
...ENJOY...
.......
.......
.......
"Apa Dady ada di ruangan nya..?" Zoya bertanya kepada sekretaris Rehan. Saat ini Zoya sedang berada di kantor Dady nya. Sulit sekali untuk menemui laki-laki super sibuk dalam keluarga nya itu akhir-akhir ini.
"Maaf nona, pak Direktur sedang ada rapat.
Mari saya antar kan keruangan bapak." kata sekretaris Rehan ramah.
"Hem, apa kah masih lama, Maksud ku rapatnya..?"
"Entah lah nona, waktu rapat berlangsung tidak pernah di tentukan, namun jika itu sesuai agenda, maka 20 menit lagi seharusnya sudah selesai, karena setelahnya pak direktur harus menghadiri pertemuan penting di Hotel A pukul 1 nanti."
"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu di ruangan Dady.'' Zoya hendak melangkah, namun tertahan.
"Mau saya buatkan minuman untuk anda nona..?" Wanita itu tersenyum sopan dan ramah dengan kedua tangan di jalin di depan nya.
"Tidak usah. Terima kasih."
Zoya meninggalkan meja sekretaris Rehan menuju keruangan Dady nya. Daddy nya ternyata benar-benar sibuk. Pantas saja ia sangat jarang melihat kehadiran Dady nya di rumah beberapa hari terakhir.
Zoya sempat ragu dengan kedatangan nya, ia takut jika keberadaan nya di sana malah akan menyita waktu Dady nya yang saat ini begitu padat dengan beberapa agenda penting yang sudah di jadwalkan.
Namun jika Zoya pergi begitu saja, maka ia akan merindukan laki-laki yang sudah sangat jarang ia temui dirumah. Setidak nya Zoya harus memastikan jika Daddy nya baik-baik saja.
10 menit berlalu, Zoya hanya duduk di sofa coklat yang ada di ruangan itu. Menunggu. Itulah yang Zoya lakukan.
Ia sempat melihat-lihat meja Dady nya yang di hiasi dengan begitu banyak tumpukan kertas berupa berkas-berkas saham dan juga berkas-berkas kerjasama yang telah di tanda tangani maupun yang masih menunggu persetujuan. Setidaknya itu yang sempat Zoya baca saat berdiri di sana.
Dua puluh menit kemudian. Zoya memastikan waktu nya menunggu. Rapat itu belum juga kunjung berakhir.
"Hal apa yang membuat rapat nya berlangsung begitu lama..?" Zoya hanya bergumam pada dirinya sendiri.
BRAAAAKKK..
Pintu ruangan itu terbuka dengan cukup keras.
"Apa yang sebenarnya kalian kerjakan..? Apa hanya seperti ini kinerja kalian..? Apa kalian ingin di pecat..?"
Itu Dady nya. Dady nya belum menyadari kehadiran Zoya di sana. Seorang lelaki berusia 40-an tak jauh dari Daddy nya menundukkan kepala mendengarkan amukan atasannya. Laki-laki itu adalah seorang manager perencanaan.
"Bukan kah sudah ku katakan proyek ini sangat penting! Bagaimana kalian bisa lengah dan membuat celah untuk menciptakan kerugian bagi perusahaan..? Bagaimana cara kalian bekerja sebenarnya..!"
Rehan melonggarkan dasi nya yang terasa kencang.
Wajahnya memerah, marah. Jika sudah seperti ini, Zoya tau hal ini bukan menyangkut masalah yang sepele.
"Maafkan saya pak, akan saya perbaiki dan akan saya negosiasikan kembali dengan pihak investor." laki-laki itu menundukkan kepalanya dalam.
"Seharusnya sejak awal sudah kalian lakukan seperti itu, bukan disaat-saat seperti ini!" suara Rehan masih meninggi.
Ia marah tentu saja. Perusahaan nya hampir saja mengalami kerugian saham sebanyak 15 persen, dan nilai nya mencapai triliunan rupiah.
"Pergi dari hadapan ku..!!" bentaknya lagi.
"Baik pak, saya minta maaf. Akan saya perbaiki. Saya permisi."
Manager itu berbalik pergi meninggalkan ruangan Rehan. Rehan berdiri menghadap jendela, ia membuka tirai nya, dengan tangan bertolak di pinggang.
Zoya menyaksikan semua yang terjadi di ruangan itu.
Apa ia memang tidak terlihat..? atau suasana nya yang membuat mereka tak menghiraukan keberadaan Zoya di sana.
"Dad...?'' Zoya bicara perlahan tak ingin mengagetkan Daddy nya.
"Angel..? Apa yang,.? Sejak kapan kamu berada di sana..?" Ternyata Daddy nya memang baru menyadari kehadiran Zoya.
