My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
Posesif, Boyfriend


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


Ken menunggu di ruang tamu dalam kegelapan. Ia sedang menunggu Leon pulang. Ken merasa kesal karena Leon sudah menggantikan dirinya, dan mencuri waktunya bersama Lova.


Dengan perasaan kesal, Ken tetap menunggu di dalam keheningan.


Pukul sembilan malam, akhirnya Leon sampai di apartemen. Laki-laki itu terlihat berbeda. Bahkan di malam hari Leon bersiul kegirangan.


Sial. Apa Leon begitu senang menghabiskan waktu bersama kekasihku? Tidak bisa di biarkan!


''Astaga! Lo ngapain sih sob di tempat gelap gitu!''


Leon mengelus dadanya. Ia terkejut saat menyalakan lampu dan melihat Ken yang begitu tenang duduk berselimutkan kegelapan.


''Dari mana lo? nemuin Lova?" Tanya Ken terang-terangan dengan suara dingin khas miliknya.


Kata-kata Ken bahkan sampai membuat bulu roman Leon berdiri.


Lagi-lagi Leon merasakan perasaan yang sama- seperti seorang penghianat.


''Ya lah, ngapain lagi. Salah lo sendiri, gue bangunin gak bangun-bangun. Sayangkan makanan nya. Udah gue bilang kok makanan nya dari lo, tenang aja!''


Leon berusaha bersikap sesantai mungkin, meskipun sejujurnya ia benar-benar merasa tidak nyaman dengan situasi canggung yang sedang terjadi.


''Gue gak mau lo deketin Lova. Gue suka sama dia!'' peringat Ken, lalu bangun dari tempatnya.


''Lo yakin? gimana sama Shreya, lo udah gak punya perasaan lagi sama Shreya?"


Leon tidak berniat menyinggung hal ini, hanya saja ia benar-benar merasa tidak nyaman dengan perlakuan Ken pada nya. Padahal selama ini Ia selalu mendukung Ken, tapi bagaimana bisa Ken membuatnya seperti orang ketiga.


''Gue udah bilang jangan pernah sebut nama itu lagi.'' balas Ken, dengan sikap semakin dingin.


''Kenapa? karena Lo juga punya perasaan sama shreya? Tapi sekarang lo suka sama Lova, gitu?''


''Ini bukan urusan lo! Lo hanya perlu jauhin Lova, Lova milik gue!''


''Lo cemburu Ken..?''


Ken membuat pertanyaan Leon menguap begitu saja. Ia tidak berniat mengatakan perasaan nya. Ia hanya ingin memperingatkan Leon agar tidak mendekati Lova dengan alasan apapun.


Meskipun mereka berteman, Ken tidak akan suka jika Leon sampai memiliki perasaan pada Lova.


''Dasar bocah kaku! Ngaku aja kalau lo cemburu!'' cibir Leon sambil tersenyum.


Akhirnya Leon bisa melihat dengan jelas. Ken benar-benar menyukai Lova.


Gadis itu telah mengukir tempat tersendiri di dalam hati seorang Ken.


''Ken...? Lo marah...? Njiiirr... serius lo..?'' seru Leon, saat Ken tidak menjawabnya sama sekali.


''Konyol!''


Di dalam kamar, Ken membaca berulang-ulang semua pesan-pesan yang di kirimkan Lova. Ia tau saat ini kekasihnya itu sedang bekerja, meskipun Ken menghubungi Lova, belum tentu kekasihnya itu akan menjawabnya.


Apa Ken harus membuat Lova menjadi seorang gadis Candy? Ken bisa memberikan apa saja bagi Lova, termasuk memberikan uang agar Lova tidak perlu bekerja lagi. Tapi apa Lova akan menerimanya?


Sebaliknya, itu pasti akan melukai harga diri Lova.


Melihat dari sifatnya, Lova tidak akan menerima bantuan Ken begitu saja dengan alasan apapun.


Apa sebaiknya Ken juga melamar pekerjaan paruh waku di tempat yang sama? Tapi bagaimana jika Dady tau? maka Ken akan dalam masalah.


Ia seorang pewaris yang tidak kekurangan sedikitpun. Alasan apa yang harus ia gunakan untuk bisa bekerja paruh waktu? Atau apakah ia harus memaksa Lova dengan statusnya, dan membuat Lova menuruti semua perkataan nya?


God!


Ken hanya ingin selalu bersama-sama dengan Lova.


...Ke esokan harinya.....


Tepat pukul sembilan pagi, Ken sudah berpenampilan rapi sambil menunggu Lova di depan apartemen. Ponsel kekasihnya itu sudah tidak aktif sejak semalam. Karena itulah ken buru-buru datang dan menunggu dengan perasaan gelisah.


