
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
.......
Setelah meninggalkan Katedral, keluarga Wijaya telah melakukan reservasi di Grand Hotel sebagai tempat resepsi pernikahan Zen dan Zoya.
Grand hotel adalah salah satu hotel termewah yang ada di stockholm. Meskipun pernikahan putra dan putrinya terhitung sebagai pernikahan yang dadakan alias tanpa rencana, namun Rehan tak ingin anak-anaknya kehilangan momen membahagiakan dalam pernikahan tersebut.
Di hotel tersebut, di gelarlah resepsi pernikahan yang terbilang mewah. Zen dan Zoya bahkan mendapatan servis terbaik sebagai keluarga bangsawan, mengingat latar belakang keluarga Zen yang saat ini merupakan salah satu bangsawan di inggris.
"Kalian suka resepsi nya son, angel..?" Rehan mendekati putra dan putrinya untuk turut memberikan selamat bagi keduanya.
''Kami sangat menyukainya Dad.'' jawab Zen masih tidak percaya dengan apa yang dialaminya saat ini.
''Benar Dad, kami sangat menyukai semuanya, ini sempurna. Kapan Dady menyiapkan ini..?"Giliran Zoya yang bergelayutan pada Rehan, membuat Dady nya itu mendengus dengan senyuman misterius.
''Apa kau pikir hanya dirimu yang bisa menyiapkan kejutan sayang..? Dady lebih senior darimu.'' Rehan mencubit gemas pipi Zoya, dan memeluknya dengan haru.
''Mengapa putri Dady terlalu cepat dewasa? rasanya baru kemarin Dady menggendong mu dan mengangganti popokmu.'' Rehan mendesah, karena tak rela putrinya sudah menjadi milik lelaki lain.
''Dad..meskipun aku sudah menikah, aku tetaplah putri Dady. Kak Zen juga akan menjaga ku dengan baik, sama seperti Dady menjaga ku.'' kata Zoya dengan lembut, menenangkan sang ayah.
''Benarkah..? Dady harap begitu angel. Dady belum yakin seratus persen pada pemuda pilihan mu ini.'' Bisik Rehan sambil melirik pada Zen. Zen yang tak tau apa yang tengah dibicarakan ayah mertuanya hanya bisa tersenyum saat Rehan melihatnya.
''Kak Zen adalah pilihan hatiku Dad, dan aku percaya pada apa yang sudah ku pilih. Dady hanya perlu percaya padaku, dan melihatku bahagia.'' Zoya tersenyum, sekali lagi mengeratkan pelukannya.
Seorang ayah selalu menjadi cinta pertama bagi putri-putrinya, begitu juga Rehan. Bagi Zoya, dady nya adalah sosok sempurna sebagai seorang pria, sebagai seorang suami, dan juga sebagai seorang ayah.
Setelah puas memeluk putrinya, kini Rehan beralih pada putra nya, Zen.
''Son, kau ingat apa yang ku katakan? kebahagiaan Zoya saat ini berada di tangan mu. Jika putri Dady tidak bahagia, maka orang pertama yang akan Dady temui adalah kau.'' ucap Rehan dengan suara yang penuh ancaman.
"Daddy tak ingin melihat angel seperti terakhir kali, jika itu terulang lagi maka Dady akan membuat perhitungan pada mu. Sebagai seorang lelaki dan juga seorang ayah.'' ucap Rehan sekali lagi, penuh dengan penekanan namun terlihat sangat berwibawa.
''Boo, apa kau harus mengancam Zen di hari pertama nya sebagai menantumu..?'' kecam Julie pada suaminya.
''Aku..? Aku tidak memberikan ancaman sayang, aku hanya memberi nya nasehat sebagai sesama pria sejati.'' sangkal Rehan, membuat Julie memicingkan matanya.
''Selamat untuk pernikahan kalian sayang, doa mommy agar kalian selalu bahagia dan selalu saling mencintai sampai maut memisahkan.'' ucapnya sambil membelai pipi Zen, dan juga mencium pipi Zoya.
