
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Pukul delapan pagi, Julie tengah mengetuk kamar Zen. Ia membawakan semua yang seharusnya di perlukan putranya.
"Hai Mollie.. morning.'' Zen mengecup singkat pipi Julie. Laki-laki muda itu sepertinya baru saja terbangun.
Julie tersenyum hangat sambil menyentuh pelan wajah Zen, ''Selamat pagi sayang. Boleh mollie masuk..?"
''Masuklah mollie..'' Zen membuka lebar pintunya, agar Julie bisa masuk. ''Ada apa Mollie pagi-pagi seperti ini mencariku..?" Tanya Zen yang kembali duduk di atas ranjang nya.
''Sayang, sebaiknya kau mandi sekarang, bukan kah kau ada kencan..? Mollie akan membantu mu bersiap-siap.'' Julie meletakan barang-barang yang ia bawa ke atas meja.
"Kencan ?,- Zen mengerutkan kening nya. ''Ah, kencan itu, aku bisa bersiap-siap sendiri mollie, jangan khawatir.'' kata Zen.
''Sebaiknya lakukan yang mollie katakan sayang, jangan buat Zoya lama menunggu mu, gadis itu bahkan sudah mempersiapkan dirinya sejak pagi-pagi sekali." Julie kembali memberikan senyuman yang menurut Zen sangat asing. Senyum misterius tepatnya.
Di tambah lagi melihat Mollie nya juga sudah berdandan dan mengenakan dress yang tentu saja membuat wanita berusia empat puluh dua tahun itu tampil begitu cantik. Sangat-sangat mencurigakan.
''Apa mollie dan Dad ingin pergi..? Mollie terlihat sangat cantik." gumam Zen. ''Hmm. begitulah sayang, kita yang akan pergi.''
''Kita..?''
''Ya, kita.'' jawab Julie.
''Ahh, ini benar-benar kejutan sepertinya. Baiklah kalau begitu, aku akan segera siap mollie.'' Zen berdiri lalu melangkahkan kaki nya ke kamar mandi, sebelum mengeluarkan kembali kepalanya, ''Apa Mollie benar-benar akan menunggu ku disini untuk membantuku bersiap-siap..? karena sejujurnya aku bisa melakukan nya sendiri." kata Zen lagi merasa sungkan pada Mollie nya.
''Mollie tidak akan pergi sayang. Sebaiknya cepatlah siapkan dirimu, mollie menunggu.'' kata Julie duduk di sofa yang ada di dalam kamar Zen, dan benar-benar tak bergeming.
Zen hanya mengangguk-anggukan kepalanya tak membantah. Ini benar-benar kejutan sepertinya, bahkan Mollie harus ikut berperan, gadis kecilnya itu benar-benar menyiapkan sebuah kejutan.
Tak ingin membuat mollie lama menunggu, Zen pun segera mandi untuk membersihkan dirinya, toh sebelumnya Mollie juga mengatakan bahwa Zoya sudah lebih dulu bersiap-siap dan mungkin saja sekarang tengah menunggunya.
Lima belas menit kemudian, Zen keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaos oblong dan juga bokser, dengan piyama yang menutupi luarnya.
Terlihat di atas meja juga sudah tersedia sarapan pagi untuk dirinya, dengan porsi yang lebih banyak.
''Kita akan sarapan disini Mollie, bagaimana dengan Dad, dan Ken, kenapa tidak sarapan bersama..?" tanya Zen lagi dengan polosnya. Ia adalah satu-satunya yang belum mengetahui apapun tentang kejutan yang sudah Zoya siapkan.
''Dady dan juga adikmu sudah bersama Zoya sayang, dan hanya Mollie yang akan bersama mu. Sarapan dulu sebelum kau mengenakan pakaian mu." perintah Julie sambil menyiapkan sarapan pagi putranya.
Kata-kata Mollie semakin membuat Zen penasaran sekaligus antusias dengan kejutan yang akan ia terima. ''Mollie, aku yakin bahwa mollie juga ikut terlibat dalam rencana inikan? Bisa beritahu aku sedikit, ini benar-benar membuatku penasaran, kalian seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Apakah Zo'e yang melakukan semua ini..?'' Zen membujuk Julie untuk memberikan sedikit clue tentang rencana rahasia Zoya, namun mollie nya kembali tersenyum secara misterius.
