My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
SWEET REASON


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Zoya tak bisa menahan dirinya dari mengetuk-ngetuk atas meja dengan jarinya saat menunggu mommy nya untuk memulai pembicaraan mereka.


Pembawaan mommy nya yang luar biasa tenang membuat Zoya tak bisa membaca apa yang ingin di bahas saat ini. Semoga saja, tak seperti yang Zoya pikirkan.


"Jadi..?" mommy Julie membuka suara untuk memulai yang dikatakan sebagai pembicaraan tersebut. "Apa momm?" tanya Zoya mengangkat kedua bahunya. Ia memang belum bisa memikirkan apapun.


Mommy Julie mendekati Zoya hingga keduanya benar-benar berhadapan, seperti sesi konsultasi diruang konselor. "Bagaimana persiapan pernikahan mu sayang?" lanjut mommy Julie dengan senyuman lembut di wajahnya. Zoya memberengut, meloloskan kelegaan dalam dirinya.


"Aku akan menerima semua yang mom siapkan, kecuali baju pengantin ku, aku akan memilihnya sendiri." jawab Zoya dengan santainya. "Benarkah..?" mommy Julie menyentuh pelan jemari Zoya membungkusnya dengan kedua telapak tangan hangat miliknya. "Tidakkah kau ingin mempertimbangkan nya lagi sayang" suara mommy Julie lembut namun penuh dengan keraguan.


Zoya bisa melihat itu, semua yang tersembunyi di balik tatapan hangat dan senyuman lembut itu. Kini semakin tersirat dengan jelas bagi Zoya.


"Mom..-- Zoya mendesah pelan. Apa yang ia pikirkan di permukaan, instingnya, benar adanya. "Ada apa dengan pembicaraan ini? bukan kah sejak awal sudah ku katakan, aku bersedia dan akan melakukan semua ini atas kemauanku! Sekarang, apa mom mempertanyakan keputusan ku lagi?" Zoya sebenarnya enggan dengan topik ini, hanya saja entah apa yang orang tuanya pikirkan, bukan kah mommy nya lah yang sangat antusias di awal?


"Sayang, dengarkan mommy. -- Julie meraih perhatian Zoya lagi. "Saat mom dan Dad, maksud nya sebelum ini memikirkan tentangmu, tentang masa depanmu dan semua yang bisa kami pikirkan, kami ingin kau memikirkan semuanya kembali, tentang keputusanmu.." tatapan lembut Julie bertabrakan bersamaan dengan pandangan tak percaya milik Zoya.

__ADS_1


"Ini bukan berarti kami ingin membuat mu goyah atau lainnya sayang, Zen anak mom dan Dad juga, kami menyayangi kalian berdua. Awalnya mommy akui, mom sangat luar biasa bahagia saat Zen kembali, terlebih lagi mengetahui Zen memiliki perasaan padamu, mom berpikir tak akan kehilangan salah satu dari kalian lagi saat kalian bersama, karena itu mom sangat bahagia." aku Julie dengan sebenarnya.


"Lalu..?" tanya Zoya lagi masih mencoba mengerti dengan semua yang mommy nya ucapkan.


"Lalu mom mengingat betapa energik nya dirimu dengan semua yang kau punya, betapa cemerlangnya semua impian serta masa depanmu, betapa bahagia nya saat melihatmu meraih duniamu sendiri, mom.. mom.." Julie merasa tercekik saat melihat raut wajah Zoya,


"Mom merasa berat saat mengingat kau harus mengikat dirimu lebih awal dalam hubungan pernikahan sayang, mom dan Dad hanya berpikir mungkin saja, jika kau memikirkan ini, ada banyak hal yang ingin kau lakukan di masa muda mu, di saat-saat kau bersinar cemerlang, mom memikirkan itu. hem..?"


"Tapi semua ini hanya pikiran kami sebagai orang tuamu, semua keputusan masih sama, masih tetap ditanganmu sayang. Kami hanya ingin kau lebih bahagia dan bersinar seperti Zoya milik kami yang seharusnya, dengan segala cinta yang kau punya, dari kami orang tuamu, maupun Zen yang sebentar lagi akan menjadi suamimu. Pikirkan itu sayang." Julie membelai lembut pipi Zoya.


"Belum terlambat untuk ini, jika kau berubah pikiran, pikirkan kebahagiaanmu, dan semua yang kau inginkan." Mommy Julie masih sama pengertian dan lembut seperti biasa.


Zoya dapat merasakan semua perhatian dan kasih sayang yang dicurahkan orang tuanya padanya. Zoya dapat merasakan itu, sehingga hatinya di penuhi dengan semua kehangatan yang luar biasa.


"Mom, aku mencintai kalian melebihi hidupku. Percayalah, aku sungguh bahagia." Zoya tersenyum menghilangkan semua keraguan yang ada, dan juga menyakinkan dirinya, bahwa ia sungguh bahagia, dengan ini, dengan keputusan nya, terlepas apa yang sudah terjadi dalam hubungan mereka sebelum ini, sebelum ia terganggu. Namun apapun itu, cintanya tak bisa di kalahkan hanya dengan rintangan kecil semacam itu, hatinya tak mudah untuk berubah.


