
...Enjoy...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
Lova mengerjapkan mata nya saat ia mulai terbangun dari tidur yang membuat tubuhnya terasa lebih nyaman.
Tangan nya dengan spontan meraba di atas nakas mencari jam weker yang seharusnya memang berada di sana. Tapi tidak ada.
Alhasil tangan nya ia gunakan untuk mengusap pelan wajahnya, "Ah, di sana rupa nya." Gumam Lova saat mata nya mendapati jam yang tergantung dengan elegan di dinding.
Pukul 9. "Astaga!" Lova segera terduduk dan mengamati dirinya. Ia masih mengenakan gaun sisa semalam. Dan Ken? Lova mengamati sekitar kamar, namun kosong. Tidak ada keberadaan Ken di sana.
Lova meringis dalam hati, namun telinga nya menangkap suara guyuran air yang mengalir dari arah kamar mandi. Itu Ken. Pasti.
Otak Lova mulai memutar rekaman kejadian semalam dengan otomatis. Bagaimana resepsi pernikahan nya berjalan dengan luar biasa, baik-baik saja, meskipun tamu yang datang seharusnya sesuai dengan undangan, tapi ternyata melebihi dugaan.
Itu adalah pesta pernikahan mereka, tentu mereka harus menjamu semua tamu dengan sangat baik.
Alhasil, resepsi yang seharusnya hanya berlangsung selama dua jam, di perpanjang hingga pukul 11 malam. Semua orang bahagia? tentu saja. Dan Lelah pasti nya.
Rekaman di kepala Lova juga dengan otomatis memutar ingatan, bagaimana dirinya yang kembali ke dalam kamar dengan keadaan kelelahan.
Bagaimana ia juga menghempaskan tubuhnya dengan cara yang jauh dari kata elegan, bahkan sama sekali tidak, lalu ia tertidur. End.
...❄️❄️...
****!
Lova tertidur dan Meninggalkan Ken begitu saja? Oh My..! Semoga Ken tidak merasa kesal atas sikap Lova.
Setidaknya Lova mengucapkan selamat malam kepada Ken. Kepada suaminya. Tapi apa yang ia lakukan?
"Wah. Kau sungguh luar biasa L" Lova menceramahi dirinya sendiri.
Dengan perasaan bersalah, Lova bangun dari atas tempat tidur, sambil mengangkat gaun nya. Ia sedikit tergopoh-gopoh, namun berhasil berdiri di depan cermin.
"Lihat wajah mu L, untung saja kau sedikit cantik!" Omel nya lagi, seraya membersihkan make up, serta merapikan rambut nya juga.
Setidaknya, ia bisa berpenampilan agak rapi sebelum Ken keluar dari balik pintu di sudut sana.
"Ah, L. Kau benar-benar! Berdoa saja semoga di hari pertama mu menjadi seorang istri, kau tidak mendapatkan Surat peringatan atas sikap mu!" lagi, ia mengutuk diri sendiri.
Saat suara pancuran air dari kamar mandi berhenti, tubuh Lova menegang. Otak nya langsung berusaha mengumpulkan dan menyusun kosa kata yang seharusnya dapat termaafkan untuk perilaku nya semalam.
Ceklek.
Suara kenop berbunyi dengan begitu pelan, namun masih bisa Lova dengarkan, sehingga tubuhnya juga berputar dengan spontan.
Ken keluar dengan mengenakan bathrobe yang membungkus tubuhnya. Namun Lova masih bisa melihat sekilas dada bidang yang bersembunyi di balik jubah tersebut. Ken sangat manly.
Suami nya juga terlihat bersih dan segar dengan rambut basahnya yang berantakan. "L, kau sudah bangun?" sapa Ken, saat mata keduanya bertemu.
"Ak.. Ya. Aku baru saja bangun." sahut Lova tergagap. Jantung nya lagi-lagi berdebar tak karuan.
Cup.
Ken mendaratkan ciuman di kening Lova. "Astaga!" cicit nya dengan wajah merona. "Astaga?" ulang Ken lagi. Bodoh Bodoh. Bodoh.
