My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
IN BALI


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


Pukul 11 lewat 30 menit, Zoya sudah tiba di kota denpasar Bali. Di sana sudah ada orang yang menunggunya untuk mengantarkan Zoya ke Villa tempatnya tinggal selama mengurus proyek di kota itu.


"Selamat siang nona, saya Fredy, pak Rehan memerintahkan saya untuk menjaga nona, saya yang bertugas sebagai pengawal anda selama di sini." seorang pria berusia sekitar 35 tahun memperkenalkan dirinya pada Zoya.


"Terima kasih. Bisa kita pergi sekarang?" Zoya masuk ke dalam mobil segera setelah pintu mobilnya terbuka.


Lama perjalanan mereka sekitar 15 menit hingga tiba di sebuah Villa yang menurut Zoya cukup nyaman untuk dirinya.


"Kita sudah sampai nona." Fredy membukakan pintu mobil untuk Zoya, membiarkan majikan barunya untuk keluar.


Villa tersebut memiliki tempat yang strategis, tidak terlalu dekat dengan bangunan lainnya, dan memiliki pemandangan yang indah serta asri. Berjarak sekitar 10 meter juga terdapat Villa yang hampir sama seperti yang Zoya tempati sebagai penginapannya selama berada disini.


"O, ya.. apa Dina, Eem maksudku sekretaris dari pusat sudah tiba disini..?" tanya Zoya, mengingat bahwa ia seharusnya tidak seorang diri di sana.


"Sekretaris dari kantor pusat akan tiba sore nanti nona. Untuk saat ini, anda akan di temani oleh pelayan yang mengurus Villa ini, semua kebutuhan nona juga sudah disiapkan. Mari."


Fredy menuntun Zoya untuk masuk ke dalam Villa.


"Ini tempat yang bagus." puji Zoya, setelah masuk ke dalam Villanya.


"Kamar anda ada di lantai dua nona, jika ada yang anda butuhkan lagi, saya akan dengan senang hati untuk melakukan nya untuk anda." pria itu menundukkan kepala.


"Ya, aku akan memanggilmu jika aku membutuhkan sesuatu." kata Julie. Fredy, sebagai seorang pengawal pria itu cukup fleksibel, dan Zoya rasa ia akan baik-baik saja selama berada di sana.


"Aku akan ke kamarku," katanya sambil membawa koper pribadinya.


"Biar saya yang--


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri." kata Zoya sambil tersenyum ramah. Sekali lagi Fredy menundukkan kepala.


Setelah sampai dikamar nya, Zoya merebahkan sebentar tubuhnya yang terasa agak lelah.


Ia mengambil ponselnya dan menekan tombol panggil,,


"Hallo sayang, bagaimana penerbangan mu?" tanya suara di seberang sana.


"Hmm. semuanya baik-baik saja kak, aku baru sampai di Villa, aku hanya ingin memberitahu mu itu."


"syukurlah kalau begitu, istirahatlah dulu. Aku akan menghubungimu nanti."


"Hmmm. Baiklah. See you."


"I Love you, Zo'e.."


"I love you too, bye."


Tok..tok..


"Ya, masuklah!"


Seorang wanita paruh baya muncul di depan pintu kamar Zoya.

__ADS_1


"Selamat siang nona, saya retno pelayan disini, apa nona ingin dibuatkan makan siang?" tanya nya sopan.


"Bi, bisa buatkan untuk saya ayam betutu, saya ingin mencoba itu." pinta Zoya.


"Baik nona, akan saya buatkan. Apa nona ingin dibuatkan yang pedas atau,,


"Buatkan yang pedasnya sedang saja." tambah Zoya lagi.


"Baik nona, akan saya buatkan sekarang." kata bi retno sambil undur diri, meninggalkan Zoya seorang diri di kamarnya.


Untuk sesaat Zoya memilih untuk kembali berbaring. Lagipula sekretaris nya belum sampai di Bali, dan jadwalnya untuk bekerja dimulai besok, jadi ia memilih untuk mengisi cass stamina nya untuk hari ini.


...❄️❄️❄️...


"Apa semuanya sudah siap?"


"Sudah tuan, nona Wijaya juga sudah sampai di Villa." jawab Jhon.


"Baiklah. Segera siapkan penerbangan ke Bali, kita harus berada di sana sore ini." perintah William.


"Baik tuan."


...❄️❄️...


Pukul 4 sore Zoya baru terbangun dari tidurnya, sepertinya kali ini ia melewatkan jam makan siangnya. Apa boleh buat, kalau begitu seharunya makan malam lebih awal adalah pilihan terbaik.


Setelah selesai mandi, Zoya turun ke lantai satu. Villanya benar-benar sepi, hanya ada dirinya, dan juga bi Retno yang masih berkutat di dapur.


"Apa makanan nya sudah siap bi..?" Zoya duduk di depan pantry untuk melihat apa yang Retno kerjakan.


"Sebentar lagi nona, maaf kalau terlalu lama, saya buatkan camilan khas kota ini untuk nona sementara makanan nya siap." Retno menyuguhkan sepiring kue dengan dua bentuk yang berbeda.


"Ini kue laklak nona, kue ini mirip dengan serabi namun berbeda rasa dengan kue serabi pada umumnya.-- jelas bi Retno menunjuk kue yang berbentuk bulat kenyal dengan aroma yang harum.