"Apa Dady baik-baik saja..?" Rehan kembali memperbaiki dasi nya, dan menghampiri Zoya.
"Dady baik-baik saja sayang. Apa tadi Dady mengagetkan mu..? Maafkan Dady sayang, hanya saja.."
"Aku baik-baik saja Dad." Zoya tersenyum. "Sebaliknya, saat ini aku mengkhawatirkan Daddy. Apa semua nya baik-baik saja..? Maksudku dengan pekerjaan Daddy barusan, Daddy ingin cerita sedikit pada ku..?"
Zoya menawarkan diri. Ia tak tau bagaimana ia bisa membantu Dady nya. Tapi saat ini, ia bisa menjadi pendengar yang baik.
__ADS_1
Rehan mengambil sebuah map berwarna merah dari atas meja nya dan menyerahkan nya pada Zoya.
"Bisa kamu baca ini sebentar angel." Rehan menyerahkan map nya. Zoya mengambil map itu dan membacanya perlahan. Halaman demi halaman.
"Apa ini yang kalian rapatkan tadi Dad..? yang membuat Daddy marah..?''
"Kau benar angel. Katakan pada Dady pendapatmu..!"
"Apa kesepakatan ini sudah final..?''
"Dady belum menanda tangani nya sayang."
"Menurutku, ini harus di bicarakan ulang Dad. Poin 3 dan 4 dalam perjanjian ini, jika di lihat sekilas maka akan terlihat sangat menguntungkan pihak kita."
"Namun jika di teliti lagi, kata-kata ini memanipulasi agar kita menyerahkan milik kita lebih banyak sebagai laba bagi perusahaan mereka."
"Itu dia angel. Kau menemukan inti permasalahan nya hanya dalam 10 menit. Itulah yang membuat Dady marah, hampir saja Dady mengalami kerugian karena pertemuan sebelumnya."
Rehan bersandar di sofa, tak jauh dari Zoya, menutup matanya dan memijit pelan kepala nya yang terasa sedikit berat.
Dady nya terlihat lelah. Zoya tergugah melihat bagaimana lelah Dady nya bekerja seorang diri.
"Apa perusahaan akan baik-baik saja Dad..?"
Rehan menghentikan gerak tangan nya. "Semua nya akan baik-baik saja sayang. Bukan kah Daddy sudah berjanji pada mu..?''
"Tapi Dad,.maksud ku..?"
"Kau ingin mencoba nya sayang..?" Rehan menghadap Zoya. "Kerjasama kali ini..?" bujuk Rehan. "Apa ini akan membantu Daddy..?''
"Kau mau..?' Tanya Rehan dengan penuh harap. "Tapi aku tidak bisa memastikan hasilnya."
"Itu tidak masalah." Rehan senang. "Asalkan kau bisa meyakinkan pihak A.S group agar mau merevisi ulang perjanjian kerja sama ini, itu sudah sangat membantu Daddy."
"A.S Group..?" Zoya merasa tidak asing dengan nama perusahaan tersebut.
"Ya sayang. Dady dengar, hari ini direktur baru akan di angkat, dan kerja sama ini Dady yakin secara resmi akan di tangani sendiri oleh Direktur baru A.S Group."
"Benarkah..? Dady yakin ingin aku yang mengurus nya..?" Ada sedikit keraguan dalam diri Zoya.
Menangani sebuah perusahaan, tidak sama seperti menangani para mahasiswanya. Itu membutuhkan skill yang berbeda.
"Tentu saja! kau putri Dady. Kau cerdas dan kompeten. Meskipun kau tidak tertarik pada pekerjaan ini, tapi darah Dady mengalir dalam dirimu. Dan Dady yakin kau akan bisa menangani nya." Rehan Yakin.
Meskipun Zoya tidak pernah mengatakan ketertarikan nya pada perusahaan, tapi kecerdasan dan intuisi berbisnis Rehan mengalir dalam dirinya.
"Baiklah. Aku akan membaca dan mempelajari dokumen ini. Karena itu, aku harus membawa nya."
Zoya menyimpan berkas gas di dalam tas.
Drrrttt.. Drrrtt..
"Sebentar Dad, aku akan menjawab panggilan ini."
"Ya kak? Aku sedang di kantor Dady."
"Tidak ada. Hanya merindukan Dady.".Zoya menatap pada Rehan yang saat ini tengah tersenyum memandang nya. "Tentu saja, dirimu juga."
Wajah Zoya merona.
Zen menggoda putri nya secara terang-terangan.
Rehan tau itu, jika tidak maka wajah cantik putri nya tidak akan merona seperti saat ini.
"Baiklah. Aku tutup ya, pukul tiga aku akan tiba di sana." Zoya mengakhiri panggilan dari kekasihnya.
