My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
NEXT STEP


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


Suasana makan malam kali ini terasa berbeda.


Tidak ada obrolan-obrolan hangat ataupun candaan yang biasa nya terlontar dari Zen maupun Zoya.


Zoya hanya menjawab singkat semua pertanyaan Daddy-nya, tak berminat untuk ikut terlibat dalam obrolan lebih dalam. Begitu juga dengan Zen. Saat Zen ingin mencairkan suasana dengan Zoya, gadis itu hanya membalasnya dingin.


Rehan maupun Julie sadar betul jika anak-anak mereka sedang melewati proses mengenal pasangan masing-masing, yang tentunya harus mereka temukan sendiri jalan keluarnya, karena itulah Rehan dan Julie memilih untuk tidak terlibat meskipun Julie dan Rehan sudah sangat gemas ingin melontarkan berbagai pertanyaan, pendapat dan wejangan ala-ala mereka untuk kedua putra dan putri nya yang saat ini sedang dalam mode perang dingin.


"Mom ,Dad, aku sudah selesai.Aku balik ke kamar duluan.'' Zoya menyeka mulutnya setelah itu beranjak dari kursi. Sementara Rehan dan Julie hanya mengangguk dan tersenyum hangat seperti biasa.


"Ehmm. Dad..


"Kami tau Son, susul lah. Bicarakan baik-baik, tapi jangan melukai putri Dady terlalu dalam karena Dady tidak akan membiarkan itu.'' Rehan memberikan ijin pada Zen dengan tatapan yang serius.


"Aku tau Dad..'' Zen pun langsung menyusul Zoya ke kamarnya.


...Tok..Tok.....


''Zo'e, kita harus bicara. Boleh aku masuk?" Zen menunggu di depan pintu, namun Zoya sepertinya enggan merespon ajakan Zen.


...Tok..Tok.....


"Zo'e, bicaralah padaku! atau aku akan menunggumu sepanjang malam disini.'' katanya lagi.


...Ceklek....


''Ayo kita bicara. Tapi bukan disini.'' Zoya melewati Zen dan berjalan lebih dulu.

__ADS_1


Zen langsung menyusul Zoya, menyamakan langkah keduanya. Zen tau jika gadis kecilnya itu sedang marah padanya, namun Zen tetap saja memberanikan diri untuk menggenggam tangan Zoya.


Gadis itu juga hanya membiarkannya saja, tak ada penolakan ataupun lirikan mematikan, yang tersisa hanyalah keheningan yang mengiringi langkah keduanya.


Zoya mengarahkan langkah nya keluar dari pintu samping menuju ke taman yang terletak di samping rumah nya. Ada beberapa tempat yang nyaman di sana, untuk sekedar bicara.


Setelah sampai Zoya menuju salah satu Gazebo yang menghiasi taman itu lalu duduk di sana, kemudian Zen pun mengambil tempat di sebelahnya.


"Bicaralah!!'' suara Zoya terdengar datar.


"Masih marah?" Zen memiringkan tubuhnya condong kearah Zoya menatap langsung wajah gadis kecilnya yang terlihat enggan membalas nya.


"Kenapa harus marah? aku gak marah kok sama kakak.'' Zoya melihat sekilas pada Zen lalu memalingkan wajahnya begitu saja.


"Gak marah tapi malah buang muka gitu?" Zen masih memegang tangan Zoya, mengusapnya lembut.


"Sayang, aku minta maaf kalau udah bikin kamu marah, dan juga kata-kata kasar aku sebelumnya, aku tau aku salah." Zen menghembuskan nafas gusar.


"Kamu tau berapa lama aku mencintaimu?''


"Entahlah.'' jawabnya singkat.


Zen tertawa kecil lalu kembali menatap pada Zoya. ''Itulah masalahnya Zo'e.- Kamu gak tau gimana perasaan ku selama ini sama kamu. Bagaimana cara aku melewati hari-hariku seraya terus menjaga cintaku padamu. Jika sekarang kamu berpikir apakah aku pernah lelah atau menyerah dengan cintaku selama ini, maka jawabannya TIDAK."


"Buat aku, cinta adalah kamu, dan kamu adalah hidupku. Gak akan ada seorangpun yang bisa menggeser posisimu meskipun hanya sedetik, gak ada.'' Zen menatap dalam mata kekasihnya. Wajah kekasihnya yang sudah ia cintai lebih dari separuh hidupnya.


Perasaan Zoya terasa membuncah. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Apa ia terharu? tentu saja. Bagaimana mungkin pengakuan seperti ini tidak menggetarkan hatinya? dirinya bukanlah wanita picik yang tidak bisa tersentuh dengan pengakuan manis seperti ini, bahkan ini jauh lebih manis dari apapun.


