sudah sepakat. Jujur, aku tidak menyukai situasi tadi, sangat-sangat membuatku tidak nyaman, aku merasa tercekik sayang, tidak kah kau juga merasakannya?" jujur Zen. Zen meraih tubuh Zoya, lalu memeluknya erat.


"Maafkan aku sayang. Aku memang egois dan juga posesif. Sebagai lelaki aku juga sangat pencemburu, dan sepertinya, itulah kekuranganku. Bisakah kau maafkan aku?" Zen bernafas gusar di pundak Zoya. Zoya juga merasakan kejujuran dalam setiap kata-kata kekasihnya.


"Aku mengerti kak, aku juga bukan wanita yang sempurna, dan saat kita bersama, aku yakin kakak juga akan banyak menemukan kekurangan ku, hanya saja aku harap kakak tidak merusak kepercayaan, dan juga perjanjian kita" kata Zoya sambil mendesah pelan.


"Tolong ajarkan aku bagaimana caranya agar aku bisa membuatmu bahagia. Ajarkan aku bagaimana cara mencintaimu seperti yang kau inginkan. Aku sangat-sangat mencintaimu sayang, mencintaimu dengan caraku, maaf jika cintaku membuat merasa terluka. Maafkan aku." lirih Zen.


"Zozo, kau didalam?" Ken mengetuk pintu kamar Zoya, dan suara Ken terdengar sampai ke dalam kamar Zen.


"Sepertinya semua orang sudah menunggu kita kak." kata Zoya melonggarkan sedikit pelukannya pada Zen.."Hemm. Sepertinya begitu. Ayo, jangan sampai mereka menunggu kita." ajak Zen.


"Zozo, mommy sudah..


"Kami mendengarnya Ken." Zoya keluar bersamaan dengan Zen.


"Kalian disitu? Huh. Kau membuatku terlihat konyol." Ken mendengus, lalu berbalik meninggalkan keduanya lebih dulu.


"Apa Ken baru saja marah? pada kita?" tanya Zen melirik pada Zoya.


"Kalau kakak lebih lama lagi tinggal bersamanya, kakak akan tau, Ken adalah duplikat Dady." jawab Zoya.


"Benarkah?" --- "Hem."

__ADS_1


Keduanya kini harus bersikap seperti biasa, mereka harus menunjukan bahwa hubungan diantara mereka baik-baik saja.


...Diruang makan....


"Mom, Dady belum pulang?" tanya Zoya, yang masih belum melihat sosok Rehan hadir disana. Zoya dan Zen duduk bersebelahan, sementara mommy Julie dan Ken duduk bersebrangan dengan keduanya. "Dady ada diruang kerja sayang, sedang bicara pada klien nya." Jelas mommy Julie.


Merekapun hanya berbincang-bincang sambil menunggu Dady Rehan bergabung bersama mereka.


Sekitar sepuluh menit berlalu, akhirnya Rehan bergabung bersama mereka di meja makan.


"Dad...?" Zoya berdiri, lalu menyongsong Rehan. Ia benar-benar merindukan Daddy nya.


"Angel..!" Rehan memeluk Zoya, ia merindukan malaikat kecilnya, gadis kecil miliknya. "sweet heart" Rehan memegang wajah Zoya menghadapkannya tepat pada Rehan. "Apa kau bahagia sayang?" tanya Rehan dengan suara yang hanya bisa di dengar Zoya. "Dad, kenapa..?"


"Dady hanya ingin melihatmu bahagia sayang. Apapun keputusanmu, Dady mohon kebahagiaan mu lah yang utama, jangan pernah biarkan dirimu tak bahagia untuk alasan apapun. Ingat itu."


Bukan tampa alasan Rehan mengatakan hal demikian. Sebelumnya, saat Rehan mendengar Zoya sudah tiba dirumah, Rehan langsung bergegas untuk menemui putri nya, hanya saja di waktu yang bersamaan, Rehan tak sengaja mendengarkan percakapan antara Zen dan Zoya.


Katakan lah Rehan salah karena menguping pembicaraan antara putra dan putri nya, tapi tetap saja, sebagai seorang ayah, Rehan harus mengetahui apa saja yang terjadi, apalagi jika hal itu menyangkut kebahagiaan putrinya.


Rehan merasa sedih dan kecewa saat mendengar Zoya akan memberikan kebebasannya untuk hubungan yang saat ini ia jalani, dan sebagai orang tua, Rehan sangat menyayangkan hal itu. Rehan harus bertindak. Ia tidak bisa tinggal diam, dan mempertaruhkan kebahagiaan Zoya, meskipun alasan dibalik semua itu adalah Zen.


Karena itu jugalah Rehan langsung memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk menyelidiki tetang wanita yang telah mengancam kebahagiaan gadis kecilnya. Rehan tak akan membiarkan siapapun merenggut bahagia putrinya. Tidak seorangpun.


"Angel, setelah ini bicaralah pada mommy mu, ada hal penting yang harus mommy mu katakan." perintah Rehan yang langsung di angguki oleh Zoya.


"Zen, setelah ini bisa Dady bicara padamu?" tanya Rehan beralih ke putranya.


"Hmm. Baik Dad." setuju Zen.


"Kalau begitu, mari kita makan." kata Rehan lagi dengan suara riang, sangat berlawanan dengan beberapa detik yang lalu..Sebagai putri dari Ayahnya, Zoya bisa menangkap semua emosi yang Daddy nya keluarkan. Zoya hanya bisa berharap, semoga Dady tetap membiarkan semua keputusan berada di tangan Zoya.


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2