Seperti yang dijanjikan sebelumnya, hari ini adalah hari dimana Ken dan Lova akan melakukan kencan pertama mereka sebagai sepasang kekasih. Namun sudah Hampir satu jam berlalu, Lova bahkan tidak terlihat keluar dari gedung apartemen nya.


''Apa aku harus pergi dan mendatangi nya?"


Setelah menaiki lift, Ken sudah berada di depan pintu apartemen milik Lova.


Namun sebelum Ken mengetuk, pintu itu kini sudah terbuka.


Dan hal yang tidak pernah Ken bayangkan, laki-laki yang Ken kenal bernama William keluar dari balik pintu tersebut.


''Kau..? apa yang kau lakukan disini?' tanya William terkejut dengan keberadaan Ken di hadapannya.


''Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan di apartemen milik pacarku!'' Ken berucap dingin. Tidak ada ekspresi apapun yang di tunjukan wajah itu. Hanya wajah kaku yang tidak bisa william artikan.


''Minggir!'' Ken menerobos masuk ke dalam.

__ADS_1


''Hei.. tunggu..! '' William ingin mencegah Ken, namun pemuda itu lebih gesit dari dugaannya.


''L.. dimana kau?'' seru Ken sambil mencari Lova.


''Kecilkan suaramu! Lova sedang tertidur di kamarnya!'' ujar William memperingati.


Ken tidak memperdulikan William. Ia kembali menerobos masuk ke kamar Lova.


Di sana, kekasihnya berbaring tertutup selimut, dengan sebuah kompresan di atas kepala. Dengan perasaan takut dan cemas, Ken buru-buru menghampiri Lova.


''L.. apa yang terjadi padamu?'' Ken membelai pelan rambut Lova, dan menyentuh kening gadis itu. Lova sedang demam.


''Aku menemukan Lova pingsan saat keluar dari tempatnya bekerja. Aku juga sudah memanggil dokter, dia akan baik-baik saja setelah bangun.'' jelas William.


''Kau bersama nya semalaman?"


Lagi. Ken bersikap dingin. Tak ada keramahan yang di tunjukan nya pada lelaki yang sudah menolong kekasihnya itu.


''Apa aku punya pilihan? Dia pingsan, dan hanya tinggal seorang diri, aku tidak sebrengsek itu untuk meninggalkan Lova yang sedang kesakitan.'' ujar William kesal.


''Kau juga tau Lova tinggal sendiri?'' Ken tersenyum sinis. ''Kau bisa pergi sekarang. Terima kasih untuk bantuan mu, aku yang akan menjaga pacar ku.'' ujar nya, masih memandang Lova penuh kecemasan.


''Aku tidak bisa mempercayakan,-


''Aku kekasihnya. kau bisa ambil tanda pengenal ku jika kau ragu. Tapi ku rasa  tidak perlu, aku yang akan mengurusnya.'' ujar Ken masih dengan suara dingin tak bersahabat.


Ia benar-benar tidak suka melihat kekasihnya di khawatirkan oleh laki-laki lain, selain dirinya.


''Baiklah, kau bisa menjaga nya. Aku akan kesini lagi untuk melihat Lova. O, ya dokter bilang Lova alergi keju. Jadi jangan berikan apapun yang mengandung keju padanya.'' peringat William.


Ken tidak menjawab. Ia hanya mengantarkan William sampai keluar dari apartemen, setelahnya ia   buru-buru kembali ke dalam kamar.


Ken begitu cemas melihat kekasihnya yang terbaring tidak berdaya. Dan keju? Apa semua ini karena makanan yang di buat Nety? Apa di dalam nya ada keju? Tapi sebelumnya mereka bahkan memesan burger,- Ahh, pantas saja Lova memesan burger tanpa keju malam itu.


Bodohnya kau Ken! Seharusnya kau tidak bertindak ceroboh. Seharusnya kau bertanya lebih dulu. Seharusnya...


''Sudahlah Ken, ini bukan saat nya untuk menyalahkan diri sendiri. Lova adalah prioritas.''


Sementara Lova tertidur. Ken menggantikan kompres, dan juga menyiapkan bubur untuk Lova. Kekasihnya itu pasti akan lapar saat terbangun nanti.


Ken juga pergi untuk mendapatkan cuti bagi Lova dari tempat nya bekerja. Lova harus istirahat.


Setelah menyiapkan bubur, Ken kembali duduk di samping Lova, menunggu kekasihnya itu untuk bangun.


''L... maafkan aku. Seharusnya aku tidak ceroboh. Maafkan aku, jika bukan kerena makanan itu, kau tidak akan seperti ini.'' Ken meremas pelan tangan Lova, sambil sesekali mengganti kompres yang sudah mengering.


