My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
Let's Party


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


Setelah menyelesaikan sarapan pagi bersama, Lova menyempatkan dirinya untuk pergi mengecek ulang persiapan pesta untuk peresmian toko baru nya.


"Ken, aku akan pergi bersama Sea, kau dan Leon istirahat saja dirumah." ujar Lova yang kini sudah berganti pakaian dan sudah siap untuk pergi.


"Aku bisa menemani mu L, lagi pula aku tidak begitu lelah." sahut Ken, yang kini tengah berdiri sambil tersenyum di hadapan Lova.


Membuat Leon bersiul untuk mengejek, sontak saja ia mendapatkan lirikan tajam dari Ken, "Tidak usah, lagi pula kami tidak akan Lama. Hanya mengecek beberapa persiapan saja." sahut Lova menolak dengan halus.


Saat Shreya sudah bergabung bersama mereka, tiba-tiba Leon juga mulai melancarkan aksinya. "Baby, boleh aku pergi bersama kalian?" bisik nya, ditelinga Shreya, membuat gadis itu meremang.


Namun dengan cepat Lova mengarahkan tatapan tajam nya, intuisi nya bekerja secepat kilat. Seakan ia tahu apa Yang di minta Leon pada Shreya. "No!" ujar Lova dengan nada, No debat. ckckck


"Ayolah L, kami hanya ingin melihat-lihat, akan sangat membosankan berada di Villa tanpa kalian." Leon menunjukan kejenuhan nya. Ken juga memanyunkan wajah nya, lalu turut berucap, "Benar sayang, aku juga tidak ingin berada di sini hanya bersama manusia ini, akan sangat membosankan."


"No, Ken. Sekali tidak tetap tidak." jawab Lova tegas. Jika ia mengatakan Tidak pada Leon, maka tidak juga bagi Ken. Kali ini Lova hanya ingin pergi bersama Shreya, ia tidak ingin para pria menghancurkan rencana yang telah mereka buat


Ken dan Leon sama-sama mengerang, karena penolakan Lova, namun hal itu justru terlihat lucu bagi Shreya. Gadis itu bahkan tak tahan untuk mengunci rapat mulutnya.


"Kalian akan bosan jika kalian pergi bersama kami. Percaya padaku." bisik nya sambil berkedip jahil. Lagi-lagi hal itu membuat Ken dan Leon semakin penasaran.


Bagi keduanya justru akan sangat menyenangkan jika mereka pergi bersama-sama. "Nah, kalian akan pergi bersenang-senang kan?" tebak Ken, sedikit mendesak. "Biarkan kami ikut."


Tak ingin berdebat terlalu Lama, Lova mendekati Ken, dan mencium nya untuk beberapa saat, tentu saja hal itu membuat Sea dan Leon sedikit shock.


Ah, pertunjukan langsung rupa nya. Sama hal nya dengan Ken yang benar-benar tak menduga akan mendapatkan ciuman dari Lova, "Tetaplah dirumah untuk beristirahat." ujar Lova lagi membungkam Ken. "Ayo Sea."


Kali ini Shreya benar-benar tertawa cekikikan melihat wajah Ken. "Sea kau tidak ingin mencium ku juga?" Seru Leon berniat protes. Namun kekasihnya hanya melambaikan tangan sambil berlenggak-lenggok mengejek.


"Hai L." sapa William yang saat ini tengah berada di depan Villa. Lova yang merasa terpanggil pun mencari ke sumber suara. "Will? Apa yang kau lakukan di sana?" Tanya Lova dari tempatnya berdiri.


Sambil mengangkat kedua bahu nya, William menjawab dengan enteng. "Minum kopi." ujar nya mengacungkan gelas. "Bukan itu maksud ku." balas Lova sambil tertawa bodoh. "Ah, ini Villa ku. Aku dan Zoya dulu bertetangga." Jelasnya singkat. "Kalian ingin pergi?"


Lova menganggukkan kepalanya memberi isyarat. "Kemana?" Tanya William lagi. Oh God. Kenapa para pria selalu saja ingin tahu kemana wanita ingin pergi? "Mengecek persiapan. Jangan lupa persiapkan dirimu untuk nanti malam." sahut Lova, kemudian melambaikan tangan nya.


