
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Siang ini ruang rapat di kantor Zen di penuhi oleh orang-orang penting serta para mitra bisnis yang bekerja sama dengan perusahaan nya, mereka semua datang untuk memenuhi undangan rapat resmi yang Zen kirimkan melalui sekretaris sebelum ia meninggalkan kantor kemarin.
Zen masih berada di ruangan bersama dengan Aldi. Keduanya berbincang terlebih dahulu sebelum menuju ruang rapat, sampai terdengar suara ketukan di pintu ruangannya.
'Masuklah." kata Zen bersuara.
"Pak Zen, semua nya sudah berkumpul di ruang rapat. Rapat akan di mulai dalam 10 menit lagi." jelas sekretarisnya. "Baiklah. Aku akan keluar sebentar lagi."
Setelah sekretaris Zen keluar dari ruangan, Zen dan Aldi juga tengah bersiap menuju ruang rapat. "Didiie.. aku rasa sudah saat nya kita pergi.'' Ajak Zen pada ayah nya.
"Baiklah Son.."
Mereka berjalan berdampingan di temani oleh kedua sekretaris Zen. Semua tamu undangan berdiri menyambut kedatangan Zen dan juga Aldi. "Silahkan duduk kembali.." Zen duduk di tempatnya, di dampingi Aldi yang duduk di sebelahnya.
"Silahkan dimulai.." Zen meminta Sekretarisnya untuk memulai agenda rapat saat itu.
Setelah menyampaikan kata pembuka serta membacakan agenda rapat, sekretaris Zen menyerahkan sepenuhnya pada Zen untuk menyampaikan Inti utama dari rapat saat itu.
"Terima kasih untuk kedatangan kalian semua pada siang ini. Ada pun hal penting yang ingin saya sampaikan pada rapat siang ini adalah tidak lain untuk memindahkan kekuasaan perusahaan Ini kepada Ayah saya, Aldi Pratama. Saya yakin kalian semua sudah mengenal siapa beliau." Zen melihat pada Didiie nya sesaat.
"Kerja sama kita tetap akan berjalan seperti seharusnya, hanya saja akan di kendalikan oleh Direktur yang baru. Hal ini tidak di karenakan apapun yang dapat merusak citra perusahaan atau penurunan saham, jika itu yang kalian khawatirkan, melainkan karena ada hal penting yang harus saya kerjakan di Indonesia.
Sehingga saya harus fokus di sana dan menangani perusahaan di sana. "Saya harap rekan-rekan yang hadir saat ini tidak keberatan atas keputusan saya,
dan Saya yakin di bawah kepemimpinan beliau, perusahaan ini akan semakin berkembang dan juga,,
bla..bla..bla................."
...❄️❄️...
Rapat itu berlangsung kurang dari dua jam. Setelah menyelesaikan pidatonya. Secara remi perusahaan Zen akan di pegang langsung oleh Aldi sebagai Direktur utama yang baru.
__ADS_1
Semua kolega serta karyawan penting Perusahaan tidak ada yang menentang Zen. Mereka mendukung penuh apa yang menjadi keputusan Zen.
Begitupun dengan Aldi. Meskipun ia tidak tau apa yang membuat Zen ingin segera kembali ke Indonesia, tapi Aldi juga tidak ingin menentang keinginan Zen.
Selama ini Zen tidak pernah membuat keputusan tanpa di pikirkan secara matang.
Jadi apapun itu, Aldi yakin semuanya sudah Zen pikirkan pertimbangkan dengan baik. Selama ini Zen tidak pernah mengecewakan Aldi sekalipun, itulah yang membuat Aldi tidak perlu mengkhawatirkan Zen.
Dan sebagai acara penutup, Zen mengadakan sebuah pesta perpisahan dan penyambutan secara bersamaan bagi seluruh karyawan nya. Ia tidak ingin pergi begitu saja, setidaknya ia harus pergi dengan meninggalkan kesan yang baik bagi bawahannya meskipun perusahaan tersebut adalah miliknya sendiri.
...❄️❄️...
20.00 GMT
Pesta diselenggarakan di club A' club yang paling di minati di sana. Sebagai atasan yang baik, Zen tidak membedakan semua karyawan nya, baik itu manager ataupun hanya seorang staf biasa, semuanya sama bagi Zen.
Tidak hanya para karyawan di perusahaan nya yang Zen undang, tetapi juga para sahabat-sahabatnya.
Ia ingin sekaligus berpamitan pada mereka semua. Selain malam ini, Zen tidak punya waktu lain lagi, karena besok ia harus terbang ke Indonesia.
"Hey..Zen." Beberapa teman Zen datang bergabung dengan nya di sana. Ada Ryan, Hanna, dan juga Dave. Mereka adalah sahabat Zen di universitas, bahkan sampai saat ini.
