
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Hari sudah memasuki senja saat Leon tiba di gerbang memasuki wilayah pemakaman Julie.
Dengan membawa buket bunga ditangan nya; Leon menyusuri sepanjang jalan mendaki menuju tempat peristirahatan terakhir dari wanita yang sudah di anggapnya sebagai bunda dalam hidupnya.
Dari kejauhan, samar-samar, ditengah senja yang semakin lama semakin menggelap, Leon melihat ada orang lain yang duduk tak jauh dari makam, dan Leon sangat mengenal punggung itu.
''Uncle..?" sapa Leon, saat ia sudah berdiri di belakang Rehan.
Rehan sedikit terkejut saat mendengar ada yang menyapa dirinya; terlebih lagi karena keberadaan nya saat ini.
''Oh, Hei Son, kau berkunjung?" sambut Rehan saat sudah mengenali sosok Leon.
''Benar Uncle, aku ingin mengunjungi bunda, aku juga membawakan bunga kesukaan bunda.'' ujar Leon menunjukan buket bunga Lili di tangan nya.
Semasa hidupnya; Julie memang sangat menyukai bunga Lily putih. Bahkan di taman pribadinya, hampir seluruh taman di tanam jenis bunga itu.
''Bunga yang cantik. Kau harus meletakkan nya Son, Moo, pasti sangat menyukainya.'' balas Rehan, mempersilahkan Leon.
Rehan merasa sangat senang dengan kedatangan Leon, setidaknya ada seseorang yang dapat ia ajak bicara selain nisan istrinya tercinta.
''Baiklah Uncle, aku juga ingin bicara sebentar dengan bunda.'' sahut Leon lagi, Rehan menganggukkan kepalanya memberikan waktu yang dibutuhkan oleh Leon.
Sementara dirinya, memperhatikan dalam diam. Saat Leon mulai berdoa, Rehan pun ikut berdoa dalam hatinya;
"Kau lihat sayang, semua orang sangat mencintaimu. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, dan juga menemaniku selama ini, kau bisa bahagia sekarang, karena kau akan selalu berada di hati kami."
''Bunda, ini Leon, aku datang untuk mengunjungi Bunda."- sapa Leon setelah meletakan bunga di atas makam Julie.
Sementara bunga yang lain nya juga di letakan tak jauh dari bunga miliknya.
Itu adalah bunga baby breath yang indah.
''Leon berdoa agar bunda selalu bahagia disana.- Jangan khawatir tentang Ken Bund, aku akan selalu ada untuk menjadi teman baiknya. Aku juga akan menggantikan bunda untuk memarahinya seandainya nanti aku mendapati Ken melakukan kesalahan.- ujar Leon kemudian diam sejenak.
Rehan masih terus mendengarkan apa Yang Leon katakan; Rehan merasa bersyukur Ken bisa memiliki sahabat seperti Leon; ini mengingatkan tentang persahabatan nya dengan Aldi, dulu.
''Apa bunda tau? aku bertemu dengan Ken hari ini.- Anak bunda menemuiku dengan pakaian kerja nya; dan Wah!" Leon bersuara penuh kekaguman;
"aku mulai menyadari satu hal Bund,
-Saat aku melihat Ken, dalam hati aku mulai berkata; Ah, ternyata bocah dingin ini sangat rupawan saat mengenakan pakaian kerja, anak bunda terlihat sangat tampan." tambah Leon.
''Aku juga akan jadi sangat tampan suatu saat nanti.'' cerita Leon lagi, seakan-akan Julie sedang berada disana dan bicara padanya.
Rehan tersenyum mendengarkan semua yang Leon katakan; ia mendapatkan sedikit penghiburan di tengah-tengah kesepian yang tengah dirasakan nya selama ini.
Kini Rehan kembali menemukan kepolosan seorang pemuda dalam diri Leon;
Melihat Leon saat ini; membuat Rehan teringat saat-saat keduanya masih berada di senior high school.
Betapa konyolnya Leon yang terus berusaha dekat dan menempel pada putranya. Bahkan tidak hanya Ken, Leon pun semakin hari semakin dekat dengan istrinya; itu semua membuat Rehan merasa seperti memiliki dua putra yang bertolak belakang.
Yang satu seperti dirinya, dan yang satu lagi seperti Julie,-
Benar-benar menyenangkan saat mengingat masalalu;
''Bunda, aku lupa menceritakan tentang seseorang pada mu; L- kekasih Ken.-'' Sambung Leon.
''Apa bunda tau, saat melihat L, aku teringat akan semua cerita uncle tentang bunda dimasa muda. L memiliki semangat dan juga jiwa seorang pekerja keras dalam dirinya; Tidak kah itu sama seperti bunda..?"
__ADS_1
''Terkadang aku juga melihat sosok seorang prajurit wanita dalam diri L, Ken sangat beruntung memiliki Lova sebagai kekasih nya.- Tapi bunda juga harus mengatakan hal yang sama pada ku." tambah Leon, sambil sesekali tersenyum.
