My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
Good Decision, Good Time


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


''Apa kau masih mencemaskan aku kak?''


Zoya bersedekap dalam pelukan Zen. ''Pakai ini, disini dingin!''.Zen menutup tubuh Zoya dengan mantel yang ia kenakan sebelumnya.


Saat ini Zoya dan Zen tengah menikmati pemandangan langit malam dari atas kapal pesiar. Angin yang kencang, bahkan tidak menghalangi mereka untuk tetap berada di bawah perlindungan langit yang terbentang luas memamerkan gemerlap cahaya bintang-bintang.


''Hmmm- Selamanya aku akan terus mencemaskan mu gadis kecil ku, karena aku sangat peduli padamu. Aku tidak bisa sehari saja tak memikirkan dirimu,- apa aku terdengar menggelikan?" Zen tersenyum konyol mendengar pernyataan yang terlontar dari mulutnya. Ia memang begini, ia akan bahagia saat bersama istrinya, tapi ia juga selalu merasa khawatir. Entahlah, ia sendiripun tak bisa menjelaskan apa yang ia rasakan.


''Kau terdengar begitu hebat kak.- dan aku merasa bahagia menjadi bagian hidupmu.'' Seperti apa seharusnya Zoya menggambarkan sosok Zen? laki-laki satu-satu nya dalam hidup Zoya.- Laki-laki yang sejak kecil selalu bersama nya- bahkan saat sekarang pun, Zoya sangat bersyukur memilikinya. Tak ada kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan sosok Zen bagi Zoya.


Begitu pula bagi Zen. Tak ada hal yang ia inginkan selain Zoya nya. Gadis kecilnya. Sejak ia jatuh cinta pada senyuman bayi kecil yang dulu ia tenangkan, Zen selalu berdoa, agar sampai kelak, sampai ia tak lagi memiliki waktu di dunia ini, ia tetap akan memiliki Zoya dalam hidupnya.


Satu-satunya yang dapat membuat dunia Zen berubah dalam seketika. Satu-satunya alasan bagi Zen untuk mampu menjadi dirinya yang saat ini, semua adalah Zoya.


ZOYA VIDETTE, seperti namanya; ia memanglah sangat dicintai, dan akan sangat mudah untuk dicintai. Karena gadis itu adalah Zoya. Gadis kecil yang saat ini telah menjadi tulang rusuknya, bagian yang menyatu dalam dirinya, dan juga takdirnya.


Takdir..? Bukankah takdir begitu luar biasa?


''Kak, apa kau benar-benar tidak apa-apa karena aku menunda kehamilan ku? Aku terdengar sangat egois.


Kau boleh marah dan menyalahkan aku! aku hanya ingin mendengar perasaan mu yang sebenarnya kak.Atau mungkin kau merasa kecewa padaku? hem?- Aku ingin mendengarnya kak, katakan padaku..?"


Bagi Zoya hal ini sangatlah mengganggu nya. Ia tidak bisa bersikap cuek lalu mengabaikan rasa ketidaknyamanan yang saat ini rasakan. Zoya tau benar, apa yang harus ia lakukan sebagai seorang istri. Ia seorang wanita. Meskipun ia masih muda, ia sangat tau jika memang sudah seharusnya ia memenuhi tanggung jawab dan juga kodratnya.

__ADS_1


Tapi tidak hanya itu. Ia juga bukanlah hanya sebatas seorang wanita biasa, meskipun ditakdirkan harus melahirkan keturunan, ia juga memiliki mimpi, memiliki keinginan yang ingin diraihnya dalam hidup. Bukan hanya sebatas menjalani kodratnya, ia juga ingin menunjukan pada orang-orang yang ia cintai, bahwa ia mampu dan bisa meraih tujuan hidupnya dengan apa yang ia miliki dalam dirinya.


Tuhan memberinya kemampuan, Tuhan jugalah yang memberinya talenta. Lantas, apakah harus ia abaikan hanya karena ia sudah menjadi seorang istri? salahkah jika ia masih ingin mewujudkan sedikit mimpinya dengan semua anugerah yang ia miliki saat ini?


