
...ENJOY...
.......
.......
.......
Doorr..dooorr... "Buka pintunya, heii.. buka pintu nya...! Ku mohon, buka pintu nya.. tolong aku..buka!!" Dooorr.. doorr...
Sejak pagi-pagi sekali, suara teriakan dan gedoran serta isak tangis memohon di pintu sudah sangat memekakkan telinga para penjaga yang bertugas untuk berjaga di depan pintu.
Beberapa waktu yang lalu, Rehan mendapati informasi tentang seorang wanita bernama Maria. Wanita yang sama, yang di bawa oleh keluarga sahabatnya, Aldi, dari U.K saat menghadiri acara pertunangan putri nya.
Seorang wanita yang setelah Rehan selidiki menjadi alasan sakit hati dari putrinya. Selain itu, Rehan juga mendapati berita yang menarik, bahwa gadis muda tersebut sudah dicari sejak lama, dan kini di bawah perlindungan Zen, calon menantunya. Cih. Melindungi wanita lain, sementara dirinya tak bisa melindungi hati pasangannya?
Entah apa maksudnya itu, Rehan tak ingin tau, yang Rehan tau adalah, segala macam hama harus di basmi sebelum kerusakan yang ditimbulkan semakin parah, karena itulah Maria berada di sana.
Tampa tau apapun Maria di sekap, dan dikurung selama berhari-hari di dalam kamar berukuran 30m kuadrat tersebut.
Sementara di sekeliling Villa sudah berjaga para pengawal setidaknya lebih dari sepuluh orang yang selalu siap siaga memantau keadaan disekitar.
Kamar tersebut memang tidak terlihat seperti kamar yang tak terurus, semua perabotan nya bersih dan rapi, hanya saja, tak ada celah bagi Maria untuk bisa melarikan diri dari sana. Satu-satunya yang bisa Maria lakukan hanyalah mencari tahu siapa, dan apa alasan dirinya di perlakukan seperti ini. Jika yang melakukan ini Papanya, maka saat ini Maria sudah kembali ke negeranya, tapi nyatanya, ia hanya di kurung ditempat ini tampa ponsel dan yang lainnya.
Sejak pertama kali sadar bahwa dirinya di sekap, Maria sudah melakukan berbagai macam cara agar bisa kabur, namun usahanya sia-sia, tak ada yang bisa ia lakukan selain menggedor-gedor pintu sampai semua orang merasa lelah dan terpaksa membiarkan dirinya mengetahui siapa yang melakukan ini padanya.
...Dooorr... doooorrrr......
"Buka pintu nya! Tolong buka pintu ini, siapapun tolong aku..!! aku ingin bicara pada tuan kalian.. buka.. bukaaaa... hiks.. hikss... ku mohon! tolong aku.. siapapun, buka pintunnya!!"
...dooooorr... dooooorrr......
"Tuan, nona Maria masih melakukan aksinya hari ini, sudah sejak pagi-pagi buta ia sudah terus-terusan berteriak dan menangis." lapor salah seorang anak buah Rehan.
"Biarkan saja. Dia akan lelah pada saat nya. Kita harus menunggu sebentar lagi. Jaga ia seperti biasa, dan pastikan tidak ada kesalahan apapun!"
"Baik tuan."
...❄️❄️...
__ADS_1
...Tok.. tok.....
Suara ketukan di pintu Apartment membuat Zoya menghentikan sesaat pekerjaan nya, lalu berjalan kearah pintu untuk melihat siapa tamunya.
"Haii.. miss." sapa Cassian tersenyum sumringah saat pintu tersebut di buka sambil menggosok-gosokkan kedua tanganya.
Oh tentu saja, ini adalah bulan november, siapa yang akan bertahan lama saat diluar sana salju tebal menutupi permukaan jalan.
"Hai, masuklah. Diluar dingin." kata Zoya mempersilahkan Cassian masuk ke dalam apartment nya. "Kau tinggal sendiri miss, di tempat ini? ku kira kau akan memilih sebuah penthouse atau lainnya. Kau cukup rendah hati ternyata." ucap Cassian sambil melihat-lihat isi apartment Zoya.
Zoya berjalan ke dapur untuk membuatkan secangkir minuman hangat untuk mereka berdua. "duduklah,-- kata Zoya dari arah dapur mini di salah satu pojok ruangan tersebut, yang beberapa menit kemudian kembali lagi ke ruang tamu.
"Ini, minumlah." Zoya menyerahkan cangkir minuman yang ia bawa. "Thanks miss."
"Panggil aku Zoya, saja," pintanya lagi menuju salah satu meja yang tak jauh dari ruang tamu. Zoya mengambil catatan yang sudah ia buat sebelumnya.
Apa saja yang perlu Cassian lakukan sudah tercatat di sana, dan sekarang saat nya Cassian yang melakukan tugas bagiannya.
"Kau sudah menerima uangnya?"
"Hmmm. Sudah miss, terima kasih." Cassian meletakan gelasnya, mengubah posisi dari duduk santainya yang semula. "Tidak apa-apa. Duduk saja sesukamu, aku tidak akan keberatan." kata Zoya melihat Cassian yang menjadi sedikit sungkan padanya. "Ini daftar yang harus kau kerjakan. Aku sudah menulisnya, kau hanya perlu melakukan itu untukku."
