
...ENJOY...
.......
.......
Ken memijit pangkal hidung nya yang terasa berdenyut, setelah bantingan pintu menggelegar yang ia terima. Ia hanya mencemaskan gadis itu. Gadis yang menurut nya sangat familiar baginya.
Apa ia berlebihan? mengingat perlakuan gadis itu padanya, seperti nya itu hanya perasaan Ken saja. Gadis itu tidak mengingatnya. Ah, bahkan tepatnya tidak mengenal Ken.
Apa seharusnya ia melupakan rasa familiar yang terus berdengung di kepalanya..? Sebaiknya begitu. Tapi tidak, Ken harus benar-benar memastikan bahwa gadis itu dan dirinya benar-benar tak saling mengenal. Apa yang harus Ken lakukan? baru saja ia bertanya, tapi pertanyaan nya sudah memicu kemarahan.
Betapa anehnya juga dirinya, mengapa ia bertanya ''apa kau mengenalku?'' Jangan bercanda. Orang mana yang tidak akan merasa aneh saat menerima pertanyaan seperti itu.
Tak ingin terlalu lama berada di tempat nya, Ken kembali membuka pintu dan kembali menerima suara distrosi yang menghantam keras gendang telinga nya. Ia benar-benar tidak suka tempat ini. Jika bukan karena Leon yang menyeretnya, Ken lebih memilih untuk menghabiskan waktu di dalam apartemen.
Ken berjalan perlahan sambil memperhatikan sekitar, barang kali ia dapat menemukan Lova di tengah-tengah keramaian.
Lagi-lagi Ken kembali di buat meringis saat salah seorang pemuda yang tengah pangar di depannya memuntahkan isi perutnya tepat di depan Ken, membuat Ken cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
Di area kolam renang sudah tidak terlalu di padati tamu undangan. Masing-masing orang sudah kembali terpencar. Ken melihat ke kanan dan ke kiri mencari Leon, ternyata temannya itu tengah berdansa dengan seorang gadis muda lainnya di pinggiran kolam, sementara yang lainnya berada di dalam air, berciuman, berpelukan dan.. Ah, membuat Ken merasa frustasi jika terus melihatnya.
Tapi di sana ia juga tidak melihat orang yang berulang tahun. Tania dan Jeremi. Kemana sang bintang malam ini? mengapa mereka tidak berada di sana? apa mereka berada di dalam? tapi didalam Ken tidak melihat keberadaan keduanya.
Atau apakah Ken yang tidak mencari dengan lebih teliti. Apakah ia harus mencari lagi? tapi untuk apa? Jangan katakan jika mereka melaksanakan niatan Tania sebelumnya, jika memang ya..
Sial!
Ken mengumpat kembali masuk ke dalam rumah. Ia mencari dengan teliti ke seluruh ruangan. Ia sempat kewalahan saat mengetahui ada banyak ruangan di tempat itu. Lalu kemana ia harus mencari?
''Kau lihat? aku rasa gadis itu sama murahnya!''
Teriak seorang gadis disertai dengan tertawaan menghina bersama sekelompok gadis lainnya. ''Aku rasa setelah ini, ia tidak akan berani menunjukan wajahnya yang lugu itu lagi di depan kita.''
Di sana, Tania berdiri ditengah-tengah tangga menuju lantai dua rumahnya. Gadis itu terlihat terhuyung dengan pakaian yang sangat membuat sakit mata.
''Biarkan saja mereka di sana, sebaiknya kita kembali berpesta!'' ajak yang lain membuat suasana kembali riuh dengan teriakan mereka saat menuruni tangga.
Ken berpikir keras dengan apa yang akan ia lakukan. Ia baru saja mengenal Jeremi dan Tania. Kedua terlihat baik ketika sedang waras, tapi entahlah jika sedang mabuk. Lalu gadis itu? Apa Ken harus sampai sejauh ini? sedangkan gadis itu mengatakan untuk tidak mengganggunya.