Ryan dan Hanna juga anak dari seorang bangsawan.
"Hay.. kalian datang, terima kasih. Mari bergabung dengan kami disini." Ajak Zen pada para sahabatnya.
"Aku cukup terkejut dengan undangan mu kawan, ada apa ini sebenarnya..?" tanya Ryan penasaran.
"Bukan apa-apa, aku hanya ingin berpamitan pada kalian, karena besok aku harus kembali ke indonesia" ucap Zen dengan tenang.
"What..? indonesia. Ada apa, apa terjadi sesuatu..?" Kini Hanna yang bersuara. "Tidak ada apa-apa, hanya saja ada yang harus aku selesaikan di sana." Zen menjawab sekena nya saja. Tidak mungkin ia mengatakan alasan sebenarnya pada teman-teman nya itu.
"Ahh, begitu kah, tapi kenapa begitu mendadak. Bagaimana dengan perusahaan mu, apa kau akan lama di sana..?"
Ahhh,, dasar perempuan. Mereka adalah makhluk paling kepo yang Zen ketahui.
"Semua urusan disini sudah ku selesaikan. Tinggal berangkat saja,.." Jelas Zen lagi. "Ahh, silahkan nikmati pesta nya kawan, aku harus menyapa semua karyawan ku." pamit Zen lalu pergi.
"Apa kalian mencium sesuatu,..? Bukan kah terlihat aneh..?" kata Hanna pada kedua sahabatnya. "Kalian para wanita memang sangat menakutkan.." celetuk Dave.
"Kenapa kami menakutkan..? dasar kau..!"
__ADS_1
"Memang benarkan kalian seperti itu..? Antena di atas kepala kalian selalu saja mengeluarkan radar-radar aneh.." ucap Dave.
"Sudah.. sudah.. kalian berdua ini. Ini pesta perpisahan sahabat kita, jadi jangan buat kekacauan disini, apa kalian tidak lihat begitu banyak orang di sekeliling kita..?" Ryan menengahi Hanna dan Dave.
Pesta tersebut berakhir pada pukul 2 dini hari. Semuanya berpesta dengan gembira, meskipun pada akhirnya karyawan-karyawan wanita Zen menangis patah hati atas kepergian Zen yang tidak lagi menjadi atasan mereka.
...❄️❄️...
Pukul 1 dini hari Zen mendaratkan tubuh di atas kasur, ia sangat lelah sekarang. Jangan pikir Zen mabuk. Ia tidak akan membiarkan dirinya dikuasai Alkohol saat berada di tengah keramaian.
Lagipula ia harus tetap sadar jika tidak ingin ketinggalan pesawat besok pagi.
Sebelum tidur Zen lebih dulu mengecek barang-barang nya. Hanya beberapa berkas-berkas penting dan juga barang pribadi miliknya yang ia bawa, selebihnya ia dapat membeli semuanya di indonesia.
Setelah selesai dengan kedua kopernya, Zen membersihkan diri terlebih dahulu, tubuhnya sangat terasa lengket, dan ia perlu mandi, sekalian saja ia mandi sebelum berangkat. Dan yang ia butuhkan setelahnya adalah memejamkan mata sejenak menunggu pagi datang.
...Pukul 9.30 GMT...
Zen sudah berada di airport diantarkan oleh Aldi dan juga Margaret. Seharusnya Elizabet ada di sana, namun karena ia harus turun ke sekolah, jadi ia tidak bisa ikut mengantarkan kepergian Zen.
"Son.. sampaikan salam kami pada Mollie dan juga keluarga besar wijaya saat kau bertemu dengan mereka nanti." pesan Aldi pada anak sulung nya.
"Baiklah Dad. Akan ku sampaikan salam kalian."
"Jaga dirimu di sana sayang.." Margaret memeluk Zen.
"Tentu saja aku akan menjaga diriku dengan baik Mom. Sampaikan salam sayang untuk adik kecilku." zen membalas pelukan Margaret.
"Seperti nya pesawat ku akan segera berangkat, sebaiknya aku segera pergi. Bye Mom, Dad." Zen melambaikan tangan.
Aldi dan Margaret melepas kepergian Zen.
Ini memang bukan yang pertama bagi mereka.
Sebelumnya Zen pernah pergi ke berbagai negara dan diam di sana berapa waktu untuk urusan pekerjaan.
Tapi kali ini, Zen tidak memberitahukan apapun pada mereka selain hanya mengatakan ada hal yang harus ia selesaikan.
Semoga saja semuanya dapat teratasi dengan baik. Apapun itu. Doa restu Aldi dan Margaret menyertai kepergian Zen.
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...