My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
Waiting For New Life


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Diruangannya yang kental dengan nuansa hitam dan putih. Rehan menghabiskan setiap waktunya untuk berurusan dengan berkas-berkas yang selalu saja berhasil mengalihkan perhatian nya dari memikirkan Julie.


Kekasih hati yang telah lebih dulu pergi meninggalkannya. Ditemani secangkir kopi, Rehan kembali berfokus pada laptop Yang selalu menyala.


Entah sudah gelas ke berapa yang saat ini di seruput oleh nya, sepertinya Rehan memang telah menjadi pecandu minuman bercafein tersebut.


Tokk.. Tokk..


Keheningan di ruangan itu kini telah terganggu oleh suara yang berasal dari luar ruangan; ''Masuk!'' seru Rehan, masih tetap di posisinya.


Seperti biasa, tidak ada orang lain selain sekretarisnya yang akan melakukan hal tersebut. ''Saya mengantarkan berkas yang anda minta sebelumnya pak.'' kata Hana dengan sopan, seraya berjalan masuk ke dalam ruangan.


''Letakan saja disana. Akan ku lihat sebentar lagi.'' sahut Rehan masih fokus dengan berkas-berkas yang ada di hadapan nya.


''Bagaimana dengan investor yang baru? sudah membuat janji dengan mereka?" tanya Rehan, tanpa menoleh.


''Sudah pak. Pertemuannya akan di lakukan dalam waktu dua hari yang akan datang. Mereka juga meminta agar pertemuannya di lakukan di Singapore, karena pihak Investor tidak dapat meninggalkan negara mereka untuk saat ini.'' jelas Hana.


''Kau sudah siapkan semua yang dibutuhkan?"


''Sudah pak, tiket penerbangan anda sudah di siapkan. Penerbangan nya besok tepat pukul 6 sore '' jelas Hana lagi.


''Bagaimana dengan semua laporan yang di kerjakan oleh Ken? Tolong bawakan semuanya kepada ku.'' perintah Rehan, yang langsung di angguki oleh sekretarisnya.


''Akan saya bawakan segera pak.'' jawab nya, langsung berjalan keluar dari ruangan.


Baru saja Rehan ingin kembali fokus pada pekerjaan, kali ini telepon di atas nakas nya yang kembali berbunyi dengan suara nyaring hingga cukup memengkakkan telinga.


''Kenapa bunyi telepon ini sangat nyaring?"gumam Rehan merasa heran, namun tetap mengangkatnya.


''Hallo?"


''Dad..-


''Angel? ada apa sweet heart?" tanya Rehan saat mendengar suara putrinya.


''Dad, sepertinya aku akan segera melahirkan. Perutku terasa sangat sakit.'' Keluh Zoya sambil menahan sakit yang benar-benar ia rasakan sekujur pinggang nya.


Mendengar hal itu, membuat wajah Rehan langsung berubah panik. ''Kau dimana Angel? dimana Zen?" tanya Rehan, dengan kepanikan yang seketika membanjirinya.


''Aku dijalan menuju rumah sakit Dad.. aku sudah menghubungi kak Zen. Akkkhhh..'' Jeritan Zoya kembali terdengar, karena rasa sakit yang kembali datang padanya.


''Angel, Angel... dengarkan Dad..!- Kau bisa dengar suara Dad?" tanya Rehan yang juga semakin di landa kepanikan, namun berusaha tetap tenang.


''Sayang, dengarkan Dad!'' ulang Rehan lagi.


''Tarik nafas mu, dan hembuskan dalam hitungan ketiga secara perlahan, ulangi untuk beberapa kali disaat rasa sakit mya mulai menyerang.- Kau bisa mendengar Dad kan?"


''Ya Dad.. aku sudah melakukan nya.'' sahut Zoya, sambil meringis.


''Kau pasti bisa sayang. Dad akan segera datang padamu. Rumah sakit yang mana?" tanya Rehan yang masih bisa menyembunyikan rasa paniknya.


Setelah Rehan mendapatkan nama rumah sakit yang akan dituju oleh putrinya, Ia pun segera bergegas keluar dari dalam ruangan nya, ''Han, batalkan semua pertemuan hari ini.'' perintah Rehan, lalu pergi dengan terburu-buru.


"Tapi pak.. -


Belum lagi Hana menyelesaikan kalimatnya, Rehan sudah lebih dulu menghilang di dalam lift.