"Dasar para Pria." oceh nya, lagi-lagi. membuat shreya cekikikan. Namun justru membuat Lova menautkan kening nya, "Kau terlihat puas sekali nona, apa kah begitu lucu?" Lova tersenyum jahil.


"Kau yang terlihat lucu L." Shreya kembali tertawa, namun kali ini, bukan lagi tawa malu-malu ala anak remaja yang baru jatuh cinta. "Apa nya?" heran Lova. "Katakan, bagian mana nya yang lucu?" desak nya lagi.


"Kau tau L, melihat para pria itu, mengingatkan aku tentang seorang ibu yang ingin pergi namun anak-anak nya ingin turut serta. Kau persis seperti itu." jelas Shreya.


Namun Sekali lagi Lova mengerutkan kening nya. "Aku benar-benar tidak mengerti." pungkas nya. "Ah, kau saja yang Lo-La!"


Setiba nya di toko, keduanya sudah di tunggu oleh Gill. "Hai Girls." Sapa nya sambil tersenyum riang. Gill meraih tangan Lova, lalu memanyunkan wajahnya,


"Maafkan aku karena tak bisa bergabung bersama kalian semalam, papa mendadak mengajak ku untuk makan malam, kau tau aku tidak bisa melewatkan itu bukan." ujar Gill. Berbohong.


Lova tersenyum maklum, "Tidak apa-apa Gill, tapi lain kali. kau harus bergabung bersama kami." sahut Lova, sambil tersenyum.


Kembali kepada tujuan awalnya, Lova melakukan beberapa pengecekan sebelum melanjutkan ke daftar agenda lain nya. "Apakah para tamu sudah terkonfirmasi Gill?" Tanya Lova saat mengecek daftar Yang akan datang di pesta nya nanti malam. "Sudah L, semua nya sudah mengkonfirmasikan kedatangan mereka." jawab Gill dengan yakin.


Lova mengangguk-anggukan kepalanya yang saat ini tengah memikirkan entah apa, yang jelas semua itu tentu saja tentang pesta yang akan di mulai dalam beberapa jam lagi.


"Baiklah. Karena disini sudah selesai, bagaimana jika kita ke rencana selanjutnya..?" ajaknya kepada Shreya dan juga Gill Yang jelas-jelas sudah tak sabar ingin meninggalkan toko nya. "Kenapa harus menunda, ayo!" setuju Gill dengan antusias.


Hari ini ketiganya memiliki rencana untuk me-time nya para gadis. Ketiga nya ingin menghabiskan waktu bersama-sama untuk shopping, memanjakan diri di spa, dan juga jika saat nya tiba, mereka akan langsung menyiapkan diri untuk ke pesta. Semua nya sudah di rencanakan dengan sempurna oleh sang party planner, Gill.


"Lest Go girls!"


...❄️❄️...


Sementara itu, Ken dan Leon yang di tinggalkan seorang diri di Villa hanya menghabiskan waktu keduanya dengan bermain game.


Sampai tiba-tiba ponsel Ken berdering,


"Ya Dad..?" sahut Ken, sementara mata nya masih terus tertuju pada layar, dan tangan nya masih terus aktif pada stick game.


"Pesawat Dad sudah tiba di Airport." ujar Rehan, memberitahukan kedatangan nya. "Ah, benarkah? Dad sudah minta supir untuk menjemput Dad?" terdengar suara berisik dari dalam ponsel Ken,


"Dad..?" panggil Ken lagi. "Belum." Sahut Rehan singkat. "Baiklah. Tunggu aku di sana Dad, aku yang akan menjemput Dad." ucap Ken, lalu menghentikan permainan nya.


Ken Yang tiba-tiba saja menyudahi permainan tentu saja membuat Leon terheran, "Kenapa?" tanya Leon. "Kau ikut? aku ingin menjemput Dad." ujar Ken, lalu berpaling untuk mengambil jaket nya. "Aku ikut." Sahut Leon cepat lalu buru-buru bangun dari tempat duduk nya.


Tak Lama kemudian, Ken pun turun dan bergabung bersama Leon, "Ayo." Kali ini Ken akan membawa mobil sendiri, dan membiarkan pak supir untuk beristirahat di Villa. "Aku akan bawa mobil sendiri pak." ujar Ken lalu masuk ke bagian kemudi disusul Leon di samping nya.

