
...ENJOY...
.......
.......
.......
Setelah selesai memasang baju dan juga menguncir rambutnya, Zoya segera turun menyusul Zen.
Terlihat dimeja makan sudah ada Ken yang akan pergi ke sekolah, dan juga Dady, serta kekasihnya tidak lupa juga koki terbaik di dunia, mommy nya.
"Selamat pagi." Sapa Zoya kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Zen.
"Pagi angel,.'' Rehan membalas sapaan putrinya, sambil menyapu mulutnya dengan serbet. ''Angel. Kau sudah membaca kontrak yang di kirimkan A.S Group?" tanya Rehan.
"Belum Dad, ada apa?"
''terimaa kasih'' Zoya tersenyum pada Zen yang menyerahkan piring sarapan yang sudah terisi oleh roti dan juga buah-buahan.
"Kontraknya baru sampai kemarin sore di kantor, Dady juga sudah menandatanganinya sayang. Kerja mu sangat bagus.'' puji Rehan sambil memperlihatkan senyum bangga nya.
"Baguslah kalau memang Dady menyetujui kesepakatan itu.'' pikir Zoya lagi. Setidaknya semua pekerjaan nya membuahkan hasil yang ia inginkan.
"Tentu saja. O, ya jangan lupa, rapat pertama nya hari ini pukul 10 di A.S Group, begitu agendanya.'' Rehan mengingatkan Zoya.
"Kenapa aku harus? tunggu, Dad apa Dady memintaku hadir dirapat itu?''
"Bukan kah memang seharusnya begitu angel?" Rehan mengerutkan kening nya mendengar nada heran dari putrinya.
"Maksud Dady? kenapa bukan Dady saja, kan Dady direkturnya, lagipula aku ada kelas jam 11 nanti.'' Zoya memberengut malas. Sementara Zen dan Ken hanya mendengarkan percakapan keduanya.
"Tapi isi perjanjian kontraknya mengharuskan itu sayang. Karena kamu yang menjadi ketua tim proyek ini, bukan? setau Dady itulah yang kita setujui."
Mendengar itu Zoya hanya menepuk kepalanya pelan. Sial. Bisa-bisanya William menganggap serius persetujuan Zoya. Tidakkah ia mengerti jika Zoya tida ingin dilibatkan.
"Apa Zo'e memenangkan sebuah tender? begitu kah Dad?" Zen bersuara melihat keengganan di wajah Zoya. Ia tau jika sudah seperti ini, pastilah sesuatu yang tidak disukai oleh kekasihnya itu. Metode peralihan.
"Bukan tender son. Tepatnya sebuah perjanjian investasi untuk proyek baru, dan Zo'e lah yang membuat kerjasama itu berhasil." jelas Rehan masih terlihat bangga.
"Lalu kenapa Zo'e harus terlibat Dad? jika Zo'e tidak menyukai-
"Isi kesepakatan nya tertulis seperti itu son, dan setau Dady itulah persyaratan yang mereka sepakati, benarkan angel?" Rehan melihat pada Zoya.
Sementara gadis itu hanya mengusap wajahnya malas.
"Itu memang bagian dari perjanjian nya Dad, tapi saat itu aku hanya asal mengiyakan saja, aku tidak bermaksud benar-benar
"Kamu tidak bisa menganggap ini sebagai sesuatu yang main-main angel. Ini menyangkut banyak hal, bukan hanya keberhasilan proyek itu, tapi juga masa depan perusahaan kita. Apa sekarang kamu ingin Dady membatalkan kerjasama itu karena kamu tidak ingin menjadi ketua tim nya, begitukah?" suara Rehan terdengar lebih rendah.
Zoya tidak ingin Dady nya membatalkan kerjasama yang sudah ia dapatkan dengan adil, namun jika seperti ini, sial.Sial.
William itu, benar-benar berniat menyusahkan Zoya dan tidak membiarkan gadis itu lepas tanggung jawab.
__ADS_1
"Mommy rasa ini akan bagus untuk pengalaman pertama mu sayang.'' Julie menyentuh pelan tangan Zoya sebelum mengambil tempat di sebelah Rehan.
"Benar begitu kan Zen?" Julie meminta persetujuan Zen.
"Jika Zo'e mau mencobanya aku rasa itu tidak masalah Mollie, dan aku yakin gadis kecil ini akan mampu menjalankan proyek ini.'' Zen tersenyum memberikan semangat pada Zoya.
"Tapi bagaimana dengan kelas-kelas ku kak? Dad, mommy? Aku seorang pengajar, dan aku suka profesiku. Aku mencintai pekerjaan ku. Aku-
"Dady tidak memaksa mu jika kamu memang tidak ingin menyanggupinya angel.- Rehan melembut. ''Daddy akan bicara pada Direktur nya, mungkin saja ia akan setuju."
"Aku rasa A.S Group tidak akan menerima itu Dad, aku bisa melihat itu pada direkturnya.- Zoya menghela nafas.
"Baiklah aku akan menghadiri rapat itu. Apa Dady akan pergi bersama ku?"
"Tidak angel. Dina yang akan menemanimu, dia yang mengurus semua berkas-berkas yang berkaitan dengan proyek ini, jadi dia akan menjelaskan semuanya saat kalian bertemu nanti."
Zoya hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku akan menunggu cerita mu dirumah Zozo." tambah Zen dengan cengiran nya.
"Apa arti senyuman mu itu Ken, apa kamu baru saja mentertawakan aku?" Zoya terlihat kesal pada Ken yang seakan-akan mengejek dirinya.
