My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
Waiting For.... ?


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Setelah menutup panggilan nya, Lova segera menaiki tangga menuju roof top. Ia harus menemui Ken dan bicara.


Sejak pembicaraan terakhir mereka, Ken menjauhkan dirinya. Lova tak tahu bagian mana yang Salah dari perkataan yang telah di ucapkan nya.


Apakah karena ia tak ingin membahas tentang pernikahan yang selalu di bahas Ken berulang kali? atau kah karena ia mengatakan bahwa mereka akan menikah suatu hari nanti? Tapi dimana salahnya? bukan kah itu benar? mereka memang akan menikah juga sudah saat nya.


Lalu dimana salahnya? bukan kah aneh jika terus-terusan membicarakan pernikahan dengan begitu gamblang seolah-olah itu adalah sebuah permainan.


Pernikahan adalah suatu yang sakral yang harus di hormati. Bagaimana bisa seseorang membicarakan pernikahan seolah itu adalah sebuah hal sepele.


Lova benar-benar tak habis pikir. Dimana letak salahnya kali ini? apakah Ken marah karena ia tak menyetujui untuk menikah besok?


Damn! Besok? Sungguh gila. Siapa yang konyol sebenarnya?


Ketika sampai di roof top, Lova melihat Ken yang berdiri memunggungi nya. Kekasihnya itu hanya berdiri sambil menatap entah kemana.


Hanya dingin angin malam yang terus-terusan berhembus mengisi kekosongan di antara mereka.


Lova berjalan mendekat dan berhenti tepat selangkah di belakang Ken, "Kau marah padaku?" Tanya Lova yang masih memandang lekat ke punggung Ken.


Hanya keheningan yang masih bermain di antara keduanya. Sampai akhirnya Lova melihat Ken menundukkan kepala, sebelum berbalik kearahnya untuk bicara.


Ken terlihat gusar, di tambah lagi pria itu menghela nafas nya. "Aku tidak marah L. Aku hanya merasa sedikit tidak nyaman." Sahut Ken dengan ekspresi yang samar-samar di penglihatan Lova. Apakah Ken kecewa?


"Karena aku mengatakan hal itu, tentang jangan membicarakan pernikahan? atau karena aku tak menyetujui pernikahan yang mungkin sudah kau rencanakan?" Tanya Lova lagi masih dengan nada bicara yang sama.


Lagi-lagi Ken menatap nya dalam diam, sebelum sekali lagi mendesah pelan lalu kembali berpaling. "Lupakan saja L. Seperti katamu, tidak usah di bicarakan lagi. Aku akan mengikuti apa yang kau katakan. Kita akan menikah ketika kau siap. Karena jika kau ingin tahu, aku selalu siap kapan saja. Hanya saja seperti nya kau yang masih belum siap. Tidak apa-apa. Aku akan menunggu hingga kau siap." sahut Ken, seolah-olah penuh pengertian, namun begitu menohok di hati Lova.


Tapi Lova tak akan terpancing, meskipun saat ini ia tak terima dan merasa di pojokan karena menolak ajakan kekasihnya, Lova akan berusaha menahan diri agar tidak berteriak dan memukul gemas pria di hadapan nya ini. Benar-benar!


"Kenapa kau ingin kita segera menikah? bisakah kau pikirkan lagi alasan nya Ken?" balas Lova, kini ia berdiri tempat di samping Ken dan melihat wajah Ken yang terus berusaha berpaling dari nya. Seperti nya Ken benar-benar sedang kesal dan berusaha menghindari Lova.


"Karena kau tidak ingin kehilangan aku? Kau tau Aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Atau karena kau ingin agar kita tidak lagi berpisah karena jarak? Kau juga tau aku selalu berada di dekat mu, disini. Aku tidak akan pergi kemana pun Ken. Kau tau itu.- Atau... apakah karena kau menginginkan hal yang lain?" ujar Lova tak ingin melanjutkan kata-kata nya lagi.


Ia diam sesaat, mencoba menenangkan dirinya. Ia harus berkepala dingin agar hal ini tidak semakin besar.