"Zo'e,, dalam hidupku ada beberapa ketakutan yang selalu menghantuiku, yaitu takut kalau ternyata kamu gak bisa mencintaiku, takut kalau ternyata perasaan ku selama ini hanya bertepuk sebelah tangan, dan takut jika aku kehilangan kamu selamanya. Aku tidak pernah ragu sedikitpun dengan perasaan ku, tapi aku belum yakin bagaimana dengan perasaanmu." jeda Zen.


"Saat kamu menerima cintaku malam itu, bagiku itu adalah saat terindah dalam hidupku. Tapi setelahnya aku lupa akan satu hal, yaitu apakah cintamu sama kuatnya dengan cintaku. Karena itulah selama ini aku bersikap sedikit atau mungkin lebih egois dan juga posesif sama kamu, karena aku gak mau kehilangan kamu."


"Maaf kalau perasaanku membebani mu dan juga mengekang kebebasan mu, aku tidak bermaksud seperti ini, hanya saja aku gak bisa bersikap biasa saja saat ada laki-laki lain yang juga mungkin diam-diam menyimpan perasaan padamu, atau mungkin saat ini juga sudah jatuh cinta padamu. Sungguh semua ini bisa membuatku menjadi gila. Memikirkan nya saja sudah membuatku sangat frustasi, apalagi jika itu menjadi sebuah kenyataan. Maaf Zo'e tapi aku gak bisa. Aku gak bisa membiarkan semuanya terjadi seperti yang mereka mau, tidak jika itu berhubungan dengan mu. Bisakah kamu memahami ini? perasaanku?''


Dada Zoya terasa sesak. Sesak karena penuh dengan kebahagiaan. Bagaimana ia bisa menyatakan perasaan nya selantang Zen mengungkapkan semua perasaan nya sendiri. bIsakah Zoya bertanggung jawab atas perasaan itu.

__ADS_1


Yakin kah ia akan perasaan nya sendiri. Bisakah cintanya sekuat cinta Zen padanya. Haruskah ia juga mempertahankan semua perasaan nya selama ini? bisakah ia tidak menyakiti Zen? Bisakah cintanya bertahan sampai akhir? semua pertanyaan itu seakan menguap begitu saja. Dirinya, cintanya, bahkan hidupnya, benarkah sudah perasaannya dan juga keputusan nya? Kenapa ia harus meragukan dirinya saat ini?


"Zo'e..?"


Remasan di tanganya membuat Zoya kembali pada dirinya setelah ditelan oleh pikirannya yang berkecamuk melahap habis logikanya.


"Hhhmm?''


"Bisakah kita kembali seperti sebelumnya? aku gak suka situasi ini, terlalu sesak rasanya saat aku memikirkan mu saat marah seperti ini. Aku ingin kita yang baik-baik saja seperti sebelumnya. Bisakah?''


Benarkah yang ia lakukan? Bisakah ia mengembalikan semuanya seperti sebelumnya? Kenapa masalah ini harus seperti ini, tidakkah ini berlebihan?


dan juga kenapa harus ada orang lain di antara mereka berdua, tidak bisakah hanya dirinya yang memiliki Zoya selamanya. Egois kah dirinya? bahagia kah Zoya bersama dirinya jika seperti ini?


''Kak, aku,- Aku gak tau gimana sejujurnya perasaan aku sama kakak. Aku juga gak yakin apakah cinta aku sebesar cinta kakak, hanya saja. Aku gak pernah berpikir untuk memasukan orang lain dalam hubungan kita."


"Bisakah aku bertahan sampai akhir, aku juga gak tau. Tapi kalau memang cinta kakak membuat hidupku terkurung seperti ini, hanya ada aku dan kakak di dalam cinta ini, dan jika memang gak akan pernah ada pihak lain diantara kita, maka jawaban ku untuk cinta itu adalah -YA- karena aku lebih rela memberikan hidupku untuk dihabiskan bersama kakak daripada bersama orang lain. Entah itu cinta atau hanya sebuah keinginan, aku belum tau, tapi seperti itulah jawabanku.''


Pengakuan dua sisi yang ditutup dengan sebuah ciuman manis yang menggetarkan.


"Kita mulai dari awal lagi?"


"Hmmm. NO!"


"Kenapa..?"


"Kenapa harus mulai dari awal, kalau kita bisa melanjutkan yang sudah kita jalani sejauh ini..?


"Hmmm.. I Love you, Zo'e.''


"I Love you too Zen."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2