Suhu tubuh Lova perlahan mulai menurun, dan berangsur-angsur kembali normal. Ken hanya perlu menunggu Lova untuk bangun dari tidurnya.


Lova merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasa gerah dan juga tidak bertenaga. Apa yang terjadi padanya? bagaimana ia bisa berada dirumah? itulah yang Lova pikirkan pertama kali.


Lova melihat sekitar, dan.. Ken. Kekasihnya tertidur sambil menggenggam erat tangan nya.


''Kau yang menjaga ku?" Lova membelai pelan rambut Ken. Lova tidak menduga, jika pergerakan kecilnya bisa membangunkan Ken.


''L....? kau sudah bangun? bagaimana perasaan mu? apa kau masih merasa sakit?''


Pertanyaan beruntun langsung terlontar dari mulut Ken.


''Aku membangunkan mu? maafkan aku.'' ujar nya berkata lemah.


''Tidak L, aku memang menunggu mu bangun. Tunggu disini, kau harus makan, dan juga minum obat mu.'' Ken bergegas pergi ke dapur tanpa bisa Lova cegah.


Beberapa menit kemudian, Ken kembali dengan segelas air putih dan juga semangkuk bubur di tangannya.


''Kau membuat ini? Apa kau juga yang menolongku semalam?"


''Tidak. Bubur ini, Aku membelinya, aku tidak bisa memasak L, tapi sepertinya aku harus segera belajar. Dan tentang menolong mu, itu bukan aku, itu William.'' jujur Ken.


''Hmm. Begitu kah, Terima kasih Ken..'' Lova tersenyum, ia merasa kagum dengan kejujuran yang di miliki Ken. Ken tidak mengambil keuntungan dari ketidak tahuan Lova, dan itu membuat Lova merasa sangat senang.


''Aku akan membantumu duduk, kau harus makan.''


Ken mengangkat tubuh Lova, menyenderkan nya perlahan pada dinding. ''Apa begini sudah benar, kau sudah merasa nyaman?"


''Hmmm. Begini saja cukup.''


Ken mengambil alih tugas untuk mengurus Lova. Ia juga menyuapi Lova, memberinya minum, bahkan memastikan Lova untuk memakan obatnya. Ken juga tetap menemani Lova sampai gadis itu benar-benar merasa lebih baik.


''Kau ingin mandi L.. aku akan menyiapkan air hangat untuk mu..?"


Wajah Lova bersemu ''Mandi....?" 


''Apa yang kau pikirkan? meskipun ingin, aku tidak akan mengambil keuntungan apapun dari kekasih ku sendiri!'' Ken menyentil pelan kening Lova.


''Baiklah. Tolong siapkan untuk ku. Kau benar-benar pacar yang baik.'' puji Lova, membuat Ken merasa senang.


Satu jam kemudian, Lova sudah bersih. Ia sudah mengganti semua pakaiannya yang basah karena keringat.


Saat Lova keluar dari kamar mandi, Ken juga sudah lebih dulu keluar dari dalam kamar, ia menunggu Lova di ruang tamu.


''Kau sudah selesai?" Tanya Ken saat Lova keluar dari dalam kamar dengan baju hangat nya.


''Apa kau merasa dingin L, kau demam lagi?''

__ADS_1


Laki-laki itu kembali cemas.


Ken terlalu mencemaskan dirinya, tapi apa kekasihnya itu juga memperhatikan dirinya sendiri? ''Hmmm. Kau tidak lapar? ingin ku buatkan makanan?" Alih Lova.


''Tidak usah L, aku sudah memesan makanan, kau istirahat saja. Kemarilah, aku akan mengeringkan rambutmu.'' Pinta Ken, tanpa merasa canggung sedikitpun.


Padahal keduanya baru saja kemarin resmi menjadi sepasang kekasih, tapi Ken bertingkah seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih yang sudah lama menjalin hubungan.


''Kenapa diam..? kau malu padaku?" tanya Ken, melihat Lova yang tidak bergeming dari tempat nya.


''Kemarilah L, duduk disini.'' Ken menarik pelan tangan Lova, menuntun gadis itu untuk duduk di sampingnya.


Ken mengambil handuk kecil dari dekat nakas, lalu membungkusnya ke rambut Lova.


Gadis tu benar-benar merasa malu dengan semua perlakuan manis yang Ken lakukan. Bagaimana bisa Ken bertingkah senatural ini saat mereka sedang bersama.


Jika itu Lova, jantung nya bahkan sudah hampir melompat, tapi kekasihnya itu terlihat begitu tenang, seolah itu adalah hal yang biasa baginya.


