My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
AGAIN..


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Di akhir pekan yang sangat sibuk, seharusnya Zoya tetap berada dirumah, di kamarnya, mungkin menghabiskan waktu dengan beberapa bacaan, atau mungkin memainkan Biola yang cukup lama sudah tidak disentuhnya.


Ada banyak pilihan yang seharusnya tersedia untuk menghabiskan akhir pekannya seperti biasa. Tapi apa yang ia lakukan sekarang? Jika bukan karena mommy yang sudah membuat janji temu dengan designer untuk fitting gaun pengantin nya, Zoya tak akan repot-repot berada di tengah kemacetan ibu kota di akhir pekan seperti saat ini.


Belum cukup dengan semua itu, Zoya merasa hari ini sangat menyebalkan mengingat sebelum ini ponsel Zen tak bisa dihubungi, padahal seharusnya mereka datang bersama, karena itu jugalah Zoya harus pergi ke rumah Zen lebih dulu, menemui kekasihnya itu.


Saat mobil sudah berhenti di tempat parkir, Zoya memasuki lift menuju lantai kondominium Zen. Setelah dua kali membunyikan bel pintu tersebut terbuka.


"O,Hai.. kau disini?" tanya Zoya dengan antusias menutupi rasa shock yang menghantam dirinya saat Maria lah yang membuka pintu menyambut dirinya. "Hai Zoya." balas Maria sambil tersenyum ramah. What..? Tampa di persilahkan Zoya melewati Maria mencari dimana tunangannya yang terlalu sibuk sampai membiarkan orang lain membukakan pintu untuk tamu dirumahnya.


"Zen sedang mandi, jika kau mencarinya." Maria membuka suara seolah bisa membaca isi kepala Zoya, dengan gerakan samar meraba bibir dan juga kerah bajunya, memastikan agar Zoya melihat isyarat tak terelakan tersebut.


Apa yang sebenarnya ingin Maria tunjukan pada Zoya, apakah ia ingin membuat Zoya menyadari bahwa ada hal lain diantara dirinya dan juga Zen, tunangannya? Apa mereka baru saja,, karena itukah tunangan nya membersihkan diri? Oh. Tuhan, tidak! Zoya menghempaskan pikiran itu. Tidak mungkin Zen melakukan itu padanya.


"Benarkah? Apa Zen mengatakannya padamu?" tanya nya masih tak percaya dengan pengendalian luar biasa yang saat ini ia miliki. "Kau tinggal disini, bersama kak Zen?" tanya Zoya lagi tak bisa menahan rasa ingin tau nya saat melihat apa yang Maria kenakan saat ini, wanita itu hanya mengenakan pakaian rumahan saat bertamu, jika ia memang seorang yang memang sedang bertamu, tak seperti Maria yang elegan khas putri bangsawan Inggris yang selama ini Zoya ketahui.


"Oh, tidak. Jangan salah paham Zoya, aku disini hanya untuk pekerjaan, dan sepertinya kami sudah selesai." jawabnya menunjuk atas meja yang memang agak berantakan dengan beberapa kertas dan juga laptop serta cangkir minuman yang isinya Zoya yakin sudah habis. Selama itukah kalian berduaan, disini..?

__ADS_1


"Sepertinya...? Kau takut aku salah paham Maria? padahal kau jelas tau dengan keberadaan mu saja sudah bisa membuat siapa saja salah faham. Lalu Apa yang ingin kau jelaskan sebenarnya..?" kata Zoya memberikan fakta yang seharusnya Maria sadari. Wanita manapun pasti akan salah paham jika dalam posisi Zoya.


"Mau ku buatkan minuman selagi kau menunggu Zen?" tawar Maria ramah mengalihkan topik dan sekarang bersikap seolah memang dirinya lah tuan rumah ditempat ini.


"Waw. Sungguh baiknya dirimu, tapi tidak perlu. Aku hanya datang untuk menjemput tunangan ku.-- Ya kau tau lah ini urusan pernikahan kami yang akan diselenggarakan ebentar lagi." ucap Zoya menegaskan status dan juga siapa yang lebih berhak jika seandainya wanita itu lupa dimana posisinya.


"Selamat untuk pernikahan kalian Zoya, aku turut bahagia mendengarnya." Benarkah? bahkan ucapan itu terdengar sumbang ditelinga Zoya. "Terima kasih, kau juga harus segera menemukan milikmu sendiri, agar kau benar-benar bahagia." balas Zoya lambat-lambat, sambil bersedekap di depan Maria.


"Kalau begitu, sebaiknya aku kembali." Well, sadar diri juga ternyata. Maria mengumpulkan barang-barang miliknya yang ada di atas meja ruang tamu. "Aku akan mencuci ini sebentar." katanya dengan sepasang gelas kosong di sana, seolah itu memang kewajibannya.


"Hem. Bereskan dengan baik semua ini, aku tak suka membereskan sisa kekacauan!" kecam Zoya membiarkan apa yang ingin Maria lakukan, sampai Maria kembali lagi di hadapan nya. "Kalau kau luang, mampirlah ketempat ku, aku tinggal tepat di sebelah Zen." tambahnya.


