My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
KABAR ZOYA


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


.......


"Sekarang katakan padaku, kenapa aku harus menjawab mu?" Zoya bersedekap memandang pada Cassian.


"Haruskah ku katakan alasannya?"


"Kalau kau merasa tidak harus, maka aku pun tidak harus menjawab pertanyaan mu bukan?" balas Zoya, yang kemudian beranjak pergi dari sana.


"Kalau kau kaya, aku ingin bekerja padamu. Melakukan apa saja, asal kau bisa membayar ku, mungkin membantumu mengurus konser itu." katanya dengan suara yang cukup nyaring, jelas laki-laki itu sedang mengusahakan yang terbaik untuk meyakinkan Zoya.


Zoya menimbang-nimbang memperhatikan keseriusan Cassian. Tidak mungkin seorang murid terbaik di jurusannya akan mau merendahkan dirinya seperti ini jika memang tidak benar-benar membutuhkannya, pikir Zoya.


"Dengarkan aku. Keluarga ku mungkin tidak sekaya yang kau pikirkan, Dady hanya menjalankan beberapa perusahaan kecil dan keluarga kami bisa di bilang hanya berkecukupan." jelas Zoya lagi.


"Waw.. berkecukupan adalah cara orang-orang kelas atas mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang super kaya." Cassian jelas sangat mengerti akan hal itu.


"Kau terlalu melebih-lebihkan. Sekarang katakan apa yang bisa kau lakukan dan berapa kau ingin di bayar untuk pekerjaan mu?" tanya Zoya tampa berbasa-basi.


"Aku bisa melakukan apa saja yang kau inginkan miss, dan untuk bayarannya, aku perlu uang sekitar $20.000, bisakah kau memberiku uang muka, aku sedang terdesak." jawabnya. Cassian mengatakan yang sebenarnya tentang kondisi yang ia hadapi.


Cassian mungkin seorang yang genius di bidangnya, hanya saja ia adalah seorang mahasiswa dengan beasiswa penuh, karena itulah ia tidak pernah mengkhawatirkan tentang biaya apapun jika menyangkut sekolahnya.


Cassian juga melakukan kerja part time untuk membiayai hidupnya, hanya saja saat ini ia benar-benar membutuhkan uang ekstra, dan dengan jumlah yang cukup besar, gajih part timenya tidak akan cukup meskipun ia mengambil semuanya di awal.


Tampa pikir panjang, Zoya menyetujui permintaan Cassian, meskipun uang tersebut bukanlah uang yang sedikit, namun tetap saja, uang tersebut tidak sebanding dengan otak genius yang akan membantu Zoya.


"Baiklah. Berikan nomor rekening mu, aku akan mentransfer uangnya setelah ini, dan besok datanglah ke alamat itu, aku membutuhkan mu di sana pukul sepuluh tepat." kata Zoya menyerahkan secarik kertas pada Cassian.

__ADS_1


"Thanks miss. Aku akan melakukan yang terbaik, sampai bertemu besok." pekiknya sambil tersenyum lega.


"Apa orang-orang di tempat ini memang selalu bicara terang-terangan?" Zoya mendengus, menggelengkan kepalanya terlalu malas untuk memikirkan hal tersebut.


Sebelum pulang ke apartment nya, Zoya terlebih dahulu mampir di salah satu toko alat music terkenal tak jauh dari RKH.


Zoya harus membeli Biola baru karna ia tak membawa miliknya saat melarikan diri. Setelah mendapatkan Biola yang ia mau, Zoya bergegas kembali ke apartment untuk melakukan apa saja yang perlu ia lakukan demi kelangsungan konser tunggal miliknya, sebelum itu tentu Zoya harus mengabari Dady nya terlebih dahulu.


...❄️❄️...


"Apa sudah ada kabar terbaru?" Zen terlihat sedikit kacau. Meskipun ia selalu datang ke kantor untuk mengalihkan sedikit perhatiannya, tetap saja Zen terlihat mengenaskan. Rambutnya disisir berantakan, pakaian rapi seadanya, dan lebih banyak muram dan tenggelam dalam pikiran nya sendiri. Terlihat jelas, bahwa Zen sedang frustasi karena Zoya.


Beberapa hari belakangan ia melakukan apa saja untuk mencari keberadaan Zoya, mulai dari mempekerjakan kembali semua detektif miliknya, bahkan Zen membayar seorang ahli IT untuk memantau dan mencari keberadaan gadis kecilnya, namun sampai c ini, Zoya seperti di telan bumi tak berjejak sedikitpun. Zen berharap ia akan segera menemukan petunjuk keberadaan kekasihnya.


"Lapor tuan, kami sudah mengecek seluruh transaksi dan juga menyadap telpon genggam nona Zoya, namun masih belum ada apa-apa di sana. Nona Zoya tidak melakukan transaksi apapun yang berhubungan dengan kartu nya dan juga tidak menghubungi siapapun sejauh ini." lapor orang tersebut.


Zen mengeram sesaat, mencoba untuk menetralkan perasaan kecewa yang lagi-lagi datang padanya. "Aku ingin kalian menemukan wanitaku segera, dengan cara apapun aku tidak peduli, aku akan membayar berapapun biayanya, dan aku ingin kabar secepatnya!" perintah Zen, membalikan kursinya menghadap keluar jendela.


Mendapati semua usahanya belum membuahkan hasil membuat Zen semakin frustasi. Bagaimana Zoya bisa melakukan hal ini padanya, Zoya pergi tampa memikirkan perasaan Zen, tampa mendengarkan penjelasan Zen, apa yang Zoya inginkan sebenarnya?


