
...ENJOY...
.......
.......
.......
William memilih salah satu restoran seafood yang menurutnya paling banyak mendapat rekomendasi. Selainnya tempatnya yang nyaman, pemandangan disekitarnya juga tampak indah.
Wiliam memesan dua meja terpisah. Satu untuk dirinya dan Zoya, dan meja lainnya untuk Jhon, Dina, dan Fredy.
"Kalian boleh pesan apa saja yang kalian mau.'' kata William pada sekretarisnya. ''Baik tuan.'' Jhon kembali ke mejanya lalu memesan makanan untuk mereka bertiga.
"Bagaimana menurutmu, apa kau suka tempatnya?" William meminta pendapat Zoya. Gadis itu mengedarkan pandangannya sambil sesekali mengangguk, seperti telah mengumpulkan tanggapan dalam kepalanya. "Bagus.'' kata yang Zoya lontarkan.
"Hanya itu?"
"Ya. Ada masalah?" Zoya menaikan satu alisnya. "Atau kau ingin aku membuat penilaian menyeluruh? aku bukan food Vloger bung." ucap Zoya cuek.
Ha-Ha-Ha
"Maaf, aku lupa kalau dirimu nona pewaris tahta.'' kata William dengan nada jahilnya.
"Aku bukan pewaris, adik ku yang akan menggantikan posisiku. Aku tidak berminat dalam bidang ini.'' sanggah Zoya sambil membaca menu makanan yang akan dia pesan.
''Lalu, kenapa kau yang datang saat itu?" tanya William, mengacu pada pertemuan pertama mereka, dan William yakin, saat itu Zoya sangat berusaha untuk meyakinkan dirinya. Membuat Wiliam semakin ingin tau semua tentang Zoya.
"Tidak apa-apa, hanya ingin membantu Dady, dan ternyata berhasil, atau lebih tepatnya sukses besar.'' Zoya memainkan alisnya sambil tersenyum sombong.
"Hmm. Ku akui memang begitu. Tapi kenapa kau tidak menyukai pekerjaan ini, seperti nya ini cocok denganmu.''
"Kepiting dan udang asam manis, cumi balado, dan sate sotong pedas, itu saja.'' sebut William pada pelayan yang berdiri di sampingnya.
"Menurutmu begitu?"
"Tentu saja. Kau terlihat sangat cocok dengan ini, ya meskipun ku akui, kau sangat mempesona saat bermain Biola, suara mu juga merdu.'' tambah William.
"Thanks Will, aku senang mendengarnya, ternyata kau bisa melihat pesonaku yang lain." kata Zoya tetap dengan nada angkuh yang memang sudah terpatri dengan dirinya.
"Huh. Apa kau mulai menyombongkan diri?"
"Itu bukan kesombongan, tapi fakta.'' bisik Zoya. Kemudian keduanya tergelak.
"Ya. Aku rasa itu kelebihan mu lainnya, pintar berargumen." sindir William.
"Bagaimana dengan dirimu sendiri? apa kau sudah mulai menyukai posisimu?" tanya Zoya mengingat ingat cerita William pada pertemuan kedua mereka.
"Lebih tepatnya, aku menerima takdirku. Aku adalah anak tunggal, harus ku berikan pada siapa tanggung jawab ini selain hanya bisa menjalaninya, bukan kah menurutmu begitu, nona?"
"Hmmm. Itu pilihan yang bijak Will, dan harus ku akui, kau hebat.'' puji Zoya tulus. Wiliam mengerutkan keningnya mendengar pernyataan Zoya. ''Ya, menurutku kau hebat, karena mau melepaskan mimpimu demi memenuhi tanggung jawab mu, dan menurutku itu sangat keren.'' tambah Zoya.
''Thanks Zoya. Aku senang mendengarnya.'' balas Wiliam sambil tersenyum ramah. ''O, ya, bagaimana rencana mu selanjutnya? aku dengar kau akan segera menikah, apa itu benar?" tanya William lagi. Pertanyaan ini ingin ia tanyakan saat pertemuan terakhir mereka, namun William rasa sangat tidak sopan menanyakan tentang ini saat itu.
"Kurang lebih begitu. sekitar 2 bulan lagi.'' jelas Zoya.
"Secepat itu? apa kau yakin sudah siap menjadi seorang istri?"
Zoya menghembuskan nafasnya. "Kalau pertanyaan mu seperti itu, sepertinya aku akan menjawab bahwa sebenarnya aku belum siap."