''Saat ni aku juga sedang mengencani seorang gadis yang sangat cantik dan juga baik hati; Sea.-
"Doakan kami, agar kami bisa meraih masa depan kami bersama. Juga, agar kami bisa tetap mencintai pasangan kami, seandainya kami memang memiliki takdir yang sama untuk masa depan.''
Leon lagi-lagi kembali tersenyum;
''Apa aku terlalu banyak bicara Bund?- ringis nya. ''Aku merindukan bunda.'' lirih Leon lagi.
Perasaan yang sama yang juga tengah dirasakan oleh semua orang, karena kepergian Julie yang tiba-tiba;
''Maafkan aku uncle,- ujar Leon melirik pada Rehan yang saat ini tengah tertunduk memandangi potret di batu nisan. Gambar wanita yang sangat ia cintai,-
''Tidak apa-apa Son, tidak apa-apa.'' sahut Rehan dengan suara serak.
Ah! Perasaan ini lagi! Rehan benar-benar tidak menyukai perasaan sedih yang datang secara tiba-tiba melingkupi perasaan nya. Perasaan rindu yang selalu menggerogoti hatinya secara perlahan.
Melihat Rehan yang seperti ini, menggerakkan sesuatu dalam diri Leon; ''Boleh aku memeluk mu Uncle?" ujar Leon merentangkan tangan nya;
Hah! Mungkin Rehan memang membutuhkan sebuah pelukan saat ini. Pelukan yang mungkin akan memberinya sedikit kekuatan.
''Tentu Son.'' sahut Rehan menerima pelukan dari Leon.
Apakah ini sebuah rasa empati dari seorang pria muda?
Rehan sama sekali tidak bermaksud untuk menunjukan sisi terlemah dirinya di hadapan siapapun, tapi kali ini; kali ini ia terlalu lengah. Pertahanan dirinya sudah disusup oleh rasa rindu yang semakin menjadi-jadi karena kepergian istrinya.
''Semua akan baik-baik saja Uncle.'' ujar Leon menepuk pelan punggung Rehan.
Wangi maskulin nan khas bercampur dengan wangi tubuh alami Rehan menguar dalam penciuman Leon saat memeluk ayah sahabatnya itu.
Meskipun terlihat sangat tegar, semua orang memiliki hati dan juga perasaan.
Leon sangat memahami hal itu;
Leon tidak bermaksud membuat Rehan sedih atas perkataan nya barusan; hanya saja, Leon tidak bisa menahan diri untuk menceritakan semuanya kepada Julie, meskipun saat ini Julie sudah tidak bersama-sama dengan mereka lagi, tapi bagi Leon; bunda nya akan selalu ada di hatinya.
Bunda nya selalu ada untuknya; meskipun Leon adalah orang asing, tapi wanita itu selalu memperlakukan Leon seperti Leon adalah putranya sendiri; itulah yang membuat Leon begitu menyayangi Julie.
''Terima kasih Son.'' balas Rehan.
Leon memang sosok yang tepat sebagai seorang penenang; pemuda itu sungguh tau apa yang harus dilakukan nya, dan yah- setelah meneteskan air mata untuk meluapkan seluruh perasaan yang terus membelenggunya; kini Rehan merasa lebih lega.
Perasaan nya menjadi lebih baik; Rehan merasa beban berat di pundaknya nya secara perlahan sudah sedikit berkurang, dan semua berkat pemuda di hadapan nya saat ini, Leon.
''Kau mau duduk Son?'' tawar Rehan yang tiba-tiba merasa lelah karena terlalu lama berdiri.
''Tentu uncle.'' sahut Leon.
Leon duduk di atas rumput hijau sama seperti Rehan; keduanya kini sama-sama terdiam, merenung dan berkutat dengan pikiran mereka masing-masing.
''Nah, Son,- bisa kau ceritakan tentang pertemuan mu dengan Ken sebelumnya?'' Rehan membuka percakapan diantara keduanya.
Rehan tidak berniat untuk ikut campur atau yang sering disebut anak muda dengan kepo dengan urusan anaknya, hanya saja akhir-akhir ini Rehan memang jarang bertemu dengan Ken.
Rehan selalu menyibukkan dirinya dengan semua pekerjaan kantor, terkadang ia juga mengambil pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh sekretarisnya.
Begitu pula dengan putranya; Setiap Rehan memperhatikan Ken dari jauh; Rehan selalu melihat sosok dirinya yang terlalu dingin dalan diri Ken, ah.. dan itu bukanlah hal yang baik.
Ken akan menjadi pria kesepian seperti dirinya dulu, jika ia juga memiliki sikap hidup seperti Rehan saat belum bertemu dengan Julie.
Ehhmm.
Leon berpikir sejenak, dari mana seharusnya ia harus memulai cerita nya malam ini; haruskah ia lagi-lagi menceritakan keresahan yang juga tengah dirasakan sahabatnya? Tidak. Itu bukan bagian Leon, itu adalah milik Ken, dan Rehan tidak berhak untuk melewati batasan nya.
''Ya uncle, seperti yang ku katakan sebelumnya; Aku memang bertemu dengan Ken di cafe yang biasa kami kunjungi sebelum aku datang kemari..'' Jelas Leon.