"Sedangkan yang ini," tunjuk nya dengan kue yang terbuat dari pisang tersebut. "Ini disebut dengan pisang Rai, saya tidak tau apakah ini sesuai dengan selera nona, atau..


"Ini terlihat enak Bi, aku akan makan ini dulu." kata Zoya lagi disertai senyum ramahnya.


"Bibi sudah lama bekerja di Villa ini?" tanya Zoya sambil menikmati kue-kue yang ternyata memang sesuai dengan lidahnya.


"Kurang lebih tujuh tahun nona." jawabnya sopan. "pemiliknya mempercayakan saya untuk mengurus tamu-tamu yang menginap disini." tambahnya lagi.


Cukup lama keduanya berbincang-bincang, hingga Zoya menghabiskan beberapa potong kue dan juga segelas teh hangat sebagai pengganjal perutnya yang lapar.


Zoya menyukai orang-orang ramah yang ada disekitarnya, meskipun ini pertama kalinya ia jauh dari rumah, namun rasanya tidak masalah, ia pasti bisa beradaptasi dengan mudah.


"Selamat sore nona." Fredy berdiri di belakang Zoya.


"Ya," jawab gadis itu sambil membalikan badannya. "Selamat sore fredy, apa kau mau, bi Retno membuatnya."tawar Zoya pada kue yang tadi ia makan.


"Terima kasih nona, saya hanya ingin menyampaikan bahwa nona Dina sedang dalam perjalanan menuju villa.'' jelasnya.


"hmm. benarkah?-- Zoya berbalik pada bi retno. "Apa kamar Dina sudah siap Bi?" tanya nya, mengingat Bi Retno lah yang mengurus villa tersebut.


"Sudah non, kamar nona Dina ada di belokan kanan ruang tamu." Jelasnya sambil menunjukan arahnya.


"Kenapa tidak di atas saja bersama ku, bukanya masih ada kamar kosong ya di depan kamar ku?"


"Ah, itu kamar yang akan digunakan segera nona. jawab bi Retno lagi.

__ADS_1


"Hmm. Benarkah, ya siapkan saja kamarnya, dina adalah pendampingku selama disini, jadi perlakukanlah dia sama seperti ku.'' pinta Zoya sambil tersenyum ramah.


"Baik nona muda.'' jawab Bi retno dan juga Fredy.


Berhubung Zoya sedang tidak mengerjakan apapun, sambil menunggu kedatangan Dina, Zoya juga ikut menata makanan yang sudah dimasak ke atas meja meskipun bi Retno melarangnya, namun Zoya bersikeras untuk membantu.


Makan malam kali ini terbilang cukup mewah, ada beberapa hidangan yang sudah di masak oleh bi retno, salah satunya ayam betutu yang Zoya pesan sebelumnya.


setelah menyusun makanan, Zoya juga menata lima set peralatan makan di atas meja, semuanya sudah tersusun dengan rapi.


Tak lama kemudian, mobil yang menjemput Dina tiba di Villa. Sama seperti Zoya, Dina juga tidak banyak membawa barang, hanya satu koper berukuran sedang dengan satu tas tangan yang mungkin berisi barang pribadi.


"Selamat sore nona, selamat sore semuanya.'' sapa Dina sambil membawa kopernya.


"Selamat sore Din,'' sahut Zoya juga. ''Bagaimana perjalanan mu?''


"semua baik baik saja nona.''


"kalau begitu taruh barang-barang mu dulu, setelahnya kita akan makan malam. Aku sudah lapar.'' kata Zoya yang reflek memegang perutnya.


"Baik nona.''


Setelahnya Dina pergi untuk menaruh barang barangnya ke dalam kamar.


Zoya sudah menunggu di meja makan.


''Bi retno, Fredy!" panggilnya.


"Iya nona." sahut keduanya hampir berbarengan.


"Ayo duduklah. kita makan malam bersama.'' ajak Zoya pada kedua orang yang berdiri tak jauh darinya itu.


"Ah, maafkan kami nona, sebaiknya nona dan nona Dina saja yang,


"No..No.. aku sudah menyiapkan peralatan makannya, lagipula makanan ini sangat banyak, cukup untuk kita semua.'' tolak Zoya.


"Tapi nona,..


"Tidak..tidak, aku tidak menerima penolakan, sekarang duduklah, dirumah aku terbiasa makan di temani seluruh keluargaku, jadi akan terasa aneh jika aku makan sendiri.'' pinta Zoya lagi sedikit memelas.


"Din,, sini.. kita makan sama sama. ajak Zoya juga setelah melihat Dina keluar dari kamarnya.


Merasa segan dengan Zoya, fredy dan juga bi retno duduk di kursi yang sudah Zoya lengkapi dengan peralatan makan, ini pertama kalinya bagi mereka untuk makan bersama dengan majikan seperti ini.


"Mulai hari ini, setiap sarapan atau makan apapun, aku ingin kita semua makan bersama.'' tambah Zoya lagi sambil tersenyum lebar pada semuanya.


ini lebih terasa seperti rumah baginya, dengan orang-orang yang juga dirasa begitu baik padanya.


"Selamat sore, apa aku mengganggu?" seseorang berdiri tak jauh dari mereka.


"Will..? kamu juga disini..?" tanya Zoya, melihat William dan sekretarisnya di sana.


"Tentu saja. Bukankah ini pekerjaan kita?" jawabnya sambil tersenyum.


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2