
...ENJOY..... 🍸...
.......
.......
.......
.......
.......
...Day-2. Vilamendhoo island....
Pagi hari yang indah. Sinar matahari pagi semarak menghiasi cakrawala membuat perasaan semakin terasa luar biasa. Untuk benar-benar memulai petualangan setelah menghabiskan hari pertama didalam hotel, Zen mengajak istrinya untuk menjelajahi pulau. Setelah melakukan tawar-menawar, Zen akhirnya harus mengalah pada permintaan Zoya.
Dihari kedua ini, Zen ingin mereka menghabiskan waktu berdua dengan menyewa sebuah kapal menuju pantai pulau maafushivaru, selagi menuju kesana mereka bisa melakukan snorkeling. Menghabiskan waktu untuk menjelajahi pemandangan bawah laut dan melihat beraneka ragam biota laut yang hidup di bawah sana. Pastilah sangat menyenangkan jika melakukan snorkeling bersama Zo'e.
Namun sayang nya, keinginan Zoya berbeda.
Istrinya itu lebih memilih untuk menghabiskan waktu di pantai dan bermain di sana seraya menunggu matahari terbenam. Zoya juga ingin menyaksikan keindahan cahaya laut di malam hari yang sangat terkenal di pulau tersebut. Benar-benar permintaan yang membuat gemas.
Seharian di pantai, Zoya bermain layaknya anak kecil. Ia menyeret Zen untuk bermain air laut, mengumpulkan kerang, dan juga berjalan-jalan melihat-lihat sekitar pulau untuk berbaur dengan penduduk Lokal.
"Kak, kau lihat itu,- tunjuk nya pada seorang anak kecil yang sedang meneriakkan dagangannya. "Kita kesana ya...?" pintanya, menarik tangan Zen dengan girang.
Zen pun mengikuti istrinya dengan senang hati. Sesampainya di tempat tujuan, Zen turut memperhatikan apa yang sedang di jual anak kecil itu. "Wah.. ini cantik kan kak?" Zoya mengantungkan sebuah gelang kaki di tangan nya. Gelang yang dihiasi dengan kerang-kerang kecil dipadu dengan mutiara-mutiara berwarna putih, dengan bunyi gemerincing yang terdengar merdu.
"Hmmm. Itu bagus. Kau mau membelinya?"
"Tentu saja." jawab Zoya yang memang menyukai gelang yang saat ini ia pegang.
"Berapa harga gelang cantik ini, dik?" tanya Zen, anak tersebut hanya tersenyum sambil bicara dengan bahasa penduduk setempat. Tak satupun dari mereka yang mengerti, akhirnya Zen meminta agar anak tersebut menggunakan bahasa Inggris, dan untungnya anak tersebut cukup mahir.
"Gelang itu ambil saja. Gratis untuk kakak cantik." katanya sambil tersenyum ceria. "Benarkah? kau memberikannya begitu saja?" tanya Zoya lagi, yang langsung memasangkan gelang tersebut pada tungkai kakinya yang ramping.
"Iya. Itu gratis untuk kakak." jawabnya. "Kalau begitu terima kasih manis." balas Zoya. "Bagaimana kak? ini lucu kan?" tanya nya sambil menggerakkan kaki untuk memunculkan bunyi gemerincing.
"Ya, itu bagus. Sangat cantik, dan ****." bisik Zen, mencium pipi Zoya. Suara-suara gemerincing tersebut membangkitkan hal lain dari diri Zen. Ia bahkan sudah membayangkan mereka menghabiskan malam dengan suara tersebut sebagai pengiringnya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan apa yang ia suka, Zoya kembali menarik tangan suaminya untuk pergi ke tempat-tempat turis lain berkumpul.
Zoya selalu penasaran dengan apa saja yang ada di pulau tersebut.
Setelah mendekati kerumunan, ternyata ada sebuah pertunjukan musik yang disuguhkan penduduk setempat, lalu para wisatawan bergabung untuk menari.
"Apa kau tidak lelah sayang? bagaimana kalau kita menyewa pondok di sana sambil menunggu matahari terbenam..?" ajak Zen. Jujur saja, ia memang sangat lelah, hal yang diluar dugaan nya, ternyata Zoya sangatlah energik. Antusiasnya bahkan tak berkurang sedikitpun padahal mereka sudah hampir seharian berada di pantai.
"Bisakah kita mengumpulkan kerang sekali lagi sebelum kita istirahat kak?" Zoya bergelayut manja dengan mata berbinar, jika sudah begini, maka Zen hanya bisa mengangguk patuh.
"Apa yang ingin kau lakukan dengan semua kerang-kerang itu sayang?" Tanya Zen heran dengan apa yang istrinya lakukan. "Ini..? tidak ada. Aku hanya ingin mengumpulkan nya lalu.. tidak ada." jawab Zoya dengan polosnya.
Zen hanya bisa menggelengkan kepalanya, namun tetap menemani Zoya mengumpulkan kerang-kerang berwarna unik.
...Beberapa jam kemudian,.....
Matahari sudah mulai memasuki peraduannya. Sementara Zoya duduk di pangkuan Zen sambil menikmati pemandangan indah matahari terbenam.
Keduanya sama-sama duduk dalam keheningan, larut dalam setiap warna indah yang melukis permukaan langit petang.
Zen mengecup pelan kening Zoya, lalu kedua pipi istrinya, "Terima kasih sayang." bisik nya sambil mengeratkan tangannya yang melingkar di perut Zoya. "Terima kasih untuk berbagi kebahagian bersama ku. Terima kasih juga untuk berbagi kehidupan bersama ku." tambahnya.