__ADS_1
"Tapi aku mencintai tunangan ku, dan aku lebih memilih untuk menjadi siap bersama, dari pada tidak menjadi istrinya. Aku rasa, tidak ada pasangan yang benar benar siap saat memutuskan untuk menikah Will, pastilah ada beberapa keraguan yang mengikuti setelahnya, tapi jika kita menunggu sampai keyakinan itu 100%, aku rasa akan banyak pasangan yang belum menikah sampai saat ini.'' Zoya tersenyum sambil mengecek ponselnya, mengirimkan pesan pada Zen.
"Berapa usiamu?"
"Usia? kenapa?"
"Aku hanya bertanya.'' kata William.
"20 tahun.''
"Kau luar biasa Zoya. Kau sangat dewasa diusia mu yang sangat muda ini.'' Wiliam balas memuji Zoya.
"Thanks Will.."
"Tunangan mu juga hebat. Kalau aku yang ada di posisinya, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama, kerugian besar kehilangan orang sepertimu. Semoga kalian bahagia.'' ucap William tulus. ''Apa kau tidak ingin memikirkannya sekali lagi, maksudku pernikahan mu." tambahnya.
"Aku sudah memikirkannya Will, dan tidak ada alasan untuk menolak ataupun menunda pernikahan.'' Zoya tersenyum yakin akan keputusannya.
"Wahh.. kau memang luar biasa.'' William mengacungkan jempolnya. "Bagaimana denganmu?" tanya Zoya beralih pada William. "Aku..?"
"Ya, kamu.. apa kau juga sudah punya kekasih?"
"Aku hanya 2 tahun di atasmu Zoya." William menatap Zoya dengan serius. "Aku menyukai wanita sepertimu, dan sebenarnya aku ingin menjadikanmu kekasihku.'' kata William dengan santainya.
"Apa kau sedang mengejekku?" kata Zoya memicingkan matanya pada William.
"No! Aku serius. Awalnya begitu, tapi saat kau mengatakan kau sudah punya tunangan, aku lebih suka menjadi temanmu, karena aku sungguh-sungguh saat mengatakan kau adalah teman pertamaku. Lagipula, kalaupun aku punya seorang kekasih, saat ini aku tidak akan ada disini, aku pasti akan berada disisinya, dan tidak akan jauh darinya. Aku tipe yang romantis dengan kata lain sangat posesif dan protektif.'' kata william dengan wajah seriusnya.
"Permisi, saya akan menyajikan makanannya.. '' seorang pramusaji membawa meja hidangan makanan bersamanya.
Setelah makanan selesai di sajikan, William dan Zoya langsung menyantap makanan makan siang mereka.
semua makanan yang disajikan sangat sesuai dengan selera Zoya, dan semuanya terasa pas di lidah Zoya maupun William.
Setelah menghabiskan semua makanan di atas meja, Zoya maupun William benar-benar merasa kekenyangan.
"Kemana agenda setelah ini..?" tanya William pada Zoya yang masih menyeruput minumannya. "Pertemuan dengan beberapa pihak eksekutif terkait.'' kata Zoya singkat.
"OK. Aku akan mengantarmu.'' ucap William. Zoya hanya tersenyum melihat tingkah William. Laki laki itu memang seperti perkataan nya, tipe romantis.
...❄️❄️❄️...
"Bagaimana kabar dari Bali?'' tanya Rehan pada manager nya.
"Nona Zoya sudah melakukan pertemuan dengan pihak kontraktor pak bersama dengan beberapa investor yang juga hadir di sana, selanjutnya hanya pertemuan dengan beberapa pemegang saham yang saat ini juga sudah berada di Bali.'' lapornya.
"Hmm.Baiklah. Terus pantau perkembangan di sana, dan laporkan setiap detailnya." perintah Rehan.
"Baik pak. Saya permisi." manager tersebut meninggalkan ruangan Rehan. Setelahnya, Rehan menekan dial panggil pada ponselnya. Ia menghubungi putrinya, gadis kecil yang saat ini berada jauh darinya.
"Haii Dad.. ada apa?'' terdengar suara Zoya ditambah dengan begitu banyak suara bising lainnya.
"Angel, dimana kau saat ini, kenapa begitu berisik?" tanya Rehan yang awalnya mengira bahwa sinyal Zoya lah yang bermasalah.