Rehan mengambil ponselnya untuk menghubungi Zen sesaat, seraya berjalan dengan cepat ketempat dimana mobilnya diparkirkan.


...❄️❄️...


''Hallo Dad?" sahut Zen dari seberang di sana. ''Dimana kau Son? cepatlah kerumah sakit!'' perintah Rehan. ''Aku sedang dalam perjalanan Dad.'' Sahut Zen sama paniknya.


Ia sama sekali tidak mengira jika harinya akan datang secepat ini, sedangkan waktunya sangat berselisih dengan tanggal yang seharusnya dijadwalkan oleh dokter.


Jika saja ia tau hari ini akan datang secepat ini, maka Zen tidak akan meninggalkan Zoya sendiri.


''Baiklah, Dad juga sedang menuju kerumah sakit. Berhati-hatilah Son.'' tutup Rehan, lalu masuk ke dalam mobilnya.


''Dad juga.''  balas Zen. "Kuatlah sayang, Dad akan segera datang padamu."


Rehan melajukan mobil nya dengan kecepatan di atas rata-rata agar bisa segera tiba dirumah sakit. Namun kenyataan nya tak sesuai dengan apa yang ia harapkan.


Lagi-lagi Rehan harus terjebak kemacetan yang terlihat cukup panjang. Dan ini artinya ia tidak bisa sampai dirumah sakit secepat yang di inginkan nya.


Oh God!

__ADS_1


Tit..Tit..


Rehan membunyikan klakson mobilnya agar mobil-mobil yang didepan nya mau memberikan sedikit jalan untuknya agar bisa keluar dari jalur kemacetan tersebut.


''Sweetheart, kau harus kuat. Dad mohon berjuanglah.'' gumam Rehan seraya memanjatkan doanya. Doa seorang ayah untuk putri kesayangan nya,


Hampir satu jam lamanya Rehan berkutat dengan kemacetan, akhirnya ia bisa tiba juga dirumah sakit.


''Sus, pasien wanita atas nama Zoya wijaya. Apakah sudah tiba disini?" tanya Rehan dengan nafas tersengal-sengal.


Sebelumnya Rehan sudah mencoba untuk menghubungi Zen dan juga Zoya, tapi tidak ada satupun yang menjawab panggilan telepon nya. Dan itu artinya hanya ada satu kemungkinan, yaitu putrinya sudah di bawa keruang bersalin.


''Pasien atas nama Zoya Wijaya, berada di lantai lima ruangan -Bunda- bersama dengan dr.Farah.'' jelas perawat jaga tersebut.


''Terima kasih sus.'' sahut Rehan kemudian segera berlari ke arah lift.


Setibanya di lantai lima, Rehan mencari petunjuk untuk menemukan ruangan dimana putrinya saat ini tengah berada.


Setelah menanyakan kepada perawat yang berjaga di sekitar, Rehan pun akhirnya  tiba di depan ruangan yang dimaksud.


Ruangan tersebut tertutup dengan rapat, dengan peringatan hanya perawat dan dokter yang bisa memasukinya.


Mau tak mau Rehan hanya bisa menunggu dengan harap-harap cemas, seraya terus berharap ada seseorang yang keluar dari dalam ruangan tersebut, agar ia bisa bertanya tentang keadaan putrinya.


''Moo, jika sekarang kau melihat ini, tolong jagalah putrimu.- Aku benar-benar berdoa agar Angel bisa melewati semua proses nya dengan kuat.'' gumam Rehan seraya terus memanjat kan doa kepada Yang Kuasa.


Hampir satu jam lamanya Rehan terus menunggu didepan ruangan tersebut, namun masih belum ada satupun yang keluar dari dalam sana. Tidak dokter, tidak juga perawat. Bahkan tidak ada tangisan seorang bayi yang baru lahir.


Apa yang sebenarnya terjadi didalam? cemas Rehan.


Kesunyian itu semakin membuat Rehan merasa tak karuan.


Dan mengapa sampai sekarang tidak ada satupun yang keluar dari dalam sana. Pertanyaan itu seperti sebuah kata favorit nya saat ini.


Tak ingin berlarut dalam kecemasan seorang diri, Rehan kembali mengambil ponsel dari dalam sakunya, lalu menghubungi Zen.


''Hallo Dad..?" sahut Zen. Ah, syukurlah! Rehan bernafas lega saat panggilan nya di jawab.