''Mollie khawatir tak bisa memberitahumu sayang. Ini benar-benar kejutan.'' Julie mengedipkan matanya, membuat Zen semakin frustasi. Gadis kecilnya benar-benar akan membuat sesuatu yang besar, dan rahasia pastinya.
Zen hanya bisa mengatupkan mulut dan menunggu. Sepertinya akan percuma membujuk mollie, hasilnya akan tetap sama. Sungguh keluarga yang solid, pikir Zen.
Setelah menyelesaikan sarapan, Julie mengeluarkan setelan jas berwarna navy bergaris hitam, lengkap dengan sepatu dan juga kemeja nya. ''Cepat ganti pakaianmu dengan ini sayang, kalau tidak kita akan terlambat.'' Julie menyerahkan setelan tersebut pada Zen. ''Mollie, kenapa aku harus menggunakan ini..?'' Zen menatap curiga pada setelan tersebut. mungkinkah..?
"Kita harus menghadiri acara resmi terlebih dahulu sebelum kau mendapatkan hadiah mu sayang, jadi segeralah bersiap.'' kata Julie lagi. Membuat Zen membuang semua kecurigaannya. Sepertinya, Zen tidak mudah untuk diatasi, kecurigaan nya hampir saja membuat Julie membocorkan kejutan putrinya.
Flashback On..
Setelah kembali dari pesta, Zoya mendatangi kamar kedua orang tuanya. Zoya tau orang tuanya pasti lelah, namun ia hanya membutuhkan waktu sebentar untuk mengatakan apa yang sudah ia rencanakan, dan tentu nya bukan hanya sebatas rencana. Zoya sudah menyiapkan semuanya.
__ADS_1
''Sweatheart, ada apa..?" Rehan membukakan pintu bagi putrinya. ''Maafkan Dad dan mom yang meninggalkan pestamu lebih dulu sayang, Dad tau ini hari bahagiamu, hanya saja Dad terlalu lelah.'' ucap Rehan.
Zoya hanya tersenyum, ia sangat memaklumi hal itu, ''itu bukan masalah Dad, kehadiran kalian pun sudah sangat membuatku bahagia. Sebenarnya ada yang ingin ku katakan pada Dad, dan juga Mom. Bisa minta waktu kalian sebentar..?''
''Hem. Katakan saja sayang.- Moo, ada angel, katanya putri kita ingin bicara.'' Seru Rehan menaikan sedikit volume suaranya saat bicara.
''Tunggu sebentar sayang, aku sedang mengenakan piyama ku.'' balas Julie dari dalam sana.
Rehan duduk di sofa sambil menunggu Julie keluar dari dalam kamar. Tak lama kemudian, Julie pun sudah bergabung bersama suami dan juga putrinya. Ia duduk di sebelah Zoya, sambil membelai lembut tangan putrinya, "Ada apa sayang..?"
''Mom, Dad.. aku ingin..
Zoya mengatakan semua rencana yang sudah ia siapkan bersama dengan Cassian. Dan yang ia butuhkan saat ini adalah persetujuan dan kerja sama dari orang tuanya.
''Kau yakin sayang, tapi bagaimana dengan,.. kau tau sendiri, hanya ada kita disini, bagaimana mana dengan uncle Al dan juga keluarganya, bukan kah seharusnya kita memberitahukan mereka terlebih dahulu..?" cemas Julie.
''Mom, aku sudah menghubungi uncle Al sebelumnya, dan kata uncle, mereka akan tiba disini besok pagi. Jadi aku hanya ingin kalian membantuku, bisakah kalian melakukan nya..?"pinta Zoya, menyakinkan orang tuanya.
Rehan dan Julie sama-sama terdiam, mereka memikirkan semuanya dalam keheningan sampai Rehan mendesah panjang lalu menganggukkan kepalanya.
Rehan juga merentangkan tangan nya, dan Zoya tau apa artinya itu. Dengan perasaan yang begitu bahagia, Zoya melemparkan diri dalam pelukan Dady nya.