''Terima kasih Mollie. Kau adalah ibu terbaik bagi kami.'' Zen memeluk mollie nya hangat. wanita inilah yang memberinya begitu banyak cinta dan juga kebahagiaan. Mollie nya tak akan pernah terganti oleh siapapun.
''Mom. I love you.'' Zoya juga memeluk mommy nya.
''I love you too, little angel.''
''Sayang,-
di belakang mereka sudah berdiri Aldi dan keluarga nya, yang juga ingin memberikan ucapan selamat bagi putra dan putri mereka.
''Al, Margaret" Julie dan Rehan memberikan tempat bagi besan sahabat sekaligus besan mereka.
''Selamat untuk mu dan juga untuk mu sayang.'' Margaret mencium pipi Zen dan juga Zoya secara bergantian.
''Thanks Mom.. '' jawab keduanya bersamaan.
''Son, selamat untukmu, semoga kalian berbahagia.'' giliran Aldi yang memeluk putranya. Setelah nya ia beralih pada Zoya.
''Dan untukmu my princess, semoga pilihan mu tepat untuk mencintai putraku.'' ujarnya dengan mata berbinar. Jika Sarah masih hidup, pastilah ia sangat bahagia berdiri disisi putra mereka, di hari bahagia Zen saat ini. Aldi tak bisa menahan haru nya.
__ADS_1
''Terima kasih karena sudah hadir disini uncle, aku sungguh sangat bahagia.''
''Sekarang, aku juga Dady mu sayang.'' Aldi mencium pipi putri menantu nya.
Setelah selesai Julie membawa suami dan juga yang lain untuk bergabung di meja mereka dan membiarkan Zen serta Zoya menerima ucapan selamat dari tamu lain yang tengah menunggu giliran.
''Sebentar Moo, aku akan menyusulmu.'' Bisik Rehan, lalu kembali mendatangi Zen, seolah-olah sedang memeluk putranya;
''Son, berhati-hatilah saat kalian berdua nanti, ini adalah pertama kali untuk angel, jadi kau harus bisa menahan dirimu.'' bisik Rehan, mengedipkan matanya pada Zen, membuat wajah Zen bersemu.
''Angel, Dady akan menemani Mommy mu untuk bergabung dengan yang lainnya, jika pria ini menyakitimu, kau hanya perlu menendangnya, kau masih ingat bukan cara pertahanan yang Dady ajarkan.. ?'' bisik Rehan juga pada putri nya.
''Dad..!! seru Zoya, membelalakkan matanya.
''Ya ya baiklah,, Dady hanya cemas..'' katanya lagi lalu melambai pergi.
''Apa yang Dady kataan padamu?'' tanya Zen pada istrinya, membuat wajah Zoya memerah. Mana mungkin ia mengatakan pada Zen, jika Dady menyuruhnya untuk menendang Zen jika Zoya merasa kesakitan, benar-benar!
''Tidak ada, kak. Dady hanya mengucapkan selamat, kau tau Dady bagaimana..'' ucap Zoya memberi alasan, lalu memalingkan wajahnya.
Zen bernafas lega, setidaknya Dady nya tidak mengatakan yang tidak-tidak pada Zoya.
"Kau bahagia kak, kau terlihat sangat bersemangat." Entah dari mana datangnya, saat ini Ken sudah berdiri di sisi Zoya, membuat gadis itu tersenyum sumringah.
"Tentu saja aku bahagia, bocah." Zoya mengacak pelan rambut Ken, ia merasa gemas pada adik lelakinya itu.
"Zozo, Jangan lakukan ini dihadapan semua orang." Ken berujar ketus.
"Zoya." Cassian juga menghampiri kedua mempelai bersama dengan keluarga kecilnya.
"Cassian,- Zoya menyadari keberadaan teman baru nya itu. "Hei, terima kasih sudah hadir, dan terima kasih untuk semua bantuan mu." ucap Zoya dengan tulus.