''Jeremi, apa yang akan kau lakukan?'' Lova berjalan mundur merapatkan dirinya ke arah dinding yang terasa dingin di kulitnya yang berkeringat. Bukan keringat karena ia bersemangat, tapi berkeringat karena ketakutan. Kenapa Tania menyuruhnya memasuki kamar dan mengunci nya disini. Otak Lova benar-benar tak bisa memikirkan nya sampai sejauh itu.
''Jangan takut Lova, aku hanya ingin menikmati hadiah ku, bukan kah kau dibayar untuk ini?"
Otak Lova yang tadinya kusut kini kembali berfungsi. Dibayar? Jadi ini maksud Tania padanya bahwa ia adalah hadiah? hadiah untuk saudara kembarnya? Jika ia tahu lebih awal, Lova tidak akan sudi menerima tawaran tersebut. Ia benar-benar merasa ketakutan sekarang, bagaimana ia bisa menyelamatkan diri dari tempat ini.
''Aku datang untuk bekerja. Tania tidak mengatakan bahwa aku,- aku harus... '' Lutut Lova terasa lemas. Mulutnya terasa kaku, tubuhnya bergetar. Ia sangat takut membayangkan dirinya akan berakhir malam ini.
''Jeremi kau mabuk. Kita tidak harus,- aku tau kau pemuda yang baik. Jangan lakukan ini padaku. Aku hanya datang untuk bekerja, ku mohon keluarkan aku sekarang.'' Lova memelas dengan wajah yang berurai air mata.
__ADS_1
Cara Jeremi melihatnya. Tersenyum padanya. Semua terasa seperti laki-laki itu telah menelanjanginya saat itu juga. Bagaimana Lova dapat bernegosiasi dengan orang mabuk. Apa ia sudah gila?
''Kita hanya akan bersenang-senang Lova, kemarilah duduk disini, aku sudah tidak tahan.'' Jeremi membuka pakaian nya satu persatu dan melemparnya ke arah Lova, membuat Lova berjinggat semakin ketakutan.
Tak ada yang bisa ia lakukan. Ia hanya bisa berteriak sambil menggedor pintu berharap ada yang mendengarnya.
''Tolong aku, Siapapun diluar sana tolong aku!''
Lova berteriak dengan segenap kekuatan yang masih tersisa padanya. Ia hanya berpikir untuk dapat keluar dari ruangan itu. Ia sungguh tak rela jika sampai hal yang ia pikirkan terjadi padanya.
''Tidak akan ada yang mendengar mu sayang, kau tau berapa banyak kamar di rumah ini? semuanya disiapkan untuk menghabiskan malam seperti ini. Mungkin semua kamar telah terisi dengan orang-orang yang sama seperti kita.''
Senyuman dan juga kata-kata yang keluar dari mulut Jeremi semakin membuat Lova merasa jijik. Ia tak pernah membayangkan malam seperti ini akan datang padanya. Ia hanya ingin bekerja dan menghasilkan uang, tapi tidak dengan menjual dirinya.
''Tolong.. tolong aku, siapapun diluar sana tolong aku, ku mohon!''
Teriak Lova lebih kencang dari sebelumnya. Ia tidak bisa menyerah sekarang, bagaimana pun ia harus bisa keluar dari kamar itu.
Jeremi yang melihat tingkah Lova mengeram marah melihat penolakan gadis itu. ''Kau pikir siapa dirimu? hah?'' Jeremi menghampiri Lova, dan menyeret gadis itu ke atas ranjang.
''Jeremi ku mohon, jangan lakukan ini!'' Lova terisak berusaha kabur dari perangkap Jeremi. Namun laki-laki itu mengukungnya, menahan Lova dengan kuat di bawahnya.
''Lihat lah dirimu Lova. Kau datang ketempat ini dengan kemauan mu sendiri, tidak ada yang memaksa mu, jadi kenapa sekarang kau berteriak seperti ini? Jangan menganggap tinggi dirimu sendiri! Aku bahkan bisa membayar mu tiga kali lipat!'' geram Jeremi memegang kedua tangan Lova dengan erat.
