My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
PENYELESAIAN (1)


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Bau obat-obatan dan juga disinfektan yang cukup kuat memenuhi syaraf-syaraf penciuman Zoya, dengan perlahan ia membuka kelopak matanya yang terasa berat, namun anehnya kepalanya sudah terasa ringan. Tak ada lagi rasa sakit yang sebelumnya menghantam Zoya dengan begitu dahsyat, rasa sakit yang membuat kepalanya terasa mau pecah.


Apa yang terjadi padanya?


Zoya pasti terlalu lelah, di tambah lagi ia susah tidur karena mimpi buruk yang terus-terusan menghantuinya, karena itulah kepalanya terasa sakit, Zoya menganalisis dirinya.


Saat bangun, Samar-samar yang terlihat oleh Zoya adalah warna putih dari cat yang menutupi permukaan dinding dalam ruangan.


Dekorasi sederhana dengan bunga cantik di dalam vas di letakan di atas nakas di sampingnya. Ada juga beberapa lukisan mural yang tergantung di dinding hingga sepasang sofa yang berada tak jauh dari ranjangnya.


Ruangan itu sunyi. Hanya ada ia seorang diri, kemudian tersadar dengan infus yang terpasang di tangan kirinya. Ia berada dirumah sakit. Zoya mencoba untuk mengingat-ingat kembali kejadian sebelumnya, namun tak ada hal penting selain,-


"Cassian." guman Zoya.


Ia ingat saat bersama Cassian. Mungkin laki-laki itulah yang telah membawanya ketempat ini.


Zoya merasa tak enak harus merepotkan Cassian dengan hal seperti ini, padahal laki-laki itu juga sama lelahnya dengan Zoya.


Saat ingin merubah posisinya, Zoya meringis karena rasa nyeri tiba-tiba menghantam rusuknya. "Aww, kenapa sakit sekali..?"


Zoya meraba pelan perutnya, menekannya perlahan dan lagi-lagi merasakan nyeri yang membuatnya mengaduh. Sebelum tak sadarkan diri, Zoya ingat tubuhnya limbung dan menghantam benda keras di sekitarnya.


Zoya mendengar pintu terbuka dan tertutup kembali, "Apa yang kau lakukan Zo'e?" Suara bariton nan khas menyentak Zoya dari rasa sakitnya, mungkin kah ia masih bermimpi?


Tidak, pendengaran nya baik-baik saja, ia tidak mungkin salah. Zen berdiri tak jauh dari pintu dengan beberapa bawaan memenuhi tangannya.


Tapi apa yang membuat Zen berada disini? lebih tepatnya bagaimana bisa?


Apakah Zen sudah menemukan dirinya? Atau ini hanya delusi yang Zoya alami akibat sakit sebelumnya? semua pikiran itu kini berputar-putar memenuhi kepala Zoya.


Semuanya terasa tidak nyata, sampai rasa hangat dari genggaman tangan Zen membawa Zoya kembali ke permukaan.


"Apa kau merasa sakit? dimana?" tanya Zen membantu Zoya untuk duduk, raut wajah Zen menjelaskan bahwa ia mengkhawatirkan Zoya.


"Apa yang.." Zoya tercekat. Mata nya membulat dengan sempurna menatap pada Zen yang saat ini tengah berdiri di sebelahnya.


"Akan ku panggilkan dokter." kata Zen memencet tombol yang tak jauh dari ranjang Zoya. Tak lama kemudian, pintu di ketuk seorang dokter masuk bersama seorang perawat yang mengekorinya.


"Selamat sore miss, bagaimana perasaan anda saat ini?" tanya dokter tersebut sambil memeriksa Zoya.


"Sudah lebih baik dok, terima kasih." ucap Zoya, masih melihat pada Zen.

__ADS_1


"Baiklah. Hasil pemeriksaan akan keluar beberapa jam lagi, sebelum itu lebih baik anda istirahat. Ada yang sakit lainnya?" tanya dokter lagi.


"Tidak ada." jawab Zoya, sekali lagi melirik sekilas pada Zen, dan Zen pun sama. "Baiklah kalau begitu, jika ada hal lainnya, tekan saja tombolnya."