__ADS_1


"Apa kita akan mampir ke toko L sebentar?" Tanya Leon, Yang tepatnya mirip sebuah usulan. Ken melirik sejenak dengan tatapan tak percaya. "Kau pikir mereka ada di sana?" Leon menautkan kedua alisnya.


"Kenapa tidak? bukan kah mereka memang seharusnya di sana?" sahutnya. Tiba-tiba saja Ken tertawa. Kini Leon lah yang semakin heran, "Ada yang Salah?" Tanya nya polos.


"Jika mereka memang ingin berlama-lama di toko, tidak ada alasan untuk menolak pergi bersama kita kawan," Ken menepuk pelan pundak Leon, lalu tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Mereka bersenang-senang tanpa kita?" Ujar Leon yang baru mengikuti server. "Yups." jawaban singkat Ken, membuat Leon segera mengambil ponselnya untuk melakukan Video call dengan Shreya. Namun sayang nya, Shreya tidak menjawab. Lova pasti melarang kekasihku untuk menjawab panggilan, pikir Leon.


Tanpa terasa, mobil keduanya kini sudah terparkir di tempat parkir khusus jemputan. Mereka mencari di tempat biasa nya para penumpang untuk menunggu jemputan, "Son..?" sapa Rehan dari jarak yang cukup dekat dengan keduanya.


"Dad.. "


"Uncle.. "


Sapa Ken dan Leon bergantian. "dimana putri Dad?" Tanya Rehan yang tidak melihat keberadaan Lova.


"Sedang bersenang-senang bersama kekasih ku uncle. Hanya mereka, para Gadis. Mereka menolak untuk mengajak para pria." ujar Leon sinis. "Ah, lmanis nya." sahut Rehan sambil tersenyum.


"Dimana bagian manisnya?" gerutu Leon, yang juga sambil mengambil alih koper Rehan. "Tentu saja Son. Itu arti nya para gadis memberikan kalian waktu untuk bernafas dan memberikan kebebasan agar para pria bisa melakukan apa saja yang di inginkan." jelas Rehan.


"Para gadis ternyata sangat pengertian." tambah Rehan, membuat Ken dan Leon sama-sama menggeleng tak setuju.


"Oh, come on, Son! Jangan katakan kalian ingin terus menempeli para gadis? apa kah sekarang jaman sudah terbalik?" ejek Rehan sambil tertawa garing.


Setiba nya di Villa, Rehan berbagi kamar dengan Ken, karena semua kamar saat ini sudah terisi. Rehan menolak untuk tinggal di hotel. "Dad, ingin makan siang apa? biar ku pesan kan saja." ujar Ken, yang kebetulan memang sudah merasa lapar.


"Bagaimana jika kita makan di pantai saja, Son. Karena kita sudah berada disini, kenapa tidak kita nikmati saja." usul Rehan.


Tentu saja, Kapan lagi ia akan punya waktu luang seperti ini. Saat ini adalah momen yang tepat untuk saling berkumpul. Ken mengangguk setuju. Tak ada keberatan sedikit pun bagi nya. "Baiklah, ayo. Seperti nya kita juga harus bersenang-senang seperti para gadis."


...❄️❄️❄️...


Pukul enam sore, semua orang sudah bersiap di Villa. Ken, Rehan, dan Leon, ketiga nya sudah berdandan dengan rapi.


Saat ini mereka hanya perlu menunggu para gadis yang tak kunjung pulang. "Apa kau bisa menghubungi L?" ujar Leon, yang memperhatikan Ken yang terus memainkan ponsel nya. "Belum terhubung. Bagaimana dengan mu?" Ken balik bertanya. "Sama." sahut Leon, mendesah.


"Para gadis belum kembali?" Tanya Rehan juga. Ken dan Leon sama-sama mengangguk. "Bagaimana jika kita minum segelas?" Rehan tersenyum sambil mengangkat gelasnya.


Para pria memang sedikit cemas dengan keterlambatan Lova dan Shreya untuk kembali. Pesta akan di mulai tepat pukul tujuh, sedangkan keduanya masih juga belum kembali. Lalu siapa yang akan menyambut para tamu undangan di sana?