''Jangan terlalu banyak berpikir L! apa kau tau, saat ini aku sungguh khawatir dan juga marah.''


Kata-kata itu mengusik Lova.


Apa Ken marah padanya? ''Kau marah..?''


''Tentu saja. Bagaimana aku bisa bersikap biasa saja saat melihat laki-laki lain keluar dari dalam rumah kekasih ku di pagi hari. Kau pikir aku tidak akan berpikir hal yang lain..?"


''Kau meragukan ku?"


''Bukan dirimu. Tapi lelaki itu!''


''Lalu, apa sekarang kau masih marah?"


Ken tidak menjawab. Keduanya sama-sama terdiam. Lalu tiba-tiba saja Ken memeluk Lova. Lova bisa merasakan Ken menghela nafasnya saat meletakan dagunya di bahu Lova, bahkan detak jantung itu, Lova bisa merasakannya. Apakah itu berdetak karena nya?


''Kau masih marah?" tanya Lova lagi.


''Aku hanya khawatir L.. aku khawatir padamu. Aku marah pada diriku sendiri. Jika bukan karena aku, kau tidak akan seperti ini, dan laki-laki lain tidak akan mencemaskan mu.'' ujar Ken dengan sebenarnya.


''Kau cemburu?"


''Apa kau harus bertanya seperti ini L..? Tentu saja. Kau kekasih ku.''


''Kau sangat posesif..''


''Kau tidak suka..?"


'Tidak, Aku hanya baru mengetahuinya.''


''Aku akan melindungi milik ku L, dan aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuh milikku, meskipun itu hanya sebatas dalam pikiran mereka saja. Tidak akan ku ijinkan.''


Ken benar-benar seorang posesif parah. Tapi entah kenapa, Lova menyukainya. Lova menyukai Ken yang seperti ini. Membuat Lova merasa bahwa dirinya sangatlah berharga bagi kekasihnya itu.


''Aku tidak mengijinkan mu untuk dekat dengan siapapun termasuk Leon L, jika kau melakukan itu, maka aku akan cemburu. Sebaiknya kau tau lebih cepat.'' peringat Ken, semakin mengeratkan pelukannya.


''Baiklah. Aku akan mengingatnya.''


''Gadis baik. Aku mencintaimu L.- O, ya, aku membelikan ini untukmu-'' Ken mengeluarkan kotak kecil dari sakunya.


''Karena hari ini kita batal berkencan, dan kau juga sakit karena makanan itu, aku hanya menyiapkan ini sebagai hadiah untuk peresmian hubungan kita.''


Ken membuka kotak berwarna biru, dan di dalamnya ada sebuah kalung dan cincin dengan inisial.


''Ini untukmu.'' Ken memasangkan kalung yang berinisial nama nya - K- ''Dan aku akan mengenakan ini, kau yang harus memasang nya untuk ku.'' Ken menyerahkan kotak yang berisikan cincin dengan tulisan 'L-K-L 'dibagian dalamnya.


''Kapan kau menyiapkan ini? apa ini tidak berlebihan? kita bisa saja putus kapan pun, dan hadiah ini-


''L, aku tidak berniat untuk mengakhiri hubungan kita. Tidak akan pernah. Jadi kau juga harus memikirkan hal yang sama. Pasangkan saja di jariku.'' ujar Ken lagi.


Lova pun melakukan seperti yang Ken katakan, ia mengambil cincin dan memasangkan nya pada jari Ken.


Hubungan apa ini? Apa hubungan mereka sekuat itu, sampai Ken melakukan semua ini?


''L, apa kau mencintai ku?"


''Aku..?"


''Hmm. Aku belum mendengar itu dari mulutmu.''


Lova tidak mungkin membohongi Ken, Ini adalah hubungan pertama nya. Dan Lova hanya menyukai Ken, tapi jika di tanya tentang cinta, apakah ia mencintai Ken?


''Ken, Aku belum memastikan bagaimana perasaan ku. Aku menyukai mu-- aku Lova dengan wajah bersemu. ''Aku menyukai saat kau berada di dekat ku, semua perlakuan mu, perhatian mu. Aku menyukai semua nya. Tapi apakah ini cinta, aku belum yakin tentang itu. Tapi aku ingin mencari tahunya bersama mu.. kau mau melakukan itu, menunggu sampai aku menemukan jawaban dari perasaan ku?"


''Itu sudah cukup L. Aku hanya membutuhkan perasaan tulus mu, bukan perasaan yang di palsukan hanya karena status. Aku akan melakukan semuanya bersama mu, akan ku pastikan kau juga mencintaiku.''


''Kau terdengar sangat yakin?"


''Kau meragukan ku? aku tidak pernah main-main dengan perasaan ku L, tidak akan pernah.''


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2