"Bisakah kau memikirkan sekali lagi tentang tujuan dari pernikahan yang kau ajukan Ken? Aku mencintai mu. Selama ini kita bahagia, kita baik-baik saja dengan semua kebersamaan kita, dan Ya, kita pasti akan menikah, tapi apakah perlu harus terburu-buru seperti ini?" Kali ini Lova lah Yang menghela nafas.


"Ayolah Ken, kenapa kita harus mempermasalahkan hal seperti ini? apakah sungguh ini Yang kau inginkan? Kau kesal pada ku dan menjauh. Kau tidak ingin berada di dekat ku lagi? begitukah? kalau demikian, makan seperti nya aku harus pergi karena kau merasa tidak nyaman dengan penolakan yang kau terima, bukan?" lirih Lova.


Ia hanya memainkan sebuah trik Ylyang ia pelajari dari saudari nya. Lova ingin melihat bagaimana kah Ken Yang sesungguhnya.


"Tidak L. Aku tidak menginginkan hal seperti itu. Aku tidak ingin jauh dari mu. Aku tidak ingin ada jarak di antara kita. Aku hanya ingin segera memiliki mu seutuhnya. Maafkan aku." sahut Ken yang kini merasa bersalah atas sikap nya.


Seharusnya ia tidak egois. Setidaknya ia juga harus mempertimbangkan perasaan Lova, tapi kenapa ia masih merasa kesal?


"Maafkan aku L. Aku tidak akan membahas tentang ini lagi, tapi jangan pernah berpikir untuk menjauh dari ku. Ku mohon, aku mencintaimu." Ken memeluk Lova dengan erat.


Tidak apa-apa jika kali ini ia harus mengalah. Ia hanya tak ingin ada jarak dalam hubungannya. Kali ini ia akan menyerahkan semua keputusan pada Lova. Ken akan menekan ego nya asalkan Lova tak menjauh. Sungguh bukan hal itu yang Ken inginkan.


Lova mengulum senyum kemenangan, sebelum menepuk pelan punggung Ken. "Aku tidak akan pergi Ken, aku tidak akan pernah marah pada mu. Kau saja yang terlalu mudah merajuk. Tapi sungguh, aku bukan nya ingin menolak ajakan pernikahan dari mu, apalagi kau adalah pria yang sangat aku cinta."


"Tapi bagi ku, alangkah baiknya jika kita menikah disaat kita benar-benar sudah siap untuk segala nya. Bagaimana, apa kau keberatan jika seperti itu?" Lova tersenyum dalam pelukan Ken.


Beruntunglah Ken sangat mudah untuk di tangani. Dan Pria nya adalah pria yang terbaik.


"Aku akan mengikuti perkataan mu L. Tapi jika kau ingin tahu, seperti yang ku katakan sebelumnya, aku sungguh sudah siap. Jadi aku hanya akan menunggu mempelai ku untuk menyiapkan dirinya." sahut Ken. Ia merasa lega karena Lova bisa mengimbangi dirinya, dan karena kekasihnya juga bisa membuat Ken merasa lebih baik.


"Ehem. Apa aku mengganggu?" suara Leon menginterupsi keduanya. "Para tamu sedang menunggu mu L, kau harus segera turun." ujar Leon, menjelaskan kedatangan nya.


"Thanks Lee, kami akan segera turun." sahut Lova. "Nah, sekarang bisakah kita kembali ke bawah dan menyapa para tamu?"


...❄️❄️...


...Beberapa hari kemudian.....


Semua orang yang telah meluangkan waktu nya untuk datang ke pesta pembukaan toko Lova sebelumnya, kini harus kembali ke tempat mereka masing-masing.

__ADS_1


Sebelumnya, Ken dan Ova sudah mengantarkan Dady Rehan yang akan kembali lebih dulu bersama dengan Zen dan keluarga kecil mereka.


Lalu, pada sore hari nya, Keduanya kembali mengantarkan kepergian Cassian dan Megan serta putri cantik mereka untuk kembali ke Stockholm.


Dan Kini, giliran Leon dan Shreya yang juga harus kembali ke negara masing-masing. Leon harus kembali ke London untuk menghadiri sidang akhirnya, begitu pula dengan Shreya.


