My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
Bad News


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Pagi ini Ken akan tiba di Indonesia, dan Julie lah yang akan menjemput putra bungsunya itu di Airport. Julie sudah merencanakan semua nya sejak semalam, Karena itu jugalah sejak pagi Julie sudah bangun untuk menyiapkan semua bahan makanan dan memasak semua makanan kesukaan Ken.


Sebelum menapaki area kekuasaan nya (dapur), Julie membereskan kamarnya terlebih dahulu sementara sang suami masih terlelap dengan begitu manis di atas tempat tidur.


''morning Boo, i love you.'' Julie membisikan sapan nya sekaligus mencium pelan bibir Rehan.


''Hmm. morning wonderful women in my life.'' balas Rehan masih dengan mata terpejam.


Setelah selesai dengan kamarnya, Julie mendatangi kamar putranya sekali lagi. Ia datang untuk memastikan jika semua nya sudah sempurna. Sebelumnya Julie bahkan sudah mengganti semua sprey lama dengan spray baru menggunakan warna kesukaan putranya.


Juiie juga menghidupkan pembersih udara, dan juga membuat seolah-olah kamar itu selalu ditempati seperti sebelumnya.


Merasa semuanya sudah sempurna, Julie pun turun ke lantai dasar. Suasana di sana masih begitu sunyi karena para asisten masih tertidur.


Ia memang sengaja bangun lebih pagi agar bisa menyelesaikan semua nya tepat wakt.


Belum lagi ia juga harus mengurus suaminya, dan juga menyiapkan semua keperluan Rehan sebelum pergi ke kantor. Julie selalu suka jika pekerjaan nya selesai dengan baik.


 Pertama-tama Julie mulai menyiapkan semua bahan makanan, lalu memasak semua menu yang sudah ia pilih satu persatu.


Satu jam setelahnya, Julie sudah menyelesaikan tiga jenis masakan sekaligus. Tak lama kemudian, para asisten pun juga bangun, karena waktu sudah menunjukan pukul lima pagi.


''Selamat pagi nyonya.'' Sapa para asisten yang kebetulan berpapasan dengan Julie.


''Selamat pagi. Apa aku membangunkan kalian?'' sahut Julie merasa tidak enak  dengan para asisten nya yang juga pasti lelah setiap hari membantunya mengurus rumah mereka.


''Tidak nyonya, kami memang sudah bangun kemudian shalat subuh.'' jawab bi Sum.


''Baguslah kalau begitu, kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian, aku akan menyelesaikan masakan ku.'' ujar Julie.


''Baik nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?''


''Tidak ada Bi, kerjakan yang lain saja, semuanya sudah hampir selesai.''


''Baik nyonya.''


Tidak terasa waktu pun berlalu dengan begitu cepat, kini semua makanan yang Julie masak bahkan sudah tertata dengan rapi di atas meja dan sebagian nya lagi diletakan di dalam mesin menghangat makanan.


Setelah semua pekerjaan nya selesai, Julie bergegas naik kembali ke kamarnya untuk mandi dan membersihkan diri.


''Boo, bangunlah, apa kau tidak pergi ke kantor?" Julie menepuk pelan punggung suaminya yang masih terlelap.


Rehan menggeliat, lalu memeluk pinggang Julie, ''Jam berapa sayang?''


''Sudah hampir pukul 7 pagi, Boo,- Ayo bangunlah sekarang.'' pinta Julie lagi.


''Hmm, Aku akan bangun sebentar lagi sayang, aku harus mengumpulkan ke-49 nyawa ku.'' jawab Rehan asal,

__ADS_1


''Ya, ya.. ku rasa baru satu nyawa yang terkumpul. Silahkan terus mencari semua nyawamu sayang.'' balas Julie, kemudian bangun dari atas ranjang untuk  menuju ke dalam kamar mandi.


Tak lama kemudian suara air mengucur deras dari kamar  dalam mandi. Rehan yang mendengarnya pun  merasa tergoda untuk bergabung. ''Moo, aku akan mandi sekarang...'' seru Rehan sambil menendang selimutnya, meluncur cepat ketempat Julie berada.


...❄️❄️...


''Kau yakin tidak ingin ku antar, Moo..?"


''Tidak usah, Boo- Aku bisa pergi sendiri, kan ada supir.'' tolak Julie.


''Kau yakin sayang? aku masih sempat mengantarmu ke bandara sebelum meeting pertama ku di mulai.'' tawar Rehan lagi.


''Tidak usah, Boo. Kamu pergi ke kantor aja ya, aku bisa kok. Lagi pula hanya menjemput putra kita, itu pekerjaan yang sangat mudah.''


''Baiklah, kamu hati-hati di jalan,Moo. Kabari aku nanti, aku akan pergi sekarang.'' Pamit Rehan, setelah menyelesaikan sarapannya.


''Kamu juga hati-hati di jalan ya, Boo.. aku pasti kabarin kamu kok.''


''Ya udah, aku berangkat ya sayang. I love you.'' Rehan memeluk dan mencium istrinya seperti biasa.


''I love you too, Boo. Take care husband.''


Setelah mobil Rehan meninggalkan teras dan melewati gerbang rumah, Julie kembali masuk untuk menyiapkan dirinya.


Pesawat Ken akan tiba dalam waktu kurang dari satu jam, ''Mang, mobilnya sudah siap?''