"Selamat untuk kalian Zoya, bung, Selamat untukmu juga." ucapnya pada Zen, sambil menyalami, dan Zen dengan senang hati menerima uluran tangan ayah muda tersebut.
"O'ya, ini istri dan juga putriku." Cassian memperkenalkan Megan istrinya pada Zoya, serta Sabrina, putri kecil mereka.
"Tidak apa-apa miss, aku yang sangat ingin bertemu langsung dengan mu, kau tau aku sangat bersyukur atas bantuan mu pada suamiku." Megan berbinar, terharu sekaligus bersyukur atas kesempatan nya dapat bertemu langsung dengan Zoya.
"Zoya saja. Jangan katakan itu, aku senang dapat membantu malaikat kecil ini." jawabnya sambil membelai pipi Sabrina yang sedang tertidur di gendongan Megan.
"Miss, apa kau sudah menerima hadiah yang ku antarkan waktu itu?" suara seorang gadis muda menyentak mereka yang berdiri di sana.
"Maafkan adik ku Zoya," Megan berujar, lalu memandang pada adiknya.
"Hadiah..?" Zoya mengerutkan keningnya.
"Aku mengantarkan nya pada malam pesta di hotel sebelumnya." ucap Lova lagi. Ya, gadis muda itu bernama Lova, dia adalah adik bungsu Megan.
"Seseorang sepertinya mengambil hadiah mu!" ucapnya lagi menatap tajam pada Ken yang berdiri di sebelah Zoya.
Sadar akan tatapan yang mengarah padanya, Ken pun angkat suara, "Aku hanya lupa memberikan nya untukmu Zozo, ada padaku." ucap Ken mendelik kesal, karena tatapan yang membuat dirinya nampak telah melakukan kesalahan.
"Lova, jaga kelakuan mu." bisik Megan pada adiknya, membuat gadis muda itu mengalihkan tatapan nya dari Ken.
"Jangan pikirkan itu Zoya, itu hanya hadiah kecil." ucap Megan merasa tak enak atas sikap adiknya.
"Terima kasih Megan, aku sudah merepotkan mu, dan terima kasih juga untukmu,-" Zoya mengacu pada gadis muda itu.
"Lova, miss. Nama ku Lova." ujarnya tersenyum ramah.
"Ya, Lova senang bertemu dengan mu. Semoga kau suka pestanya." ucap Zoya, sambil menyikut tangan Ken.
Alih-alih bersikap ramah, Ken malah melangkah pergi meninggalkan kerumunan.
"Maafkan adik ku jika bersikap kurang sopan." kata Zoya, merasa tak enak.
"Tidak apa-apa Zoya, aku juga." balas Megan.
__ADS_1
"Silahkan nikmati pestanya."
Karena acara resepsi masih berlanjut dan para tamu masih berdatangan, Julie menyuruh Zen dan Zoya untuk beristirahat lebih dulu.
Beruntunglah bagi keduanya nya, jujur saja, Zoya memang sudah merasa sangat lelah. Sesampainya di kamar pengantin yang sudah disiapkan khusus untuk dirinya, Zoya langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
''Apa kau lelah sayang..?'' Zen mengambil tempat di sisi Zoya. ''Hmm. Kaki ku sakit kak. Aku tidak tau jika pernikahan akan semelelahkan ini.'' keluhnya.
''Mau ku pijit..?"
''Tidak usah. Kakak juga pasti lelah, benarkan..?'' tolak Zoya.
''Aku? Tidak. Justru aku sangat bersemangat sekarang.'' Zen tersenyum menggoda pada istrinya.
''Benarkah, apa kakak sangat bersemangat karena sudah menjadi suami ku, karena kita sudah menikah..?"
''Tentu saja, kau tau aku sangat-sangat dan sangat bahagia, karena akhirnya kau menjadi milikku seutuhnya, selamanya.'' Zen mengurung Zoya di bawahnya.
''Aku juga sangat bahagia kak. Ada banyak hal yang ingin ku lakukan bersama mu." ucap Zoya, mengalungkan tangan pada pria di hadapannya, pria yang saat ini berstatus sebagai suaminya.