Lama Rehan menatap pada Zen, menimbang apa yang akan ia katakan pada putra nya itu. Rehan bukan ingin bersikap bijaksana, namun ia memang sangat mencintai keluarganya, dan ia tak akan menyakiti salah satu dari bagian terpenting, tidak demi apapun, selalu ada jalan meskipun disaat tersulit sekalipun.


"Kau sudah memikirkan masa depan seperti apa yang akan kau berikan pada angel, Son?" tanya Rehan dengan suara rendah yang ia jaga setenang mungkin. "Aku sudah memikirkan nya sejak bertahun-tahun lalu Dad, aku mencintai Zo'e melebihi segala yang mampu ku lakukan." Jawab Zen dengan sebenarnya, sama seperti diawal dan akan tetap seperti itu.


"Apa kau sudah tau akan kemana dan seperti apa hubungan kalian setelah kalian resmi menjadi pasangan?" Ini kedua kalinya perasaan Zen ditelanjangi. Zen tak pernah ingin membuat alasan atau berbohong di depan Dady nya.


"Aku tau Dad, aku memahami segala kekhawatiran Dad dan juga Mollie, terlebih Zo'e adalah segalanya bagi kalian, dan juga bagiku. Zo'e adalah satu-satunya wanita yang ingin ku serahkan hidupku sepenuhnya untuk kebahagiaanya, dan tak pernah terpikirkan oleh ku hal lainnya untuk masa depan kami. Aku mencintainya Dad, melebihi apapun."


"Son, menjalaninya akan lebih sulit dari pada mengatakan nya, asalkan kau percaya diri dengan pilihan dan juga cintamu, maka Dad rasa memulainya tak akan sulit. Saat dua orang menjadi satu dalam ikatan pernikahan, akan ada hal-hal yang harus di korbankan, termasuk harga diri dan keegoisan mutlak milik seorang lelaki, kau mengerti?"

__ADS_1


Rehan tak bersikap ingin menggurui Zen sebagai seorang Senior. Rehan hanya ingin membagi apa yang sudah ia jalani dan lewati lebih dulu saat ia berada di posisi putra nya.


Sebagai seorang pria yang bertanggung jawab, tak cukup hanya mengandalkan perasaan cinta dan keegoisan kepemilikan semata untuk menjaga semuanya tetap berada ditempatnya. Rehan hanya ingin putra dan putri nya bahagia, seperti Rehan dan Julie bahagia saat memiliki mereka dalam kehidupan rumah tangga yang sempurna.


...❄️❄️...


Zen mengetuk pintu kamar Zoya, berharap Zoya masih terjaga untuk dapat melihatnya barang sejenak.


"Masuklah kak." kata Zoya mengetahui siapa yang ada di balik pintunya, dan benar saja Zen berdiri di sana dengan raut muka yang tak bisa Zoya jelaskan, menatap dirinya penuh arti. "Masuklah, datanglah padaku." kata Zoya lagi lebih lembut dari sebelumnya. Tak ada yang Zoya pikirkan atau inginkan saat ini selain memeluk kekasihnya.


Perlahan tapi pasti Zen datang pada Zoya, masuk dalam rentangan tangan Zoya dan membenamkan wajahnya di bahu kecil gadis itu. "Apa semuanya baik-baik saja kak?" tanya Zoya seolah pertanyaan tersebut juga berlaku untuknya.


"Hmm. Semua nya baik-baik saja sayang, bagaimana denganmu?" Zen merasa lebih tenang saat berada dalam pelukan Zoya, tepukan pelan dari tangan kecil Zoya di punggungnya membuat semua perasaan Zen terkendali. Ia tak akan hilang arah karena Zoya lah yang menuntunnya, menjadi tempat sandarannya, dan juga pelita baginya.


"Tak ada apa-apa padaku, semuanya akan berjalan seperti seharusnya." suara Zoya terdengar bergetar, namun penuh dengan keyakinan. "Kau tau, kau memberi ku alasan untuk percaya bahwa kita akan baik-baik saja, dalam kenyataan atau pun tidak hanya ketika aku bersama mu.Memelukmu seperti saat ini, semuanya lebih dari cukup, saat kita berdua sama-sama jatuh cinta."


"Memberiku cukup alasan untuk mengetahui apa yang inginku lakukan, dan kemana aku akan pergi saat bersamamu." pengakuan yang manis, yang menggetarkan hati Zen. Membuatnya semakin ingin menjadikan Zoya seutuhnya miliknya seorang.


"Kau tau Zo'e, mimpiku dan kenyataan ku adalah dirimu. Dan kau juga satu-satunya alasan bagiku, tak ada yang lain. Aku mencintaimu, dan akan tetap seperti itu,saat aku bersama atau tampa dirimu, tak ada alasan lain, hanya dirimu." Zen memeluk Zoya lebih erat, meraih apa yang ingin ia raih, dan merasakan detak jantung dan kelegaan yang membanjiri dirinya.


"Alasan yang manis, hem?"


"Kau lebih manis dari apapun."


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2