My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
KUNJUNGAN, CASSIAN FAMILY


__ADS_3

ENJOY..... 🍸


.


.


.


.


.


Setelah menyelesaikan semua urusan pekerjaan, Zoya dan Zen pergi mengunjungi rumah Cassian.


Seperti janji Zoya sebelumnya, ia sangat ingin melihat bayi mungil itu lagi.


"Kau tau dimana alamatnya sayang?" tanya Zen yang saat ini tengah mengemudikan mobil. "Cassian sudah memberikan alamatnya pada ku kak, ku rasa tidak akan jauh dari sini." jawab Zoya sambil memperhatikan petunjuk arah.


"Belok kiri di perempatan di sana kak, lalu akan ada toko bunga, kemudian belok ke kanan, ku rasa disitu tempatnya." Zoya mengarahkan jalan dan Zen pun mengikuti instruksi yang diberikan istrinya.


Usai menemukan alamat seperti yang tertulis, ternyata jalan tersebut adalah gang kecil yang harus di lewati dengan berjalan kaki, dan keduanya harus meninggalkan mobil mereka di depan gang. "Kau yakin disini sayang? aku tidak melihat ada apartment disini." ujar Zen yang memperhatikan keadaan sekitar.


"Apa sebaiknya kita masuk ke dalam sana kak? mungkin ada di sana." jawab Zoya yang juga ikut mencari-cari gedung apartment Cassian.


"Zoya...?" Sebuah suara menghentikan keduanya. Ternyata Cassian berdiri tak jauh dari keduanya dengan membawa tas belanjaan yang saat ini tengah ia peluk.


"Oh hei, kami baru saja ingin kerumah mu."


Zoya senang mendapati keberadaan Cassian di sana, jadi mereka tak perlu repot-repot mencari karena bertemu langsung dengan sang tuan rumah.


"Kalian ingin kerumah ku? ku kira tadi kau hanya asal bertanya." jawab Cassian yang tak menduga sepasang pengantin baru itu akan mengunjungi rumahnya.


"Aku sudah bilang bukan, bahwa aku sangat ingin bertemu dengan bayi mungil mu itu. Kebetulan aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan ku, dan sekarang aku punya waktu luang seperti yang telah aku janjikan pada istrimu."


"Baiklah, aku merasa terhormat kalian mau mengunjungi keluarga ku Zoya." ujar Cassian yang merasa senang atas kunjungan tersebut.


"Jangan bilang begitu, bukan kah kita teman? lagipula kau adalah orang pertama yang ku kenal dan juga yang sudah membantuku selama ini. Bisakah kau tunjukan jalannya, karena jujur disini sangat dingin." Zoya menggosokkan tangan nya, agar terasa lebih hangat, dan juga sebagai tanda bahwa ia benar-benar merasa kedinginan.


"Ahh.. maafkan aku. Mari." Cassian berjalan mendahului keduanya, sebagai pemandu.


Melihat wajah Zoya yang tengah memerah karena udara dingin, Zen meraih tangan Zoya lalu memasukan nya kedalam kantong jaket yang ia pakai. "Apa terasa lebih baik sayang?"

__ADS_1


"Hmm. sangat." bisik Zoya pada suaminya.


Setelah melewati dua bangunan yang ada di dalam gang, akhirnya mereka tiba di gedung apartment yang di tempati Cassian dan keluarga nya. Gedung tersebut berlantai lima, dan hanya memiliki tangga sebagai akses untuk menuju setiap lantai, dan apartment cassian berada di lantai tiga.


"Hanya apartment sederhana, aku harap kalian tidak keberatan." ucap Cassian sebelum membukakan pintu rumahnya.


Dari dalam terdengar suara tangisan bayi mungil yang saat ini tengah coba di tenangkan dalam gendongan ibunya. "Sayang kau kembali, anak kita terus menangis sejak tadi, apa kau membawa yang ku minta..?" Megan berucap sambil kepayah karena menenangkan putri mereka yang masih terus merengek.


"Sayang, biar ku gendong, kita kedatangan tamu." ucap Cassian yang menoleh pada Zen dan Zoya, membuat Megan juga mengalihkan pandangan nya.


Zoya tersenyum canggung, pikirnya, mungkin mereka berkunjung disaat yang kurang tepat. "Hai, apa kami mengganggu?" ucap Zoya yang merasa sungkan.


"Oh, tentu tidak Zoya, tuan.. masuklah. Maafkan keadaan rumah kami yang berantakan. kak lihat sendiri, bayi kecil ini sangat rewel sejak tadi, entahlah apa yang membuatnya tak nyaman." ucap Megan yang jelas-jelas terlihat kepayahan dan panik.


Menuruti perkataan tuan rumah, Zen dan Zoya duduk diruang tamu yang tak jauh berbeda dari apartment miliknya, hanya saja lebih sederhana. "Apa bayimu sedang sakit?" tanya Zen yang sejak tadi terus memperhatikan sepasang orang tua baru tersebut tengah mencoba menenangkan putri mereka.


"Entahlah tuan, aku tidak tau apa yang membuatnya seperti ini, aku sudah memeriksa suhu tubuhnya, semuanya normal, aku juga sudah memberinya Asi, tapi putriku masih terus menangis seperti ini." jawab Megan, terlihat frustasi.


"Boleh aku melihatnya?" tawar Zen yang merasa sedikit tak nyaman mendengar bayi tersebut terus menangis.


"Silahkan tuan.."


Setelah mendapatkan ijin, Zen pun melangkah menuju box bayi, ia mengangkatnya perlahan dan meletakan nya di atas sebuah alas untuk memeriksa apa yang membuat bayi tersebut merasa tak nyaman.