''Kau sungguh tak terduga angel. Kami akan mendukung mu. Sebaiknya kau tak menyesali keputusan mu sayang.'' Rehan mencium kening putrinya dengan sayang.
''Aku tidak akan menyesal Dad, Mom.. terima kasih.''
...Flashback Off...
Setelah Zen siap, keduanya meninggalkan hotel dengan mobil yang sudah menunggu di depan lobi.
''Mollie, kau benar-benar tak ingin memberitahuku sesuatu, mungkin sedikit saja.'' bujuk Zen yang sudah merasa tak sabar, dan sekali lagi ia hanya mendapatkan senyuman yang sama dari mollienya.
Dua puluh menit kemudian, mobil tersebut memasuki kawasan gereja katedral bergaya eropa kuno yang sangat megah dan terawat.
''Oh, apa Zoya minta kita pergi ke gereja, Mollie?,- Julie menggeleng. "Kita akan menghadiri pernikahan..? apa ini pernikahan salah seorang kerabat, atau rekan bisnis Dad?"tebak Zen lagi.
Ia hanya ingin berkencan dengan Zoya sebelum ia harus kembali ke indonesia, tapi ternyata ia harus menghabiskan sedikit banyak waktunya yang berharga dengan menghadiri acara seperti ini.
''Kau akan tau saat sudah tiba disana sayang.'' Julie tersenyum dengan begitu misterius, namun ada binar kebahagiaan di mata wanita itu, seketika membuat dada Zen bergemuruh.
Di depan keduanya sudah di gelar karpet yang menunggu untuk di tapaki. Zen pun menggandeng tangan Julie, dan menuntun mollie nya untuk menaiki tangga.
Sesampainya di depan pintu katedral yang menjulang tinggi tersebut, nampak lah dua orang penjaga pintu berdiri dengan wajah kaku menunggu perintah.
''Sebentar sayang, - Julie menghentikan langkahnya. Ia sekali lagi menatap pada Zen dengan senyuman yang tidak bisa Zen artikan, senyuman haru bercampur sesuatu yang nampak asing, namun Zen mengesampingkan perasaannya.
''Tersenyumlah sayang, kau sangat tampan saat tersenyum,- Katanya pada Zen, membuat Zen menyunggingkan senyum seperti yang Mollie nya minta. ''Kau sudah siap..?"tanya Julie sekali lagi pada putranya, membuat Zen mendengus sekaligus heran.
''Kenapa aku harus siap Mollie, aku tentu siap kapan saja." kata Zen masih belum menyadari apa yang menunggunya.
''Kalau begitu masuklah sayang. Kejutan sudah menunggu mu.'' Julie memeluk putra nya dengan erat sebelum pintu terbuka.
Sedetik kemudian pintu terbuka dengan cara yang sangat dramatis, membuat semua orang yang berada di dalam sana menjadikan Zen sebagai pusat perhatian. Di bagian dalam gereja tersebut sudah di hias dengan sedemikian rupa, membuat perasaan Zen berkecamuk hingga ia kesulitan bernafas. Zen merasa begitu gugup dengan sekelebat perasaan asing yang tak bisa ia jelaskan menunggu untuk terbebas dari dalam sana.
Tiba-tiba saja ada sepasang anak kecil berjalan ke arahnya dengan memegang keranjang berisikan kelopak bunga. Apa itu mawar..? Zen mengerutkan kening nya.
''Son..?"
Suara yang begitu familiar menyentak Zen,
''Didiie..? Kenapa kau..?" Zen tak bisa menutupi keterkejutannya saat melihat kehadiran orang tuanya di sana.
__ADS_1
''Kau sangat tampan Son, tersenyumlah.. mempelai wanita mu sudah menunggu.'' kata Aldi pada putranya.
''Mempelai..?"
Seketika kepala Zen terasa pening. Hatinya pun berdebar dengan begitu cepat. Inikah kejutan yang Zoya maksud? jika Ya, maka ini sungguh sesuatu yang besar, dan Zen rasa memang begitu. Wajah Zen memerah, katakanlah ia memang terharu dan merasa ingin meledak karena bahagia, ia sungguh tak pernah membayangkan harinya akan datang dengan cara seperti ini. Spektakuler.