Lova merutuki dirinya karena tak menyadari kedekatan Ken, dan juga karena mulutnya yang selalu saja mengucapkan hal-hal yang seharusnya hanya berada di dalam kepala nya.
"Tidak. Tidak apa-apa." Sahut Lova cepat. Ia merona bercampur malu. "Tidur mu nyenyak?" Tanya Ken, dengan tangan yang melingkar sempurna di pinggang Lova.
Dan lagi-lagi pikiran Lova teralihkan karena wangi sabun yang menguar dari Ken. Manis dan segar. "L, kau baik-baik saja?" ulang Ken, dengan senyum simpul dan juga kening sedikit berkerut. "Ya. Sangat nyenyak. Terima kasih. Ah.. tidak. Maaf." Tenanglah.. ku mohon!
"Maaf...?" Ya Tuhan, kenapa Ken tidak bisa membiarkan kata-katanya berlalu begitu saja. "Ya, maaf. Karena semalam aku tidur begitu saja." cicit Lova yang sudah mengalihkan pandangan nya.
Namun aneh nya Ken malah tergelak. Bahkan tawa Ken membuat Lova merasa bingung. "Itu pilihan yang benar sayang. Dan kau tidak salah sama sekali.- Lagi pula aku tau kau lelah setelah serangkaian panjang acara pernikahan kita. Begitu pula dengan ku."
"Kau juga?" sela Lova.
"Tentu, aku juga. Kau pikir aku ini apa, robot? tentu saja aku juga bisa lelah seperti dirimu." Sahut Ken masih mengulum senyum.
"Katakan pada ku, apa kau minta maaf karena kau pikir seharusnya semalam menjadi malam pertama kita sebagai pasangan suami istri?" Ken benar-benar!
Bagaimana suaminya itu bisa bertanya dengan begitu gamblang seperti ini. Tak ingin membuat mulutnya mengatakan hal yang tidak seharusnya, Lova hanya menganggukkan kepalanya.
"Kita masih punya banyak waktu untuk melakukan hal yang kau pikirkan!" Ken mencolek hidung Lova dengan gemas. "Ku pikirkan?" Beo Lova dengan wajah merona. "Aku tidak memikirkan itu!" elak nya cepat.
"Aku yakin tidak."
"Ken, aku benar-benar tidak memikirkan itu!"
"Ku rasa juga begitu."
"Aku sungguh-sungguh!"
"Ya, ya, ya... baiklah." Ken sekali lagi tertawa. Namun tawa nya membuat Lova memberengut kan wajahnya dengan begitu menggemaskan.
"Kau sedang mengejek ku?" tuduh nya. Lagi-lagi membuat tawa Ken semakin menjadi-jadi.
"Tidak. Tidak sayang, sungguh. Hanya saja, jika kau terus menyangkal nya, wajah mu akan berubah semerah tomat." Ken mencubit pipi Lova karena tidak tahan dengan warna nya.
"Istri ku sungguh menggemaskan."
"Sebaiknya aku juga mandi." Lova melepaskan diri dari pelukan Ken, dengan cepat berjalan ke arah kamar mandi.
"Aku menunggu mu sayang!" seru Ken, sengaja menggoda Lova. Lalu tergelak lagi, saat mendengar pintu kamar mandi di kunci.
Di dalam kamar mandi, Lova kembali melihat wajah nya, dan benar saja, ia merona.
__ADS_1
Lova memang bukan lah seorang wanita pemalu jika berurusan dengan pekerjaan, tapi entah kenapa, jika hal-hal itu berkaitan dengan Ken, ia akan sangat mudah tersipu dan dengan spontanitas Yang tidak bisa ia kendalikan menjadi sosok yang feminim. Menyebalkan.
Sebaiknya ia berendam. Berendam di pagi hari dapat menjernihkan pikiran dan juga perasaan nya. Terutama jantung nya yang terus berdebar tak karuan.
...❄️❄️...
Tiga puluh menit kemudian, Lova ingin menyudahi mandi nya. Ia sudah terlalu Lama berada di sana. Bagaimana pun hari sudah semakin siang.
"Sial!"
Entah berapa sering sudah, Lova melakukan dosa dengan mulutnya yang terus saja mengutuki diri sendiri.