"Aku juga mencintaimu sayang. Sangat mencintaimu."
Jika bisa, maka Zen akan memilih untuk menghentikan waktu saat ini juga. Ia ingin selama hidupnya bersama seperti ini. Saling mencintai, saling menjaga, dan saling mendamba. Perasaan ini, semoga tetap seperti ini selamanya.
Sekembalinya ke hotel, Zen sudah lebih dulu membersihkan diri karena Zoya menolak untuk mandi bersama.
"Sayang, aku sudah selesai. Mandilah sekarang, kalau tidak nanti bisa masuk angin." seru Zen yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di pinggul. Ahhh.. seksinya..
Sementara Zoya meringkuk di atas kursi dengan wajah sayu. "Sayang? kenapa? wajahmu terlihat pucat?" Zen memeriksa suhu tubuh Zoya, dan Zen bernafas lega karena suhu tubuh Zoya masih normal.
"Kak,..
"Ya.. kenapa sayang? kau lelah, atau apa? katakan padaku.. " Zen panik saat melihat wajah sendu istrinya yang tak lagi bersemangat, namun ia juga merasa dejavu dengan hal tersebut.
"Sepertinya siklus ku akan segera datang." ucap Zoya pelan. Zen mengerutkan keningnya mendengar hal itu. "Siklus..? Apakah maksudmu..?"
"Perutku tiba-tiba saja terasa sakit. Pinggul ku juga, dan saat ini aku hanya ingin berbaring." keluhnya.
__ADS_1
Ahh.. setelah mendengar hal itu, Zen baru mengerti apa yang di maksudkan oleh istrinya. Zen langsung beranjak dari sana menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat. Setelah siap Zen kembali pada Zoya, lalu menggendong tubuh Zoya. "Aku akan memandikan mu sayang. Kau akan merasa lebih baik saat kau sudah bersih." Zoya menuruti semua yang Zen katakan, dan membiarkan suaminya itu mengurusnya.
Dulu, saat Zoya memasuki siklus untuk pertama kali, Zen harus semalaman duduk di samping Zoya, hanya untuk sekedar mengelus tangan gadis kecil itu, dan katanya itu ampuh untuk mengurangi rasa sakit.
Setelah selesai memandikan Zoya, Zen membaringkan istrinya itu di atas tempat tidur, ia menutup tubuh Zoya yang terbalut piyama dengan selimut lalu menghidupkan penghangat ruangan. "Tunggu disini, aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan susu hangat dan juga bubur Abalon untukmu sayang." Zoya benar-benar merasa nyaman dengan perhatian yang suaminya berikan. Zen selalu bisa diandalkan dalam keadaan apapun.
...Beberapa menit kemudian.....
"Sayang, duduklah." Zen menyandarkan tubuh Zoya ke sandaran ranjang. "Aku suapin ya, ini akan menghangatkan perutmu." Katanya sambil meniup bubur yang ada ditangannya.
Zoya selesai dengan beberapa suapan bubur. Sebagai gantinya ia menghabiskan semua susu didalam gelas.
"Tidurlah sayang. Aku akan menemanimu disini. Apa perutmu masih sakit?" Zen berbaring di sebelah Zoya, sambil memijit pelan pinggang istrinya.
"Terima kasih kak, dan maafkan aku.." ucapnya pelan.
Zen menarik Zoya agar istrinya itu dapat menyandarkan kepala di dadanya. "Kemari lah.. kenapa harus minta maaf, hem? apa kau ingat saat kita masih kecil,- Zen dan Zoya sama-sama menerawang mengingat masalalu.
"Aku sudah sering menemanimu disaat-saat seperti ini. Aku masih ingat saat kau menangis dan merengek untuk pertama kali, saat itu kau baru menyadari apa yang terjadi pada dirimu. Kau bahkan membuat seisi rumah sangat panik dengan tangisanmu,- Zen tertawa kecil, saat mengingat kejadian beberapa tahun silam.
"Aku ingat, saat itu Dady sangat cemas melihatku menangis dan saat aku mengatakan perut ku sakit. Saat itu, bahkan Dady langsung menggendongku dan membawaku kerumah sakit,- tambah Zoya, sambil meringis.
"Hmm. Saat itu semua orang jadi cemas karena dirimu gadis kecil."
Begitulah keduanya menghabiskan malam-malam berikutnya. Zen tetap setia menemani dan mengurus Zoya, ia menyediakan semua yang istrinya butuhkan. Bahkan Zen memastikan bahwa istrinya harus selalu merasa nyaman meskipun dalam situasi tak terduga.
Zoya bahkan hampir setiap hari mengatakan maaf. Merasa bersalah karena siklusnya datang disaat yang tidak tepat. Namun Zen selalu meyakinkan Zoya, bahwa hal tersebut tak akan mengurangi keistimewaan bulan madu mereka. Kebersamaan merekalah yang terpenting. Dan dalam hal ini, Zen sangat menikmati menghabiskan waktunya untuk menuruti semua permintaan Zoya.
Zen sangat suka saat istrinya itu bersikap manja, dan bergantung padanya. Membuatnya merasa selalu dibutuhkan, suatu kebanggaan sebagai seorang suami.
Meskipun siklus tersebut diluar rencana, namun tak mengurangi sukacita dan kebahagiaan yang mereka rasakan. Mereka masih bisa melakukan apa saja, seperti ketika mereka menghabiskan siang untuk pergi snorkeling, meskipun Zoya hanya menemani Zen, namun mereka tetap bahagia.
Quality time yang mereka miliki, membuat semuanya terasa baik-baik saja.
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1