''Bagaimana dengan Angel? kenapa tidak ada satu orang pun yang keluar dari ruangan ini? apa yang terjadi sebenarnya?" tuntut Rehat, melampiaskan rasa cemasnya dalam semua pertanyaan beruntun,


''Dad sudah dirumah sakit? Zo'e baik-baik saja. Kata dokter hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk melahirkan. Aku sudah bersama Zo'e saat ini.'' jelas Zen.


''Syukurlah. Apa Dad boleh masuk? Dad sudah menunggu lama disini.'' ujar Rehan lagi.


''Dad menunggu dimana? Masuk saja Dad, kenapa harus menunggu diluar..?"


"Benarkah? Dad dimana? kami sudah berada di kamar rawat inap di lantai 7'' jelas Zen.


Damn!


''Di lantai tujuh? bukan di lantai lima?" ulang Rehan.


Kini terjawab sudah pertanyaan nya. Pantas saja tidak ada satupun yang keluar dari dalam ruangan yang terus di jaga nya sejak satu jam yang lalu.


''Di lantai tujuh, ruang VVIP no.1 Dad.'' sahut Zen dengan lebih jelas, ''Baiklah, Dad akan segera kesana.'' tutup Rehan, segera mencari lift untuk naik ke lantai atas.


Sekali lagi, Rehan harus disibukan dengan kegiatan mencari ruangan. Beruntung kali ini Rehan bertemu langsung dengan dokter yang menangani proses kelahiran putrinya.


''Permisi dok,- cegah Rehan seraya memperhatikan name tag di jas dokter yang sedang digunakan dokter wanita tersebut.


"Dr. Farah Kusuma, S.pOG"


''Ya..?''


''Anda dokter farah? Dokter kandungan dirumah rumah sakit ini, benar?" tanya Rehan sambil mengulurkan tangan nya. ''Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya dr.Farah dengan ramah.


''Sebenarnya saya adalah Dady dari pasien anda, Zoya Wijaya. Bagaimana keadaan putri saya, apa kandungan nya baik-baik saja? apakah cucu saya akan lahir hari ini?''


Rehan kembali memberikan pertanyaan beruntun , tapi kali ini langsung di arahkan kepada orang yang tepat.


''Mari ikut saya keruangan putri bapak, akan saja jelaskan kondisi nya di dalam ruangan.'' sahut dr. Farah lagi seraya tersenyum ramah.


''Baik dok.''


Setiba nya diruangan, Rehan merasa lega setelah melihat wajah putrinya. "Angel...?"


"Dad...?" Zoya bersuara lemah, karena baru saja menahan rasa sakit. "Bagaimana keadaan mu sweet heart, apakah sangat sakit?" Rehan mencium kening Zoya, seraya mengelus pelan tangan putrinya untuk memberikan semangat.


"Sangat sakit Dad, tapi aku sungguh tidak sabar ingin segera melihat Baby ku." sahut Zoya memaksakan senyumnya.


"Maaf menyela anda, saya akan memeriksa nyonya Zoya sebentar." ujar dr. Farah, sambil tersenyum ramah.


"Silahkan dok.. " sahut Rehan dan Zen bersamaan.


Setelah beberapa saat, dokter Farah kembali bersuara. "Kondisi anda baik-baik saja, tekanan darah anda juga normal, sedangkan untuk kondisi bayi juga dalam kondisi sehat."


"Kita hanya perlu menunggu- "tambah dokter Farah. "Terima kasih dok,-

__ADS_1


Setelah dokter keluar dari dalam ruangan, baik Zen maupun Rehan sama-sama setia menemani Zoya melewati proses kelahiran bayi pertama nya.


"Kau pasti bisa sayang, bersemangat lah. Dad akan ada disini.."


"Aku juga akan selalu bersama mu sayang." tambah Zen.


"Terima kasih Dad, kak Zen.."


...❄️❄️...


Proses yang harus mereka lewati ternyata tidak semudah Yang di bayangkan;


Waktu berlalu dengan cepat, namun proses kelahiran belum juga tiba, baik Zoya, Zen maupun Rehan, semuanya masih menunggu dengan perasaan bercampur harap-harap cemas.


"Sayang, aku akan keluar untuk mengambil beberapa barang, dan juga membeli beberapa makanan? ada yang kau inginkan?" Tanya Zen bersuara lembut.