''Jangan terlalu cepat terharu Son, kau belum melihat mempelai mu bukan? Bisa ku ambil alih disini my Lady.'' Aldi meminta pada Julie untuk mengantarkan putra nya sampai ke Altar.
''Tentu Al.. tugas ku sudah selesai.'' Julie tersenyum dengan begitu haru, bahkan hampir meneteskan air mata, lalu berpaling pada Zen dengan tatapan yang menenangkan. ''Kami mencintaimu sayang, berbahagialah.'' doanya, kemudian berjalan melalui jalan lorong lainnya.
''Kau sudah siap, Son..?" Aldi tersenyum bahagia untuk putranya.
Kalau biasanya mempelai pria lah yang berdiri di atas Altar menunggu sang mempelai wanita, berbeda dengan Zoya. Saat ini, gadis itulah yang saat ini berdiri di sana menunggu Zen datang padanya. Apa kah itu salah? tentu saja Tidak.
Toh memang tidak ada peraturan tertulis yang mengatakan bahwa mempelai pria lah yang harus menunggu,.. Inilah yang benar-benar mengejutkan Zen.
Zoya nya benar-benar sesuatu.
Dengan iringan suara piano, Zen berjalan mengikuti kedua malaikat kecil yang memandu di depannya.
Saat ini Zen tak bisa memikirkan apapun, yang ada di pikiran nya hanya lah Zoya. Ia ingin segera memeluk kekasihnya itu dan menghadiahkan begitu banyak kecupan sayang.
Dari jauh, Zen hanya memfokuskan pandangan nya pada satu-satunya wanita luar biasa yang berdiri dengan sebuket bunga di tangannya, sungguh indah.
Gaun sederhana dan juga riasan sederhana yang ia kenakan bahkan tak mengurangi kecantikan bak dewi yang terus memancar dari wajah gadis itu.
"Pria ini milikmu sayang.. " Aldi tersenyum lalu mengecup kedua pipi gadis kecil yang selalu ia anggap seperti putrinya itu.
"Thanks Uncle, aku akan mengambil milik ku." Zoya mengulurkan tangan nya pada Zen.
"Kau suka kejutan mu kak..?" ucap Zoya saat Zen meraih tangan Zen.
"Kau mengambil peran ku sayang, dan kau sungguh berhasil." aku Zen dengan wajah bersemu karena bahagia. "Huh.. aku sungguh gugup sekarang, apa yang harus ku lakukan." Zen benar-benar tak memiliki persiapan, ini benar-benar kejutan tak terduga untuknya, bahkan jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Ia sangat-sangat bahagia.
Zoya menggenggam tangan Zen, dangan senyuman paling menenangkan menurut pria itu, "Lakukan seperti seharusnya kak, sekarang aku mengandalkan mu."
Setelah mengucapkan janji pernikahan di hadapan Tuhan dan juga para saksi, Zen dan Zoya tengah resmi menjadi pasangan suami istri. Pernikahan yang tak pernah Zen pikirkan akan datang padanya dengan cara yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi.
Sungguh, hari ini akan terukir nyata dalam benak nya, dan juga sebagai hari yang sangat bersejarah dalam hidup Zen.
"Kau bisa mencium mempelai mu." kata pastur setelah selesai meresmikan pernikahan keduanya, dan tentu saja kata-kata itu yang Zen tunggu sejak tadi.
"Aku akan memberikan pertunjukan yang bagus." bisik Zen setelah membuka tudung penutup wajah Zoya, memperlihat kecantikan Zoya yang sesungguhnya.
Dengan gaya yang begitu elegan, Zen meraih Zoya dan mencium bibir ranum istrinya, membuat semua yang hadir di sana bertepuk tangan turut merasakan kebahagiaan keduanya. Zoya kini telah menjadi satu-satunya milik Zen.
"Welcome to our new life.."
"Ini baru awal, kau masih memiliki hadiah lainnya kak."
"Tentu saja. Dari sini, biarkan aku yang mengambil alih." Zen sekali lagi mencium bibir istrinya. "I Love you, my Zo'e"
"I love you too, My Z.."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1