"Sebentar." ujar Leon yang mendapati ponselnya bergetar, "Pesan dari Sea.- Leon membaca dalam hati. "Kita akan bertemu di tempat pesta, mereka dalam perjalanan ke sana." ujar Leon. Membuat Ken mengumpat gemas.


"Nah Son, kita masih punya waktu sekitar satu jam, bagaimana jika kita minum segelas lagi kemudian berangkat." ujar Rehan, yang sudah menuangkan minuman ke dalam sloki kecil untuk mereka bertiga. Setelah melakukan tos, ketiga nya menenggak minuman tersebut dalam satu kali tegukan. "Ini benar-benar menyenangkan." seru Rehan, sambil tersenyum.


"Sebaiknya kita harus pergi sekarang Dad." ajak Ken. Lalu ketiganya pun pergi.


Setiba nya di gedung yang kini sudah di sulap sebagai tempat pesta, suasana di sana terlihat sudah cukup ramai di datangi oleh para tamu undangan. "Wow, seperti nya putri Dad membuat pesta yang meriah." gumam Rehan, mengamati sekitar.


Semua persiapan yang dilakukan benar-benar meriah. Dekorasi dan juga konsep nya benar-benar unik dan elegan, sangat terasa ciri khas seorang Lova, namun jika melihat pada para tamu undangan nya, sudah jelas, jika sebagian besar yang hadir bukanlah orang-orang yang Lova kenal.


"Dimana gadis-gadis itu?" Leon mengarahkan pandangan nya untuk mencari Shreya dan juga Lova, namun keduanya masih belum berada di sana.


Di tempat pesta, Rehan berkumpul dengan keluarga kecilnya. Zen dan Zoya sudah bergabung bersama dengan Cassian dan juga keluarga nya.


William juga baru tiba beberapa menit yang lalu, dan berbaur dengan tamu undangan yang lain. Ia ingin bergabung dengan Zoya, namun pasti tidak akan tahan dengan aura yang mendominasi dari Zen, jadi William lebih memilih untuk menunggu sang empunya acara.


Ken yang belum menemukan keberadaan Lova pun berinisiatif untuk menelpon kekasih nya. Namun belum lagi ponsel nya tersambung, Leon sudah menepuk Ken. "Mobil Mereka baru tiba." seru Leon.


Mobil limousine berwarna putih terhenti di depan gedung, dari mobil yang turun pertama kali adalah Shreya.


Gadis itu mengenakan sebuah dress berwarna pink dengan panjang selutut, dan terlihat sangat cantik di tubuhnya. Dengan rambutnya yang di tata dengan indah, Shreya terlihat seperti seorang putri.


Kemudian Leon berjalan dengan gagah untuk menghampiri Shreya dan dengan begitu manis menggandeng tangan kekasihnya.


"OMG. Look at you, So gorgeous babe." puji Leon sambil mencium tangan Shreya. "Terima kasih sayang." Shreya tersenyum malu-malu.


Kemudian, disusul lah dengan Lova yang juga mengikuti. Love mengenakan Long dress berwarna hitam metalik bertaburan swarovski dengan kerah berbentuk V mengikat sempurna di balik lehernya, serta belahan tinggi di samping kirinya, yang memperlihatkan kaki putih mulus khas seorang model terkenal.


Rambut nya Yang terangkat dan di tata ala kadarnya semakin menguatkan pesona seorang Lova. Gadis itu bersinar dengan indah, serta pas pada tempat nya. Sungguh mempesona.


Deg. Deg. Deg..


Kira-kira begitulah kira-kira irama jantung Ken yang berdegup saat melihat betapa indah wanita nya malam ini. Ah, tidak. Lova memang indah sejak pertama mereka bertemu, hanya saja.. malam ini gadis itu terlihat berbeda.


Seperti Iblis penggoda namun berwajah malaikat nan tersenyum begitu polosnya untuk mengikat semua hati para pujangga. Benar-benar berdosa!


Saking terpukau nya pada Lova, Ken baru sadar ketika William menepuk pundaknya. "Jika kau tidak bergerak kesana, maka aku Yang akan maju." bisik nya, membuat Ken segera bergerak.