"Artinya, selamat menikmati menjadi seorang penerus Zozo, selamat, dan semangat!- Ken mengepalkan tangan nya setengah mengejek.
"Mom, Dad, aku sudah selesai, aku akan berangkat sekarang.'' pamit Ken pada kedua orang tuanya.
"Kak Zen, hati-hatilah di dekat Zozo, dia bisa menggigitmu jika sedang kesal." Ken sengaja bersuara keras.
"Makanlah dulu Zo'e, habiskan sarapan mu." Zen mendorong piring Zoya agar gadis itu mulai menyuapi dirinya.
Setelah selesai sarapan, Rehan meninggalkan meja makan terlebih dahulu. Sementara Zen masih di sana bersama Zoya.
"Apa kamu sangat tidak menyukai pekerjaan ini sayang?" Zen bertopang dagu menatap pada Zoya yang baru saja menyeka mulutnya.
"Aku bukanya tidak suka kak, tapi aku tidak berminat pada pekerjaan itu saat ini, aku hanya ingin fokus pada pekerjaan ku saja." lagi-lagi Zoya menghela nafasnya.
Memang pekerjaan itu tidaklah sulit untuk ia kerjakan jika ia memang menaruh minat dan memfokuskan dirinya. Hanya saja, Zoya tidak ingin melibatkan dirinya lebih jauh karena kecenderungan nya yang selau all out saat bekerja. Zoya tidak bisa mengerjakan pekerjaan setengah-setengah, dan kemarin adalah pengecualian bagi Dady nya.
"Jika hal itu memang tidak menarik minatmu, maka sebaiknya jangan. Karena ini berhubungan dengan perusahaan Dady dan juga berhubungan dengan nasib banyak orang sayang, jangan sampai keengganan mu merugikan perusahaan Dady.''
"itu sebuah nasihat kak?"
"Oh tentu saja. Sebagai seorang pengusaha senior, aku harus memberikan sedikit nasihat kepada pengusaha pemula sepertimu.'' Zen terdengar sedikit congkak namun dengan tingkah yang lucu, dan berhasil meloloskan sebuah senyuman di wajah Zoya.
"Kakak mau berangkat sekarang, biar ku antar.'' Zoya bangun dari kursinya.
"Baiklah, sepertinya memang sudah seharusnya aku pergi." Zen mengedipkan matanya. "Ah Zo'e seandainya saja aku tidak ada rapat pagi ini, aku sangat ingin mengantar mu kesana." Zen menggenggam tangan Zoya.
"Aku bisa pergi sendiri kak, dan aku akan baik-baik saja." Zoya meremas pelan tangan Zen menyentakkan agar Zen tidak perlu mengkhawatirkan nya.
"Kau yakin bisa sendiri?" Zen sekali lagi menatap Zoya sambil mengusap pelan tengkuk gadis itu.
"Aku bisa kak, jangan khawatirkan aku. Bekerjalah dengan baik aku akan mampir ke kantormu setelah pulang dari A.S Group.''
__ADS_1
"Baiklah sayang. Aku mencintaimu." Zen mencium kening Zoya.
"Hem, Aku tau."
Zoya melambaikan tangan saat mobil Zen mulai bergerak meninggalkan halaman rumahnya.
Begini kah rasanya jika nanti kami sudah menikah? pikiran Zoya kembali melayang merasa bahagia di setiap kesempatan bersama dengan Zen.
...❄️❄️❄️...
Pukul 10 tepat Zoya dan Dina sudah berada di A.S Group disambut oleh sekretaris Wiliam. Anehnya sekretaris laki-laki itu juga adalah seorang laki-laki.
Dan menurut pengamatan Zoya, sebagian besar pegawai di kantor itu juga adalah laki-laki. selera yang unik.
Sepertinya Wiliam lebih nyaman bekerja bersama sesama jenis di bandingkan dengan lawan jenis. Mungkin saja laki-laki itu tidak ingin di repot kan dengan wanita-wanita yang akan sengaja menggoda dirinya. Terutama karena ia seorang direktur muda yang Zoya akui, tampan.
"Lewat sini Nona. Tuan sudah berada diruang rapat." katanya pada Zoya dan juga Dina.
"Maaf jika aku lancang,- Zoya sedikit tersenyum pada laki-laki yang di ketahui bernama Jhon tersebut.
"Apakah pegawai di sini memang kebanyakan laki-laki atau hanya,-"
"Benar nona. Baru-baru ini pak Direktur mengubah penuh semua yang ada disini." jelasnya singkat.
Zoya hanya mengangguk faham.
Ting.
Saat pintu lift terbuka, Jhon langsung mengarahkan mereka ke salah satu ruangan yang sudah di tempati oleh William.
Laki-laki itu berdiri memunggungi mereka sambil menatap ke pemandangan luar.
"Perwakilan dari Zoya's Group sudah disini tuan.'' katanya mengingatkan.
Wiliam langsung berbalik saat sekretarisnya menyapa.
"Selamat datang nona Zoya,- Wiliam tersenyum.
Laki-laki itu tampak sedikit berbeda dari sebelumnya. Terlihat lebih ramah dan juga bersahabat.
"Terima kasih atas sambutan anda.'' Zoya menundukkan sedikit kepalanya.
"Jangan terlalu formal padaku Zoya, panggil saja aku William." katanya lagi.
,-Duduklah.''
"Bisa kita mulai sekarang?"
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1