Bagaimana ia tidak mengumpat, Lova lupa untuk membawa pakaian nya ke dalam kamar mandi. Ia tidak mungkin mengenakan gaun itu lagi, hanya ada handuk dan juga..
"Jubah ini lebih baik dari pada menjadi setengah telanjang." ujar Lova, menyambar jubah mandinya dengan cepat.
Setelah membungkus tubuh dan juga rambutnya yang basah dengan handuk, Lova pun keluar dari kamar mandi dengan perlahan. Ia sedang mengamati situasi. Hening.
"Ken, apa kau ada di sana?" seru Lova, masih di depan pintu kamar mandi. Namun tidak ada jawaban.
"Ken..?" ulang Lova sekali lagi.
Saat yakin tak ada suara apapun, Lova pun merasa aman keluar dari kamar mandi.
"Kau mencari ku L..?" sahut Ken, yang ternyata sedang bersandar di tembok, namun dengan posisi yang tidak Lova sadari.
"Kau..!" Saat Lova hendak berlari kembali ke kamar mandi, Ken lebih dulu menahan tangan nya.
"Mau kemana?" Tanya Ken, sambil mengulum senyum. "Kau sengaja?"
"Lalu, apa kau akan berada seharian di dalam sana?" Ken mengunci Lova dengan kedua tangan nya, hingga hanya tersisa sedikit jarak di antara kedua nya. Ah, atau tidak lagi. Setelah Ken bergerak untuk menutup jarak yang tersisa.
"Kau berusaha menghindari ku, istriku?" Ken bersuara lambat-lambat. "Ak.. Tidak. Aku tidak melakukan itu." Elak Lova dengan tatapan ragu. Ken tau itu sebuah kebohongan.
"Ah, benarkah. Lalu kenapa kau ingin masuk lagi ke dalam? Kau ingin kita melakukan nya di sana? Kau yakin?" goda Ken lagi. Kini Lova benar-benar merona dengan sempurna.
"Yang benar saja, kau gila!" sahut Lova malu-malu. "Kalau begitu.. "
"Awww!"
Lova terperanjat saat Ken membopong tubuhnya dalam sekali gerakan. Ia membawa tubuh istri nya ke atas tempat tidur, namun tidak membaringkan Lova seperti yang seharusnya, melainkan ia mendudukkan Lova hingga gadis itu bisa menyenderkan tubuhnya.
"Kita belum sarapan." Ken tersenyum jahil.
Ia bangkit dari atas ranjang, menuju ke luar kamar. Apa yang ingin Ken lakukan? Astaga. Ken masih mengenakan jubah mandi, dan Lova juga. Sepertinya Lova terlalu sering merona pagi ini.
Saat Ken muncul kembali dengan nampan di tangan nya, Lova tersenyum. Saat ia hendak bangun karena ingin membantu Ken menata meja, Ken memberikan peringatan dengan telunjuk nya, agar Lova tidak bergerak.
"Ayo kita sarapan. Setelah perut kita terisi, kita bisa melakukan apa saja." ujar Ken dengan sengaja menggoda istrinya.
Yang benar saja. Lova merasa seperti ternak yang di berikan makan sebelum menuju rumah penjagalan. Tapi pastinya disini jauh lebih baik dari pada di sana.
"Susu, atau jus?"
"Susu saja."
"Apa?"
"Tidak ada, hanya saja aku juga akan memilih susu."
"Menyebalkan!"
"Siapa?"
"Tukang post."
"Kau mengirim Surat?"
"Tidak."
"Lalu...?"
"Burung."
"Burung? untuk siapa, untuk ku? Aku tidak memerlukan itu. Aku sudah punya."
"Dimana?"
"Ada. Ku simpan."
"Asli? Atau pajangan?"
"Percayalah, aku memilikinya bukan untuk pajangan."
"Kalau begitu hidup?"
"Akan hidup tergantung situasi?'
Lova mengerutkan Kening nya.
"Sungguh." Yakin Ken dengan wajah datar.
Lova memutar matanya, lalu mereka sama-sama tergelak. Selapis roti berisi daging dan juga telur serta sosis panggang sudah masuk dengan teratur ke dalam perut Ken dan Lova.