''Jangan lakukan ini Jeremi, ku mohon aku tidak,-
''Kurang ajar! berhenti main-main dengan ku Lova!'' Jeremi yang memang sudah dikuasai alkohol dan juga hasrat terpendam kepada Lova tak lagi mampu menahan amarah atas penolakan berulang yang di lakukan gadis itu. Jeremi yang sudah pulih dari rasa sakitnya, kembali berjalan kearah Lova dengan rahang terkatup keras menunjukan kepemilikan pada gadis itu.
Lova yang semakin ketakutan saat melihat Jeremi berjalan kearahnya, tak bisa lagi berkata apa-apa, ia hanya bisa menggedor pintu dengan semakin kuat. Jeremi kembali menyeret tangan Lova. Ia tak memperdulikan gadis tengah memberontak dengan menghujamkan pukulan pada dirinya.
Bagi Jeremi pukulan Lova tak terasa apa-apa, dibandingkan hasrat terpendam yang selama ini sudah ia miliki sejak pertama melihat Lova di kampus hari itu. Dan dengan keberadaan Lova saat ini, bagaimana Jeremi dapat menolaknya lagi. Ia sudah tak bisa menahan nya, ia harus menjadikan Lova miliknya. Setidaknya, teman untuk menghabiskan malamnya.
Lova yang terus memberontak dibawah kukungannya semakin memprovokasi Jeremi. Suara memohon gadis itu semakin membangkitkan gairahnya. ''Kumohon jangan lakukan ini,- Lova kembali memohon. Berharap Jeremi masih memiliki hati nurani untuk membatalkan niatnya. Namun ternyata percuma, laki-laki itu terlalu mabuk untuk menghiraukannya barang sebentar.
Lova hanya bisa terus memberontak saat Jeremi mencium paksa dirinya, sementara tangannya ditahan kuat, dan kakinya dihimpit oleh tubuh laki-laki itu. Apa hanya sampai disini takdirnya? apakah ini harga yang harus ia bayar untuk bertahan hidup di kota yang penuh dengan tuntutan tersebut?
Braaakk!!
Suara pintu terbuka dengan begitu spektakuler saat dua orang muncul ditengah-tengah lampu redup yang menerangi ruangan tersebut. Lova hanya bisa terisak saat merasakan bahwa Jeremi tak lagi berada di atasnya. Ia buru-buru bangkit dengan tubuh yang gemetar beruraikan air mata.
Lova masih dapat mendengar jelas suara gebukan didalam kamar tersebut. Entah siapa yang memukul siapa ia tak tahu. Yang ia tahu saat ini pintu di depan nya sudah terbuka, dan yang bisa ia lakukan adalah kabur secepat mungkin.
''Kau baik-baik saja?''
Lova terjingkat saat merasakan mantel yang tiba-tiba menutupi tubuhnya yang saat ini terekspos secara berlebihan.
''Tolong bawa aku keluar, aku ingin pergi dari sini.'' suara Lova hampir tak terdengar karena tubuhnya yang masih begitu gemetar.
Ken yang menyadari itu, langsung membungkus tubuh Lova lalu membawa gadis itu dalam pelukannya. ''Kita pergi sekarang, tinggalkan saja dia.'' seru Ken pada Leon yang entah sudah berapa kali melayangkan pukulan kepada Jeremi.
__ADS_1
Ketiganya berhasil keluar dari rumah itu melalui pintu samping. Sesampainya di area parkir, Lova yang masih sesenggukan sambil membenamkan wajahnya di dada Ken, tak berkata apa-apa. Tubuh gadis itu masih terasa gemetar. Setelah Leon membukakan pintu mobil, Ken memasukan Lova di tempat duduk penumpang.
''Lo kenal? siapa?'' Tanya Leon penasaran dengan gadis yang baru saja mereka selamatkan dari pelecehan tersebut. ''Entahlah, gue juga gak tau.''