Apakah Zen sudah kehilangan cinta Zoya?


...Sementara itu...,...


Rehan pun sama frustasinya seperti Zen, sampai saat ini Zoya belum juga memberikan kabar apapun tentang keberadaannya.


Kemana tujuannya, bagaimana keadaanya, Rehan pun sama dibuat frustasi memikirkan semua itu. Memikirkan semua kemungkinan yang akan di alami Zoya, dan juga bagaimana gadis kecilnya seorang diri diluar sana, apakah makan tepat waktu, apakah Zoya bisa tidur, tepatnya Rehan mencemaskan banyak hal tentang putri kecilnya.


Sekali lagi Rehan mengambil ponselnya mencoba untuk menghubungi Zoya, namun lagi-lagi sambungannya tidak berfungsi. Zoya belum mengaktifkan ponselnya. Selama sepekan. Benarkah?


Sampai perhatian Rehan teralihkan, memandang ke arah komputer di depannya yang menampilkan notifikasi email terbaru.


Dengan keengganan dan antusias yang sama besarnya, Rehan beralih pada benda digital tersebut, dan rasa syukur yang luar biasa membanjirinya saat matanya terfokus pada nama pengirim email tersebut, Zoya, putrinya. Terima kasih Tuhan.


Dalam email tersebut, Zoya menceritakan banyak hal, mulai dari keberadaannya, yang membuat Rehan menggelengkan kepala karena tak habis pikir, betapa berani malaikat kecilnya terbang sejauh itu, Stockholm, Swedia, bukanlah tujuan yang bisa dipikirkan seseorang untuk melarikan diri, kecuali putrinya.


Zoya memang penuh kejutan. Kemudian Zoya juga menceritakan bagaimana keadaanya, yang membuat Rehan lagi-lagi bernafas lega, saat mengetahui putrinya melalui hari-hari yang baik, dan bisa melakukan banyak hal untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Zoya juga mengirimkan beberapa photo dokumentasi dirinya saat berada di sana.


Apartemennya, Kampus yang dituju, bahkan pemandangan pinggir laut yang sangat cantik. Syukurlah jika Zoya bisa menemukan apa yang ia cari di sana, sebuah ruang tempatnya bernafas.


Dan, yang terakhir Zoya juga menceritakan keinginan nya untuk melakukan konser tunggal dalam waktu dekat dibawah bimbingan seorang profesor ternama, dan tentu saja itu membuat Rehan semakin bangga pada Zoya.


Putrinya tidak hanya pintar melihat peluang, tapi juga tak pernah membuang kesempatan begitu saja untuk melakukan apa saja yang diinginkannya.


Namun lebih dari pada itu, yang membuat Rehan lebih lagi mencintai putrinya, adalah saat membaca untaian kata yang mengatakan bahwa ia sangat menyesal membuat orang tuanya khawatir, dan Zoya juga mengatakan bahwa ia akan kembali dan menghadapi semuanya saat mimpinya sudah terwujud.


Begitulah Zoya, putri Rehan. Putri yang sangat ia banggakan.


Setelah membaca email dari putrinya, yang dilakukan Rehan pertama kali adalah menambahkan saldo dalam rekening Zoya. Meskipun Zoya tak mengatakan apapun tentang biaya, Rehan akan tetap berada di sisi putrinya, mendukung malaikat kecilnya dengan caranya sendiri. Cara seorang Ayah. Kabar gembira yang akan segera Rehan bagikan pada Julie, istrinya setelah menunggu cukup lama.


Hari ini, Rehan pulang lebih cepat dari biasanya, ia mencari Julie. Biasanya, istrinya itu jika tidak berada di ruang keluarga, maka ada di wilayah kekuasaannya, dapur.


"Moo, kau dimana?" teriak Rehan mencari-cari keberadaan Julie. "Moo..?"


"Hei, aku disini Boo, ada apa?-- Julie mendapati Rehan berjalan kearahnya. "kau terlihat bahagia, apakah ini sama seperti yang ku pikirkan?" tanya Julie dengan mata berbinar.


Rehan mengangguk sambil mengatupkan bibirnya, "Hmm." Rehan memeluk Julie bahagia.


"Ceritakan padaku!" kata Julie dengan antusias yang lebih besar.


"Mom, Dad. Ada apa?" tanya Ken yang juga baru turun dari kamarnya. "Dady mendapat kabar dari kakak mu sayang." kata Julie, menjawab rasa penasaran Ken. "Zozo mom, benarkah? dimana Zozo, kapan kita bisa menemuinya?"


"Ssttt,, pastikan kau merahasiakan ini Son, kakakmu belum ingin ditemukan dalam waktu dekat, jaga rahasia ini dari kakakmu, Zen. Yah meskipun Dady yakin, cepat atau lambat mereka harus segera menyelesaikan semuanya agar masalah ini tidak berlarut-larut." ucap Rehan.


"Untuk sementara, biarkan kakakmu melakukan apa yang ia inginkan diluar sana." tambah Rehan lagi.


"Baiklah Dad, aku akan mengunci mulutku rapat-rapat. Bisakah Dady ceritakan tentang Zozo lebih banyak." pinta Ken sama antusiasnya dengan Julie.


"Hem, benar. Aku ingin tau lebih banyak."


"Baiklah, sebaiknya kita naik ke atas, di kamar lebih aman."


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2