
...ENJOY...
.......
.......
.......
Wall Street, 17.05 pm
Di jam-jam seperti ini, kedai tempat Lova bekerja biasanya akan sangat ramai oleh para pengunjung yang sedang lapar, dan membutuhkan makanan bercita rasa pedas dan gurih sebagai pengisi perut.
Seperti saat ini, hampir semua meja telah terisi oleh para pengunjung, baik di bagian dalam maupun meja di bagian luar kedai.
''Lova, antar kan ini untuk meja nomor 7.'' ujar Mateo, selaku pemilik kedai di tempat Lova bekerja.
''Baik, akan segera ku antar.'' jawab Lova lalu menghampiri pantry untuk mengambil baki yang berisikan tiga menu makanan sekaligus.
''Hati-hati dengan tangan mu, itu sangat panas.'' peringat Mateo saat melihat gadis itu terlalu bersemangat.
''Baik lah bos, aku akan berhati-hati.'' jawab Lova.
''Pesanan anda tuan, nona.'' Ujar Lova tersenyum manis, sambil menyajikan makanan di atas meja.
Lova bekerja di kedai itu sudah sejak dua bulan lalu, dan shif bagiannya di mulai dari jam tiga sore sampai dengan pukul delapan malam. Setelahnya, ia akan berpindah tempat melanjutkan pekerjaan lainnya yaitu; sebagai pelayan di kedai minuman yang berjarak sekitar empat blok dari kedai pertama.
Sedikit berbeda dengan kedai makanan yang selalu ramai sejak toko dibuka, Kedai minuman justru akan semakin ramai ketika waktu semakin larut. Karena di jam-jam seperti itu banyak orang yang sudah pulang bekerja dan ingin menghilangkan rasa lelah nya dengan sedikit minuman beralkohol, baik itu bersama teman-teman atau bersama dengan kekasih.
Dari setiap pekerjaan yang Lova jalani, Lova mendapatkan bayaran setiap hari yang di hitung berdasarkan berapa lama ia bekerja dalam satu hari dan juga sedikit tips dari para pelanggan. Jika di hitung-hitung dalam satu waktu bulan, Lova dapat mengumpulkan beberapa ribu dollar dari hasil kerja paruh waktu nya.
Dan uang itu akan cukup untuk memenuhi berbagai macam keperluan studi nya diluar kiriman rutin dari keluarga nya di Stockholm. Setidaknya dengan bekerja, Lova bisa sedikit menabung untuk masa depannya kelak. Ia ingin menjadi wanita mandiri yang sukses.
Ting.
''Meja nomor 12.'' Teriak Mateo lagi.
''Ini untuk meja nomor 12..?'' tanya Lova memastikan sekali lagi. .
''Yup, benar sekali nona, sekarang cepatlah.. sebelum pelanggan kita mengajukan protes.''
''Siap bos.'' Seperti sebelumnya, Lova akan selalu berhati-hati saat bekerja. Selain tak kenal lelah, Lova juga seorang yang kompeten dalam bekerja.
''Ini pesanan anda tu..,-
Lova terdiam sejenak saat melihat siapa pelanggan di meja tersebut.
''Anda datang lagi tuan.'' ujar nya sambil tersenyum manis.
Laki-laki yang berada di hadapannya saat ini, adalah laki-laki yang selalu datang selama dua minggu terakhir. Selain itu, ia juga selalu datang di jam yang sama, dan menempati meja yang sama.
''Tentu saja. Makanan disini sangat cocok dengan lidah ku.'' ujar nya, membalas Lova, seakan hal itu adalah hal yang biasa.
''Selamat menikmati makanan anda.''
''Terima kasih Lova,-
''Kau tau namaku?''
''Tentu saja, aku selalu mendengarnya setiap bel itu berbunyi.'' jawabnya, sambil tersenyum.
''Ah,- begitu.. baiklah, selamat menikmati makanan anda.'' ujar Lova lagi.
Dari percakapan biasa tersebut, ada sosok lain yang selalu mengamati setiap gerak-gerik Lova dari toko di seberangnya.
__ADS_1
''Jadi lo disini? gak ngajak gue!'' ujar Leon menangkap basah Ken yang sedang memperhatikan Lova. Tanpa menunggu Ken mempersilahkan nya duduk, Leon langsung menarik kursi di depannya.
Sejak Ken keluar dari apartemen, Leon sudah bertekad ingin mengikuti nya. Leon hanya terlalu penasaran dengan aktivitas apa yang sedang sahabatnya itu lakukan setiap hari sehingga selalu saja pulang larut malam.
Ken yang tidak menduga akan kehadiran Leon hanya diam tak menjawab, ia juga tetap bersikap cuek seperti biasanya.