"Dad,, maafkan aku, tadi."
"Ya, Dady tau.. tidak apa-apa. Bagaimana persiapan pertunangan kalian angel,..?"
Suasana hening sesaat. "Kami tidak menyiapkan apa-apa Dad, mommy bilang kami hanya perlu menghadiri acara itu saat hari nya nanti."
"Sepertinya mommy mu sangat bersemangat.." Rehan tersenyum. Lebih tepatnya tertawa. "Mommy memang selalu bersemangat dengan apapun, jangan lupakan itu Dad.." Zoya pun tertawa.
"O, ya Dad, kak Zen bilang Uncle dan Aunty akan datang ke indo dalam empat hari."
"Apa Mereka sudah memberikan persetujuan.. Sampaikan permintaan Maaf Dady pada Zen angel. Dady yang terlalu sibuk sampai tidak sempat menghubungi orang tua Zen di U.K."
"Tidak apa-apa Dad, kami bisa mengerti. Sebenarnya akhir-akhir ini Kak Zen juga sangat sibuk. Bukan kah kalian memang seperti itu..?"
__ADS_1
Wajah Zoya menampakan sedikit kekesalan.
"Itulah resiko memiliki pasangan seorang pengusaha sayang. Kau harus bisa memahami Zen seperti Mommy mu mengerti dengan semua kesibukan Daddy.
Kau tau sweet heart, bagaimana pun Dady berusaha membuat kalian menjadi prioritas, Dady tetap tidak bisa membagi waktu dengan adil untuk keluarga dan pekerjaan Daddy."
"Dady seperti seorang suami dan ayah yang sedang berselingkuh dengan pekerjaan ini, sehingga Dady tidak bisa mendedikasikan waktu dan diri untuk keluarga seperti seorang ayah selayaknya pada kalian anak-anak Dady."
Wajah Rehan terlihat Resah. Ada guratan kecemasan dan lelah terpatri di sana.
"Kami bisa mengerti Dad..Kami sangat tau bagaimana perjuangan Dady untuk menjaga agar kami selalu berkecukupan dan bahagia. Dady adalah ayah terbaik."
Zoya memeluk Dady nya. "Anak Manis." bisik Rehan.
"Angel..?"
"Hem,..?"
"Jika nanti kamu menikah dan suami mu tidak memperlakukan mu dengan baik, Jangan ragu untuk mengatakan nya pada Dady. Dady akan menghajar nya untuk mu.."
Rehan serius dengan ucapan nya. "Baiklah Dad, jika nanti kak Zen mengganggu ku, maka aku akan minta Dady melindungi ku." kata Zoya manja.
"Daddy menyayangi mu sayang.."
"Aku juga menyayangi Daddy.."
Hening lagi.
Krrruuukkk..
Suara yang tidak asing. Membuat keduanya tertawa.
"Mau menemani Daddy makan siang angel..?''
"Tentu saja Dad, Ayo."
"Kemana..?" Rehan masih duduk di kursinya. "Makan siang kan..?''
"Maksud Daddy makan siang disini saja sayang."
"Disini..? Baiklah, Dady mau makan apa, biar aku yang pesan kan." Zoya mengambil ponselnya. "Tidak usah angel.
"Makan siang Daddy akan datang tepat pada pukul dua belas."
TOK..TOK..
"Permisi pak, kotak makan siang anda,
mau saya sajikan sekarang..?'' kata OB tersebut.
"Ya, tolong siapkan sekarang." pinta Rehan. "Kotak makan siang,? Apakah mommy..?"
"Kau tidak tau..?" Zoya menggeleng, speechless.
"Sejak kapan Dad..?"
"Sejak kau di dalam kandungan mommy mu sayang."
Rehan tersenyum. Ada rasa kebanggaan dan cinta yang memancar dari wajah nya.
"Everyday..?"
"Ya. Of course."
"Really Dad..?"
"Tentu saja sayang. Apa kau pikir Dady bercanda..?Itulah hebatnya cinta Mommy mu. Tak pernah sehari pun Mommy mu membiarkan Dady kelaparan saat di kantor."
"Dengan seperti ini, Daddy selalu merasa jika Dady dekat dengan keluarga Dady." Lagi-lagi Rehan tersenyum.
"Permisi Pak, makan siang nya.."
"Sajikan saja disini. Terima kasih."
"Nah, angel, ayo kita makan. Daddy sudah sangat lapar." Rehan memegang perutnya yang keroncongan.
Zoya terharu sekaligus kagum akan cinta yang di miliki orang tua nya. Apakah ia mampu melakukan hal yang sama..? Membuat Zen bahagia saat bersama nya...?
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...