Suami. Zoya sangat bahagia dengan kenyataan nya saat ini. Kenyataan yang telah menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan. Bukan lagi Aku dan kamu, tapi kita. Terdengar sangat luar biasa.
"Bisa katakan salah satu yang ingin kau lakukan bersama ku..?" ucap Zen sambil mengecup pipi Zoya, kemudian turun pada rahang gadis itu, lalu turun lagi ke leher mulus milik Zoya, membuat gadis itu menggigit bibirnya.
"Apa saja, asalkan bersama mu kak.." jawabnya dengan suara yang lebih mendekati *******.
"Gadis kecilku yang sangat menggoda. Aku menginginkan mu sekarang.." Zen menarik Zoya, agar bisa melepaskan kancing gaun yang melekat di tubuh gadis itu. Saat Zen sudah menarik turun kancing gaun tersebut, Zoya mencium bibir Zen, lalu mendorong Zen hingga mereka bertukar posisi.
"Terima kasih sudah membantuku membukanya, aku akan mandi sekarang." Zoya mengedipkan matanya, lalu bangun dari atas Zen. Gerakan gadis itu semakin membuat Zen gemas sekaligus bergairah.
"Gadis nakal." ucapnya sambil menggigit bibir, menahan hasrat yang semakin memuncak saat melihat Zoya menanggalkan gaun tepat di hadapan Zen menyisakan pakaian dalam yang menutupi bagian sensitif gadis itu.
Zen mengeram sesaat saat miliknya terasa berdenyut. "Sayang, aku akan menyusul." seru Zen yang juga dengan cepat menanggalkan pakaiannya untuk bergabung bersama Zoya.
Saat Zen masuk ke dalam kamar mandi, tubuh Zoya sudah basah di bawah pancuran air. Zen bahkan tak bisa berkedip saat menyaksikan betapa indahnya Zoya. Wajah gadis itu bahkan bersemu saat tatapan keduanya bertemu.
"Apa kakak hanya akan melihatku..?" gadis itu berjalan dengan tubuhnya yang basah mendekat pada Zen. Meskipun merasa malu, namun Zoya pun merasakan debaran dan juga hasrat seperti yang Zen rasakan.
"Aku,-
Tak ingin membuang waktu, Zen menunduk untuk menutup jarak diantara mereka. Bibirnya mencari dan menemukan tempat yang tepat, bibir Zoya. Bibir termanis yang pernah ia cium.
"Maaf jika aku akan menyakiti mu sayang, kau tidak masalah dengan itu?" bisik Zen, mengigit pelan cuping Zoya, membuat tubuhnya terasa bergetar.
"Asalkan bersama mu, sakit pun tidak apa-apa kak, aku adalah milikmu sekarang."
Penyerahan penuh yang dilakukan Zoya, memberikan akses pada Zen untuk memiliki gadis itu sepenuhnya.
Zen membopong tubuh Zoya yang terbalut piyama, lalu meletakan nya secara perlahan, seolah Zoya adalah porselin berharga yang harus di perlakukan dengan hati-hati.
"Kakak sudah pernah melakukannya, maksudku sebelum ini?" tanya Zoya, ia hanya ingin bertanya tanpa maksud apapun.
Namun Zen menggelengkan kepalanya, "Aku hanya mendedikasikan cinta dan diriku hanya pada satu wanita sayang, dan itu adalah kau, ini akan menjadi yang pertama bagi ku." akunya dengan sebenarnya.
"Begitupun aku."
Pengakuan Zen membuat hati Zoya menghangat, ia telah jatuh cinta pada pria yang tepat. Zen adalah miliknya, seperti dirinya yang juga merupakan milik Zen seutuhnya.
"Sekarang, bolehkah..?" tanya Zen yang sudah merasakan sesak pada miliknya.
Zoya menganggukkan kepala untuk memberikan akses penuh pada Zen. Ia memberikan dirinya pada lelaki yang ia cintai, suaminya, Zen mahendra.
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1