''Sejak kapan lo makan cake?'' ujar Leon lagi, melihat makanan yang tersaji di depan Ken. Tanpa menunggu Ken menjawab Leon beranjak dari kursinya menuju ke kedai tempat Lova bekerja.
''Kemana lo?" seru Ken melihat Leon yang akan menghampiri Lova.
''Makan lah! mana kenyang makan gituan!'' ejek Leon, yang tersenyum konyol saat mengetahui apa saja yang Ken lakukan, ternyata sebuah pekerjaan memata-matai seorang gadis.
Apa saat ini Ken mulai tertarik pada Lova? lalu bagaimana dengan Shreya? Apa Ken sudah melupakan gadis itu?
Ken yang melihat Leon, tak membiarkan laki-laki itu mengacaukan rencana nya. Ia segera meninggalkan meja nya untuk menyusul Leon.
Sesampainya di kedai yang saat ini telah terisi penuh, Leon malah tersenyum melihat pada Ken. Ia hanya ingin mengetes sahabatnya itu, namun ternyata melihat kepanikan di wajah Ken, tebakan Leon sudah pasti benar.
''Kalian disini?,- sapa Lova saat mendapati keberadaan kedua laki-laki yang saat ini tengah bersikap aneh itu. ''Mau ku carikan meja? apa kalian bisa menunggu?'' tambahnya setelah mengamati semua meja yang saat ini sudah di isi pelanggan.
''Santai saja, kami bisa menunggu.'' jawab Leon, mengambil alih.
''sebentar,-
Ken mengamati Lova yang saat ini tengah berbicara dengan salah seorang pengunjung,- *laki-laki itu. *
''Hei, kalian bisa bergabung dengan meja nomor 12, aku sudah mendapatkan ijin nya, bagaimana, kalian mau?" tawar Lova. Leon yang tidak memiliki niat apapun tak merasa keberatan sama sekali, berbeda dengan seseorang yang saat ini terlihat tidak senang.
''Woi, ngapain lo bengong? duduk.'' ujar Leon menyikut Ken yang mematung di tempatnya.
''Maaf menggangu anda tuan,-
''William,- itu nama ku Lova.''
Dugaan Ken benar. Ia sudah bisa menebak sejak awal dari gelagat laki-laki di depannya ini yang selalu terlihat mengamati Lova.
''Tentu saja tidak, silahkan.'' ujar William yang benar-benar tak merasa keberatan dengan keberadaan kedua pria yang di anggapnya masih bocah itu.
''Kalian ingin pesan apa?'' tanya Lova,- ''mau ku ambilkan buku menu nya?"
''Tidak perlu, sajikan saja makanan yang paling banyak diminati disini.'' jawab Leon, sementara Ken hanya diam saja, mengamati seseorang di depan nya yang terus melihat ke arah Lova.
''Mau yang pedas atau tidak?,-
''Aku yang tidak terlalu pedas.''
''Lalu..?'' ujar Lova bertanya ke arah Ken.
''Ssstt. lo di tanyain!'' Leon lagi-lagi harus menyikut Ken, agar temannya itu bisa kembali ke dunia nyata.
''Apa..?'' Ken berujar sambil melihat pada Leon dan Lova secara bergantian.
''Kau ingin yang pedas juga?" jelas Lova mengulangi kata-kata sebelumnya.
''Kalau kau, kau suka yang mana?" Ken balik bertanya.
''Aku...?"
''Terserah kau saja.- pastikan saja kau memberikan oranye jus untuk pendamping nya.'' putus Ken.
Setelah selesai makan, keduanya kompak menunggu Lova sampai selesai bekerja.
Ken sudah meminta Leon untuk kembali terlebih dahulu, namun Leon bersikeras ingin mengikuti Ken. Jadilah keduanya sama-sama menunggu gadis itu di sana.
__ADS_1
Pukul delapan malam, setelah membereskan semua meja yang telah ditinggali pelanggan, Lova juga mengganti seragam kerjanya, lalu mengambil upahnya untuk hari ini.
''Terima kasih.'' ujar Lova saat menerima beberapa lembar uang di tangannya.
''Kembali lah besok gadis kecil, hati-hati dijalan.'' ujar Mateo pada Lova.
''Baiklah bos, aku akan datang setiap hari, jangan bosan-bosan melihat ku.'' serunya, sambil melangkah keluar dari kedai.
Lova sangat senang dengan pendapatan nya hari ini. Semakin ramai pengunjung, maka semakin banyak juga upah yang ia terima, ditambah dengan uang tips yang selalu di lebihkan Mateo untuknya. Bos nya itu sungguh sangat baik.
''Kalian masih disini..?'' ujar Lova yang sedikit heran melihat Ken dan Leon yang masih berdiri tidak jauh dari tempatnya bekerja. Lova kira keduanya sudah kembali.