"terima kasih, dok." ucap Zoya lagi. Zen mengantarkan dokter sampai di depan pintu, kemudian berbalik pada Zoya.


"Kau ingin makan? aku membawakan roti dan juga sup.,- Zen membuka tas bawaan sebelumnya. "Atau kau ingin minum sesuatu?" tanya Zen lagi.


"Kak,..?" panggil Zoya.


"Atau ada hal lain yang kau inginkan?


kau ingin yang lainnya? barang-barang mu ada di lemari, aku mengemasnya."


"Kak...?" panggil Zoya lagi lebih keras, berharap Zen melihat padanya.


"Apa Zo'e? Apa?,- balas Zen, dengan suara frustasi.


"Apa kau ingin marah padaku lagi? atau kau ingin lari lagi?,- Zen berbalik dan mendekat pada Zoya, ia memperbaiki selimut dan juga mengecek pada cairan infus yang masih terpasang di tangan Zoya.


"Aku memang berjanji pada Dad agar tidak menemui mu dalam waktu dekat. Tapi bagaimana lagi, aku merindukan mu.


Terlebih lagi saat melihat kau yang tiba-tiba pingsan di luar sana seorang diri. Aku harus apa? Apa kau berharap aku diam saja? bagaimana bisa aku tidak perduli?,- lagi-lagi Zen bicara tampa melihat pada Zoya, tepatnya ia menghindari pandangan Zoya padanya.


"Aku tidak perduli jika kau ingin marah padaku saat ini, silahkan saja. Tapi aku tidak akan pergi, dan seandainya kali ini kau melarikan diri lagi, aku juga tetap akan mencarimu meskipun kau pergi ke ujung dunia.


Aku akan mendapatkan mu lagi dan lagi, meskipun kau terus bersembunyi, aku akan,-


Mata nya terasa perih karena perasaan membuncah menekan sesak setiap rongga dadanya hingga menimbulkan rasa sakit.


Zen merasa khawatir, dan marah; marah pada dirinya yang tak bisa menjaga Zoya. Marah atas keterlambatan nya menyadari bahwa Zoya sedang tidak baik-baik saja, sementara ia hanya mengamati dari kejauhan.


Zen juga merasa bersalah; bersalah atas apa yang sudah ia lakukan, dan bersalah karena tidak menepati janjinya. Terlepas dari semua itu ia sangat bahagia dan sangat bersyukur.


"Kakak disini..?" Suara Zoya lirih dan bergetar di telinga Zen. Zoya merasakan tangannya yang melingkar di tubuh Zen, terasa hangat dan nyata.


Zen benar-benar disini bersama nya.


"Aku merindukan mu kak, sangat merindukanmu." aku-nya lagi. Lagi-lagi Zen menghela nafas yang terasa semakin berat.


"Kau merindukan ku..? lantas kenapa kau pergi?" suara Zen rendah dan dalam. Ego nya sebagai lelaki mencegahnya untuk segera menarik dan menenggelamkan Zoya dalam pelukannya.


"Apa kau tau bagaimana hidupku saat kau pergi begitu saja? Kau tau apa yang aku lewati selama beberapa waktu ini? Apa kau memikirkan perasaan ku, Zo'e..?"


Zen melepaskan tangan Zoya dari pinggangnya, berbalik untuk melihat pada gadis yang juga teramat sangat ia rindukan.


Sekali lagi Zen terenyuh saat melihat wajah Zoya yang saat ini sudah basah. Lagi-lagi Zen merasa bersalah.


"Apakah begitu sulit bagimu saat bersama ku Zo'e?" tangan Zen terangkat untuk mengusap pipi Zoya.


"Apa selama ini aku selalu membuatmu seperti ini? membuatmu menangis?"

__ADS_1


Mata itu menatap lagi padanya. Mata yang sama. Mata yang berbinar, namun kini melihatnya dengan tatapan yang tak bisa Zen artikan. Apa ia memang tak bisa membuat Zoya bahagia? Jika memang, Iya, lantas apa hak nya menginginkan Zoya berada di sisinya?


"Apa kau juga memikirkan bagaimana perasaan ku kak?" tanya Zoya lirih. "Apa kau juga memikirkan bagaimana aku melewati hari saat kau jauh?" mata itu kini menatap nanar pada Zen.


