My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
DEJAVU


__ADS_3

ENJOY....... 🍸


.


.


.


.


Zoya berjalan perlahan menghampiri Zen dan Jordan, namun Zoya masih berakal sehat untuk tidak menempatkan diri ditengah-tengah kedua pria itu, setelah peringatan Zen semalam. Zoya menyadari bahwa Zen tidak menyukai keberadaan Jordan, dan itu memang salah Zoya. Namun mau bagaimana lagi, ia lebih dulu menawarkan Jordan untuk menginap tampa mengetahui keberadaan tunangannya. Bukan berarti Zoya ingin melakukan hal yang salah di belakang Zen, Zoya hanya bersikap sopan.


Dan untuk menjaga kesopanan dan kedamaian saat ini, Zoya lebih memilih untuk duduk di salah satu kursi yang mengitari meja makan, dari pada berada di sebelah Zen maupun Jordan.


"Aku akan duduk disini." suara kursi berdecit saat Zoya menarik kursi dan menempatkan diri disana. Zen segera menghampiri Zoya memberikan ciuman selamat pagi secara terang-terangan di depan Jordan. "Selamat pagi sayang, mau kubuatkan segelas susu hangat?" tawar Zen tersenyum menggoda pada Zoya, seakan melupakan keberadaan Jordan disana. Sekalian saja, mungkin Zen memang ingin mengenyahkan Jordan.


Zoya menggelengkan kepalanya menolak susu hangat yang Zen tawarkan. Zoya memang sedang tidak ingin perpaduan rasa manis itu menguasai indera pencecapnya di pagi hari. Sebaliknya, dengan sigap Jordan menyodorkan segelas air putih kehadapan Zoya, tak bermaksud apapun. Namun Zen memandang kesal atas tindakan yang menurut nya lancang itu. Zoya melirik sekilas, seakan bisa memahami arti dari tatapan Zen pada gelas dihadapanya, kemudian mengakhiri pandangan Zen pada gelas miliknya. "Thanks Jord, aku memang membutuhkan ini." Zoya menghabiskan keseluruhan isinya hingga tandas.


"Vidette-- Jordan bersuara, membuat Zen menatap nyalang pada dirinya. "Oh-Maaf aku memanggil Zoya, jika kau tidak terbiasa." Jordan menyeringai. Ia juga memamerkan kedekatannya dihadapan Zen. Salah Zen yang memulainya. "Hem?" Zoya mendengarkan Jordan. "Bisa kita bicara-- mungkin setelah kau selesai membersihkan diri." kata Jordan lagi mengingatkan Zoya pada kenyataan nya yang masih terlihat sedikit. "Bicara saja sekarang!" tegas Zen pada keduanya. Membuat Zoya tersentak dengan sikap tak memberi waktu dari tunangannya.


"Ini hanya pembicaraan singkat antar teman Zen, ku rasa kau tak perlu khawatir." Jordan bersikap acuh kembali ketempatnya semula, sekali lagi menyesap kopi hitam miliknya.


"Teman? apa aku tidak salah dengar?" remeh Zen, membuat Zoya menggeram singkat. "Kenapa tidak..? Kau bisa pastikan sendiri pada Zoya kalau kami adalah, teman." jawab Jordan sambil menarik ujung bibirnya. "Tidak ada pertemanan antara pria dan wanita, untuk kau ketahui." ucap Zen lambat-lambat tampa menutupi ketidaksenangannya memikirkan waktu Zoya bicara berdua dengan Jordan.


Jordan menaikan sebelah alisnya, menatap heran pada Zen, "Kenapa?" tanya nya, yang juga menimbulkan pertanyaan yang sama bagi Zoya. Mengapa bagi tunangan nya itu pria dan wanita tidak boleh berteman? Zoya pun menatap pada Zen menunggu jawaban rasional kekasihnya yang menentang terang-terangan hubungan sosial antara dirinya dan Jordan. "Itu tidak terdengar seperti-- seseorang." tambah Jordan, semakin menuntut jawaban atas pertanyaannya.


"Karna diantara hubungan tersebut, jelas memiliki maksud tersembunyi." jawab Zen menekan menegaskan maksudnya atas sikap Jordan. "Oh- seperti maria." cuit Zoya tak sadar menyuarakan pikirannya. "Zo'e!" Zen menatap tak senang karna mengait-ngaitkan maria dalam perbincangan mereka. Entahlah apa ini masih bisa di anggap sebagai suatu perbincangan.