Apa yang mereka lakukan kan di musim dingin seperti ini berdiri ditempat terbuka? apa mereka ingin mencoba menjadi patung es? pikir Lova.
''Hmm. Kami akan mengantar mu.- Ken terlihat salah tingkah saat Lova bertanya.
''Dimana alamat rumah mu?" sela Leon lagi.
''Tidak perlu. Aku masih harus bekerja.'' tolak Lova, sambil menggelengkan kepalanya.
''Tidak apa-apa, kami akan mengantar mu sampai di sana, berbahaya seorang gadis berjalan di malam hari.'' Ken memberikan alasannya. Ia memang mencemaskan Lova.
Selama beberapa hari ini, Ken selalu mengawal Lova dari kejauhan, mulai dari tempat yang satu menuju ketempat lainnya, bahkan sampai gadis itu pulang kerumah nya.
Pernah sekali Ken mendapati Jeremi mendatangi kedai minuman tempat Lova bekerja. Entah apa tujuan nya, Ken hanya iseng saja menghampiri laki-laki itu, dan ternyata Jeremi mengurungkan niatnya untuk masuk. Mulai dari saat itu, Ken selalu merasa khawatir.
Ia khawatir jika seseorang kembali berniat jahat pada Lova, baik itu Jeremi maupun Tania. Bukan karena Lova seseorang yang spesial bagi nya, tapi hanya karena ia merasa khawatir. Hanya itu.
Apakah begitu? entah lah, Ken juga belum menemukan jawaban dari apa yang ia rasakan saat ini. Mungkin suatu saat nanti ia akan tau.
''Sungguh tidak apa-apa, aku sudah biasa,-
''Tidak usah menolak, jalan saja.'' Ujar Leon mendorong bahu Lova dengan kedua tangannya, membuat Lova yang tadi nya merasa sungkan untuk menerima tawaran tersebut malah melangkahkan kakinya menuruti perintah Leon.
Baru kali ini Lova merasakan canggung selama perjalanan menuju tempat nya bekerja. Ken dan Leon seperti seorang bodyguard yang berjalan tepat di belakang nya. Lova tidak terbiasa dengan hal tersebut. Ditambah lagi keduanya kompak tidak berbicara sepatah kata pun, membuat Lova merasa semakin sungkan.
''Baiklah, sampai disini saja,- ujar Lova yang tiba-tiba berbalik, membuat Leon dan Ken sedikit terkejut karena gadis itu. ''Di sana tempat ku bekerja, terima kasih sudah mengantar ku.- tambah Lova sambil menunjuk kedai yang ia maksud.
''Ahh, jadi disini. Baiklah, sampai bertemu di kampus Lova.'' ujar Leon melambaikan tangannya, saat Lova beranjak dari tempatnya.
Sekarang tinggal lah mereka berdua yang berdiri mematung ditempatnya.
''Nah, sobat- apa selama ini kau memata-matai seorang gadis?kau suka pada Lova?" Tanya Leon menggoda sahabatnya itu. ''Bagaimana dengan Shre...- Ah lupakan!'' Bukannya menjawab pertanyaan Leon, Ken hanya menunjukan wajah datarnya kemudian berbalik pergi.
''Maksudmu kau menanyakan perasaanku kepada seorang gadis dari masalalu yang selama ini berusaha ku temukan, tapi tidak ada sedikitpun tanda-tanda tentang keberadaan nya?''
Bukan hanya Leon yang mencari Shreya, tapi Ken pun lebih dulu berusaha untuk mencari gadis itu. Shreya berjanji akan mengirimkan email pada Ken saat mereka sudah tiba di negara tujuan mereka, tapi sampai saat ini, gadis itu tak pernah menghubungi Ken sekalipun. Tidak pernah. Lalu, apa Ken harus mengelilingi dunia untuk mencari Shreya? Apa Ken harus melakukan itu?
''Woii, tungguin gue!'' ujar Leon yang semakin merasa konyol akan sikap Ken.
''Serius nih kita balik jalan kaki? pegel gue, cari taksi yuk?" tawar Leon yang memang merasakan pegal pada kaki nya. Tapi lagi-lagi Ken tidak menghiraukan dirinya.
''Sahabat macam apa sih lo, tega banget sama teman? manusia nih gue bukan batu!'' protes Leon.
Tiba-tiba saja di depan keduanya berhenti sebuah taksi, tanpa berkata apa-apa Ken langsung masuk ke dalam nya. Leon pun merasa menyesal atas kata-kata yang sempat ia ucapkan beberapa saat lalu.
Terkadang disaat Leon merasa terlalu di abaikan, ia jadi melupakan bagaimana sikap seorang Ken yang sebenarnya. Ia lupa jika sahabatnya itu bukan tipe yang hanya menjual kata-kata, melainkan seseorang yang melakukan tanpa banyak bicara.
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
Picture of Penelova Mosley ~Lova~