"Untuk itulah aku disini Zo'e, aku ingin mengatakan nya sendiri, dan aku pun ingin mendengarnya sendiri, aku ingin...-Zen membelai rambut Zoya, mengusap wajah pucat di hadapannya.


"Aku mencintaimu Zo'e. Aku mencintaimu. Aku yang terlalu egois, aku yang membuat semua nya jadi seperti ini. Maafkan aku,- ucap Zen, melepaskan wajah Zoya beralih pada tangan gadis itu.


"Aku hanya perlu itu Zo'e, maafmu, hanya itu. Aku tidak menginginkan yang lain. Aku hanya ingin kau kembali bahagia, dan memaafkan kesalahan ku yang telah menyakitimu.


Tidak apa-apa jika kau ingin pergi dan meninggalkan aku, jika itu membuatmu bahagia. Aku tidak akan memaksamu disisi ku jika terlalu berat bagimu. Aku akan baik-baik saja, asal kau mau memaafkan aku?" ucap Zen dengan nafas tercekat.


Mulut nya bisa berkata baik-baik saja, namun hatinya terasa hancur. Sungguh batin nya kini bergolak, logika dan perasaannya kini sedang berperang di dalam sana. Zen tidak akan bisa melepaskan Zoya. Tidak untuk apapun. Tapi bagaimana jika Zoya tidak ingin bersama dengannya lagi?


Bagaimana jika Zoya sudah tidak mencintainya, bagaimana jika Zoya benar-benar menginginkan semuanya berakhir? Apakah Zen bisa melanjutkan hidupnya tampa Zoya? benarkah? Zen tidak bisa lagi bersikap egois. Zen tidak bisa menyakiti Zoya lagi.


"Apa kau serius dengan perkataan mu kak? kau akan melepaskan ku jika aku memintanya?" tanya Zoya lirih.


Zen tidak bisa membaca ekspresi Zoya, karena gadis itu sedang tertunduk, dan itu lebih baik. Setidaknya Zoya tidak akan melihat kehancuran di wajah Zen, saat gadis itu memutuskan hubungan mereka.


Sekali lagi Zen merasa di hantam dengan balok. Ia sudah jatuh di lubang terdalam yang siap untuk menenggelamkan nya selamanya.


Hati Zen benar-benar hancur, akan kah Zoya benar-benar meminta hal itu? satu-satunya yang tidak bisa Zen lakukan dalam hidupnya. Tidak akan pernah. Bagaimana sekarang, sanggupkah Zen melepas Zoya, meskipun itu untuk kebahagian Zoya?


"Kau tidak mencintaiku lagi Zo'e." Kata Zen dengan perasaan hancur sekali lagi menenggelamkan nya sampai ke dasar tergelap. Ketakutan yang selama ini selalu menghantui Zen, adalah saat ini, sesuatu yang tidak pernah ia harapkan, bahkan dalam mimpi sekalipun. Zen tak pernah mengharapkan ini. Zoya adalah satu-satunya yang Zen inginkan di dunia ini. Tidak ada yang lain.


"Aku yang sedang bertanya padamu kak? bisakah kau melakukan nya?" tanya Zoya lagi, Ia mundur selangkah memberi jarak diantara mereka.


Dengan berat Zen menggelengkan kepalanya. Bagaimanapun ia berpikir, ia memang tak bisa melepaskan Zoya.


"Tidak."


"Apa kakak akan bahagia jika melepaskan aku?" tanya Zoya lagi, lirih.


"Tidak, Zo'e. Aku tidak akan bahagia. Tapi setidaknya kau bahagia, jika itu yang kau inginkan." kata Zen.


"Kau akan melepaskan ku agar aku bahagia?,- Zoya berujar sinis.


"Apa kau benar-benar tau apa yang ku inginkan?"


Pertanyaan itu lagi. Pertanyaan yang sama, yang Dady tanyakan pada Zen beberapa waktu lalu.


Apakah Zen benar-benar tau apa yang Zoya inginkan? Apa yang benar-benar bisa membuat Zoya bahagia..?


"Kau punya mimpi Zo'e. Aku akan melepaskan mu jika itu adalah yang kau inginkan."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2