Setelah menghabiskan susu di gelas masing-masing, Lova menyusun nampan kedua nya kembali ke atas nakas.
"Kau masih lelah, sayang?" Tanya Ken sambil memainkan jari Lova.
"Apa yang kau inginkan? Kau ingin melakukan itu?" tanya Lova juga. Ia tak akan bersikap naif. Mereka sudah dewasa, dan juga mereka adalah sepasang suami istri.
Mereka boleh melakukan apa saja yang mereka inginkan. Dan sudah kewajiban Lova untuk menuruti permintaan suaminya, jika memang itu yang Ken inginkan.
"Kau sungguh tidak lelah...?"
"Tidak. Hanya saja, perut kita baru saja terisi. Apa tidak sebaiknya kita menunggu sebentar lagi..?" saran Lova.
"Ide yang bagus. Bagaimana kalau kita menonton saja?" ajak Ken, dengan antusias.
"Film apa?"
__ADS_1
"Apa yang ingin kau lihat?"
"Disney."
"Kau suka itu? sungguh?" Lova mengangguk. "Yang mana?"
"The Great Showman, mungkin."
"Ah, baiklah, kita nonton yang itu saja."
Keduanya sangat menikmati film tersebut. Di bagian musik di mainkan, Ken akan mengamati wajah istrinya yang juga turut bernyanyi dengan riang. Saat Lova berbalik untuk menangkap basah Ken, suaminya itu malah menciuminya.
"Kau masih menonton? karena aku lebih suka mencium mu seperti sekarang." bisik Ken. Lova menggeleng. "Aku rasa aku perlu mencium mu lagi."
Ken mendekatkan wajahnya, lalu mencium Lova dengan lembut. Sementara tangan nya meremas pelan tangan Lova untuk mengirimkan sinyal perasaan nya.
Lova masih dapat merasakan sedikit rasa manis di lidah nya saat Ken menjelajahi mulutnya. Hembusan hangat nafas Ken sungguh menggelitik wajah Lova.
"L.. " Ken mengerang di bibir Lova. "Istriku." Ken menarik turun tubuh Lova hingga bisa berbaring.
Lova begitu ramping. Sosok mungil yang begitu ramping, dan Ken sangat suka saat memeluk tubuh Lova.
Lova juga membalas ciuman Ken dengan api yang mengancam akan membakar mereka berdua. Ken membawa tangan nya untuk membuka tali pengikat jubah Lova, sementara mulutnya menjelajah ke segala tempat.
Ken menciumi Lova secara berulang. Turun ke rahang, dan juga dengan perlahan menghujani pundak Lova dengan begitu banyak ciuman dan juga sesapan.
Satu-satunya respon Lova hanyalah erangan penuh hasrat, dan gerakan yang kecepatan nya mencengangkan.
Saat tubuh Lova sudah terpampang di hadapan Ken dengan begitu indah. Lova merona dengan begitu sempurna. "Kau sungguh luar biasa L." puji Ken saat terdiam untuk menatap setiap lekuk dan juga bagian-bagian yang selama ini selalu tertutupi.
Ken, dapat melihat urat nadi yang berdenyut di balik kulitnya yang putih sempurna, serta gerakan naik turun yang saat ini tengah membusung dengan begitu indah dan menggoda.
Lova masih memejamkan matanya. Ia terlalu malu untuk melihat tubuhnya yang polos, serta tubuh Ken. "Lihat aku L." perintah Ken yang menyerupai sebuah bisikan yang begitu menggoda.
Saat Lova memberanikan dirinya untuk melihat, Ken berada menjulang di atas nya. "Kau tidak ingin menyentuh ku?" Ken meraih tangan Lova dan menuntun nya, untuk membuka ikatan jubah Ken.
Ini akan menjadi kali pertama bagi Lova untuk melihat bentuk tubuh yang berbeda dari miliknya. Bentuk tubuh suaminya.
Dalam sekali sentakan, Lova menarik ikatan itu dengan cepat, hingga jubah Ken terbuka. Dan jujur saja, tubuh Ken terlihat lebih indah dari yang Lova pikirkan.