"Kenapa? bukankah wanita itu juga menyimpan perasaan padamu kak?" Zoya membalas Zen. Zoya sangat menyadari bagaimana Maria menatap pada Zen malam itu, dan juga saat terakhir Zoya melihat mereka bersama.

__ADS_1


"Zo'e, maria hanya teman saat di universitas." bela Zen, sementara Jordan mengangguk paham. "Ahh, jadi pertemanan yang menimbulkan skandal yang kau maksudkan? apa kekasihmu juga memiliki skandal seperti itu Vidette? karna ku tegaskan,--Jordan mengembalikan tatapannya pada Zen. ''Vidette tak ingin terlibat skandal apapun sejauh yang ku ingat. " ucap Jordan lagi menerangkan situasi. Zen semakin geram mendapati itu, menurutnya Jordan sengaja membuat panas situasi dengan menempatkan Zen disana. Zoya menghembuskan nafas dan memutar matanya jengah, lalu menggebrak meja makan. "Hentikan ini.-- aku akan naik untuk membersihkan diri. Aku akan menemui mu setelah ini." Zoya mengarah pada Jordan. "Dan kau kak, sebaiknya hentikan ini, Jordan adalah tamu disini." peringat Zoya yang juga kesal memikirkan apakah Zen juga memiliki skandal yang tidak Zoya ketahui seperti kata Jordan barusan.


Tampa mengulang ucapannya Zoya berbalik meninggalkan keduanya.


Zen memperingati Jordan dengan tatapan sedingin es- namun Jordan malah sebaliknya, ia tersenyum meremehkan.


Zen memilih untuk menyusul Zoya dari pada harus menggempur Jordan dengan segala kemarahan yang sudah ditahannya. Menghabiskan waktu disini akan membuatnya lepas kendali.


Dengan pelan, Zen mengetuk pintu kamar Zoya, berharap kekasihnya itu mau membukakan pintu tampa membiarkan Zen menunggu dengan kesabaran yang hampir menipis. "Zo'e.. bisa buka pintunya sebentar aku ingin bicara." Zen setengah mengerang mendapati Zoya membiarkan waktu berjalan begitu lambat dan membuat Zen menunggu. Saat ini Zen mendapati, tak seperti Zoya yang selalu tersenyum bahagia, bahkan merona saat Zen menghampirinya. Apa perkataan Jordan mempengaruhi tunangannya? tidak akan.


"Pergilah kak, aku mau mandi. Tunggu aku selesai baru bicara." tolak Zoya bersuara tampa membukakan pintu, membuat Zen dengan segela kekecewaannya menarik diri dan menunggu di kamarnya sampai Zoya siap, atau setidaknya setelah Zoya mandi.


"Baiklah, aku akan menunggu dikamarku. Temui aku setelah ini." Zen mengalah. Ia tak akan membiarkan keegoisan nya sebagai seorang pria mengalahkan cintanya, meskipun harga dirinya sedikit terluka atas penolakan Zoya.


Selesai dengan rutinitas paginya, Zoya langsung mengenakan setelan blazer berwarna grey, menutupi kaos putih polos yang senada dengan celana bahan yang ia gunakan, membuat Zoya nampak segar, stylis dan mempesona.


Mengingat ucapan Zen sebelumnya, Zoya langsung menghampiri Zen ke kamarnya, mendengarkan apa yang kekasihnya itu ingin katakan, mungkin sebuah pembelaan diri, lagi.


Zen menarik tangan Zoya membuatnya langsung mendarat sempurna di pangkuan Zen. Meskipun dihalangi oleh kain, sentuhan Zen memberikan sensani menggelenyar di kulit Zoya, menjalari punggung Zoya perlahan.


"Kau marah padaku sayang? atas perbuatan ku dibawah? aku tak bermaksud membuat mu malu dengan sikap kekanak-kanakan ku, aku minta maaf-- ucap Zen menyesali perbuatannya. "aku hanya merasa cemburu melihat pria itu menaruh ketertarikan padamu, aku tidak suka." akunya lagi. Zoya melingkarkan tangan di leher Zen, menatap lekat wajah Zen yang selalu membuatnya berdebar. Entah apapun itu, Zen selalu bisa membuat Zoya merasa, seperti seorang wanita seutuhnya. "dengarkan aku,-- Zoya menyentak Zen agar menatap padanya. "Apa kakak meragukan perasaanku? kakak merasa aku bisa berpaling, karna itukah kakak tidak suka aku berteman dengan Jordan, maupun yang lainnya? begitukah?"


