
...ENJOY...
.......
.......
.......
"Ken, dengarkan kakak, jangan mudah percaya pada laki-laki seperti Mr.Jodan!" Zoya memperingati Ken dengan nada kesal.
"Laki-laki seperti apa yang kakak maksud..? Laki-laki yang tertarik dan mengejar-ngejar kakak seperti tadi..?" Ken terkekeh. Sepertinya ini senjata yang bagus untuk mengganggu Zozo-nya.
'Kamu ini..!" Zoya mencubit gemas pipi Ken.
"Zozo..! Jangan lakukan itu, aku bukan anak kecil lagi." Ken mengelus pipinya yang terasa sedikit berdenyut. "Lagi pula apa salahnya dengan Mr.Jordan..? Dia baik, tampan, dan juga aku rasa dia sangat pintar." Nilai Ken.
"Tau apa kau ini..? kamu hanya seorang anak kecil. Dia itu laki-laki menyebalkan..!" kata Zoya ketus, mengingat apa yang sudah Jordan lakukan selama beberapa bulan terakhir.
"Jangan terlalu membencinya Zozo, nanti kamu bisa jatuh cinta padanya..!'' lagi-lagi ken tertawa kecil.
"Kamu ini belajar dari mana sih kata-kata seperti itu..? Pokok nya kakak tidak ingin kamu membahas tentang mr. Jordan, mengerti..?"
"Mr.Jordan itu cocok untuk kakak, lagi pula kakak juga belum punya pacar. Aku rasa Dady juga akan suka dengan mr.Jordan." ucap Ken lagi.
"Tidak. Pokoknya Tidak. Berjanjilah kamu tidak akan membahas ini dirumah. Tidak pada Mommy dan juga tidak pada Daddy. Jika tidak, maka maafkan kakak..
Kamu juga harus menanggung akibat yang sama.." Zoya mengedipkan matanya sambil tersenyum. Ini adalah kesepakatan.
"Apa kakak sedang mengambil keuntungan dari ku..?" kesal Ken, senjatanya di putar balikan.
"Hem.. sayang nya begitu. Lagipula kita juga tidak saling merugikan. Kau tutup mulut menyebalkan mu itu, dan kakak juga akan mengunci rapat mulut kakak." bujuk Zoya.
Ken tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah masam nya memandang keluar jendela.
Sebenar nya zoya juga tidak ingin bermain permainan seperti anak kecil dengan Ken. Namun ia begitu mengenal tuan muda di keluarganya itu. Jika tidak seperti ini, maka yakinlah. Besok Zoya akan segera di minta memperkenalkan Jordan pada Dady nya.
Zoya tidak ingin itu terjadi. ia tidak menyukai Jordan, meskipun laki-laki itu terbilang tampan. Ia tidak ingin terlibat dengan urusan tidak penting seperti ini.
Terpikirkan pun tidak baginya. Sudah cukup ia di repot kan dengan permintaan Daddy untuk mengurus perusahaan, ia tidak ingin ditambah lagi dengan perihal Jordan.
Zoya baru berusia 20 tahun. Kenapa ia harus di repot kan dengan seorang pasangan. Bukan kah itu terlalu gila..? Ini sudah Jaman Modern, kenapa ia harus takut dengan status jomblonya.
Cinta dan berbagai kerumitannya, bagi Zoya semua nya akan semakin membuat hari-harinya lebih berantakan. Thanks No.
__ADS_1
Belum saat nya ia mencari kekasih. Ia masih belum bisa membuka hatinya bagi siapapun. Tidak saat ini.
...❄️❄️...
U.K
Zen membereskan berkas-berkas penting yang ada di atas mejanya. Ia menyusun semua berdasarkan tingkat kegunaan dan kepentingan nya dalam jangka waktu dekat.
Beberapa dokumen rahasia tentang perusahaan dan juga tentang kolega-kolega perusahaan. Ia harus membereskan semua nya dengan benar. Tidak ingin sampai ada yang terlewatkan.
Setelah menyelesaikan susunannya, Zen memasukan semua dokumen kedalam tas kerja, lalu mengambil jas dan juga kunci mobilnya, kemudian keluar dari ruangan.
"Selamat sore tuan.." sapa seorang scurity dan juga staf keamanan yang berjaga parkiran VIP tempat Zen memarkirkan mobilnya.
Zen hanya menganggukkan kepala merespon sapaan bawahannya tersebut. Setelah itu mobil jaguar milik Zen melaju meninggalkan kantor.
45 menit kemudian mobil mewah itu sudah terparkir dengan rapi di depan penthause Aldi, Didiie nya.
Seorang kepala pengurus rumah tangga sudah berdiri di depan pintu menyambut kedatangan Zen sambil membungkukkan badan. "selamat datang tuan muda." sapa nya.
"Selamat sore uncle Matias. Apa Didiie ada di dalam..?" tanya Zen. "Tuan tanah besar ada diruang keluarga bersama dengan nyonya dan juga nona Elizabet" jelas uncle Matias.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menemui mereka." Zen berlalu begitu saja meninggalkan pengurus rumah tangga itu menuju ruang keluarga.