Satu lagi fakta yang menampar Zoya, membuatnya hampir terhuyung jika saja ia tak menguatkan pijakan kakinya. Itukah alasan mereka selalu bersama? bahkan mungkin lebih sering dari yang aku ketahui. "Hmm. Baiklah." Jawab Zoya dengan suara yang bergetar samar. Lagi-lagi pengendalian dirinya terus diuji.


Setelah pintu tertutup kembali, barulah Zoya menghempaskan diri ke atas sofa. Bagaimana Zoya bisa mencegah mereka selalu bersama jika mereka saja tinggal bersebelahan? Apa Zen memang tak berniat memenuhi Janjinya, memberikan Zoya sebuah harapan dan juga janji semu, begitu kah?


Meskipun tak mendapati apapun yang terjadi di rumah kekasihnya, tetap saja Zoya tak membenarkan hal ini, bisa saja hal-hal yang tak di inginkan terjadi jika hal seperti ini terlalu lama dibiarkan.


Zen pun seolah menemukan sesuatu yang tak terduga saat mendapati keberadaan Zoya di ruang tamu. "Dia sudah kembali jika itu yang ingin kakak ketahui." kata Zoya pada Zen, membuat nya tak perlu repot-repot bertanya.


"Sayang, kapan kau sampai?" Zen menghampiri Zoya mengecup pelan kening kekasihnya. "Apalagi yang tidak ku ketahui selain, kalian hampir tinggal di ruangan yang sama?" Zoya menatap Zen dengan mata bulatnya menuntut penjelasan atas semua yang baru saja terjadi.


"Sayang.. bukan kah kita sudah membahas ini sebelumnya?"


"Ya! sebelum aku tau kalian tinggal di gedung yang sama, dan juga saling bertamu di pagi hari, minum bersama, dan melakukan apa saja yang mungkin akan kalian lakukan sampai-sampai membuat ponselmu tak bisa dihubungi, dan kau tau, itu sangatlah menyebalkan!" bentak Zoya, dengan nafas yang naik turun, masih cukup terkendali.


"Zo'e tenanglah. Ini tidak seperti yang kau pikirkan, jika aku ingin bersama Maria, aku tak akan kembali padamu, aku bisa melakukannya di U.K saat Dad, mencoba menjodohkan kami, aku tak akan repot-repot kembali kesini." Jelas Zen tak percaya dengan apa yang mereka ributkan lagi untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Oh, jadi kembali padaku ternyata membuat mu kerepotan? maaf jika begitu." Zoya mendengus, jelas tak suka. Menimbulkan rasa bersalah pada Zen, tak seharusnya ia mengatakan itu.


"Bukan begitu maksudku sayang. Hei.. dengarkan aku, Aku mencintaimu, dan hanya itu fakta yang harus kau percaya, tak ada yang lainnya. Ku mohon hentikan ini, aku tak ingin kita meributkan ini lagi. Hem?" sekali lagi Zen membujuk Zoya, namun tanda-tanda kemarahan masih tak menghilang dari wajah Zoya, sampai-sampai Zen harus menyugar rambutnya tak percaya.


"Aku tak akan meributkan ini jika saja kau mengatakan yang sebenarnya Zen!" tambah Zoya. Ini pertama kalinya Zoya meneriakkan nama kekasihnya tampa embel-embel -kak- seperti sebelumnya.


"Mengatakan apa Zo'e? aku merasa tak ada yang penting yang harus ku katakan tentang Maria. Keberadaannya tak penting bagiku, bahkan sangat-sangat tak penting sampai-sampai harus membuat mu marah seperti saat ini!" jawab Zen yang juga ikut tersulut. Alih-alih membuat Zoya tenang, kenyataan nya malah membuat keduanya bersitegang.


"Ah.. begitu? itu menurutmu, tapi tidak menurutku!" balas Zoya, masih dengan tatapan yang sama bertekad tak akan melunak pada Zen.


"Tunggu disini." perintah Zen lalu masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Zoya yang masih di penuhi rasa kesal, lalu beberapa saat kemudian muncul kembali dengan laptop yang ia bawa.


"Lihatlah, aku yakin kau mengerti tentang ini." tunjuk Zen pada laptopnya, memastikan agar Zoya melihat apa yang ia kerjakan bersama Maria. Zoya hanya melihatnya sekilas kemudian membuang muka lagi.


Seharusnya Zen tau Zoya akan sekeras kepala ini jika gadis itu memang mau melakukannya. Setelahnya Zoya mengeluarkan kartu nama dari dalam tas nya dan meletakan itu di atas meja.


"Datanglah ketempat ini, jika kau masih berniat melanjutkan pernikahan kita." ucapnya lalu berdiri buru-buru hendak meninggalkan Zen, namun tak sempat menghindari tangkapan ditangan nya.


"Zo'e, jangan seperti ini! harus bagaimana lagi agar kau mengerti..?" lelah Zen.


"Kau yang seharusnya mengerti Zen, atau haruskah kita memikirkan kembali semuanya? pikirkan lagi!"


Zoya menarik tangannya dari genggaman Zen lalu meninggalkan Zen yang masih mematung di tempatnya.


"Zoe, tunggu. Pikirkan apa maksud mu? Hei...!"


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2