
...ENJOY...
.......
.......
.......
Sebagai seorang istri, dan ibu rumah tangga, Julie selalu konsisten dengan rutinitasnya. Di jam-jam seperti ini, ia akan menyibukkan diri di dapur menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya.
Rumah mereka yang sangat besar menurut Julie, akhir-akhir ini terasa lebih sepi dari sebelumnya. Julie merindukan putri nya, Zoya. Sudah hampir tiga minggu gadis kesayangannya itu berada jauh darinya, meskipun mereka sering melakukan panggilan suara maupun video, hanya saja tetap terasa berbeda karena tak bisa memeluknya langsung.
Sesekali Julie menghela nafasnya berat, saat memikirkan bagaimana nanti ketika Zoya dan Zen sudah menikah, rumah akan benar-benar sepi saat itu. Apakah menikah kan putrinya di usia muda adalah pilihan yang tepat?
Dulu Julie juga terbilang menikah muda, hanya saja tak semuda Zoya, putrinya. Sering kali Julie meragukan keputusan nya sebagai orang tua. Setelah apa yang ia jalani selama menikah dengan Rehan, hidup memang tak sesulit itu jika Zen memiliki hati seperti Rehan.
Meskipun Julie tau, masa mereka berbeda, namun pembuktian cinta tak akan pernah berbeda, dan Julie harap Zen benar-benar memiliki hati seperti Aldi dan Rehan. Laki-laki istimewa yang pernah Julie miliki dalam hidupnya. Sahabat sekaligus saudara baginya. Julie harap, putri nya juga akan mendapatkan cinta dan kasih sayang yang sama dari Zen.
Zen adalah pemuda yang baik. Julie sangat mengenal bagaimana putra nya itu. Julie juga tak pernah meragukan Zen sebagai pasangan hidup Zoya, hanya saja, yang Julie khawatirkan, kehidupan setelah putra dan putri nya menikah nanti.
Jika kedalaman laut bisa diukur, maka berbeda dengan hati. Tak ada yang bisa mengukur atau menebak bagaimana hati dari seorang manusia. Tapi semoga saja, itu hanya kekhawatiran seorang ibu kepada anak- anaknya.
"Sayang, aku pulang.'' Suara Rehan menginterupsi Julie dari lamunan nya. Ia segera mencuci tangan dan menghampiri suaminya yang baru saja pulang bekerja.
''Iya Boo, aku disini.'' Julie menyambut Rehan hangat seperti biasa. ''Tubuhmu bau masakan.'' Rehan mengendus-endus Julie, menghirup aroma khas yang selalu memabukkan nya, saat memeluk istri tercintanya itu.
''Kan baru selesai masak, kalau baru selesai olah raga baru bau keringat.'' Julie melepas pelukan suaminya dan mengambil alih tas kerja Rehan untuk di bawa ke kamar. Rehan selalu suka berada dirumah, seperti saat ini. Selalu ada wanita yang menurutnya kelewat indah, yang setiap hari setia menantinya kembali ke rumah.
__ADS_1
''Mau ku siapkan air hangat?" Julie menggandeng tangan Rehan saat keduanya menaiki tangga. ''Mau mandi bersama?'' tanya Rehan dengan senyuman menggoda. ''Kenapa tidak.'' Julie membalas senyuman Rehan dengan senyuman yang tak kalah indahnya.
Julie dan Rehan tengah berbaring di atas tempat tidur setelah menyelesaikan acara mandi bersama ala Rehan. ''Kau lelah Boo?" Julie membelai pelan dada bidang Rehan yang sudah terbungkus kaos tipis.
''Tidak. aku tak pernah lelah saat bersama mu Moo. Rehan mengubah posisinya menjadi menyamping menghadap pada Julie. Tangan nya membelai pelan pipi mulus Julie, ''Mau sekali lagi..?" godanya, yang langsung membuat Rehan mendapatkan hadiah cubitan dari Julie. "Awww.. apa ini jenis godaan baru?"
''Kita belum makan malam Boo, Ken mungkin menunggu kita di bawah.'' peringat Julie pada suaminya yang selalu saja mesum saat bersama nya. Suaminya itu memang tak pernah berubah, dulu maupun sekarang. Itulah yang membuat Julie begitu mencintai ayah dari anak-anak nya itu.
Rehan bangun dan duduk di tepian ranjang, sambil menarik tangan Julie agar ikut duduk bersamanya. ''Ahh,, baiklah kalau begitu. Jangan buat jagoan kita menunggu lama, kebetulan aku juga lapar.'' tampa aba-aba Rehan sudah membuat Julie berdiri di sampingnya.
''Ayo, moo. Semakin cepat kita selesai, semakin cepat juga kita kembali.'' Lagi-lagi Rehan melayangkan tatapan nakal pada Julie. ''Dasar mesum!" Balas Julie sambil tergelak karena tingkah Rehan.
''Siapkan piring lebih. Zen akan makan malam disini.'' Baru saja Rehan mengatakan nya pada Julie, putra nya itu sudah sampai di ruang keluarga. ''Dad, Mollie?'' sapa Zen lalu menghampiri keduanya.