Disisi lain dirinya, Zoya juga tak ingin terlalu egois, karena itulah ia harus tau apa yang Zen pikirkan tentang keputusan nya. Apakah Zen kecewa? ataukah Zen malah mendukung nya? entahlah- Zoya hanya tak ingin ini menjadi beban baginya. Ia tak ingin karena keinginan nya hingga kelak membuat celah dan mendatangkan masalah pada hubungan yang ia jalani kini.


Bagaimanapun mereka telah menikah, dan pernikahan ini bukanlah tentang satu orang saja, tapi tentang dua orang, dua hati, dua perasaan. Dan jika memang Zen merasa sedikit- meskipun sedikit saja kekecewaan yang ia rasakan, Zoya juga akan mencari dan memikirkan jalan keluar yang bisa keduanya sepakati, tak akan ia biarkan keputusan nya hari ini, membuatnya menyesal dikemudian hari.


Zoya masih menatap Zen dengan keingintahuan yang sangat. Ia sungguh berharap Zen akan mengatakan kejujuran padanya, Zoya sangat mengharapkan kejujuran. Dengan begitu ia akan memikirkan kembali semua keputusan nya sekali lagi.


'Sayang, dengarkan aku,- Aku mencintaimu. Berulang kali ku katakan, mungkin kau akan menganggap ini hanya kata-kata. Tapi bagiku, aku tak akan bosan mengatakan bahwa aku mencintaimu. Dan karena aku mencintaimu,- aku akan mendukung semua keputusan mu. Aku tau setiap kita memiliki keegoisan, tapi bagiku, ego ku bukan untuk memaksamu untuk melakukan apa yang tidak kau inginkan."


"Bukan tentang kau siap hamil saat ini atau tidak.


Tapi coba pikirkan,- Bukan kah ku katakan aku ingin membuatmu bahagia?,- Zoya menganggukkan kepalanya. ''Lalu jika aku mengatakan agar kau menghentikan mimpimu dan memintamu hanya memikirkan kehidupan rumah tangga kita dengan membuatmu melepaskan semua mimpimu, apa kau akan bahagia?,- Zoya terdiam sejenak, memikirkan kata-kata Zen, lalu menggelengkan kepalanya. Karena ia memang tak akan merasa bahagia. Ia pasti akan memiliki penyesalan dalam hidupnya. Entah itu ia katakan ataupun tidak. Ia pasti akan memilikinya.


''Tapi pikirkan lagi jika kau mewujudkan mimpimu, dan aku juga mewujudkan mimpiku, saat nanti kita memiliki putra, atau mungkin seorang putri yang sangat menggemaskan seperti dirimu, tidak kah kau berpikir bahwa anak-anak kita nanti ingin mendengarkan kisah hidup kita? mimpi-mimpi kita? apa saja yang kita raih, bagaimana kita bisa saling jatuh cinta, ciuman pertama kita, tidak kah mereka akan tertarik pada cerita itu?"


"Dibandingkan dengan membacakan dongeng, aku yakin anak-anak kita akan senang mendengarkan bagaimana hebatnya nya momy mereka.- ''Dan juga Daddy mereka,- tambah Zoya. ''Hmm, tentu saja mereka akan tau bahwa Daddy nya adalah laki-laki yang hebat.- Jadi katakan, masihkah kau berpikir bahwa aku akan kecewa dengan keputusan mu?''


Meskipun mereka bukanlah orang yang sempurna, dan tentu bukan juga pasangan yang sempurna. Tapi setidaknya mereka dapat saling melengkapi, menutupi kekurangan masing-masing. Dan Zen? laki-laki itu sungguh melengkapi setiap celah dalam hidup Zoya. Bagaimana mungkin Zoya akan merasa kurang jika yang ia miliki bahkan lebih dari kata-Cukup-,


''Tentu saja aku memikirkan nya. Sekarang, pikirkan saja tentang kebahagiaan kita saat ini. Aku ingin setiap waktu yang kita lewati bersama adalah kebahagiaan.''


Begitulah Zen dan Zoya membuat komitmen nya. Hubungan percintaan mereka, rumah tangga mereka. Keduanya sama-sama belajar untuk saling mendukung satu sama lain. Keduanya selalu berusaha dengan baik untuk saling membahagiakan. Menciptakan setiap kenangan indah bersama. Kenangan yang akan mereka ingat, - seperti yang Zen katakan,- mereka membuat cerita  yang juga akan mereka ceritakan kelak.