Mereka harus kembali untuk melanjutkan studi di negara yang berpisah. Namun seperti sebelumnya, Leon akan melakukan dua penerbangan, karena ingin mengantar pacar cantiknya pulang lebih dulu.


Dan kali ini lagi-lagi Ken dan Lova lah yang mengantarkan keduanya untuk mengucapkan selamat jalan.


"Terima kasih karena sudah meluangkan waktu mu Sea, aku harap urusan mu sebelumnya juga telah selesai." Lova memeluk Shreya dengan perasaan lega dan juga sedikit sedih karena harus kembali berpisah.


"Terima kasih juga untuk mu L, jika bukan karena mu aku tak akan punya alasan untuk datang kemari dan mengunjungi papa. Terima kasih." balas Shreya yang juga merasa teramat lega.


"Aku turut bahagia untuk mu, kembali lah dengan selamat dan sampai bertemu lagi Sea, aku akan merindukan mu." pelukan terakhir Lova sebelum keduanya sama-sama melepaskan diri.


"L, sampai bertemu lagi. Dan untuk mu kawan, bersabar lah sebentar lagi." Kini Leon lah yang bergantian untuk memeluk Ken dan Lova.


"Berhati-hatilah." ujar Ken, seraya melambaikan tangan pada keduanya.


"Bye.. sampai bertemu lagi." seru Lova juga melambaikan tangan


"Mereka benar-benar terlihat manis."


"Kita bahkan lebih manis." Lova tersenyum mendengar ucapan Ken. "Ya.. ya.. kekasih ku jauh lebih manis."


Sementara itu..


Karena merasa bosan terus berada di Villa, William memutuskan untuk mengunjungi toko Lova. Setidak nya ia bisa memiliki teman untuk bicara jika ia datang ke sana.


Saat tiba di toko, William di suguhkan dengan penampilan toko yang sudah berubah dari terakhir kali ia datang ke sana.


"Selamat datang di toko kami. Silahkan untuk melihat-lihat tuan, jika perlu kami bantu kami anda bisa memanggil kami, kami akan siap kapan pun." sapa seorang pelayan toko dengan ramah.


William tersenyum sambil mengedarkan pandangan nya. "Apa kah nona Lova berada di toko? aku ingin bertemu dengan nya." tanya William pada wanita tersebut.


"Nona Lova sedang keluar bersama tuan Ken. Boleh saya tau dengan siapa, nanti akan saya sampaikan." sahut pelayan itu tetap ramah.


"Will, kau disini?" sapa Gill yang kebetulan baru saja turun dari lantai dua, dimana ruangan nya dan ruangan Lova berada.


"Hai Gill.. " sapa William tiba-tiba merasa canggung. "Kau mencari L?" tebak Gill, tepat sasaran. "Ya, begitulah." sahut William, tertawa kikuk. "Naiklah, kau bisa menunggu di atas." ajak Gill yang saat ini berdiri di ujung tangga.


"Will, apa kau sibuk?" cegah Gill Yang saat ini berjalan mendekat ke arah William. "Tidak." Wanita itu berhenti tempat di depan William, ldan menatap mata William dengan terang-terangan.


"Bagus, mau makan siang bersama?" ajak Gill, membuat William merasa sedikit terkejut, di tambah lagi wanita itu kini tersenyum pada nya.


"Baiklah. Ayo." turut William. Dari pada ia kembali seorang diri, bukan kah lebih baik jika ada seseorang yang bersama mu?


"Lova dan Ken pergi ke airport. Hari ini Shreya dan kekasihnya akan kembali ke negara mereka masing-masing." Gill buka suara, untuk mengurangi keheningan yang terjadi di dalam mobil.


"Ah, benarkah? ku kira mereka masih akan tinggal beberapa hari lagi." sahut William, sedikit merasa canggung.


"Kau sendiri bagaimana? kapan kau akan kembali?" Tanya Gill. "Kenapa kau ingin tahu?" sahut William singkat. "Apakah aku harus punya alasan? hanya ingin tahu saja." balas Gill dengan sebenarnya. Ia juga tak tau kenapa harus bertanya, mungkin hanya ingin mencari topik. Apakah ia salah bicara?