"Aku ingin makan cake dengan rasa tiramisu kak, dan belikan juga untuk ku susu dengan rasa pisang."


"Ada lagi..?"


"Tidak, itu saja."


"Baiklah sayang, aku akan cepat kembali. Dad akan menemanimu disini." ujar Zen melirik pada Rehan Yang saat ini sedang tertidur di sofa.


"Hmmm. Jangan cemas kan aku kak, berhati-hatilah." pesan Zoya. "Biarkan Dad tetap istirahat." tambah Zoya.


"Aku akan cepat kembali." Zen mencium kening istrinya sebelum meninggalkan ruangan.


Baru saja Zen meninggalkan ruangan, rasa sakit itu kembali datang menghantam Zoya.


Membuatnya menjerit dalam diam, karena tak ingin membangunkan Dady nya.


Tapi kali ini, rasa jauh lebih sakit dari sebelumnya, Dan.. "Dad,- seru Zoya karena sudah tidak bisa menahan rasa sakit.


Ditambah lagi, Cairan mengalir begitu saja dari bagian bawahnya tanpa bisa ditahan. "Dad...!!" seru Zoya lebih keras, hingga membangunkan Rehan.


"Angel..?" Rehan bangun dengan cepat untuk menghampiri putrinya.


"Dad.. kurasa, aku.." Zoya meringis sambil menunjuk pada ranjang yang saat ini basah oleh air ketubannya yang sudah pecah.


Beruntung Rehan sudah dua kali melewati kondisi tersebut, sehingga ia tau jika waktunya telah tiba.


Dengan cepat Rehan menekan tombol darurat untuk memanggil perawat jaga.


"Dad.. kak Zen.. -


"Dad akan menghubunginya Angel, berjuanglah sayang." ucap Rehan memberikan dukungan pada putrinya.


Rehan hanya bisa memegangi tangan putrinya saat semua perawat dan dokter mempersiapkan apa saja yang di butuhkan untuk menyambut proses kelahiran.


Setelah memberikan suntikan kepada Zoya, dokter pun kini sedang bersiap untuk menjalankan semua prosedur kelahiran;


"Dimana suami pasien?" tanya dokter karena hanya melihat Rehan yang ada di dalam ruangan tersebut.


Brakkk!


Pintu ruangan kembali terbuka;


"Maafkan saya.. - kata Zen seraya meletakan semua yang ada ditangan nya. "Persiapkan dirimu Son, Angel membutuhkan mu saat ini." ujar Rehan saat menghampiri Zen.


Saat proses kelahiran, hanya Zen serta dokter dan juga perawat yang menemani Zoya, sementara Rehan menunggu di luar sambil terus memanjatkan doa nya.


"Moo, lindungilah putri Kita. Kau harus terus bersama nya, Angel membutuhkan mu saat ini." gumam Rehan.


Tak lama kemudian, pintu ruangan itu kembali terbuka, dan seorang perawat berlari dengan cepat meninggalkan ruangan.


"Oh God, ada apa ini?" Rehan ingin berlari dan masuk ke dalam ruangan untuk melihat kondisi putrinya, namun ia tidak bisa.


"Kuatlah Angel, Dad mohon kuatlah. Kau pasti bisa. Kau putri Mom dan Dad.. Kau wanita yang hebat. Dad mohon berjuanglah..." gumam Rehan, masih mondar-mandir di tempatnya.


"Sus, apa yang terjadi pada putriku?" tanya Rehan yang kini tengah mencegat seorang perawat yang tadi berlari namun telah kembali dengan membawa sebuah boox di tangan nya.


"Tekanan darah pasien tiba-tiba menurun, kami harus melakukan transfusi darah sekarang. Permisi." jelas perawat itu dengan singkat.


Rehan begitu familiar dengan semua perasaan ini. Meskipun sudah sangat lama berlalu, tapi bagi Rehan semua itu baru kemarin terjadi.


Saat dirinya berada pada posisi Zen, menemani istrinya untuk melahirkan putra dan putri mereka.


Sekarang, ia harus mengalaminya lagi untuk menanti kelahiran cucu pertama nya.


"Tuhan, lindungilah putri dan juga cucu ku. Beri Angel kekuatan untuk melewati semua proses ini. Ku mohon pada-Mu, jagalah putri ku, ku mohon." Doa Rehan dengan sungguh-sungguh.


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2