Otot tercetak di tempat yang seharusnya, dan terisi tepat dengan ukuran nya. Ken begitu sempurna. "Kau indah." ucap Lova dengan wajah merona.
"Begitupun dirimu sayang." Ken menyingkirkan jubah nya lalu kembali menciumi Lova. Kali ini ciuman yang lebih dalam dan lebih intim.
"Aku mencintai mu."
"Kau cantik." bisik nya, mengecap kulit di bawah telinga Lova.
"Kau memukau." gumam nya, menelusuri lidahnya ke sepanjang lekuk leher Lova.
"Kau milik ku." ujar Ken lagi kepada istrinya, dan ia pun membungkuk untuk memulai semua yang seharusnya perlu untuk di mulai.
"Aku akan berusaha agar tidak menyakiti mu sayang. Hentikan aku jika aku berlebihan." bisik Ken sambil mengerang.
Lova hanya menganggukkan kepalanya. Ia sudah tak bisa berpikir jernih sementara segala sesuatu terasa begitu asing namun ia begitu mendamba.
Lova benar-benar suka saat Ken begitu menginginkan dirinya seperti ini. Membuatnya merasa begitu Cantik, dan sempurna.
"Dekap aku L. Dekap aku." bisik Ken di permukaan kulit Lova yang bergidik.
"Ken.. " Lova terkesiap.
Ken mengerang. Lova sudah siap untuk nya. Lova bertubuh mungil, dan seperti yang sama-sama mereka ketahui, masih perawan. Begitupun dengan Ken, ia tak pernah menyentuh wanita manapun selain istrinya, Lova.
Ia akan sangat berhati-hati saat bercinta dengan Lova. Bergerak perlahan dan dengan kelembutan yang bertentangan dengan api yang menyala-nyala dalam dirinya.
Lova mencengkeram punggung Ken dan menjerit dengan frustasi. Atau mungkin ia menggumamkan nama Ken. Entahlah yang mana saja.
Lova tak bisa mendengar apapun selain darah yang mengalir deras di sepanjang tubuhnya yang terasa menghangat saat Ken mulai mendorong masuk, untuk menyatukan tubuh mereka.
Semua terjadi begitu cepat. Ia merasakan ketegangan Lova, dan ia menghela tubuhnya sejauh yang ia bisa, "Kau baik-baik saja? Apakah aku menyakitimu?"
"Jangan berhenti." Lova mengeram. "Ku mohon." Setelah itu mereka berhenti bicara.
Ken mempercepat percintaan, didorong oleh desakan yang tidak sepenuhnya ia pahami. Satu-satu nya yang ia tahu adalah ia membutuhkan Lova. Ia butuh mengisi Lova, di penuhi Lova. Ia ingin Lova mendekapnya, serta menyambutnya.
Lova mendamba. Mungkin sama mendamba nya seperti Ken Sendiri, dan hal itu semakin menyulut api gairah Ken.
Ia dekat, semakin dekat, bahkan hampir tak bisa menahan diri dari meledak. Kemudian- Lova pun menjerit saat tubuhnya menghangat.
Ken mencapai puncak nya hingga tubuh Lova pun turut bergetar oleh rasa kenikmatan yang tak bisa di gambarkan dengan kata-kata.
Ken roboh di pelukan Lova, berbaring di sana selama dua tarikan nafas, lalu menggulingkan tubuh nya agar tidak menindih Lova.
Mereka berbaring di sana selama beberapa waktu hanya untuk membiarkan tubuh mereka mendingin. Hingga akhirnya Lova menghembuskan ******* pelan.
"Oh wow."
Ken dapat merasakan diri sendiri tersenyum.
"Itu tadi.... " Lova tak dapat menyelesaikan kata-katanya.
"Tadi itu apa?"
Lova menggeleng-geleng. "Aku bahkan tidak tahu bagaimana menggambarkan nya." Nafasnya masih berkejar-kejaran.
"Bagaimana itu di mulai.-
"Ku rasa itu di mulai dengan, Aku mencintai mu.-" sahut Ken. Lova mengangguk-angguk.
"Dan di akhiri.. " sela nya..
"Itu tidak akan berakhir sayang. Tidak akan."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1