"Aku akan tinggal seminggu lagi." jawab William, namun tersenyum kepada Gill. Dan hal itu sukses membuat Gill memalingkan wajahnya untuk balas tersenyum.


"Kau suka jenis makanan yang seperti apa?" Tanya William mencoba mencairkan suasana Yang kembali hening, seraya berfokus pada kemudi nya. "Apa saja asalkan ada rasa pedasnya. Bagaimana dengan dirimu?" kini william lah yang di buat tersenyum. "Sama seperti dirimu."


Meskipun hanya obrolan sederhana, entah kenapa William merasa nyaman bersama dengan Gill. Wanita itu juga terlihat nyaman dan lebih sering tersenyum.


Apakah ini sebuah pertanda? bisakah William menyimpulkan nya seperti itu?


...❄️❄️...


Setelah makan siang bersama hari itu, William semakin sering bertemu dengan Gill. Terkadang William juga menemui wanita itu di toko, meskipun merasa sedikit malu pada Lova, namun untung nya Gill selalu bisa membuat suasana menjadi lebih baik. Dan Lova tidak berkomentar apa pun, hanya bersikap ramah dan selalu baik serta peduli seperti biasanya.


Namun pertemuan keduanya tak bisa berlangsung Lama, karena sudah waktu nya bagi William untuk segera kembali ke London.


Ada pertemuan, tentu ada perpisahan. Pertemuan pertama yang berawal di airport beberapa minggu yang lalu, kini juga harus berpisah di tempat yang sama.


"Kau seharusnya tidak perlu mengantarku, tapi terima masih Gill, dengan keberadaan mu setidaknya ini menjadi lebih baik. Jaga dirimu." pamit William.


"Apa kita akan bertemu lagi?"Tanya Gill yang menatap William dengan raut tak terbaca.


"Kau ingin kita bertemu lagi?" Gill tidak menjawab, ia hanya melangkah kan kakinya mendekat untuk memeluk William.


"Ku rasa aku akan merindukan mu." gumam Gill, membuat William tersenyum dengan perasaan lega. William juga membalas pelukan Gill untuk sesaat.

__ADS_1


"Aku juga akan merindukan mu. Jika kau tidak sibuk, kau bisa menghubungi ku." sahut William. "Tentu. Aku akan sering melakukan itu."


Begitu lah perpisahan keduanya. Apakah mereka akan bertemu lagi? entah lah. Takdir telah tertulis, Yang perlu di lakukan hanya mengikuti skenario nya.


...❄️❄️...


Hari-hari pun berlalu dengan begitu cepat. Menit berganti jam, hari berganti minggu dan seterusnya.


Tanpa terasa, semua orang pun turut larut dalam rutinitas masing-masing.


Sesekali mereka melepas rindu dengan saling menelpon ataupun melakukan video call, dan sesekali juga mereka akan meluangkan waktu untuk saling bertemu dan menikmati kebersamaan.


Dan tanpa terasa juga, hari ini pun tiba.


"Sayang, kau sudah siap?" seru Ken dari kamar nya. Saat ini keduanya akan terbang ke London. Ken dan Leon akan menghadiri Wisuda yang akan di lakukan dua hari lagi.


"Sebentar, masih ada beberapa barang yang harus aku siapkan." sahut Lova dari dalam kamar nya.


"Perlu ku bantu?" tanya Ken yang sudah siap dengan kopernya. "Tidak usah, kau turun saja, aku akan menyusul sebentar lagi." sahut Lova sambil memasukan beberapa barang pribadi ke dalam tas.


"Kau sedang kedatangan tamu sayang?" Tanya Ken Yang melihat beberapa bungkus perlengkapan milik Lova yang sebelumnya telah masuk ke dalam koper. "Kau sudah minum obat?" tanya Ken lagi, sementara Lova hanya mengangguk.