"Son, kau sudah datang? mandilah, kita akan makan malam sebentar lagi." Permintaan Rehan segera di lakukan Zen. Rumah ini adalah rumah utama bagi nya, apapun yang ia butuhkan selalu tersedia. Bahkan barang-barang pribadi Zen lebih banyak terdapat dirumah ini. Semua kebutuhan nya selalu tersedia, karena mollie nya selalu memastikan hal itu. "Baiklah Dad, aku akan turun sebentar lagi." Zen melewati keduanya, naik ke kamarnya untuk membersihkan diri.
"Kau sudah menerima photo-photo yang Zen kirimkan Moo, bagaimana menurutmu, putri kita?" tanya Rehan di sela-sela kesibukan istrinya yang sedang membawa piring-piring berisi makanan lezat.
Topik yang tepat yang ingin Julie bicarakan juga dengan suaminya. Sebelumnya ia tak tau bagaimana harus memulainya, tapi karena Rehan sudah memulainya, sebaiknya Julie tak menundanya. "Boo, ada yang ingin ku bicarakan padamu." Julie duduk di samping Rehan setelah meletakan piring terakhir yang di bawanya. Rehan bertopang dagu menunggu Julie bicara.
"Katakan, ada apa?" Rehan mendengarkan. Julie melihat ke arah tangga, memastikan Zen tidak ada di sana. "Ini tentang pernikahan anak-anak Boo." Julie menatap serius pada Rehan. "Hmm. Lanjutkan!"
"Bagaimana kalau pernikahan Zen dan Zoya di undur." kata Julie dengan sedikit ragu. "Apa, Moo? Kenapa? Apa ada masalah?" Kini Rehan bersikap lebih serius dari sebelumnya. Julie menghela nafas, lalu menghembuskan nya perlahan. "Tidak ada masalah boo, semuanya baik-baik saja. Sungguh." Rehan mengamati Julie, dan memang tak ada kebohongan yang ia dapati.
"Kalau begitu jelaskan dengan lebih baik agar aku mengerti apa maksudmu saat ini moo,!" perintah Rehan dengan suara lebih rendah.
"Tidak ada. Hanya saja, entah kenapa, aku mengkhawatirkan anak-anak kita setelah mereka menikah boo, kau tau sendiri bagaimana Zoya. Putri kita masih sangat muda. Zoya manja, sedikit egois, dan keras kepala, meskipun dengan hati yang masih murni dan polos. Aku hanya tidak ingin semuanya terlalu cepat bagi mereka boo, apa aku salah berpikir begitu?"
__ADS_1
Semua yang Julie katakan adalah murni kekhawatiran dan kecemasan seorang ibu kepada anaknya. Hal yang sama yang selalu Rehan pikirkan dan rasakan selama ini.
"Kita tidak bisa memutuskan begitu saja moo, kita harus menanyakan bagaimana pendapat Zoya tentang ini. Jangan lupa bagaimana bahagianya putri kita saat bertunangan waktu itu. Zen adalah orang yang di anggap Zoya penting dalam hidupnya, jangan sampai kita menghalangi cinta mereka."
Meskipun Rehan sependapat dengan Julie, tapi ia harus bersikap bijak tentang hal ini. Ini adalah kehidupan putra dan putri nya, yang akan menentukan bagaimana masa depan mereka kelak. Rehan tak ingin membuat keputusan tampa mendengarkan apa pendapat Zen dan Zoya. "Aku tau boo, aku juga bisa melihat bagaimana mereka saling jatuh cinta dan saling menjaga, hanya saja.."--
"Moo, meskipun masih muda. Zoya adalah gadis yang luar biasa, sebagai Dady nya, aku yakin putri kita sudah tau apa yang akan ia hadapi setelah menikah, dan aku yakin Zoya sudah tau benar apa yang baik dan tidak untuknya. Zoya tau itu." Rehan menekan pelan tangan Julie.
"Kamu benar boo, kita akan membicarakan ini setelah Zoya pulang. Aku akan mengikuti apapun keputusan putri kita."
"Memang itu yang harus kita lakukan Moo, bagaimanapun sebagai orang tua, kita harus menunjukan jalan nya pada mereka, namun bagaimana mereka akan melewatinya, semua adalah keputusan anak-anak kita." tutup Rehan sambil menggenggam tangan Julie, memberikan dukungan penuh agar Julie bisa merasa lebih baik.
"Mom, Dad, apa kalian sedang berkencan lagi..?" Ken baru saja bergabung di meja makan. Saat turun ia melihat mommy dan Dady nya sedang melakukan pembicaraan serius. "Sayang. Kamu disini..?" Julie menarik tangan nya, beralih pada putra bungsu nya. "Kita akan makan sebentar lagi, kakak mu belum turun."
"Zozo..? Zozo disini mom..?"
"Bukan sayang, Zen."
"Oh.. Kak Zen." senyum yang baru saja terbit di wajah Ken, seketika kembali redup. Ken sudah berharap kakaknya yang kembali kerumah. Ia sudah merindukan saat-saat bertengkar dengan Zozo.
"Kau kecewa...?" Rehan menangkap antusias yang tiba-tiba hilang dari putranya. "Kakak mu akan kembali dalam tiga hari. Setelahnya, kalian akan terus bersama." ucap Rehan, yang sekali lagi terdengar seperti omong kosong.
Rehan tak menyukai fakta Zoya akan menikah dan meninggalkan rumah mereka. Rumah yang Rehan bangun untuk keluarganya tercinta. Namun ia bisa apa, ini adalah kehidupan anak-anaknya. Sesuatu yang tidak bisa Rehan putuskan begitu saja.
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...