Ia berdehem beberapa kali sebelum melangkah kan kaki nya dengan gagah. "May I, gorgeous?" ujar Ken mengulurkan tangan nya. Tentu saja tangan itu tak akan di tolak oleh Lova. "Terima kasih Ken." ucap nya, dengan lembut.


"Aku menantimu cukup Lama, namun ternyata kau datang layaknya seorang artis Hollywood, dan aku sangat terpesona." puji Ken.

__ADS_1


Dan Yang terakhir, turun lah Gill. Gadis itu mengenakan dress berwarna putih dengan renda sederhana, namun membuatnya terlihat elegan dan bersahaja. Ia turun sambil tersenyum. sadar tak ada Yang akan menyambutnya, Gill segera menyusul Lova dan juga Shreya.


Tepat pukul tujuh malam, peresmian toko pun di mulai. Di dampingi oleh Ken dan juga Dady Rehan, serta keluarga dan juga sahabat nya, Lova memotong pita sebagai pertanda bahwa toko nya akan resmi di buka.


..."1,-...


..."2,-...


..."3,-...


Semua orang turut berhitung, lalu pita pun di potong, dan resmilah di buka toko Yang di beri nama "Miss J.A&L" milik Lova. Toko yang di persembahkan nya untuk alm. Mommy Julie, Yang di kenalnya sebagai wanita terbaik di dalam hidup nya.


Seketika terdengar riuh tepuk tangan dan juga sorakan dari para tamu undangan; "Selamat untuk mu Sweet heart" ujar Rehan yang memeluk Lova dengan haru. "Terima kasih Dad."


Begitu pun dengan Yang lainnya, mereka menyalami dan memberikan selamat pada Lova secara bergantian, dan party pun di mulai.


Sementara itu, William menemui para pemain musik Yang memeriahkan acara, lalu meminjam microphone untuk bicara.


"Tes.- Ah, selamat malam semuanya. Maaf mengganggu pesta sejenak." ujarnya, membuat semua orang mengarahkan pandangan kepada William. "Secara pribadi, aku ingin mengucapkan selamat kepada Lova. Wanita luar biasa yang pernah ku kenal.


Wanita yang sangat berani dan juga bijaksana. Begitu rendah hati dan juga sangat baik- ujar William sambil tersenyum tulus. "Selamat untuk mu Mosley. Ku rasa, satu lagi mimpi mu telah terwujud." tambah William.


"Sebagai ucapan selamat, aku ingin memainkan sebuah lagu khusus untuk mu, tapi ku harap tunangan mu tidak akan cemburu." ucap nya membuat para tamu undangan tergelak. Sementara dari arah samping terdengar sorakan kekaguman.


William pun mengambil sebuah Violin lalu memainkan nya. "L, lagu ini ku persembahkan untuk mu." ujar William, kemudian mulai menggesekkan senar nya. Suara permainan nya yang begitu harmonis dan juga indah, membuat semua orang terhanyut, sampai-sampai tak ingin William menyudahi permainan berkelas tersebut.


"Lagi! Lagi! Lagi!" sorak para tamu, membuat William menggaruk tengkuk nya sambil tersenyum.


"Baiklah, ini lagu kedua, dan ku harap yang terakhir, karena aku tak berniat membuat konser disini." ujar William Yang lagi-lagi membuat semua orang tertawa.


"Untuk lagu kedua, seperti nya aku membutuhkan bantuan." tambah nya. "Ken, boleh aku pinjam sebentar tunangan mu yang begitu luar biasa?" William tersenyum, namun Ken justru mengerutkan kening nya.


"L, kemarilah." pinta William, membuat Lova tersenyum malu. "Pergilah Sweet heart." ujar Rehan, mendorong Lova. "Dad!" protes Ken, namun tidak di gubris Rehan. Ia sangat tahu jika Lova adalah gadis luar biasa, dan Rehan ingin melihat banyak hal yang belum ia ketahui dari putri nya itu.


Saat Lova naik ke atas panggung, William membungkukkan badan nya menyambut Lova. "Apa Yang harus ku lakukan?" bisik Lova, sambil menahan malu di wajahnya.