"Aku di jalan Dad, akan ku hubungi setelah ini, aku sedang naik skuter.'' jelas Zoya.
"Ap.. Apa skuter..? Zoya apa maksud..
Tut..Tut..
__ADS_1
Belum lagi Rehan menyelesaikan perkataannya, sambungan telponnya sudah terputus. Rehan kembali menekan dial panggilan di ponselnya.
"Hallo tuan..?" jawab suara di seberang sana.
Fredy lah yang saat ini Rehan hubungi.
"Dimana nona mu? dia bilang dia naik skuter, apa maksudnya?" tanya Rehan yang saat ini mulai mengkhawatirkan putrinya.
"Maaf tuan. Nona Zoya memang sedang mengendarai Skuter bersama dengan Tuan muda William, saya dan yang lain mengikuti nona dari belakang.'' lapor Fredy.
Rehan memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut. Ada-ada saja yang putrinya itu lakukan. Baru saja satu hari di sana, sudah berani-beraninya ia menaiki skuter, ditambah lagi bersama dengan seorang pria yang baru dikenalnya.
"Jaga nona mu dengan baik, kalau ada apa apa dengan putriku, kau harus bertanggung jawab!" suara Rehan terdengar dingin, lalu ia menutup panggilannya.
Pukul enam sore, Rehan sudah sampai dirumah, seperti biasa Julie selalu menyambut kepulangan suaminya dengan ciuman dan juga pelukan hangat.
"Apa hari ini begitu melelahkan?" tanya Julie yang melihat wajah kusut Rehan.
"Hari ini biasa saja, tapi yang luar biasa adalah putrimu, Moo'' kata Rehan lelah.
"Zoya? kenapa, ada apa dengan Zoya Boo,? apa ada masalah di bali? hah.. ada apa?" kekhawatiran mulai merasuki Julie.
"Kau tau Moo, di hari pertamanya di Bali apa yang putrimu lakukan?" suara Rehan terdengar kesal.
"Apa Boo, apa ada yang...
"Putrimu naik skuter Moo, skuter! kau tau betapa berbahaya dan tidak amannya itu..?" kata Rehan dengan suara nya yang jelas-jelas kesal. Sementara wajah Julie kembali datar, memandang pada suaminya. "Ada apa Moo, seperti nya..
"Huh! Boo.. putri kita sudah dua puluh tahun,"
"Hampir Moo, dia belum dua puluh tahun!'' peringat Rehan.
"Ya, sembilan belas, hampir dua puluh tahun" ulang Julie. "dan aku rasa, tidak ada masalah dengan menaiki skuter. Kau tau, sikap berlebihan mu lah yang membuatku hampir saja berpikiran yang tidak-tidak tentang putri kita!'' geram Julie sambil mengambil tas dan jas Rehan lalu membawanya naik ke kamar.
"Moo.. heii.. tapi itu berbahaya, di tambah lagi ia pergi bersama seorang pria..!'' teriak Rehan.
"Wajar saja kalau driver nya laki-laki Boo, perempuan jarang yang menjadi tukang ojek!'' balas Julie malas.
"Itu bukan tukang ojek sayang, lagipula kenapa putriku memerlukan tukang ojek jika dia memiliki semua fasilitas mewah di sana!" bantah Rehan sambil mengikuti istrinya.
"Lalu..?"
"Itu Willliam." kata Rehan kesal.
"Hmm. Ku rasa itu tidak buruk!'' jawab Julie cuek.
"Tidak buruk? apa maksudmu Moo, putri kita sudah bertunangan dan saat ini pergi bersama laki-laki lain, dan kau bilang tidak buruk?" tuntut Rehan.
"Jangan berlebihan Boo, Zoya sudah menceritakan tentang William padaku, dan pemuda itu adalah orang baik, jangan berpikiran yang bukan-bukan!'' peringat Julie. ''Apa kau berharap putrimu memiliki skandal dengan laki-laki lain di sana Boo, lalu saat kembali ia memutuskan pertunangannya karena jatuh cinta dengan seorang miliader muda yang saat ini membawanya naik skuter?" omel Julie pada Rehan.
"Tidak! tentu tidak!'' bantah Rehan.
''Kalau begitu, percayalah pada putrimu, dan cobalah berpikirlah positif..!"
"Tapi Moo..
"Tidak ada tapi-tapi lagi Boo! Zoya adalah putri kita, dan aku tau bagaimana putriku!"
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...