My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
Trusted


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


Setelah Laura meninggalkan meja nya disertai rasa kesal terhadap penolakan blak-blakan seorang Ken, Dava pun turut keluar untuk mengejar Laura.


Dava sudah tidak sabar ingin mengolok wanita arogan itu; Selama ini Dava selalu memperhatikan tingkah Laura.


Wanita itu memang bukanlah wanita yang berjalan di jalur yang salah, hanya saja- karena kesempurnaan yang dimilikinya dalam wujud seorang wanita, membuatnya terkadang bertingkah sangat menyebalkan.


Dan kali ini, Dava sangat beruntung karena bisa melihat wanita itu kesal karena di tolak..


"Sial, dia pikir siapa dirinya? hanya karena wajahnya tampan dan aku memberinya sedikit pujian, dia malah berani mengatai ku seperti itu! Lihat saja, aku akan membuat perhitungan dengan bocah itu." Kesal Laura sambil menghentakkan kaki nya.


Selama ini tidak ada satu lelaki pun yang bisa menolak dirinya, meskipun ia tidak pernah menganggap serius semua perhatian yang sudah ia diterima, namun semua pria tetap memujanya;


Tapi kali ini, disaat Laura sudah menurunkan sedikit standar dan harga dirinya, berani-beraninya seorang pemula seperti Ken menjatuhkan nya dengan telak.


"Eiittt.. eeeiiittt... mau kemana, tunggu sebentar dong!" Dava menahan tangan Laura yang hampir saja memasuki lift.


"Mau apa sih Lo!" bentak Laura seraya menghempaskan tangan nya hingga lepas dari genggaman Dava.


"Wow! Santai bu!- ejek Dava lagi, ini sangat menyenangkan bagi Dava, ia sangat menikmati wajah kesal seorang Laura.


"Gue cuma mau mastiin, kalau Lo kalah taruhan, dan ingat perjanjian kita!" ujar Dava, tersenyum penuh kemenangan.


"Gak usah kelamaan kesalnya, btw kerjaan numpuk nungguin Lo!" tambah Dava lagi, tidak lupa ia juga mengedipkan sebelah matanya.


"Sial Lo Dav!" Seru Laura saat Dava sudah menjauh meninggalkan nya.


Hari ini memang hari sial bagi Laura. Bagaimana mungkin ia bisa menerima begitu saja semua penghinaan yang sudah diterimanya.


"Ini salahmu Laura! seharusnya kau tidak bersikap munafik, meskipun Ken lebih muda, tetap saja ia seorang pria! Pria yang bisanya hanya mempermainkan perempuan!"


"Sekarang mau ditaruh dimana muka mu ini Laura! Sial!" Wanita itu berkata Malang pada dirinya masih dengan perasaan kesal dan malu.


Sementara itu;


Setelah menyelesaikan tumpukan terakhir dari atas meja nya; Ken menyerahkan semua file kepada Mbak Dinda, rekan kerja satu divisinya.

__ADS_1


"Mbak, ini semua file untuk hari ini, semuanya udah kau susun rapi, nanti tinggal di print aja." Lapor Ken, seraya menyerahkan benda kecil dan pipih ke atas meja Dinda.


"Good Job Ken, thanks Ya.- O, ya hari ini magang terakhir kamu kan di Divisi ini? setelah ini mau di pindahin kemana lagi?"


"Belum tau mbak, habis lapor Pak Hendrawan baru deh tau mau di pindahin kemana lagi." sahut Ken dengan sebenarnya.


Di dalam Divisi itu, tidak ada yang mengetahui identitas Ken yang sebenarnya; mereka hanya tau, jika Ken adalah mahasiswa magang yang akan belajar sebentar sebagai bahan observasi.


"Hmm. Gitu ya, kalau gitu, setelah kerjaan selesai kita ngopi bareng ya, gimana? Dav, gimana menurut Lo..?" seru Dinda dari bilik yang bersebrangan.


"Oke.. gue Yes aja." sahut Dava.


"Lo Ken..?" tanya Dinda lagi.


"Oke lah mbak, aku ngikut juga." jawab Ken juga.


"Apaan sih lo berdua, jadi ngerasa kaya emak-emak yang lagi mau ngajakin anak-anak nya main aja gue." balas Dinda sambil tersenyum.


Dinda adalah wanita berusia 32 tahun dan sudah menikah, karena itulah Ken merasa nyaman bergaul dengan nya. Selain ramah dan juga baik, Dinda juga selalu memberikan saran yang bijaksana kepada Ken setiap kali ia menghadapi tingkah Laura.


"Ya sudah, aku mau laporan dulu mbak." pamit Ken.


"Oke, semoga Lo beruntung di Divisi selanjutnya Ken."


"Makasih mbak."


"Selamat siang tuan, pak Rehan sudah menunggu anda diruangannya." Sapa Anna saat Ken memasuki lantai 18.


"Baik, terima kasih." sahut Ken. Sebelum masuk, Ken mengetuk pintu sebentar; "Masuklah." suara Rehan terdengar samar dari dalam ruangan nya.