Zen membalas pandangan Zoya, hingga tatapan keduanya saling mengunci, "Boleh ku cium kau sekarang, aku menginginkanmu sayang?" Zen sedikit mendesah saat bukti ketertarikan nya pada Zoya begitu mengikatnya. "Kau belum menjawabku kak." Zoya bersuara pelan namun tegas. "Tidak. Aku percaya padamu, tapi aku tak pernah percaya pada semua laki-laki itu, kau puas? sekarang bolehkah?"


Zoya menggigit pelan bibirnya, dan itu tak luput dari perhatian Zen. "sama seperti yang kurasakan padamu, dan--- yah teman wanitamu." Zoya menelengkan kepala memberi ruang pada Zen untuk mendapatkan apa yang tunangannya itu inginkan, hal yang sama berlaku pada Zoya.


****


Zoya mencari keberadaan Jordan yang katanya ingin bicara sebagai teman pada Zoya. Setelah mencari, Zoya mendapati Jordan duduk di pinggir kolam renang.

__ADS_1


"Hai, kau disini?" Zoya menghampiri Jordan, dan duduk tak jauh dari laki-laki itu.


"Sudah siap untuk berangkat?" Jordan menaikan satu alisnya, sedikit silau melihat Zoya dikarenakan cahaya matahari yang semakin meninggi. "Hmm. Sebentar lagi." jawab Zoya singkat. "Mau bicara apa?" tanya Zoya lagi kembali pada inti pertemuan tersebut.


Jordan mengeluarkan kakinya yang setengah berendam di air kolam, lalu berjalan ke arah Zoya. "Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan.-- Jordan sedikit menyunggingkan bibirnya mencoba untuk tersenyum, namun Zoya menangkap perasaan lain disana. "Kau ingin pergi? kemana? kenapa?" Zoya mulai menanggapi Jordan dengan serius, mengingatkan perasaan dejavu pada dirinya. William. Ya Zoya sudah pernah mengalami ini satu kali.


Jordan benar-benar tersenyum sekarang, mendapati Zoya yang tak hanya mengganggapnya sebagai se-orang asing.


"Sudah ku ceritakan bukan tentang kisah asmaraku?-- dikampus-- meskipun tak separah itu, tapi hal yang terjadi cukup untuk membuatku mengambil keputusan untuk berhenti dan melanjutkan studyku kemudian mewujudkan mimpiku--kau ingat bukan? Karna itulah aku datang padamu, dan sungguh terima kasih sudah memberikan ku kesempatan untuk menjadi temanmu Vidette, aku sangat senang untuk hal itu. Aku akan pergi lusa, langsung ke London." tutup Jordan memejamkan mata, lalu membuka kembali memastikan Zoya mendengar semuanya.


"Apa semua teman memang seperti ini?" Zoya bertanya heran mendapati semua yang dianggapnya teman, semua pergi meninggalkan nya satu per satu, hingga setelah ini Zoya tak memiliki teman lagi. "Maksudmu?" Jordan mengerutkan keningnya. "Tidak apa-apa, setidaknya kau bukan tipe yang menghilang tampa salam perpisahan." desah Zoya, kemudian kembali melihat pada Jordan.


"Aku mendukungmu teman. Aku menantikan perwujudan dari impian mu? percayalah aku juga akan mengejar impianku, sepertimu." Zoya tersenyum sambil menahan air matanya yang hampir saja tertumpah, lalu cepat-cepat ia menggantinya dengan tertawaan konyol.


"Kemarilah." Jordan menarik Zoya dalam pelukannya. "Kau harus bahagia. Apapun yang terjadi, pastikan kau harus selalu bahagia." ucap Jordan lagi, membuat air mata Zoya benar-benar tumpah. Ia menangis dalam diam. "Kau juga, sampai bertemu lagi." tutup Zoya. Jordan mengangkat sebelah tangannya, mengacungkan jari membentuk peace pada Zen yang menatap mereka dari lantai dua Villa itu.


"Aku akan disini sebentar lagi. Kalian hati-hatilah saat kembali ke jakarta. Jangan menangis Vidette." Jordan tersenyum menutup salam perpisahannya. Sementara Zoya juga berusaha tersenyum untuk Jordan, temannya.


.


.


.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁 🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


MOHON MAAF LAHIR BATIN 🙏


__ADS_2