Kemudian lahirlah Ken, adik keduanya diusianya yang cukup dewasa, dan dari sana ia semakin belajar banyak hal tentang seorang bayi dan bagaimana mengurusnya. Jadi Sedikit banyak Zen sudah cukup berpengalaman.


Setelah Zen membuka baju tebal yang membungkus tubuh bayi tersebut, pertama-tama Zen mengetuk pelan perut bayi mungil tersebut, barangkali ia rewel karena perutnya kembung, namun ternyata, perutnya baik-baik saja.


Sementara Zen melakukan kegiatannya, Zoya, Cassian serta Megan turut memperhatikan dengan seksama apa yang tengah Zen kerjakan.


Zen juga memeriksa setiap lipatan yang ada pada kulit bayi tersebut, dan seketika mendapatkan penyebabnya.


"Ini yang membuatnya tak nyaman." ucap Zen, kemudian merasakan suhu di tubuh bayi tersebut dengan punggung tangannya.


Ada ruam yang cukup besar di atara lipatan tengkuk bayi tersebut, dan terlihat cukup parah. Kondisi tersebut biasanya di sebabkan karena kain pembungkus tubuhnya yang tidak aman di kulit sehingga menimbulkan alergi, dan menimbulkan ruam seperti saat ini.


"Apa kalian memiliki salap untuk alergi pada bayi?" tanya Zen pada Cassian dan Megan. "Emm. Salap sepertinya tidak ada tuan, tapi kami memiliki ini. Apa kah ini bisa digunakan?" Megan menunjukan botol cairan untuk peradangan di kulit.


Zen mengambil botol nya dan membaca keterangan serta petunjuk penggunaan, "Ini bisa di gunakan, oleh kan secara tipis saja, kemudian berikan bedak tabur di atasnya agar memberikan efek dingin, kemudian ganti pakaian nya dengan bahan yang lebih lembut, dan yang penting tidak menimbulkan suhu panas, atau ruamnya akan semakin parah." Jelas Zen, yang langsung di lakukan oleh Megan.


Hati Zoya menghangat melihat apa yang telah suaminya itu lakukan. Ada semacam perasaan kekaguman dan juga kehangatan yang menyentuh hatinya saat melihat betapa sigap dan cekatan nya Zen dalam mengurus hal tersebut.

__ADS_1


Setelah Megan melakukan seperti yang Zen katakan, akhirnya bayi mungil tersebut dapat tertidur dengan pulas. "Terima kasih untuk bantuan mu, bung." ucap Cassian, yang merasa sangat lega melihat bayinya bisa di tenangkan. "Tidak masalah, aku senang bisa membantu." balas Zen.


Setelah Sabrina di tidurkan, mereka duduk bersama diruang tamu untuk berbincang-bincang, dan menikmati kudapan yang sudah disiapkan oleh Megan.


Banyak hal yang di ceritakan oleh Megan, diantaranya; tentang kehamilan, pengalaman melahirkan dan juga pengalaman sebagai orang tua baru yang benar-benar mandiri, tampa dampingan siapapun.


Ada semacam perasaan kagum yang muncul di hati Zoya saat mendengar tentang cerita Cassian dan Megan, perasaan tersebut juga berangsur-angsur membuat Zoya merasa nyaman, dan sebagai pembelajaran baru baginya yang suatu hari akan menjadi seorang ibu.


Keluarga kecil Cassian membuat Zoya merasa memiliki keluarga dan sahabat baru yang bisa saling berbagi cerita dan juga hal menarik lainnya.


"Terima kasih sudah menerima kunjungan kami Megan, Cass.." pamit Zoya pada sang tuan rumah. "Kau bisa berkunjung kapan saja kau mau Zoya, aku akan senang jika kau sering-sering menemui ku." jawab Megan.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan sering melakukan nya."


...❄️❄️❄️...


Setelah tiba dirumah, Zoya meletakan tas dan juga mengganti pakaiannya, sementara Zen langsung duduk diruang tamu untuk memeriksa Email yang baru saja dikirimkan oleh sekretarisnya.


Tak ingin menggangu suaminya yang saat ini tengah fokus bekerja, Zoya juga menyibukkan diri dengan mengurus pekerjaannya, setelah ia memesan makanan delivery untuk makan siang mereka.


Satu jam kemudian, terdengar ketukan di pintu. Itu adalah pengantar makanan.


"Mau makan sekarang?" tawar Zoya pada suaminya.


"Apa kau sudah lapar sayang?" balas Zen.


"Sebenarnya belum. Kalau kakak?"


"Bisa kita tunda sebentar lagi? aku sungguh-sungguh harus segera memeriksa semua berkas ini." ucap Zen.


"Kalau begitu, ingin ku buatkan minuman saja?" tanya Zoya yang duduk di atas tempat tidur, keduanya memilih tempat terpisah untuk bekerja.


"Terima kasih sayang, itu sangat di butuhkan sekarang." jawab Zen yang masih berkutat dengan laptopnya.


Tak hanya membuat minuman, Zoya juga memijat bahu suaminya, agar tak merasa lelah. "Kau suka kak?"


"Ini sangat nyaman sayang. Terima kasih." Zen melenguh merasa rileks di bahunya Karena pijatan lembut tangan istrinya.Jika bukan karena pekerjaan nya penting, Zen lebih memilih untuk melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan Zoya. Tentu lebih menyenangkan. Ahh.. semoga pekerjaan ini cepat selesai.


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2