"Kau ingin gedung yang seperti apa?" tanya Cassian yang melihat salah satu tugasnya adalah mencarikan gedung tempat konser tersebut akan berlangsung.
"Aku ingin gedung yang istimewa. Tak perlu besar, aku hanya ingin mengundang sekitar dua sampai tiga ratus orang dalam konser tersebut, dan pastikan kau mendapatkan gedung itu di tanggal yang sudah tercatat di sana." jelas Zoya tak beralih dari pekerjaannya.
"Tanggal 15 ? Kau ingin melakukan konser mu di tanggal ini? bukan kah itu minggu depan, secepat itu, benarkah?" komentar Cassian.
"Hmm. Lakukan saja seperti yang ku minta."
"Apakah ada alasan khusus, mengapa harus tanggal itu? tidakkah persiapan nya terlalu singkat?" timbang nya lagi, mengingat saat ini sudah memasuki musim dingin.
"Tidak ada alasan. Lakukan saja!" perintah Zoya tak bergeming.
Bagaimana Zoya bisa memberitahukan alasan nya pada Cassian. Alasan di balik tanggal tersebut. Tanggal yang seharusnya ia bersama Zen berdiri di altar untuk mengucapkan sumpah sehidup semati cinta mereka, jika saja ia tak melarikan diri ke tempat ini. Bagaimana ia bisa mengatakan semua itu. Itu hanya akan menjadi rahasia yang akan ia simpan sendiri. Rahasia Zoya.
"Hanya ini saja yang harus ku lakukan? semua yang tertulis disini?" tanya Cassian lagi.
"Hmm. Hanya itu."
__ADS_1
"Bagaimana ditempat ini, ada yang bisa ku lakukan, mungkin berhubungan dengan partitur mu?" tanya Cassian lagi, saat melihat Zoya yang sejak tadi terus berkutat dengan kertas-kertas berisikan note di depannya.
Zoya berpikir sesaat. Ia memang sedikit kesusahan menentukan bagian akhir dari melodi yang ia ciptakan, hanya saja ia tak yakin akan sama seperti yang ia mau jika orang lain yang membantunya, karena itulah ia harus menimbang-nimbang tawaran Cassian. "Tidak. Terima kasih. Aku akan melakukannya sendiri.-- Zoya tersenyum ramah.
"Jika ada yang ingin kau tanyakan, aku menuliskan nomor ku di sana." tunjuk nya lagi pada kertas yang berada di tangan Cassian.
"Baiklah kalau begitu, aku akan melakukan yang terbaik untuk mu miss."
"Terima kasih Cassian. Aku berutang padamu."
"Tidak miss, kau memang pantas mendapatkan semua yang terbaik."
Beberapa saat setelah Cassian pamit untuk memulai pekerjaan paruh waktu yang Zoya berikan, gadis itu juga bersiap-siap untuk pergi keluar. Hari ini ia akan menemui profesor Hugo untuk mendiskusikan siapa saja yang akan berpartisipasi dalam konser nya nanti.
Selain itu Zoya juga harus memastikan bahwa konsernya akan mendatangkan keuntungan bagi RKH.
Beberapa saat yang lalu, sempat terlintas dipikiran Zoya untuk mendirikan sebuah yayasan musik. Dimana yayasan tersebut akan membantu anak-anak untuk mendapatkan beasiswa, dan tentu saja ditujukan kepada semua yang berbakat namun kekurangan biaya, seperti Cassian.
Setidaknya itulah yang bisa Zoya pikirkan setelah melihat betapa banyaknya bakat-bakat yang tidak tersalur dan di kembangkan dengan seharusnya. Zoya akan melakukan yang terbaik demi generasi-generasi masa depan nanti. Bukankah semua orang layak diberikan kesempatan? Terutama mereka yang layak mendapatkan nya.
...Dad, aku memulai semua rencana ku hari ini, dan aku sangat menikmatinya. Aku merindukan kalian, salam sayang....
Zoya kembali mengirimkan email pada Daddy nya. Ia juga ingin menanyakan bagaimana kabar Zen selama ini, hanya saja Zoya mengurungkan niatnya. Tak bisa di pungkiri, Zoya memang selalu merindukan Zen, bahkan setiap hari ia selalu memikirkan lelaki itu, lelaki yang dua kali mematahkan hatinya.
Alangkah baiknya jika saat ini Zen berada tepat disisinya. Membungkus tangan Zoya yang hampir membeku kedinginan dan menyembunyikan tangan nya di salah satu saku milik Zen, seperti di film-film romantis.
Terlebih lagi, jika Zen bisa memberikan pelukan hangat untuk Zoya, dan... Hah. Pastilah cuaca dingin tak akan jadi masalah untuknya. Tapi itu hanyalah sebuah harapan.
Haruskah ia menelpon nya dan mengatakan bahwa ia ingin memeluk Zen, dan ingin lelaki itu datang saat ini juga? haruskah? Tidak. Tidak.
Kau harus kuat Zoya, kalau tidak, maka kau akan selalu menjadi yang tersakiti.
Biarlah waktu yang memainkan perannya hingga nanti mereka bisa menyelesaikan sendiri masalahnya, dan saat itu, Zoya harus sudah siap untuk bertemu Zen dan bicara tentang semuanya. Hanya saja, Nanti. Saat waktu yang tepat. Hanya itu.
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1