Gadis kecil itu berlari menyongsong Zen dengan binar bahagia. "Hay sayang. Apa kau merindukan Kakak..?" Zen mencium pucuk kepala Elizabet.
"Tentu saja. Tapi kakak sepertinya tidak merindukan ku kakak selalu saja sibuk.." Kata Elizabet menyindir Zen dengan halus.
"Maafkan kakak sayang. coba lihat, kau bertumbuh dengan begitu cepat." Zen memperhatikan Elizabet.
"Hay Didiie. Mom." Zen menyapa kedua orang tuanya yang juga sedang duduk di sana membalas senyumannya. Zen memeluk serta mencium pipi Margaret.
"Hai Son. Kebetulan sekali kau mampir kemari. Ada yang ingin Didiie bicarakan pada mu." Kata Aldi.
"Aku juga Didiie. Ada yang ingin ku katakan pada Didiie." Aldi menganggukkan kepalanya. "Ayo kita keruang kerja Didiie."
Aldi bangkit lebih dulu dari tempatnya menuju lantai dua ruang kerja pribadinya. "Sayang, kakak akan bicara sebentar pada Didiie." Zen melihat pada Elizabet dan Margaret. "Momm."
"Pergilah sayang. Elizabet. Mari kesini sayang.." kata Margarhet mengisyaratkan Zen agar segera menyusul suaminya.
"Masuklah Son.. mari duduklah." ucap Aldi pada putranya. keduanya kini tengah duduk berhadapan.
"Apa yang ingin kau katakan..? katakan lah." Aldi memberikan kesempatan pada Zen lebih dulu untuk menyampaikan maksudnya.
__ADS_1
"Didiie saja lebih dulu.." lempar Zen. "Hem. Baiklah kalau begitu. Yang ingin Didiie katakan adalah tentang Maria,
"Sebaiknya ku katakan milik ku terlebih dahulu Didiie..,"Sela Zen lagi. Ia tau apa yang akan Didiie nya bahas. Apalagi kalau bukan tentang perjodohan. Zen tak ingin membahas tentang itu.
"Baiklah, kalau begitu katakan." Zen mengeluarkan semua berkas yang sebelumnya sudah ia susun dalam tas, dan meletakan nya di depan Aldi.
Aldi hanya mengerutkan kening menatap semua berkas-berkas itu. "Apa maksudnya ini Son..?"
"Aku ingin menyerahkan perusahaan ku pada Didiie, dan sebagai gantinya, aku akan mengurus perusahaan Didiie yang ada di indonesia." katanya dengan lugas.
"Indonesia..? apa kau akan pergi ke sana..?" tanya Aldi sedikit heran. "Benar Didiie. Aku akan kembali ke indonesia dalam 2 atau 3 hari lagi."
"Ada apa di sana, kenapa begitu mendadak..? apa perusahaan mu mengalami kemunduran..?" tanya Aldi menyelidik.
"Ayolah, Dad..aku tidak akan membiarkan perusahaan ku begitu, bahkan sedikitpun tidak akan." bantah Zen.
''Lalu..?"
"Hanya ada beberapa urusan penting yang harus segera ku selesaikan di sana." katanya.
"Begitu kah..? Berapa lama kau akan berada di sana..? Jika itu tidak lama, maka kau tidak perlu menyerahkan perusahaan mu. Didiie akan membantumu mengurusnya." kata Aldi lagi.
"Aku tidak tau berapa lama waktu yang harus ku habiskan di sana untuk mengurus semua nya Dad." Zen menjawab dengan sebenarnya.
Ia tidak bisa memprediksi berapa lama waktu yang harus ia habiskan untuk mendapatkan gadisnya kembali. Zoya tidak akan semudah itu. Zen sangat mengenal gadis kecilnya.
"Baiklah kalau memang begitu. Kebetulan perusahaan di sana juga sedang mengalami penurunan, dan Didiie akan sangat membutuhkan kemampuan mu di sana.'' pinta Aldi.
Ini solusi yang baik menurutnya, ia akan tetap di U.K bersama istri dan putrinya, dan Zen yang akan menangani masalah perusahaannya.
"Baiklah Didiie. Aku akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan mu."
"Hem. Kau memang selalu bisa di andalkan Son. Tinggal lah sebentar untuk makan malam. Adikmu sangat merindukan mu.' pinta Aldi.
"Baiklah." Tak lama setelahnya Aldi dan Zen sama-sama turun kebawah untuk bergabung bersama Margaret dan juga Elizabet.
Mereka menghabiskan waktu bersama untuk makan malam dan juga berbincang-bincang. Setelah dirasa cukup, Zen segera pamit undur diri. Masih ada beberapa dokumen yang harus ia bereskan di apartemen nya sebelum ia kembali ke indonesia.
Hanya sebentar lagi Zo'e.. tunggu lah sebentar lagi....
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...