''Sudah nyonya, silahkan.''


''Tunggu sebentar ya,- Julie kembali masuk ke dalam rumah utuk berpesan agar menyiapkan makanan dalam waktu satu jam ke depan. Setelahnya, Julie pun meninggalkan rumah untuk pergi ke airport.


Sementara itu..


Tok.. Tok..


''Masuk..'' seru Rehan dari dalam ruangannya.


Setelah pintu terbuka, sekretaris Rehan masuk dengan notepad di tangan nya, sudah pasti akan melaporkan seluruh aktivitas Rehan di hari ini;


''Apa jadwal ku kembali padat hari ini..?''


''Tidak seperti sebelumnya pak, hanya saja ada dua meeting penting yang harus anda hadiri pagi ini.'' Jelas wanita berusia pertengahan tiga puluh tahun itu.


''Baiklah, jam berapa meeting pertama?"


''Meeting pertama akan di mulai dalam 30 menit lagi pak.. saya akan mengkonfirmasi 10 menit sebelumnya.''


''Baiklah, ku bisa kembali sekarang.''


Setelah sekretarisnya keluar, Rehan kembali mengambil ponselnya untuk menghubungi Julie.


Dalam dering kedua, panggilan Rehan sudah di jawab;


''Moo, kau sudah sampai di bandara?"


"Belum, Boo, kami sedang terjebak macet, aku akan minta pada pak supir untuk mencari jalan lain.'' *


''Hmm. Baiklah. Hati-hati sayang. Aku mencintaimu.''

__ADS_1


''Aku juga mencintaimu, Boo.''


Tak lama kemudian, sekretaris Rehan kembali mengetuk pintu untuk mengingatkan waktu untuk meeting.


''Pak, sudah waktunya..''


''Baiklah, aku akan segera siap.''


Setiap menghadiri rapat penting, Rehan akan selalu meninggalkan ponselnya di dalam nakas. Ia tidak suka di ganggu pada saat ia sedang bekerja bersama klien, sama dengan saat ini, jika ada hal penting maka sekretarisnya lah yang akan lebih dulu menerima informasinya.


Rapat pun berlangsung sebagai mana mestinya, namun entah kenapa selama rapat berlangsung Rehan selalu merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya.


Ia menjadi tidak tenang dan juga gelisah. Seperti ada hal yang begitu kuat menganggu pikiran nya.


Rehan bahkan sampai bolak-balik mengecek jam tangan nya. Jika biasanya ia akan sangat tertarik terhadap presentasi seperti ini, maka kali ini ia sangat ingin segera mengakhirinya.


Tidak hanya Rehan, bahkan Tania pun sekretarisnya sejak tadi merasa terganggu dengan ponsel yang selalu bergetar di balik sakunya.


Tania sangat ingin menyela rapa tersebut, namun karena mitra kali ini sangat penting ia pun mengurungkan niatnya, sampai Rehan melirik pada nya.


''Maaf, pak saya harus mengangkat panggilan sebentar.'' pamit Tania.


Saat berdiri dari kursinya, semua mata tertuju ke arah Tania. Bukan pandangan yang benar-benar ditujukan padanya; tapi kepada gelas yang ada di hadapan Rehan yang tiba-tiba saja pecah padahal tidak tersentuh oleh apapun, bahkan siapapun.


''Pak, anda tidak apa-apa?" tanya Tania panik melihat air yang tumpah di atas meja.


''Tidak apa-apa, angkat saja panggilan mu. Biarkan saja airnya.'' perintah Rehan- Setelah Rehan menyingkirkan berkas-berkas nya, ia mencoba kembali fokus kepada presentasi di depan nya. "Silahkan di lanjutkan.'' perintah Rehan.


''Pak ada panggilan penting untuk anda..!''


Baru saja Rehan meminta presentasi di lanjutkan, lagi-lagi rapat kembali di hentikan karena suara Tania.


''Maafkan saya, tapi ini benar-benar penting.'' Tania menunduk kan kepalanya kepada mitra perusahaan yang berada di ruangan yang sama dengan mereka saat ini.


Rehan benar-benar tidak suka dengan hal-hal tidak terduga seperti sekarang ini; ''Apa aku harus menerima nya sekarang?"


''Ini dari rumah sakit pak.'' Sahut Tania, dengan wajah panik.


''Rumah sakit? berikan padaku!'' Rehan mengambil ponselnya dengan cepat, lalu bicara pada pihak rumah sakit yang saat ini sedang mengkonfirmasi sesuatu pada nya.


''Saya Rehan wijaya, boleh saya tau ada apa?" Suara Rehan terdengar dalam namun sedikit bergetar.


Bruuukkk..!


Rehan hampir saja ambruk menimpa kursi saat mendengar apa yang di sampaikan oleh pihak rumah sakit  melalui telepon tersebut.


'Pak, anda tidak apa-apa?" Tania dengan sigap memapah Rehan, bahkan semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut pun ikut di buat panik sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi pada orang nomor satu di Z-G tersebut.


''Maafkan aku semuanya, rapat harus ditunda. saya harus pergi sekarang.'' tutup Rehan, kemudian bergegas keluar dari ruang rapat tersebut.


''Tuhan,, apa lagi kali ini? ku mohon... ku mohon jangan lakukan ini padaku.'' 


.......


.......


.......

__ADS_1


.......


__ADS_2