"Dad.. " Sapa Ken saat masuk ke dalam ruangan orang nomor satu di Z'Grup. "Son, masuklah..- ingin minum sesuatu?" tawar Rehan, lalu bangkit dari kursinya untuk menghampiri Ken yang memilih untuk duduk di sofa.


"Tidak Dad,-


"Baiklah.- sebagai gantinya, Rehan menuangkan sedikit minuman beralkohol ke dalam gelasnya sendiri.


"Dad masih minum itu?" tanya Ken, melirik kepada Rehan. "Saat kau dewasa nanti, Son. Kau akan tau, jika kau memerlukan sedikit alkohol untuk membuatmu tetap tenang." Sahut Rehan sambil tersenyum.


Meskipun ia masih begitu muda, Ken bisa memahami apa yang di maksudkan Dady nya. Entah seberapa berat beban yang di tanggung Dady nya saat ini; baik tentang perusahaan, bahkan tentang kehidupan.


Ken tau semua ini sangat tidak mudah bagi Dady nya. Meskipun Dady nya selalu tersenyum seolah semuanya baik-baik saja, tapi yang sesungguhnya, siapapun bisa melihatnya dengan jelas.


Ken ingin berbagi beban yang Dady nya tanggung saat ini; "Bagaimana pekerjaan mu Son? dan bagaimana menurutmu tentang perusahaan?" Tanya Rehan membuka obrolan.

__ADS_1


"Pekerjaan,- semuanya baik-baik saja Dad.- dan rasanya tidak buruk untuk mengelola sebuah perusahaan." sahut Ken.


Rehan tertawa kecil-


"Tidak buruk?" hah.. kau memang sangat unik dan lucu Son." ujar Rehan sebelum kembali meneguk cairan dari dalam gelasnya.


"Son, suka atau tidak, kau memang harus mengelola perusahaan ini bersama Dady. Perusahaan ini milik mu, jadi kau harus mulai membiasakan diri. -


"Mulai saat ini, kau harus ingat, Kau tidak lagi hanya bertanggung jawab atas dirimu sendiri, tapi juga kepada perusahaan ini; kepada seluruh karyawan perusahaan kita, semuanya adalah tanggung jawab mu son." Rehan menyentuh pelan pundak Ken.


"Aku tau Dad, karena itulah aku ingin bicara pada Dad." sahut Ken.


"Bicaralah Son, Dad akan mendengarkan mu dengan baik." ujar Rehan, seraya mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai.


"Dad, aku ingin terus bekerja di perusahaan.- Aku ingin membantu Dad di sini." Ken berujar dengan serius.


Rehan mulai serius mendengarkan putranya; ini adalah kali pertama Ken berbicara dengan begitu serius seperti saat ini.


"Bagaimana dengan sekolah mu Son..?"


"Aku akan melanjutkan pendidikan secara online Dad..- Dan aku akan terus bekerja di perusahaan. Aku ingin lebih mengenal perusahaan dengan baik, aku tidak ingin langsung menjadi pemimpin, tapi aku ingin memulai semuanya dari bawah, aku akan senang jika Dad mengijinkan ku." jawab Ken.


Rehan berpikir sejenak, sesekali menghembuskan nafasnya.


Rehan tidak ingin langsung menyetujui permintaan putranya; semua yang dikatakan Ken memanglah baik, akan tetapi Rehan juga ingin putranya itu menikmati masa mudanya. Ken masih berusia 19 tahun, Rehan tidak ingin terlalu memaksa putranya menanggung beban begitu cepat.


"Dad.. -


"Kau yakin dengan keputusan mu Son..?" sela Rehan. "Kau harus benar-benar memikirkan nya dengan baik. Sekali kau membuat keputusan, kau tidak bisa kembali lagi. Kau harus benar-benar mempertimbangkan semuanya son." ujar Rehan.


"Dengar- jujur saja Dad sangat senang mendengar keinginan mu. Tapi kau perlu tau, kebahagiaan mu juga sangat penting bagi Dad, kau masih sangat muda Son, kau harus menikmati tahun-tahun keemasan mu sebelum kau terjun kedalam dunia orang dewasa.


"Dad ingin kau bermain sepuasnya, melakukan apa saja yang kau inginkan bersama teman-teman mu, atau juga bersama pacarmu. Bukan kah seharusnya begitu Son?" Rehan sekali lagi tersenyum.


"Dunia ini begitu sulit untuk kau pahami Son, jadi untuk kali ini, Dad ingin kau mempertimbangkan nya kembali.-


"Setelah itu, datanglah pada Dad, maka Dad akan mendengarkan keputusan mu. Dad percaya dengan semua yang kau putuskan. Berbahagialah Son, dan bersantai saja..- hemmm..?"


Rehan tersenyum saat melihat putranya.


Jika saat ini Julie masih ada, istrinya itu pastilah akan sangat bangga melihat putra mereka yang saat ini sudah tumbuh menjadi seorang pria dewasa.


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2