Jawaban Ken membuat Leon semakin bingung. Jika Ken tidak mengenalnya, mengapa tadi Ken sangat kalang kabut mencari Leon dan meminta pertolongan darinya? apa ini semacam lelucon baru?
''Sekarang kita harus apa? kalo lo gak kenal terus mau kita bawa kemana ni cwe? sial lo!'' kesal Leon pada Ken yang tiba-tiba saja melibatkan dirinya pada masalah kali ini.
''Masuk sana, gue yang bawa mobil. Lo mabuk kan?"
Tanpa mendengar bantahan Leon, Ken langsung masuk ke kursi kemudi kemudian disusul Leon disebelahnya yang tak melakukan protes sama sekali. Ken langsung melajukan mobil meninggalkan rumah mewah milik keluarga temannya itu.
Dua puluh menit kemudian, mobil mereka telah memasuki jantung perkotaan yang padat penduduk. Di jam-jam yang terbilang sudah sangat larut, kota tersebut masih dipenuhi berbagai macam aktivitas. Pantas saja kota itu disebut kota yang tak yang tak pernah tidur.
''Kau bisa mendengar ku?" Tanya Ken yang mengawasi Lova dari kaca spion nya. ''Bisa katakan aku harus mengantarmu kemana?" dari kaca Ken dapat melihat gadis itu bergerak untuk memperhatikan sekitar.
''Tolong antar kan aku ke 175 Street. Aku tinggal disana.'' jawabnya dengan suara yang masih bisa ditangkap oleh pendengaran Ken.
Setelah memasukan alamat yang Lova sebutkan ke dalam daftar gps mobilnya, Ken membawa mobil itu dengan kecepatan yang aman bagi semua orang.
Ken sangat ingin bertanya tentang apa yang terjadi sebelumnya. Mengapa gadis itu dengan bodohnya mau masuk dalam kamar tersebut? dan mengapa gadis itu tak bisa memikirkan kemungkinan apa saja yang dapat terjadi pada dirinya.
Jika saja sebelumnya gadis itu tak membentak dan membanting pintu di depan Ken, bisa saja Ken menyelamatkannya lebih awal, agar dia tak harus mengalami hal tersebut. Apakah ini kesalahan Ken karena tak mencegahnya lebih awal?
''Disini..? alamat yang kau maksud"
Mobil itu telah berhenti di daerah gedung-gedung menjulang dengan begitu banyak gang di kanan kirinya. Alamat yang Lova berikan tidak jauh dari kampus mereka, dan itu artinya hanya beberapa blok dari apartemen milik Ken.
''Kau tinggal disalah satu gedung ini?" Tanya Ken penasaran, namun entah kenapa seperti sebuah ejekan di telinga Lova. Apa ia terlalu sensitif? Gadis itu keluar begitu saja dari dalam mobil, membuat Ken buru-buru menyusulnya.
''Terima kasih untuk bantuan kalian, dan maaf telah merepotkan dengan mengantarku pulang.'' ujar nya terdengar seperti seorang yang sebelumnya tak mengalami pelecehan. Namun mata gadis itu jelas terlihat sembab dan sedikit bengkak. Apa ini sebuah kamuflase?
''Kau yakin kau baik-baik saja?'' Ken meragukan sikap baik-baik saja yang di tunjukan Lova.
''Hmm. Berkat kau dan juga temanmu.''
''Maaf jika sebelumnya aku membuat mu salah faham. Dan aku menyesal tidak menolong mu lebih awal. Kita akan bicara lagi saat kau sudah lebih baik. Istirahat lah, dan tenangkan dirimu.''
Tanpa menunggu, Ken berbalik masuk ke dalam mobil.
Lova yang masih dalam keadaan syok, dengan kaki bergetar berjalan melewati gang menuju ke apartemen sederhana miliknya. Ia benar-benar sangat bersyukur atas bantuan yang ia terima.
Jika tak ada kedua laki-laki itu, mungkin saja nasibnya akan sangat malang saat ini. Tuhan benar-benar masih mendengarkan nya.
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1