"Oke. Kalau begitu biar aku bantu. Mana lagi yang harus di kemas?" Ken mengambil alih tempat Lova membuat wanita itu hanya duduk di atas kasur sambil menunjuk-nunjuk layaknya seorang putri.


"Hanya ini dan yang ada di sana." jawab Lova yang sesekali meringis karena merasa tak nyaman dengan rasa sakit yang di rasakan nya.


"Biar aku saja. Kau diam saja." sela Ken. Setelah semua siap, Ken juga membawa semua koper dan tas milik Lova turun, "Sayang, ayo." ajaknya, karena mobil sudah menunggu mereka di bawah.


...❄️❄️...


...London, Hari Wisuda....


Tidak hanya Lova yang berada di London, untuk menemani Ken di hari penting nya. Tapi kali ini, Shreya juga datang untuk menemani kekasihnya, Leon.


"Apa aku sudah terlihat tampan Babe?" Leon berdiri di depan Shreya dengan setelan kemeja dan jas berwarna hitam. "Sangat tampan." sahut Shreya seraya tersenyum memuji Leon. "Kau juga sangat cantik dengan gaun itu." ujar Leon, balas tersenyum. "Terima kasih sayang."


Tak Lama kemudian, Ken juga sudah keluar dari kamar nya dengan setelah jas berwarna navy. Tak perlu diragukan, Ken terlihat tampan maksimal.


Setelahnya, Lova juga turut keluar dari kamar. "Apa kalian akan menghadiri acara penghargaan? kalian sungguh berlebihan!" sindir Leon, merasa sedikit iri melihat Ken dan Lova kompak mengenakan warna yang sama. Keduanya terlihat begitu spektakuler untuk menghadiri sebuah acara kelulusan.


"Kami memang seperti ini. Sudah lah, ayo berangkat." sahut Ken, enggan melayani Leon.


Acara wisuda pun berjalan dengan lancar, kini semua orang sudah menyelesaikan tugas dan kewajiban sebagai seorang mahasiswa.


"Selamat untuk mu sayang." Lova menghampiri Ken dengan kotak hadiah di tangan nya. Ken tersenyum sambil memeluk Lova. "Terima kasih cinta ku. Semua ini karena dukungan mu yang luar biasa." sahutnya.


"Apa ini? Kapan kau menyiapkan nya?" tanya Ken, yang sedikit penasaran dengan isi hadiah dari Lova.


"Hei, kalian sudah selesai?" sela Leon yang datang bersama Shreya. "lihat ke kamera. One two, Ciiisss.." ke empatnya berpose dengan begitu banyak gaya.


Mereka bahagia dan juga sangat bersyukur.


"Boleh aku buka hadiah dari mu sayang?" tanya Ken yang saat ini sudah tidak sabar. "Kau yakin ingin melihatnya sekarang?" sahut Lova, sambil tersenyum merona.


"Tentu. Aku sangat tidak sabar." Leon menyenggol bahu Ken dengan bahu nya, "Kau seperti tak tahu bagaimana kekasih mu saja L." ejek Leon, tersenyum mengejek.


"Buka lah." kata Lova.


Ken pun membuka kota hadiah yang di berikan Lova. Di dalam nya terdapat sebuah amplop berwarna cream dengan pita berwarna merah muda. "Apa ini L?" Ken tersenyum dan semakin penasaran. "Buka saja."


Saat sudah membuka nya Ken mengambil sebuah note yang di tulis dengan tinta emas. Ken membaca dalam hati,


"Will you marry me, Mr. Ken Samudera Wijaya?"


"Omg! Sayang, ini sungguh-sungguh?" Tanya Ken dengan wajah berbinar bahagia.


Lova tersenyum sambil mengangguk pelan, "Jawaban mu?"


Ken melonjak bahagia sambil memeluk Lova hingga keduanya berputar-putar karena bahagia.


"Tentu saja YA..! Ya sayang.. Ya...! Aku Mau. Terima kasih L, Aku mencintaimu." Ken memeluk Lova dengan sangat bahagia.


Begitupun dengan Leon dan Shreya, mereka turut bahagia akan kabar tersebut.


"Waiting for the Wedding Day! Yee....!"


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2