Setelah menghabiskan satu minggu penuh di Singapore. Zoya dan Zen belajar satu hal. Mereka belajar untuk saling *mendengarkan. *Mereka belajar untuk menghargai pendapat dari pasangan mereka. Mereka belajar untuk saling terbuka, dan berkomitmen untuk membuat hidup mereka dipenuhi dengan kebahagiaan.


Sekembalinya Zoya dan Zen ke tanah air, mereka hanya tinggal sebentar disana,-


''Kau yakin mau melakukan ini kak?- maksudku kau tidak harus mengikuti ku, bagaimana dengan pekerjaan mu?"

__ADS_1


''Perusahaan baik-baik saja sayang,- dan aku bisa memantau nya sementara aku menemanimu. Aku tak akan membiarkan mu di sana seorang diri,- Aku terlalu takut gadis kecilku akan tertimbun salju.'' ujar Zen dengan wajah cemas yang dibuat-buat.


''Baiklah, kemarilah kak, aku ingin memeluk mu.'' Zoya merentangkan kedua tangannya.


Dari pada menghabiskan waktu seorang diri, dan terpisah jarak jutaan mill. Zen lebih memilih untuk pergi bersama istrinya. Ia bisa mengendalikan segala sesuatunya dari jauh, dan itu pekerjaan yang mudah. Zen juga harus mewujudkan mimpinya, dan mimpinya adalah melihat Zoya nya bahagia. Dan untuk membuat Zoya bahagia, gadis kecilnya itu harus bisa mewujudkan semua mimpinya. Dengan begini, kehidupan mereka akan sangat sempurna.


Dengan persetujuan Mollie dan juga Dady Rehan, Zen dan Zoya memutuskan untuk pindah ke Swedia sementara waktu, sampai Zoya menyelesaikan pembangunan yayasan nya dan juga merampungkan semua pekerjaan yang ia miliki. Apa yang telah dimulai, tentu harus diselesaikan dengan sepenuh hati.


''Hati-hatilah sweet heart, Daddy akan sangat merindukan mu. Kau terlalu sering menjauh dari dari Dady.''


Meskipun sedikit tak rela, Rehan tau betul bahwa putri nya itu tak bisa dihentikan. Keras kepala Rehan terlalu melekat pada gadis kecilnya. Lalu Rehan hanya akan mendoakan keduanya.


Mendokan agar kebahagiaan dan keselamatan selalu menyertai anak-anaknya, dimana pun mereka berada.- Dan juga mendoakan agar ia segera dapat melihat wajah bayi-bayi mungil,- cucu-cucu nya. Semoga saja.


'Zozo,- Segera dapatkan keponakan untuk ku. Jika terlalu lama, aku tidak akan sempat bermain bersama nya.'' Ken memeluk saudarinya. Satu persatu orang-orang yang ia cintai sepertinya lebih memilih untuk pergi menjauh. Apakah dengan pergi jauh dapat membuat orang lebih bahagia? begitukah konsepnya? ''Kak, pastikan Zozo tidak membeku disana.''


'Tentu saja. Karena itulah aku harus menemaninya, aku juga mengkhawatirkan hal yang sama denganmu.''


''Pastikan kalian selalu memakan makanan yang sehat sayang,- jangan lupa hubungi mom dan Dad disini, kami akan merindukan kalian berdua.''


Sebuah pelukan hangat selalu lah menjadi hal yang tepat untuk menutup sebuah perjumpaan, dan mengucapkan kata perpisahan. Berharap yang pergi dan yang ditinggalkan akan selalu dalam lindungan Tuhan, dan hingga tiba saatnya, waktu akan membuat semua berkumpul kembali entah dalam pertemuan apapun itu. Karena waktu selalu memiliki rahasianya sendiri.


Tak ada yang dapat menebak dan tak ada yang dapat bermain dengan waktu.


Mungkin besok, atau beberapa tahun lagi,- tak ada yang tau apa yang akan waktu lakukan dalam hidup kita.


Sebaik-baik dan sebijak-bijaknya manusia, adalah orang-orang yang sangat menghargai waktu.


Karena waktu yang terlewatkan, meskipun satu detik, tak akan pernah terulang kembali.


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2