''Bocah itu terlihat sangat sibuk. Saat melihat Ken yang dengan tekun melakukan tanggung jawabnya; aku jadi tau satu hal, Ken sangat menyukai pekerjaan nya Uncle.'' tambah Leon lagi.
__ADS_1
Selama berada di cafe, Leon telah mengamati Ken.
Jika menyukai sesuatu, Ken tidak akan mengeluhkan apapun. Dan itulah yang lakukan nya; selama mereka bicara, tidak sedikitpun Ken membicarakan pekerjaan nya; misalnya ia yang merasa lelah, jenuh atau apapun itu.
Dan Leon tau bahwa Ken benar-benar menyukai apa yang saat ini kerjakan nya.
''Uncle sangat lega mendengar apa yang kau katakan Son,- sahut Rehan, kemudian tersenyum pada Leon.
''Kau harus menepati perkataan mu Son, anggap saja ini sebuah permintaan dari ku,- Kau harus terus menjadi sahabat Ken.-
''Saat melihatnya bekerja di kantor, Uncle merasa sedih; Ken terlalu mirip dengan Uncle dimasa muda dulu; sifatnya akan membuatnya merasa kesepian.'' ujar Rehan.
''Uncle tenang saja, aku sudah menganggap Ken seperti saudaraku, dan aku pasti akan terus menjadi sahabatnya, meskipun terkadang bocah itu tidak menganggap ku sama sekali.'' keluh Leon.
Mereka pun sama-sama tertawa;
''Itulah poin nya Son. Kau dan Ken saat ini, sama seperti Uncle dan uncle Don saat kami masih muda. Kalian seperti mengulang kisah persahabatan kami.''
''Terima kasih Son."
...❄️❄️...
Sementara itu ditempat lainnya;
Saat masuk ke dalam kamar, Zen melihat istrinya yang tengah berbaring sambil meletakan kakinya di atas susunan bantal;
''Sayang, apa kau lelah? kaki mu terasa kencang.'' ujar Zen sambil mengelus betis Zoya yang semakin hari semakin membengkak.
''Tidak kak, aku bahkan hampir tak melakukan apapun selain membaca buku.'' Sahut Zoya.
''Tapi kaki ku benar-benar terasa pegal.'' keluhnya.
''Benarkah? mungkin kaki mu terasa kencang karena lelah berjalan melalui tangga.'' balas Zen lagi.
''Mungkin saja, kak.'' sahut Zoya yang kini tengah berbaring seraya menikmati pijatan lembut pada kakinya.
Suaminya itu memang selalu tau apa yang Zoya butuhkan; ''Kau bisa pulang lebih cepat besok kak?'' Zoya kembali bersuara. ''Ken ingin mengajak kita untuk mengunjungi makam mom, kau bisa pergi?" tanya Zoya pelan.
''Baiklah sayang, aku juga tidak pergi ke kantor besok. Aku akan menjemput mu, setelah aku memesan bunga, lalu setelah nya kita akan mengunjungi mom.'' sahut Zen pelan.
''Terima kasih kak.''
''Hmm.- O'ya sayang.. hei jangan tidur dulu Zo'e, kau harus meminum susu mu sebelum tidur. Akan ku buatkan sebentar." Ujar Ken yang langsung bangun dari sisi ranjang untuk membuatkan segelas susu untuk istrinya.
Setelah susu buatan nya jadi, Zen kembali naik ke lantai dua, ia berharap kali ini Zo'e mendengarkan nya untuk jangan tertidur.
Sejak kehamilan istrinya semakin mendekati tanggal kelahiran, Zen selalu merasa was-was setiap meninggalkan Zoya sendirian dirumah.
Karena itulah; ia memilih bekerja dari rumah dan hanya pergi ke kantor jika ada urusan mendesak yang harus diselesaikan secara langsung.
Selebihnya; Zen akan memilih untuk terus berada dirumah menemani Zoya. Saat membuka pintu kamar, Zen tersenyum melihat istrinya yang sedang menunggu nya; Zoya terlihat menggemaskan dengan pipi chubby dan juga perut besar nya;
''Ini susu mu sayang, nutrisi untuk mu dan juga Little Cherry.''
''Terima kasih kak,- ucap Zoya, lalu mengambil gelas susu nya.
Setelah Zoya menghabiskan susunya; Zen meletakan gelas di atas nakas, lalu menyelimuti Zoya;
''Tidurlah sayang, kau harus banyak istirahat, aku akan menemani mu disini.'' ujar Zen mengecup kening Zoya. ''Kau akan bekerja lagi kak? setelah ini?''
''Hmm, ada beberapa berkas yang harus ku periksa.'' sahut Zen pelan. ''Harus malam ini?''
''Kau ingin ku temani? baiklah- Tidurlah sayang, aku tidak akan pergi kemana pun. Aku akan berada disini bersama mu.'' bisik Zen sambil memeluk Zoya.
''Aku mencintaimu kak.''
''Aku juga sangat mencintaimu sayang, tidurlah.- Good nigth sweetheart, and good nigth Little Cherry, Dady so much love you''
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...