"Mainkan Piano nya L, dan iringi aku." sahut William. "Apa yang akan kita mainkan?" Lova bersungguh-sungguh jika ia tak semahir itu dalam memainkan benda bernada indah di hadapan nya ini.


"Kau pasti bisa. Aku akan memulainya." sahut William tak memberikan clue pada Lova. Dengan perasaan gugup yang luar biasa, Lova pun duduk untuk menggantikan pemain sebelum nya.


Semua yang ada disana benar-benar sedang menantikan permainan keduanya. "L bisa bermain piano?" bisik Leon, di samping Ken. "Entahlah, aku juga ingin tahu." sahut Ken, penasaran.


Saat William memulai permainan nya, Lova pun mulai menebak akan memulai dari mana, beruntung yang di mainkan William adalah lagu Yang familiar bagi Lova. "The moments" lagu Yang lumayan sering ia dengar, jadi ia tak kesulitan untuk mengiringi dan mengikuti permainan William.


Setelah permainan keduanya berakhir, sorakan dan tepuk tangan kembali terdengar. "Terima kasih L." ujar William memeluk gadis itu sesaat, "Dan untuk mu Will, terima kasih sudah memeriahkan pesta ini." balas Lova, yang kemudian turun dari panggung.


Berbeda dengan semua orang, Ken justru menatap kesal pada kekasihnya. Ia sungguh-sungguh dibuat tak tahan saat melihat semua mata menatap kagum pada wanita nya.


L adalah milik Ken, orang lain tidak boleh memberikan perhatian, apalagi sampai mengagumi nya. Tidak bisa di biarkan. Menyadari wajah murung Ken, Lova pun menghampiri kekasihnya itu. "Kau marah?" tegur Lova, saat berdekatan dengan Ken. "Hem." aku Ken. "Kenapa?" tanya Lova lagi.


"Aku tidak suka semua orang memandang mu seperti itu." jawab Ken, masih dengan wajah cemberut. "Omg. Kekasihku cemburu?" Lova tersenyum, sambil menempelkan tubuhnya.


Saat ini musik sedang mengalun dengan indah, dan sudah banyak pasangan Yang mengikuti alunan musik untuk berdansa. "Tentu saja. Kau pikir aku akan diam saja saat melihat wajah semua pria ini menatap mu seperti itu?" Ken memeluk Lova, menatap gadis itu memperingati.


"Ah, manis nya.- sekarang diam dan tunggu lah disini, aku ingin berdansa bersama seorang pria tampan." ujar Lova melepaskan diri.


"L, jangan lakukan itu. Aku benar-benar akan marah jika kau berdekatan dengan pria lain nya lagi!" peringat Ken dengan sungguh-sungguh.


"Coba saja jika kau berani." tantang Lova, yang tersenyum, kemudian meninggalkan Ken yang saat ini tengah berwajah kesal, namun tetap memperhatikan kemana kaki Lova melangkah.


Sumpah Demi apapun, Ken benar-benar menahan kesalnya saat ini. Sepanjang hari ia bahkan hanya menghabiskan waktu kurang dari dua jam bersama kekasihnya itu, namun di setiap kesempatan yang seharusnya ia miliki justru harus di lewatkan kekasihnya itu bersama orang lain.


Dan sekarang, kekasihnya bahkan ingin berdansa dengan pria lain, yang seharusnya adalah kesempatan milik Ken untuk pertama kali berdansa dengan Lova. ****!


Dengan tatapan tajam nya, Ken bahkan tak berpaling sedikit pun dari Lova. Setiap orang yang menyapa nya, kepada siapa gadis nya tersenyum, semua itu tak luput dari pengamatan Ken.


Benar-benar sial.


Hingga akhirnya gadis itu berhenti di belakang pria yang memunggungi nya, dan menepuknya perlahan seraya tersenyum..


"Dad, mau berdansa dengan ku?" Lova mengulurkan tangan nya pada Rehan. Tentu saja dengan senang hati Rehan menyambut uluran tangan putri nya.


"Tentu sweet heart."


Lova menggandeng tangan Rehan, sambil sesekali tersenyum mengejek kepada Ken, membuat kekasihnya juga tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku benar-benar akan gila di buatnya."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2